
Suasana kantor pagi ini semakin riuh ketika mendengar kabar duka dari Bima dan Revan rekan mereka di kantor. Padahal kisak-kisuk sudah menyebar bahwa Revan akan segera naik jabatan, tapi malah musibah datang menimpanya. Yang seharusnya jam 8 pagi semua sudah stay di dalam ruangan, ini malah saling nimbrung di meja rekan kantornya.
"Jadi gimana Revan? Eh si Rina gimana tuh bukannya kabarnya mereka dekat ya?"
"Eh iya, kita samperin yuk mumpung masih santai nih kerjaan." Tiga karyawan kantor ini yang super duper kepo ingin tau, memang begitu kan? Setiap bagian di pekerjaan pasti ada orang yang seperti ini.
"Eh Rin, gimana Revan? Katanya dia juga selamat?" Rina, pegawai kantor yang lebih tua usianya dari Revan, dia mengangguk lesu.
"Aku udah kesana sih, udah jumpa juga sama orang tuanya, katanya Revan mengalami patah tulang di kedua kaki, soalnya terjepit. Tapi bersyukur karena nggak harus di amputasi."
"Wah, kamu jagain dia dong. Kan kamu gebetannya." Rina diam, dan kembali fokus ke pekerjaan.
"Hei, hei balik ke meja kalian!" Kepala bagian masuk dengan berkacak pinggang, melihat bawahannya yang hobi sekali bergosip. Tapi memang siapapun yang tau kejadian ini pasti penasaran.
***
Sundari, dia baru saja masuk ke dalam kantor, baru beberapa langkah sudah banyak orang yang bertanya dengannya, meski risih tapi Sundari menjawab saja yang dia tau.
"Maaf mbak, aku hanya sekretaris kantor saja bukan sekretaris pribadi pak Bima, jadi untuk perkembangannya seperti apa aku nggak tau, lagian aku juga bukan dokternya. Kalau kalian ingin tau lebih baik datang saja langsung ke rumah sakit. Permisi." Mereka mendengus mendengarnya, Sundari tak peduli lagi dengan mereka yang terus memanggil namanya. Jalan terus, masuk keruangan, lalu fokus mengerjakan pekerjaannya. Begitu batinnya berbisik.
Sepi, ruangan kosong. Sundari menghela nafas, bagaimana memulai pekerjaan yang setumpuk seperti ini tanpa adanya perintah, mau mulai dari mana juga tidak tau. Mau menghubungi siapa? Sementara Bima juga belum bangun dari komanya.
Sampai jam istirahat kantor, Sundari hanya memeriksa semua dokumen, tapi tanpa tanda tangan. Hingga terdengar suara handel pintu terbuka ketika Sundari juga hendak keluar untuk mengisi perut.
"Eh pak." Sundari menunduk sopan.
"Kamu mau istirahat?"
"Iya pak Rio."
"Oke silahkan, setelah jam istirahat selesai, saya mau adakan rapat." Baik, begitu Sundari menjawab lalu berjalan keluar.
Gimana keadaan Maudy sekarang ya? Apa dia baik?
"Sundari." Salah satu karyawan kantor mengejarnya dengan berlari kecil sebelum Sundari masuk ke dalam lift.
"Iya kak?"
"Hem, gimana kabar pak Bima?" Sundari langsung menghela nafas.
"Aku nggak tau kak, itu tanya aja sama saudaranya, dia ada di ruangan pak Bima." Belum menyerah dan ikut masuk ke dalam lift.
"Kasian ya pak Bima." Sundari mengangguk dan tersenyum kecut. "Padahal dia orang baik, semoga aja pak Bima segera pulih dan kembali ke kantor."
Ting. Suara lift terbuka dan Sundari melangkah keluar. Baru saja sampai di loby kantor, matanya menangkap ramainya orang-orang yang membawa kamera.
Kenapa ada wartawan? Kenapa bisa masuk? Apa memang di perbolehkan?
"Pak, itu kenapa banyak wartawan?" Sundari bertanya kepada salah satu securitty yang ada disana.
"Mereka maksa masuk mbak, karena tadi sempat melihat pak Rio datang kesini." Wajahnya terlihat panik dan bingung.
