
Tiga bulan berlalu begitu cepat, kini perut tak lagi rata. Maudy sudah memasuki kehamilan bulan ke lima. Dengan masih aktif di resto dan juga ibu rumah tangga. Semua yang di katakan ayahnya memang benar, Maudy adalah wanita kuat. Terbukti dari ia jarang mengeluh tentang lelah, jarang mengeluh tentang susah bergerak. Tidak, semua masih ia lakukan seperti biasanya, memasak di resto. Hanya saja Bima melarangnya jika mengangkat benda apapun yang berat.
"Sayang, nanti siang aku makan di resto ya?" Sambil terus mengunyah sarapan yang Maudy buat sendiri. Sebenarnya dirumah mereka juga sudah ada ART. Bahkan juga ada penjaga khusus di luar rumah. Tapi Maudy mempunyai prinsip, untuk makanan, biar dia sendiri yang urus.
"Nggak repot nanti Bim? Kamu bolak-balik ke kantor. Atau nggak biar nanti aku kirim aja makanannya ke kantor ya?"
"Boleh sayang?" Mengelus pipi istrinya.
Setelah selesai dengan urusan sarapan di pagi hari Bima pamit untuk pergi, dan Maudy juga ikut mengantarnya sampai di mobil. Melambaikan tangan ketika mobil sudah mulai menjauhi pekarangan rumah, sampai tak terlihat barulah Maudy berbalik dan kembali masuk. Saatnya bersiap untuk menjalankan usahanya.
"Nyonya, apa anda menginginkan sesuatu?" Maudy tersenyum.
"Nggak ada bi. Ini juga sudah mau ke resto?" Maudy pergi dan menyebrang dari pintu samping rumahnya, nah dengan begitu dia sudah masuk ke dalam resto miliknya. Semua di ubah sesuai dengan kemauan Bima. Dia mau dalam waktu satu menit Maudy bisa sampai ke resto.
"Pagi mbak." Sapaan karyawan yang sudah lebih dulu datang. Maudy tersenyum membalasnya, salut dengan mereka bekerja dengan baik, memang itu yang dia harapkan dari setiap pekerja.
"Apa kalian sudah sarapan?" Ada yang menggeleng dan ada juga yang mengangguk. Maudy tertawa kecil. Lalu mengambil dua lembar uang dan memberikan kepada mereka.
"Belilah yang kalian mau, ini perut biar tenaga juga on, hehe." Sontak mereka langsung tersenyum, setiap hari juga begini, batinnya.
Pekerja di resto yang awalnya hanya 4 orang, kini sudah menambah jadi 10 orang. Masing-masing bagian sudah di tentukan, ada bertugas menjaga kasir. Ada juga yang khusus membantu Maudy di dapur. Jadi mereka tidak kwalahan.
"Tika, coba kamu lihat stok bahan masih ada atau tidak." Maudy memberi perintah kepada salah satu pekerja yang membantunya di dapur. Walau resto buka mulai jam 11 siang, tapi Maudy sendiri sedari pagi sudah berada disini. Dan karyawan lainnya, sebenarnya tidak memberi mereka jam masuk pagi, tapi anehnya mereka juga selalu datang kesini lebih awal, duduk santai sambil berbincang.
"Mbak, ada yang cari mbak di depan?" Maudy mengerutkan keningnya, siapa? Batinnya bertanya.
"Tika, mbak ke depan dulu ya?"
Maudy berjalan dan melihat arah depan, ada mobil yang sangat ia kenali sudah terparkir disana.
"Mama?" Tersenyum senang.
"Mama tau pasti kamu sudah disini. Kenapa cepat sekali? Bukan kah resto bukanya siang?"
"Iya ma, dirumah juga bosan." Maudy mengajak mama Lisa duduk di dekat kolam renang resto, karena suasana disana lebih pas untuk mengobrol.
Tak lama, papa Adi juga ikut menyusul. Duduk di samping istrinya, dan menyerahkan sebuah kantung plastik, sepertinya berisi makanan.
"Kata Bima kemarin kamu pengen makan roti khas kota ini. Jadi papa belikan."
Ya ampun, akhirnya.
"Makasih ya pa." Papa Adi mengangguk lalu tersenyum.
