
Kantor tampak ramai, karena semua para karyawan sudah jamnya pulang, jangan di tanya senangnya mereka gimana. Bahkan ada yang sibuk berbicara sambil berjalan dengan menenteng tas berat mereka. Senyum juga terpancar di wajah mereka, pulang berjumpa anak dan istri.
"Bim, sampai kapan kita berdiri disini? Katanya mau pulang?" Bima melarangnya untuk masuk sekarang ke dalam lift, kali ini dia mau hanya berdua. "Lagian ya, biasanya CEO itu punya lift khusus, masa iya begini Bim kalah sama karyawan." Menggerutu lagi, ah kalau keadaan lagi senyap pasti mereka semua bisa mendengar ucapan Maudy.
"Sayang, dengar ya. Aku hanya CEO sayang, aku bukan Tuhan yang semuanya harus aku berbeda sendiri. Aku tidak di puja mereka, aku hanya atasan mereka dan sebatas pemilik perusahaan. Dan, kalau di luar juga aku sudah sama, bukan atasan mereka." Maudy langsung terdiam mendengar ucapan Bima.
Sumpah, suamiku pemikirannya sekarang dewasa sekali!
"Ayo?" Menarik tangan Maudy untuk masuk ke dalam lift karena sudah sepi sekarang. Hanya beberapa saja, itupun Bima menolak mereka untuk ikut masuk dengan menggunakan bahasa tangan.
"Mau ngapain pak Bima sama istrinya ya di dalam lift?" Berbisik setelah pintu lift tertutup.
"Biasalah pengantin baru. Tapi wajahnya kok bisa cantik begitu ya istrinya? Padahal make up nggak tebal." Bergosip ria. Begitu memang, kalau atasan mah selalu di komentari.
Sampai di loby kantor, Maudy melambaikan tangannya menjerit memanggil "Kak Sun" sehingga itu mengundang perhatian semua karyawan yang masih berdiri disana.
"Sayang apaan sih. Kamu beneran mau tanya dia prihal yang tadi?" Frustasi sekarang melihat kelakuan istrinya.
"Iya, kan kamu yang suruh." Bima menggeleng. "Haha nggak lah, aku mau ada perlu sama kak Sun. Sebentar ya Bim." Meninggalkan Bima yang akan mengambil mobil, sementara dirinya sendiri sibuk dengan Sundari yang wajahnya sudah menunduk karena ulahnya. Bahkan sampai ada yang berkata, "Oh jadi kakaknya istri bos toh, pantes aja bisa jadi sekretarisnya" hah Sundari hanya mampu tersenyum, karena dia juga bukan tipe orang yang suka menghakimi.
"Dy, kenapa kamu panggil tadi kenceng banget." Melihat lagi ke sekeliling, masih menyisahkan orang-orang yang tidak seramai tadi. Tapi tetap masih menatap lekat mereka.
"Haha maaf ya kak. Oh iya, besok malam pukul delapan datang ya kak ke resto aku. Makan gratis, sekalian review makanan. Mau ya kak?"
Sundari mengangguk lalu tersenyum.
"Hebat, itu punya kamu sendiri ya?" Maudy mengangguk antusias.
"Pokoknya kakak datang ya?"
"Iya, doain ya semoga nggak lembur."
"Nggak mungkin lah kak, lagian Bima juga harus disana kan? Bukannya kalau dia pulang kakak juga pulang?"
"Ya justru dia kalau pulang karena ada keperluan semua kerjaan kakak yang kerjain." Menghela nafas, tapi semoga saja tidak, begitu doanya dalam hati. "Eh itu Bima, sudah sana kamu pulang. Hati-hati ya?"
"Iya, aku duluan ya kak. Kakak nunggu siapa? Pacar ya?" Masih sempat-sempatnya menggoda.
"Hehe, bukan. Ayah kakak yang jemput Dy."
Klakson sudah di bunyikan Bima, menunggu istri yang masih sibuk berbincang tanpa mempedulikan dia yang sudah beberapa detik lalu, hah baru beberapa detik padahal.
"Sayang, ayo?"
Maudy mengangguk pamit lalu masuk ke dalam mobil.
"Sayang, jangan terlalu dekat dengan Sundari." Lah? Maudy langsung menoleh.
"Kenapa Bima?"
"Cukup dekat sama aku aja sayang." Tertawa kecil. "Nggak lah, iya boleh cuma jangan di dalam kantor sayang. Kasian Sundari nanti di hujat karyawan yang lain." Melajukan mobil.
"Sayang jangan suruh aku juga panggil dia kakak, aku ini pimpinan sayang. Aku nggak mau terlalu akrab selain sama kamu."
