
Malam ini, tidak seperti malam pengantin pada umumnya. Kiki sama sekali tidak menolak, dan sudah mengatakan kalau memang dia sudah siap menyerahkan seluruhnya untuk Revan, karena Revan memang suaminya. Tapi tidak dengan Revan, melihat Kiki menangis bahkan malah enggan untuk menyentuhnya. Cukup untuk menjadi pemenangnya saja saat ini. Kiki yang masih tidak rela, walau setiap harinya juga dia akan bekerja tetapi rasanya tidak berada satu rumah dengan mamanya malah membuatnya bingung.
"Aku sudah berjanji akan menjaga mu, dan mengajari mu memasak." Revan kembali mengelus punggung Kiki sambil memeluknya.
Pukul sudah menunjukan jam 12 malam tepat, belum lagi besok mereka pagi-pagi harus sudah berangkat ke bandara. Karena penerbangan akan di lakukan pukul 07 pagi.
"Apa kepergiannya tidak bisa di tunda? Aku masih ingin melihat mama besok."
"Kamu juga sering pergi kan dulu, bahkan tak berjumpa mama sampai beberapa hari kamu bisa. Kenapa sekarang saat aku ada di sampingmu setiap saat kamu malah takut?" Kiki langsung menghapus air matanya, dia terhenyak mendengar kata-kata Revan. Terdengar kenyataan tapi juga menyindir.
"Tidurlah, aku hanya ingin kamu baik-baik saja." Kiki tak menjawab, dia langsung berbaring. Sementara Revan malah berjalan ke arah balkon kamar. Mencari angin malam, AC tidak bisa membuatnya merasa menghilangkan panas ditubuhnya saat ini.
Mama
Sambil menatap kelip bintang yang jauh di atas langit, matanya sayu saat mengingat kenangan bersama orang tuanya.
Aku sudah menikah dan mempunyai istri, sesuai keinginan mama dulu.
Tanpa sadar, ada air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, kesedihan soal rindu yang tak terbalas. Hanya bisa berjumpa di dalam mimpi. Itu juga jika Tuhan berkehendak, jika tidak hanya bisa menatap photo yang masih tersimpan di ponselnya.
Malam ini juga Revan sengaja bertelanjang dada, entah memang ingin memamerkan otot tubuhnya yang membuat wanita manapun melihatnya akan terkesan. Tapi malah Kiki menyia-nyiakan pemandangan indah milik suaminya. Yang ada hanya ketakutan di tinggal oleh mamanya.
Bagiamana jika suatu saat dia mengalami hal seperti ku? Apa aku lebih susah untuk menenangkannya?
Revan menghela nafas berat. Dia memang cinta Kiki, tapi tak habis pikir dengan ketakutan yang Kiki punya. Lagi-lagi berpikir, bukannya setiap makhluk hidup juga akan kembali ke penciptanya?
Angin malam benar datang berhembus, menerpa wajah dan tubuh Revan yang tak terbalut kain. Matanya menyipit, beberapa menit berdiri memandang langit yang semula cerah dan secepat itu bisa berganti mendung. Tertutup awan hitam yang gelap, pekat malam seakan terasa. Revan juga yakin, bahwa saat ini seluruh warga komplek sudah memilih tidur dan bergulung di bawah selimut tebal. Bersama pasangan ataupun sendiri.
Kilat mulai menyambar, Revan masih berdiri di tempatnya. Dia malah berdoa dalam hati, agar Tuhan bisa menyampaikan rindunya ini kepada orang yang telah tiada. Dan juga doa untuk hubungan baik kepada istrinya. Karena Revan meyakini bahwa hujan adalah rezeki dari Tuhan yang sengaja di turunkan dengan bentuk lain.
"Kamu tau nak, kalau ada hujan datang makan bersyukurlah. Karena para petani merasa ada rezeki yang datang, begitu juga dengan kita. Hujan juga itu anugrah. Tapi tetap saja ada sebagian orang yang mengeluh. Bagi mama, datangnya banjir itu hanya rezeki yang datang berlebihan."
Revan tersenyum, bersamaan dengan kilat yang menyambar.