"Ma, maaf ya kalau aku dan Bima belum sempat untuk datang kerumah mama, soalnya resto semakin ramai sekarang."
"Wah benarkah? Bagus dong. Berarti nggak sia-sia papa promosinya resto kamu Dy." Mama Lisa berujar, Maudy langsung terdiam, maksudnya? Bingung. Lalu menatap ke arah papa mertua, dan dia mengangguk.
"Papa promosikan sama rekan bisnisnya." Lanjut mama Lisa lagi. "Dan mereka bilang ke papa kalau makanan disini enak, semua fresh. Dan juga sama seperti masakan rumahan." Maudy tersenyum senang, mengelus perutnya dan yakin kalau ini rezeki anaknya.
Maudy mengucap terima kasih berkali-kali, dan kemudian membuka roti yang sudah sangat ia inginkan. Rasanya tak sabar jika harus menunggu nanti.
"Dy, kehamilan kamu baru berusia 5 bulan kan?" Maudy mengangguk sambil terus mengunyah.
"Kenapa terlihat besar sekali ya?" Menoleh ke arah suaminya.
"Mungkin karena akhir-akhir ini aku makannya banyak ma. Ya selera makan kayak bertambah dua kali lipat gitu." Lanjut menguyah lagi.
"Apa kamu sudah pernah melakukan USG lagi?" Maudy menggeleng. Memang belum, semenjak tau dia hamil belum pernah melakukan USG lagi, walau Bima sering mengajaknya untuk sekedar melihat perkembangan janin yang dia kandung, tapi Maudy menolak. Karena sudah pasti mereka akan mengetahui jenis kelamin anaknya. Tak mau frustasi dan menjadi beban pikiran, karena apa? Papa Adi sangat mengharapkan jika cucunya kali ini berjenis kelamin perempuan.
"Mau mama antar? Mama tau kalau Bima sibuk, dan kamu juga?" Maudy masih diam berpikir. "Sekarang juga bisa. Kamu mau kan?" Sepertinya paksaan baginya. "Jangan takut, soal jenis kelamin. Papa cuma mengharap tapi tidak memaksa."
Tapi kalau sudah mengharap ujungnya tetap akan kecewa kalau tidak sesuai keinginan.
"Dy?" Maudy langsung menoleh ke arah papa Adi.
"Iya Dy, ayo kami antar." Maudy mengangguk, lalu memberi tau seluruh karyawan yang sudah ada disini, untuk tidak membuka resto dulu sebelum dia kembali.
"Jadi, biarkan tanda close bertengger disana ya? Tunggu sampai mbak balik." Semua mengangguk patuh.
***
Suasana rumah sakit tampak ramai. Rumah sakit yang paling mewah dan pastinya mahal di kota ini. Banyaknya ibu hamil yang mengantri untuk memeriksa kandungan mereka. Maudy menatap lekat kearah kursi yang hampir penuh, peluhnya terjatuh, sudah bisa di bayangkan olehnya pasti ini akan menunggu lama.
"Kamu tunggu disini sama mama." Papa Adi masuk ke dalam ruangan, semua mata tertuju kepada mereka. Bahkan Maudy sendiri bingung, belum mendaftar dan belum mendapat nomor antrian. Sementara papa masuk ke ruangan dokter.
__ADS_1
"Ma? Apa nggak langsung daftar aja biar dapat nomor antrian?"
"Biar papa yang urus." Tersenyum lalu mengusap lembut lengan Maudy.
Selang lima menit, papa Adi keluar bersama dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungannya setiap bulan.
"Maudy Ambar Sari, mari masuk." Dia tersenyum ramah. Tapi tidak dengan tatapan para ibu-ibu lain yang seperti ingin protes. Biasanya juga tidak begini, kalau dengan Bima selalu mengantri.
Apa papa mengancam dokter supaya aku di periksa lebih dulu??
"Biasanya jadwal periksa tanggal berapa?"
"Seharusnya Minggu depan dok." Dokter mengangguk lalu tersenyum. Papa Adi keluar ruangan, dan hanya mama Lisa yang menemani di dalam.