Ya ampun Bim, gemes!
"Aku cium kamu ya?" Tertawa sendiri dengan ucapannya.
"Coba?" Sengaja membuka jendela mobil ketika ada di gerbang, karena biasanya securitty selalu menunduk dan melihat ke dalam mobil.
"Mwah." Satu kecupan mendarat di pipi Bima, bersamaan dengan securitty yang melihatnya.
"Haha." Maudy tertawa lepas ketika melihat spion mobil, securitty memeluk tiang sambil melihat mobil mereka yang semakin menjauh. Wajah Bima juga sudah memerah sekarang.
Tak sabar sampai dirumah.
"Sayang, pasti besok semua karyawan bakal senyum-senyum ngelihat aku!"
"Kenapa memangnya Bim?"
Karena ulah kamu sayang, ya ampun. Nekat banget!
"Haha, kenapa sih? Kamu nggak suka ya? Atau kamu malu karena istri kamu begini?" Bima diam. Pasti ujungnya salah paham sekarang.
"Sayang kamu nggak pengen makan apa-apa?" Mengalihkan topik demi menyelematkan diri dari tuduhan istri.
"Nggak!" Lalu melipat kedua tangannya di dada, mengalihkan pandangannya ke arah samping.
"Sayang."
"Sayang."
*Sungguh ku mencintaimu, sungguh ku gila karena mu, sumpah mati hatiku untukmu tak ada yang lain..
Mati rasaku tanpamu, henti nafasku tanpa mu..
Sumpah mati aku cinta..
Tiba-tiba saja Bima bernyanyi, dengan suara yang ngalor-ngidul. Tapi berhasil membuat Maudy menoleh, menahan tawa. Lucu, batinnya. Tapi malu untuk mengakui.
"Sayang, sayang, sayang."
__ADS_1
"Kamu dosa nggak jawab panggilan suami."
"Aku udah jawab Bim." Protes, takut dosa ternyata. "Tapi dalam hati."
"Angin juga nggak akan dengar sayang."
***
Sampai di halaman rumah, dengan melalui banyaknya drama yang di buat Maudy. Menyuruh Bima berhenti dan menepikan mobil karena dia ingin menyetir, dengan alasan pengen setirin CEO. Lalu tak jauh berhenti lagi, dengan alasan nggak cocok masak istri yang nyetir. Iya Bima menurut saja demi mengembalikan mood istrinya.
"Aku masukin mobil dulu ya, ibu sudah pulang belum?" Maudy menggelengkan kepalanya, jelas dia tidak tau lagian jelas-jelas dia juga baru pulang.
Maudy melihat mobil ayahnya juga sudah di rumah, yang berarti ayah dan ibu sudah pulang.
"Bu." Berteriak memanggil ibunya ketika memasuki pintu rumah.
"Iya Dy?" Berjalan dari arah dapur.
"Kok sepi, Tisha mana bu?" Ah dia sudah melupakan kejadian di resto tadi ternyata, ibunya mengucap syukur dalam hati.
"Tisha masih di resto, tadi masih gila renang sih sama temannya."
"Apa mau di buat kolam renang juga di rumah bu?" Tiba-tiba saja Bima masuk dan menjawab ucapan ibu mertuanya.
"Eh!" Mereka sama-sama menoleh.
"Ya sudah besok aku bakal cari orang yang bisa membuat kolam renang dirumah." Ibunya cepat-cepat menggeleng.
"Nggak usah Bim. Lagian juga sebentar lagi kalian bakal pindah. Sudah, nanti malah keenakan Tisha. Ibu juga nggak bisa renang."
"Iya Bim, nggak usah lah?" Maudy juga satu server dengan ibunya, malah jadi kolam hantu nantinya.
"Ya sudah, bu kami masuk kamar dulu ya?" Ibu mengangguk dan tersenyum.
Sesampainya di dalam kamar, Bima sudah tersenyum penuh arti. Membuka satu persatu kancing jasnya, terus berjalan mendekat ke arah Maudy yang melipat kedua tangannya sambil menatap tajam ke arah Bima.
"Stop! Kamu mandi sendiri Bim. Aku mau bantu ibu masak." Huh, mengusap wajahnya kasar, berjalan sedikit membungkuk, memaksakan kakinya yang sudah lemas untuk berjalan ke tempat tidur. Bruk, langsung tengkurap di atas kasur.
"Sayang aah jahat sekali, padahal sudah dari tadi, lihat kamu tidur di kantor jiwaku sudah meronta." Maudy menahan tawanya.