"Kenapa nggak tidur? Bukannya kamu yang suruh aku buat tidur?" Suara lemah itu terdengar, Revan menoleh tapi tak melihat wujud Kiki disana. Tidak, dia berpikir itu bukan hantu, itu memang Kiki yang berdiri di balik tirai. Lampu yang sudah redup jelas tidak bisa memperjelas Pandangannya saat ini.
Hujan mulai turun, berawal dari rintik menjadi deras. Revan segera masuk, menoleh ke sisi kiri. Benar, ada Kiki yang berdiri disana. Menatapnya tanpa berkedip.
"Kenapa nggak tidur?" Kiki mengulangi pertanyaannya. "Apa kamu sengaja mau mandi hujan? Kalau sakit gimana? Katanya mau jagain aku kalau nggak ada mama!" Kiki terus mengomel. Revan tersenyum tipis, jelas tidak terlihat Karena tak ada cahaya yang menyorot ke arah wajahnya saat ini.
Berjalan mendekat, memegang kedua tangan Kiki lalu melangkah mundur dan menarik tubuh Kiki yang tak menolak.
Semakin jauh, Revan terus menariknya. Kiki hanya diam, entah karena kelelahan menangis atau memang mau menuruti kemauan Revan. Sampai di pintu menuju balkon kamar. Kiki menoleh ke arah derasnya hujan.
"Mau apa?" Revan menariknya lagi, memeluknya dengan erat. Lalu melepasnya, dan membingkai wajah Kiki dengan kedua tangannya. Menatap kedua manik mata yang tak berkedip, hanya bisa bergerak ke kanan dan kiri.
"Boleh?" Kiki diam, dan akhirnya dia mengangguk. Revan langsung memeluknya lagi, melepas dan memulainya dengan belaian hangat yang terjadi di antara bibir mereka. Revan terus menggiring Kiki ke arah balkon.
Berdiri di bawah guyuran hujan, tanpa melepas pangutan mereka. Dalam hitungan menit, seluruh tubuh dan pakaian sudah basah kuyup. Revan tersenyum lagi.
"Jika benar hujan itu adalah rezeki, maka aku meminta di malam pertama ini ada hasil yang akan menumbuhkan benih di rahim mu." Deg, Kiki langsung menatap Revan tanpa berkedip.
"Aku ingin secepatnya memiliki anak, agar kamu tidak merasa kesepian saat jauh dari mama." Kiki memeluknya dengan erat, jatuhnya air mata bahagia tidak akan terlihat di derasnya hujan.
Dan, Kiki sudah berjanji untuk menyerahkan semuanya di malam ini. Di bawah guyuran hujan yang menjadi saksi, tidak akan ada yang melihat mereka disini. Tapi Revan juga masih memiliki akal, tidak mungkin melakukan itu di luar. Revan kembali mengajak Kiki untuk masuk ke dalam. Melepas seluruh pakaiannya lalu menggiring Kiki untuk naik ke tempat tidur.
Dalam waktu beberapa jam, mereka sama-sama tertidur dengan tubuh polosnya. Berharap pagi datang dan tidak membuat mereka bangun kesiangan.
***
Alarm Revan terus berbunyi, bahkan sudah kali mengulang. Mereka masih bergulung di dalam selimut, tidur saling berpelukan dan telinga sepertinya benar-benar tuli hari ini. Dan, hampir saja mereka terlambat. Kiki terbangun, dan langsung terduduk. Belum kembali seluruhnya kesadarannya sehingga dimana letak jam dinding dia juga lupa. Menyusur dengan manik mata, padahal letak ada di belakangnya, tepat berada di atas tempat tidurnya.
Kiki segera membangunkan Revan, bagaimana bisa dia tidur nyenyak sekali mendengar alarm berbunyi berulang-ulang, menggerutu dan menurunkan satu kakinya. Rasa nyeri dan linu Kiki rasakan di **** *************. Matanya merem melek, menggeleng. Beginikah rasa sakitnya, jadi nggak bisa bayangin kalau waktu itu sempat di perkosa oleh Agam.