"Kita periksa detak jantungnya dulu ya, setelah itu kita lakukan USG." Dokter mengeluarkan alat yang Maudy tebak itu adalah alat untuk memeriksa detak jantung anaknya.
"Baik, bisa di dengar ya? Detak jantungnya normal." Dokter terus menggeser ke seluruh bagian perut Maudy.
"Kok ada dua ya detak jantungnya?" Dokter sendiri juga bingung, lalu Maudy menatap ke arah mama Lisa.
"Sebaiknya kita langsung melakukan USG." Dokter mulai mengoleskan gel dingin, Maudy sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Layar sudah mulai menampakkan keadaan janin di dalam perut, baik Maudy dan mama Lisa masih sama-sama belum mengerti sebelum dokter menjelaskan, meskipun mata mereka sudah menatap lekat ke arah layar.
"Apa kamu tidak mudah lelah ketika melakukan sesuatu?" Maudy menggeleng.
Dokter tersenyum. "Kalau naf su makan kamu bertambah wajar ya. Itu malah bagus. Karena pertumbuhan dua janin membutuhkan asupan yang lebih dari ibunya." Mereka saling pandang.
Dua janin?
"Apa ingin tau Jenis kelaminnya?"
"Iya dok." Mama Lisa menjawab dengan cepat.
"Sebentar ya?" Dokter menggeser lagi alat yang menempel di atas perut Maudy.
"Perempuan ya." Dokter menoleh ke arah mama Lisa dan Maudy.
Ya Tuhan terima kasih.
"Maksudnya? Anak kembar? Dua janin?" Susunan kata bahkan tak beraturan, Maudy merasa ini mimpi.
Bukan kah ibu pernah bilang, kalau mempunyai anak kembar adalah gen keturunan. Tapi baik ibu dan ayah tidak memiliki saudara kembar, begitu juga dengan keluarga ibu dan ayah.
Selesai melakukan pemeriksaan dan USG. Mama Lisa dan Maudy duduk menunggu penjelasan dokter selanjutnya.
"Ini print USG nya. Barang kali ingin menunjukkan ke suami." Maudy menerimanya dengan hati berbinar.
"Saran saya, makan makanan bergizi harus di perbanyak, karena kamu mengandung dua janin sekaligus. Dan, kalau perlu sering mengkonsumsi ice cream. Itu tidak masalah, karena disini berat badan bayi dalam kandungan masih kurang kalau menurut usia kandungan." Maudy mengangguk.
"Dan ini vitamin juga diminum sampai habis ya?" Menyerahkan beberapa obat.
"Saya mau bulan depan perkembangan janin harus sudah seimbang dengan usia kandungan ya." Dokter tersenyum ramah.
"Baik dok, terima kasih." Mama Lisa menggandeng lengan Maudy dengan senyum yang mengembang keluar ruangan. Beberapa dengan tatapan para ibu-ibu lain yang melihat mereka masih dengan tatapan sebelum mereka masuk. Padahal sama-sama orang berada, batin mereka.
"Ayo pa." Mama Lisa langsung mengajak untuk pulang. Sementara papa masih terus meminta penjelasan.
"Di rumah saja pa."
"Dy, sebaiknya hari ini kamu jangan melakukan kegiatan apapun." Nah kan, batinnya menebak ternyata benar.
"Kamu boleh ke resto tapi kalau bisa jangan melakukan kegiatan apapun, masak sekalipun. Kamu kasih instruksi saja." Mau tak mau Maudy juga hanya bisa mengangguk lemah. Ucapan dokter yang mengatakan berat janin dengan usia kandungan tidak stabil, membuatnya juga menjadikan hal itu beban pikiran.
"Ma, papa hanya ingin tau Jenis kelaminnya." Setelah duduk di dalam mobil suaminya kembali menagih janji.
"Sesuai keinginan papa, bahkan lebih dari itu." Menyerahkan kertas print hasil USG.
"Apa ini? Papa nggak ngerti ma." Melihat kertas print yang berwana hitam putih.
"Kita bakal punya cucu kembar pa." Hah? Papa Adi langsung menoleh ke arah Maudy. Maudy menjawab dengan senyuman.
"Iya pa."
Tanpa berkata lagi, papa Adi langsung menyalakan mesin mobilnya. Tersenyum sepanjang jalan, Maudy bisa melihat itu dengan jelas.