"Apa sudah memberi tau ini kepada pak Rio?"
"Sudah mbak, tapi pak Rio belum turun. Mungkin dia juga tidak mau kabar ini terekspos di media." Sundari melangkah pergi dengan melewati segerombolan orang-orang yang sudah siap dengan peralatan mereka untuk mencari berita.
Suasana ini sangat tidak nyaman untuk pemilik perusahaan ataupun karyawannya. Karena ini, malah akan menjadi ruwet nantinya. Mereka yang harusnya cepat-cepat pergi ke pantry untuk mengisi perut jadi tertunda, karena rasa penasaran yang besar di setiap orang. Banyaknya karyawan berdiri sambil berbisik. Menunjuk ke arah wartawan yang pandangannya terlihat liar.
"Apa memang pak Adi sengaja mengundang mereka ya?"
"Entah, aku juga tidak tau. Ah sudahlah biarkan saja, lebih baik kita makan sebelum jam istirahat habis."
Setelah mendapat kabar dari Rio bahwa securitty di tugaskan untuk mengusir para wartawan barulah mereka bergerak, itu juga masih ngotot untuk mendapat berita, sedikit saja pun tak masalah. Mencoba mendekati karyawan yang melintas di dekat mereka, bagaimana Bima, keadaan Bima, tapi tetap saja, semua karyawan kantor juga tidak tau menahu. Dengan wajah lesuh, mereka pergi meninggalkan halaman kantor.
***
__ADS_1
Semua sudah berkumpul di dalam ruangan, duduk diam dan menunggu Rio berbicara. Para kepala bagian dan staf penting lainnya sudah berada disini.
"Baik, saya akan memulainya." Menarik nafas. "Kalian pasti sudah mendengar kabar duka ini kan?" Semua mengangguk. "Jadi, selama adik saya Bima selaku CEO perusahaan ini belum bisa kembali ke kantor ini. Saya yang akan menghendlenya." Mereka manggut-manggut, diam tak menjawab.
"Apakah kalian keberatan jika nanti malam akan di adakan doa bersama?"
"Tidak pak." Salah satu mewakili setelah berbisik dengan yang lain.
"Saya harap juga begitu. Baiklah, malam ini kita melakukan doa untuk kesembuhan Bima, kita melaksanakannya di halaman kantor, saya harap kalian datang tanpa terkecuali."
"Dan saya juga ingin menyampaikan, saya tidak bisa datang kesini setiap harinya, karena tidak mungkin saya bisa terus disini, sementara saya memegang dua perusahaan sekaligus. Jadi, selama saya tidak ada, jika ada keperluan, kalian bisa langsung mengatakannya kepada Sundari." Menoleh ke arah Sundari. "Ada yang ingin kalian tanyakan?"
"Pak?" Salah satu kepala bagian tunjuk tangan.
"Ya? Silahkan?"
"Bagaimana keadaan Revan pak? Bukankah dia juga pergi dengan pak Bima dan menjadi korban kecelakaan pesawat? Apakah dia baik-baik saja." Rio langsung terdiam, kerongkongannya terasa tercekat, bagaimana bisa dia sendiri bahkan melupakan hal itu.
"Revan juga masih koma." Terdengar nada kegetiran.
"Pak, kenapa tidak sekalian kita mendoakannya?"
"Baik, bisa jika kalian mau." Rio mengangguk setuju. "Ada lagi yang ingin kalian tanyakan?" Mereka diam saling pandang.
"Kalau tidak ada, rapat kita tutup ya. Jangan lupa jam delapan malam kita sudah berkumpul disini, sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk partisipasi kalian." Rio langsung pergi meninggalkan ruangan.
Dan apa, setelah Rio meninggalkan ruangan, Sundari masih bisa mendengar jelas apa yang di bicarakan karyawan lainnya, mungkin karena ruangan ini kedap suara, jadi jika mereka berbicara dengan pelan sekalipun tetap saja akan mendengarnya.
"Nggak adil ya nggak? Masak harus kita yang ingetin, kan kasian Revan. Aku yakin pasti keluarga pak Bima belum ada yang melihat Revan sekarang."