Kiki sengaja menarik selimut, dan membawanya ke kamar mandi. Walau harus menampakan tubuh polos suaminya, tak perduli. Yang terpenting bisa mandi lebih dulu, karena kalau punya niatan membangunkan Revan, yang ada malah mandi bersama. Sudah berpengalaman dari novel tentang cinta yang pernah dia baca.
Di tempat tidur, Revan merasa ada janggal. Melihat ke celah gorden memang masih gelap dan belum menampakkan matahari. Lalu berpikir untuk tidur sebentar lagi karena alarmnya juga belum berbunyi. Eh tidak, dia meraba dinginnya AC langsung menembus kulit tipisnya. Revan menyadari, tidak ada selimut lagi yang menutupi tubuhnya dan juga istrinya sudah tidak ada di sampingnya. Mendengar percikan air di dalam kamar mandi, Revan langsung berjalan kesana. Tanpa berniat untuk melihat jam lebih dulu.
"Aaaaa.." Kiki menjerit dengan wajah dan rambut yang penuh sabun, menyadari ada kehadiran seseorang. Revan dengan santainya malah langsung menggeser tubuh Kiki dari bawah shower dan berdiri membasahi tubuhnya mulai dari atas kepala.
"Kamu gila ya!" Menutup kedua aset miliknya dengan tangan. Revan tak peduli, bahkan dia malah mengambil sabun dan shampo.
"Kamu nggak bangunkan aku!"
"Iya aku sengaja, kalau kamu aku bangunkan ujung-ujungnya kamu minta mandi bareng kan."
"Tapi Tuhan lebih baik denganku hari ini. Buktinya tanpa kamu bangunkan kita mandi bareng." Kiki langsung terdiam dan lebih memilih mengambil gayung untuk membilas rambutnya.
Dan akhirnya, apa yang di baca Kiki di dalam novel benar terjadi. Tidak hanya sekedar mandi saja, waktu yang terpakai juga lebih banyak bukan malah mempercepat karena mandi berdua. Yang seharusnya menghemat waktu malah menikmati keindahan yang bisa di lakukan nanti ketika sudah sampai di tempat tujuan mereka.
__ADS_1
"Ini bajunya Revan, cepetan di pakai. Jangan main ponsel dulu. Nanti kita bisa terlambat!" Kiki ngedumel sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
"Semalam nggak semangat, kenapa sekarang malah takut kalau tidak jadi pergi." Gumamnya pelan, dan menyambar kemeja putih yang sudah di sediakan Kiki. Eh kali ini lengkap beserta **********.
Untungnya, di sela-sela kesedihan tadi malam Kiki sudah mengepak pakaian mereka.
Di ruangan bawah, sebelum Kiki dan Revan turun, mamanya sudah menyiapkan sarapan dengan di bantu oleh bi Asih. Hari ini dia sendiri yang ingin memasak, katanya buat Kiki dan Revan. Mamanya sudah selesai terlebih dahulu dan duduk menunggu di meja makan. Walau ini masih terbilang pagi, dan bukan jam biasa untuk mereka memulai sarapan.
Kiki dan Revan menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Kiki yang ngedumel sambil membawa tas kecil, dan Revan diam sambil membawa koper milik mereka. Asli, apa yang di katakan Kiki terdengar di telinga mamanya. Menggerutu soal mandi dan kamar mandi. Orang tua itu hanya bisa tersenyum dan menunduk, berpura-pura tidak mendengar. Mungkin karena Kiki belum menyadari ada siapa di bawah sana, di kirain jam segini mamanya belum bangun apa.
Untungnya juga tidak ada bi Asih. Kalau saja ada, pasti dia akan langsung menggoda Kiki habis-habisan.
"Sarapan dulu." Kiki terhenyak sebentar, berhenti melangkah dan menoleh ke belakang menatap Revan.
"Mama?" Berjalan mendekat.
"Makan dulu sayang. Mama juga sebentar lagi akan berangkat." Revan melihat jam di tangannya.
"Masih ada waktu 15 menit." Duduk dan langsung mengambil piring.
"Biar aku aja." Ucap Kiki, sebelum menikah juga Kiki selalu melakukan itu jika Revan ikut makan bersama dengan keluarganya.