__ADS_1
Apa papa senang mendengar hal ini? Bagaimana ibu nantinya?
***
"Sayang, bagaimana bisa??" Melihat hasil print USG.
"Bim, memang begitu kenyataannya. Apa kamu nggak bahagia mendengarnya? Itu juga hasil usaha kamu Bim." Maudy berdiri, menatap ke arah luar jendela. Memegang kedua jerjak besi. Kecewa, ya itu Maudy pikirkan saat ini. Yang di kira Bima akan senang mendengarnya, seperti papanya tadi.
"Sayang, aku hanya kasian padamu. Melahirkan dua buah hati sekaligus apa itu nggak berat nantinya? Bagaimana keadaanmu nanti?" Frustasi, meletakkan print hasil USG ke atas meja lalu berjalan mendekat ke arah Maudy.
"Apa saja yang di katakan dokter?" Maudy mengingat.
"Dokter bilang kalau sebenarnya berat janin masih kurang."
"Lalu?"
"Aku harus banyak makan makanan bergizi."
"Bukan kah setiap hari juga kamu makan makanan bergizi, bahkan susu ibu hamil juga." Sepertinya Bima tak terima dengan perkataan dokter.
"Aku di perbolehkan untuk makan ice cream Bim. Katanya itu bisa membantu menstabilkan berat janin." Bima mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu kita tidur ya? Sudah malam." Menggandeng lengan Maudy untuk naik ke atas ranjang.
"Sayang, sebenarnya aku sangat ingin melakukannya?" Menatap kedua manik mata Maudy.
"Tapi."
"Tapi apa?"
"Ah sudahlah sayang." Memeluk Maudy dalam pelukannya. Terlelap dan memejamkan mata dengan hitungan menit.
***
Keesokan paginya Maudy bangun, tapi tidak mendapati Bima di dalam kamar, bahkan di kamar mandi juga tidak ada. Kemana dia?? Berjalan keluar kamar.
"Bi, apa melihat Bima?"
"Eh tuan sudah pergi nyonya, satu jam yang lalu?" Apa?? Maudy langsung melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah jam 08 pagi.
"Ya sudah bi." Maudy kembali masuk ke dalam kamar, mencari ponselnya dan berniat akan menghubungi Bima.
Dering pertama tidak ada jawaban. Kedua, dan ketiga barulah Maudy bisa mendengar suara Bima di seberang telepon.
"Kenapa sayang??"
"Bim, kenapa nggak bangunkan aku sih? Kamu pergi gitu aja!"
"Hehe, maaf ya sayang. Tadi aku buru-buru. Ini aku sudah di jalan pulang kok."
"Pulang? Maksudnya, apa kamu nggak ke kantor Bim?"
"Sudah, tunggu sebentar lagi sampai."
Bima langsung mematikan sambungan telepon sebelum Maudy bertanya lagi.
Maudy masuk ke kamar mandi berniat akan membersihkan diri, setelah itu akan pergi ke resto.
30 menit berlalu, Maudy sudah siap tapi dan wangi, keluar lalu mengunci pintu kamarnya.
"Kenapa bi?" Wajah salah satu ART terlihat bingung.
"Itu nyonya, di depan ada tuan Bima." Iya kenapa?? Maudy bertanya lagi, lalu berjalan ke depan. Memangnya kenapa kalau ada Bima, batinnya.
"Bim?" Bima menoleh.
"Sayang." Berjalan mendekat. Mata Maudy hampir keluar dari tempatnya, melihat mobil box yang membawa ice cream. Berserta tempatnya juga.
"Ini apa Bim?"
"Bukan kah kamu bilang kalau saran dokter harus banyak mengkonsumsi ice cream. Ya sudah, aku beli langsung dari pabriknya, dengan berbagai rasa. Aku hanya mau kamu makan yang sudah terjamin kualitas kebersihannya." Maudy tak mampu berkata lagi, hanya bisa melihat dua orang lelaki masuk ke dalam rumahnya dengan membawa begitu banyak ice cream beserta lemari es berukuran besar, khusus untuk menyimpan ice cream.
Aku rasa suamiku mulai aneh.
---__
__ADS_1