"Iya benar, kasian Revan. Kalau begini bagaimana dia cari uang untuk biaya pengobatan orang tuanya?"
"Hus, kalian ini kenapa sih! Itu kan kecelakaan pesawat, bukan di karenakan pak Bima! Itu sudah kehendak dari yang maha kuasa. Kenapa kalian malah menyalahkan pak Bima dan keluarga? Lagian keadaan pak Bima saat ini saja masih koma, mana mungkin malah mementingkan orang lain?" Sontak dua orang provokator ini terdiam, Sundari menarik sedikit sudut bibirnya mengulum senyum, lalu setelah itu pergi meninggalkan ruangan.
***
Dia berdiri di sisi jendela gedung, menunggu seluruh karyawan yang sudah berjanji akan datang malam ini. Dan dia, bahkan tidak pulang lagi kerumah ataupun kerumah sakit. Kenapa? Karena dia sangat ingin sekali mendoakan Bima dengan mendapat amin dari seluruh karyawan, Rio yakin hal ini akan membantunya. Tuhan tidak tidur, begitu pikirannya berspekulasi.
Pintu ruangan yang menjadi persembunyiannya beberapa jam lalu tampak di ketuk, Rio menoleh ke belakang dengan tangan masih ia selipkan ke saku celana.
"Kenapa?" Melihat securitty sudah berdiri disana.
"Pak, ahli Agama sudah datang." Rio mengangguk.
"Kalau beliau tidak keberatan aku ingin berbicara dengannya disini."
"Baik pak akan saya sampaikan." Pintu di tutup kembali, Rio kembali duduk di sofa dan menunggu. Lalu menelpon seorang OB yang sengaja di lemburkan hari ini untuk membantu menyiapkan makanan untuk para karyawan yang siap melakukan doa.
"Tolong antar minuman ke ruangan saya ya."
"Baik pak."
Rio kembali menyandarkan tubuhnya, memijat keningnya sendiri.
Bagaimana nantinya, apa aku masih punya waktu untuk keluarga ku jika pekerjaan ku saja terlalu banyak? Ah ku harap setelah ini aku mendapat kabar baik mengenai kondisi Bima.
Suara pintu kembali di ketuk, Rio langsung mempersilahkan masuk.
"Pak Rio?" Seorang ahli Agama, dengan pakaian yang pas di kenakan untuk memimpin doa malam ini. Rio tersenyum membalasnya dan mempersilahkan untuk segera duduk.
"Terima kasih pak sudah mau datang."
"Itu sudah sebuah kehormatan untuk saya dapat melakukan doa untuk kesembuhan keluarga bapak Adi Nugroho. Bagi saya itu sudah luar biasa, kalian mau mempercayakan kepada saya." Rio tersenyum lagi.
"Apa belum ada perkembangan mengenai kondisi Bima pak?" Rio menggeleng pelan.
__ADS_1
"Ini pak minumannya." Seorang OB masuk dan meletakkan ke atas meja.
"Terima kasih." Menunggu OB keluar pintu barulah Rio siap menjawab.
"Saat ini belum ada perubahan sama sekali pak, masih sama. Adik saya koma, bahkan dokter sendiri mengatakan tidak tau sampai kapan." Menghela nafas berat. Seorang ahli Agama yang bernama Surya, beliau menepuk pundak Rio dan tersenyum.
"Bersabarlah, ingat Tuhan tidak tidur. Ini hanya cobaan." Rio mengangguk.
***
Semua sudah berkumpul di halaman kantor, kursi yang sudah di sediakan dan tenda guna mengantisipasi jika tiba-tiba terjadi hujan. Rio juga tidak tau apakah seluruh karyawan hadir untuk ikut mendoakan Bima malam ini atau tidak, tapi yang dia tau seluruh kursi yang di sediakan penuh, sesuai dengan hitungan berapa banyak karyawan perusahaan.
Matanya berkaca-kaca ketika pak Surya mulai hikmat dalam memimpin doa, suara gumam yang menjadi satu terdengar bersahut-sahutan dengan mengucapkan amin membuat jantungnya berdegup kencang dan merinding.