Ketika sudah di dalam mobil pun Kiki masih saja ngedumel, dan menyalahkan Revan jika terjebak macet pagi ini.
"Pak, lewat jalan tikus aja. Biasanya di depan macet panjang." Revan memberi tau jalan mana yang harus mereka lalui. Dan benar saja, mereka bisa lebih cepat sampai di jalan raya besar, tanpa harus melewati kemacetan.
"Kalau kita telat gimana?" Revan hanya menunjuk bibirnya dengan jari tangan, diam maksudnya jangan panik.
Bandara, mereka sampai tepat waktu. Tepat waktu dimana pesawat akan take off. Tidak lagi berjalan, tetapi berlari untuk mengejar waktu, tak sempat lagi mengucapakan terima kasih dengan supir. Dan kalau saja Revan tak memberi ide tentang jalan tikus bisa jadi mereka benar-benar telat untuk melakukan penerbangan.
Akhirnya bisa sampai di kursi penumpang pesawat, meskipun para penumpang lain menatap mereka dengan tatapan heran. Tak peduli, Kiki duduk dan Revan langsung mengeluarkan sapu tangan kecil yang dia bawa, menghapus keringat yang berjatuhan di wajah Kiki. Lalu tersenyum mengejek, Kiki tau itu.
"Make up kamu luntur." Ha? Hal yang selalu membuat Kiki panik, bingung, sekaligus malu. Mencari-cari kaca kecil di dalam tasnya.
"Haha, aku becanda." Kiki langsung menatapnya tajam, nafasnya naik turun, bukan karena emosi tapi lelah karena habis berlarian.
***
Ah mereka sampai di pulau, tapi tunggu Kiki meneliti tempat ini. Mulai dari perahunya sekalipun dia mengenalinya. Lalu sampai di pulau ini, sudah ada beberapa penjaga villa yang menyambut mereka. Membawakan koper dan bertanya mau istirahat di kamar yang mana.
Kiki tau, ini adalah tempat dimana Maudy dan Bima berbulan madu. Sialan, batinnya. Tapi memang tempatnya sangat indah, mengingat dia sendiri tak rela waktu itu harus pulang lebih cepat karena ingin mencari keberadaan Tisha. Ah ya ampun, Kiki sampai melupakan lelaki di sampingnya dan asik sendiri menikmati suasana disini. Meski terik panas matahari tak membuatnya berhenti mengagumi setiap sudut di pulau ini. Belum lagi, semua pelayan laki-laki yang tampan. Duh, Kiki bahkan tersenyum sambil memegang dadanya.
Revan berdiri mematung, menunggu Kiki menyadari bahwa dia terus berjalan sendiri. Tapi sepertinya memang Kiki tak ada niatan untuk mengingatnya. Apa dia lupa tujuan datang kesini untuk berbulan madu dengan suaminya?
Apa kamu tidak ada niatan untuk jalan berdua denganku! Inginnya berteriak seperti itu, tapi Revan malah mengalah dan berjalan mendekati Kiki.
"Aku udah pernah kesini dulu." Bangga, dia memamerkan itu semua. Padahal Revan sudah berpikir buruk saat ini.
"Sama dia?" Kiki menoleh ke arahnya lalu mengangguk.
Jadi mereka juga pernah menginap?
"Satu kamar?" Mengangguk lagi.
Tapi kenapa kamu masih suci!
Eh, ini salah paham. Apa karena terlalu senang Kiki menjadi tuli?
"Aku langsung mau istirahat di kamar." Berjalan lebih dulu.
"Seharusnya jangan bahas masa lalu di depan aku." Gumamnya pelan sambil berjalan. Kiki juga menyusulnya untuk masuk ke dalam kamar, dan mau sore hari saja menikmati indahnya pemandangan laut yang di hiasi pasir putih.
Revan yang sudah merebahkan tubuhnya saat ini merasa sangat nyaman. Kiki yang sibuk menata pakaian mereka, hanya dua hari saja disini. Tapi berbagai macam pakaian miliknya semua di bawa, dengan alasan ingin berphoto dengan berganti gaya. Baiklah, saat itu Revan selalu menuruti kemauannya.
"Selesai menyusun pakaian, tidurlah disini." Menepuk tempat di sebelahnya, Kiki mengangguk dan tersenyum.
Aku harus menanyakan hal ini.
Ini memang sudah waktunya untuk tidur di siang hari, elok jika Kiki menguap kan. Walau biasanya juga tidak pernah tidur di siang hari semenjak bekerja di kantor Bima tapi kali ini kan memang beda. Angin yang masuk melalui jendela membuatnya malah semakin tak tahan menahan kantuknya. Selesai dengan menyusun pakaian, Kiki langsung berbaring di samping Revan. Tidak, dia hanya mau langsung tidur. Sungguh, sakit dan linu di sekujur tubuh masih menjalar saat ini. Dan yakin, kalau nanti malam Revan juga pasti akan meminta hak nya lagi.
"Kita tidur ya?" Seakan memberi peringatan untuk Revan tidak berbuat macam-macam dulu.
"Kamu ngantuk?"
"Iyah." Menguap lagi. Lalu menoleh ke arah Revan dengan posisinya yang tidur telentang. Tangannya dia satukan di atas perut.
"Panggil aku mas." Menoleh lagi. Pandangan saling bertemu.
"Mas?" Bukan memanggil, tapi mengulangi kalimat akhir yang di katakan Revan.
__ADS_1
"Iya panggil aku mas, mulai sekarang." Kiki diam tak menjawab. Revan memiringkan posisi tidurnya, dan menopang kepala dengan satu tangannya.
"Iya mas." Tertawa lepas.
"Kenapa tertawa? Memangnya lucu?"
"Ya nggak, cuma apa nggak ada panggilan lain?" Revan diam memikirkan sesuatu.
"Hem, kamu mau panggil aku apa?" Sekarang giliran Kiki yang berpikir.
"Nggak tau, ya udah aku panggil kamu mas." Revan memeluknya. Tidak lagi berbuat hal yang dia mau, tapi memeluk Kiki dalam ketenangan sambil memejamkan matanya. Begitu juga yang di rasakan Kiki saat ini, nyaman dalam pelukan Revan.
Bahkan sampai sekarang masih berpikir, secepat inikah sudah berubah status?
***
Cahaya matahari di sore hari masuk dari balik celah pohon Cemara. Kiki sengaja meminta Revan untuk mengambil beberapa photo dirinya, menjadikan sebagai momen indah. Sudah entah yang ke berapa kalinya Kiki berganti gaya.
"Permisi, mas saya minta tolong boleh?" Revan manggil salah satu pelayan yang sedang lewat.
"Boleh." Revan berjalan mendekat dan menyerahkan kamera.
"Tolong photokan saya dan istri saya ya mas." Ucapnya ramah.
"Oh iya." Dia juga tidak keberatan. Padahal sewaktu Revan memanggil pelayan, Kiki sudah bergaya dan menunggu Revan mengambil gambarnya dengan lensa kamera. Ah ternyata, tapi tidak apa-apa malah ada kesempatan untuknya photo berdua, pikirnya.
"Makasih mas." Pelayan mengangguk dan tersenyum lalu pergi.
Pasir putih laut yang menjadi kesan indah tersendiri di pulau ini. Kiki yang tersenyum senang, menyandarkan kepalanya di bahu kanan Revan, bahkan dia sudah melupakan kesedihan tentang mamanya. Secepat itukan, benar apa yang di katakan papanya kalau Kiki sudah ada yang menjaga dan mendampingi.
Bayangan masa lalu yang selalu menyerang pikirannya juga sudah hilang bahkan sudah tak ada lagi, kosong. Sekarang yang ada hanya Revan, Revan dan Revan. Mereka yang sama-sama memiliki gengsi yang tinggi, untuk mengakui perasaannya juga terlalu gengsi. Di awal Kiki sempat meragukan hal itu, tentang Revan yang mencintainya. Sampai menikah, Kiki masih meragukan itu semua. Tapi mengingat cara Revan memperlakukannya, dan tadi malam. Kiki juga sudah menyerahkan semuanya. Mendengar Revan mengucapkan doa agar segera mempunyai momongan, rasanya tidak ada lagi kata ragu untuknya.