Keadaan kembali hening ketika pak Surya mulai lagi dengan doanya. Seluruhnya menunduk, memasrahkan kepada Tuhan. Harapan yang sama juga terukir di setiap hati mereka, berharap Tuhan mendengar doa mereka malam ini.
Hingga satu jam lamanya, doa berakhir dengan di tutup ribuan terimakasih kepada mereka yang hadir malam ini. Rio meneteskan air matanya, menghapusnya sebelum ada yang melihat.
"Terima kasih pak, terima kasih juga untuk kalian yang mau hadir disini." Penutup, dan Rio kembali duduk. Sebuah nasi kotak di bagikan secara merata sebagai wujud ucapan terima kasih.
"Pak, apa kami boleh datang kerumah sakit untuk melihat keadaan pak Bima?" Rio tersenyum.
"Maaf, bukan saya menolak. Tapi mana mungkin dengan jumlah kalian yang tidak sedikit pihak rumah sakit memperbolehkan kalian untuk masuk." Kikuk, mereka malah tersenyum malu.
"Cukup kalian membantu doa saja pihak keluarga bapak Adi sudah sangat senang dan bersyukur." Mereka mengangguk.
Kini, semua kembali sepi. Halaman sudah tak menyisahkan satu orang pun terkecuali dirinya sendiri. Mobil sudah dinyalakan mesinnya, dan tujuannya sekarang adalah rumah sakit, untuk sekedar mendengar kabar tentang perkembangan Bima.
Lampu mobil sudah menyorot ke arah gerbang, seluruh securitty yang bertugas malam ini menunduk sopan ketika mobil melewati gerbang. Rio membalas dengan anggukan dan tersenyum.
Hari melelahkan sudah harus dia jalani mulai sekarang. Terkadang sempat berpikir dosa apa yang di perbuat keluarganya sehingga mendapat cobaan seperti ini.
***
"Bagaimana Bima pa?" Rio datang dengan masih menggunakan pakaian lengkap seperti ia berangkat tadi pagi.
"Apa kamu tidak pulang dulu kerumah?" Rio menggeleng.
"Bima, belum ada perubahan." Rio langsung duduk dan diam, wajahnya lesu.
"Pulang lah io, biar papa sama mama yang menunggu Bima disini. Temui anak kamu dan istrimu yang sudah menunggu di rumah." Setelahnya Rio pergi papanya kembali duduk di samping istrinya yang hanya diam sejak tadi. Wajah pucat seorang ibu jelas terlihat disana.
"Ma? Mama belum ada makan apapun ma." Dia diam. "Ma?"
"Pa, mama benar-benar nggak berselera untuk apapun sebelum dokter mengatakan Bima sudah melewati masa kritisnya." Mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu duduk dan melipat kedua tangannya. Pandangannya kosong menatap lorong rumah sakit yang juga setiap luar ruangan ada keluarga pasien yang menunggu keluarganya.
"Kalau saja mama ijinkan papa yang berangkat waktu itu, pasti mama tidak akan sesedih ini melihat Bima sekarang."
"Pa, jika ini terjadi juga sama papa, mama juga sedih pa. Apa maksud papa mama akan senang jika kalian bertukar posisi?"
"Ini salah papa ma." Istrinya langsung menoleh. "Iya salah papa." Menghela nafas berat. "Mungkin ini adalah karma buat papa, atas perlakuan papa dulu ke Bima, dan sekarang papa bahkan takut kehilangannya ma."
"Bapak Adi?" Mereka serentak menoleh ketika dokter yang menangani Bima keluar.
"Siapa Maudy?" Beliau langsung berdiri.
"Bima belum membuka matanya, tapi sedari tadi perawatan mendengar dia memanggil nama itu."
"Maudy pasien ruangan VVIP dok, yang di rawat sebelum Bima di pindahkan kerumah sakit ini. Dia menantu saya, dia istrinya Bima." Mengucapakan lirih.
"Apa anak saya sudah melewati masa kritisnya dok?" Mama Lisa juga membuka suara.
"Semoga saja. Baiklah saya permisi." Mereka hanya bisa mengangguk.
"Pa, tolong hubungi dokter yang menangani Maudy sekarang pa."
__ADS_1
--__