Dan meyakini, kalau Revan memang benar-benar jodohnya yang dikirim Tuhan. Dimana saat dirinya terpuruk karena cinta, dan disitulah Revan datang mengobatinya, dengan mengatasnamakan pertemanan di awal hubungan mereka.
"Nggak seistimewa sewaktu Bima berbulan madu disini." Bergumam pelan, tapi jelas Revan masih bisa mendengarnya melalui angin yang bersambut.
"Pak Bima?" Kiki mendongak.
"Iya. Waktu Bima dan Maudy bulan madu disini, serasa sangat istimewa. Maudy juga mau makan apa selalu di tanyakan." Tiba-tiba saja Revan bangkit dari duduknya, Kiki hampir terjungkal karena masih terlalu nyaman menyadarkan kepala di bahu Revan.
"Tunggu sebentar disini." Kiki belum menjawab dan Revan sudah melangkah pergi.
Kok malah pergi sih, memangnya dia nggak tau apa kalau aku ini nyindir?
Beberapa menit Revan kembali, membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Ini." Menyerahkan kepada Kiki.
"Kenapa?"
"Pegang dulu." Mengatur posisi, lalu meletakkan nampan dan mengambil kembali makanan yang ada di tangan Kiki.
"Buka mulutnya." Kiki menurut.
"Kita berbeda dengan pak Bima. Dia bisa menggunakan apapun dengan uang. Aku hanya bisa membahagiakan mu dengan apa yang aku punya, hati dan perasaan."
"Maaf, aku nggak bermaksud begitu." Merasa bersalah, memang bukan itu maksud Kiki.
"Berarti kamu pernah datang kesini?" Kiki mengangguk, kan sudah aku bilang tadi, begitu batinnya menjawab kesal. "Sewaktu pak Bima dan mbak Maudy bulan madu? Lalu kamu juga datang dengan Agam?" Kiki hampir tersedak, menunjuk ke arah minuman yang ada di samping Revan.
"Mas, maksud kamu apa sih?" Bingung.
"Kan kamu sendiri yang bilang tadi, sewaktu kita baru sampai. Kamu senang sekali, seperti melihat kenangan indah disini." Kiki meneguk minumannya dulu sebelum menjawab, lalu tarik nafas dan tertawa kecil.
"Sejak kapan aku pernah datang kesini dengan Agam? Tidak pernah! Aku hanya datang kesini dengan kak Sun. itu juga karena ada keperluan Bima sehingga akan meninggalkan Maudy di pulau ini."
"Berarti aku yang salah dengar?"
"Sudah jangan di bahas, aku juga tidak ingin membahas masalah itu, lelaki itu. Aku tidak mau, kamu suami aku mas." Revan mengangguk lagi.
Masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tentang photo itu. Kenapa kalau tidak ingin di bahas tentangnya masih menyimpan photonya?
Debur ombak menghempas batu karang, pulau yang di beri batasan dengan pagar besi menghalangi mereka untuk langsung menyentuh percikan ombak. Indah, Revan kembali meletakkan piring karena makanannya sudah habis. Matanya memandang takjub ciptaan Tuhan yang satu ini. Meskipun pulau ini juga menjadi tempat Bima dan Maudy berbulan madu, Revan tak merasa keberatan. Malah baginya ini tempat yang tepat, tidak ada yang mengecewakan disini.
"Aku cinta kamu." Untuk pertama kalinya, Kiki mendengar itu secara langsung. Meski Revan hanya menatap laut lepas di depan sana, tapi Kiki tau kata-kata itu tertuju untuknya. "Hiduplah terus bersamaku, sampai kita menua bersama anak dan cucu." Mata Kiki memanas seketika, kebahagiaan yang datang tanpa di undang. Ternyata, mendengar kata cinta dari mulut Revan sangat menyentuh hatinya.
"Aku juga." Revan menoleh. Memeluknya dan mengecup keningnya, ombak yang hancur karena terhalang oleh karang menjadi baground terindah di sore hari.
"Enak ya, pelukan disini. Sudah terwujud ya yang bulan madu?"
__ADS_1
Mereka serempak menoleh, dan deg. Bagaimana orang aneh ini bisa sampai disini?
--__