"Memangnya kenapa kalau aku tidur Bim? Apa seksi?" Semakin menggoda dengan nada manjanya, Bima meraih bantal lalu menutup seluruh kepalanya. Lebih baik tidur sebentar, melupakan segala keinginan junior kecilnya.
Tunggu selesai masak, mandi, lalu hajar! Sudah di niatkan dalam hati.
"Bim, aku ke dapur." Lalu keluar menutup pintu.
***
Untungnya dia tidak pernah protes, makan apa yang ada.
"Dy?"
"Itu jangan lupa di masukin, biar harum masakannya." Menunjuk sebatang serai yang sudah di geprek oleh ibunya.
"Bu, aku belum pernah cek ATM." Menoleh ke arah ibunya. "Kata Bima kemarin dia udah transfer uang bulanan buat belanja, tapi lupa mau ngecek." Lanjut memotong daging ayam.
"Kenapa nggak kamu lihat? Maksud ibu tuh Dy, kamu masak aja sendiri, kamu tanya dia pengennya makan apa. Kasian kalau ngikuti ibu, ibu kan kalau masak ya apa adanya. Memang begitu kan kita dari dulu? Tapi kan kamu tau sendiri, Bima berbeda derajat sama kita. Gimana kalau dia sampai ngeluh ke orang tuanya, soal makanan misalnya." Maudy langsung terdiam, bahkan sampai menghentikan aktivitasnya saat ini, memikirkan omongan ibu.
Kalau benar Bima ngeluh, gimana?
"Kenapa? Kamu marah lagi karena ibu bilang begitu?" Maudy menggeleng. "Ibu hanya kasih tau kamu, supaya kamu terbiasa."
Semua masakan sudah selesai, Maudy dengan opor ayamnya, dan ibu dengan rendang jengkol kesukaan ayahnya, eh tidak Maudy juga suka, suka sekali malah.
"Ibu." Teriak Tisha yang baru saja pulang. Pakaian yang ia kenakan basah, air menetes di lantai seiring dengan dia berjalan.
"Kamu baru pulang? Ya ampun, kenapa basah begini? Dimana hujan Tisha?" Tisha tersenyum menampakkan deretan giginya yang tak beraturan.
"Tadi ibu tau kan kalau aku renang, tapi ibu juga tau kan kalau aku nggak bawa baju ganti?" Ibu Irma hanya geleng-geleng.
"Mandi sekarang, nanti kamu masuk angin. Hari sudah hampir gelap, sebentar lagi kita makan."
Ibu berjalan lagi ke belakang mengambil kain pel.
"Aw.." Maudy berteriak, ketika baru saja keluar dari kamarnya.
Ibu yang mendengar dengan cepat berlari tergesa-gesa. Begitu juga dengan Bima, bahkan ia masih menggunakan handuk yang dililitkan ke pinggang, karena baru saja selesai mandi.
"Aduh." Maudy merintih, mencoba bangun dengan satu tangannya.
"Dy?" Ibu menjerit lalu segera mendekat, membantunya berdiri.
"Ya ampun, kamu nggak apa?" Maudy menggeleng pelan.
"Sayang?" Maudy langsung membulatkan matanya melihat Bima yang keluar hanya menggunakan handuk.
"Iya aku lupa, sebentar ya?" Masuk lagi ke kamar untuk memakai pakaiannya.
Ibu Irma memapah Maudy untuk duduk di sofa.
"Yang mana yang sakit? Biar ibu pijat? Ini pasti karena air dari pakaian Tisha yang menetes tadi." Maudy hanya meringis, seluruh tubuhnya jelas sakit, terutama kaki dan perutnya.
__ADS_1
"Perut kamu sakit?" Wajahnya ibunya berubah pucat, ketakutannya saat ini, melihat anaknya.
"Apa mau kerumah sakit?"
"Sejak kapan ibu berubah jadi lebay seperti Bima?" Ibunya tertawa kecil.
"Bu, kalau jatuh begini kan wajar ngerasain sakit. Jangan apa-apa harus kerumah sakit dong bu, ibu tau kan aku paling anti." Ibunya manggut-manggut sambil memijat kaki anaknya dengan telaten.
"Ibu ambil minyak dulu, kamu disini aja."
Setelah ibunya kembali sudah ada Bima yang duduk di samping Maudy dengan meletakkan kaki Maudy di pangkuannya.
"Bu, sini biar aku aja yang pijitin. Kalau ibu yang mijit nggak pantas bu." Ibunya tersenyum dan menyerahkan minyak urut kepada menantunya.
Maudy sudah merasakan enakkan sekarang. Meski berjalan agak sedikit pincang, tapi dia selalu bilang "nggak apa-apa" bahkan di tanya berulangkali juga jawabnya tetap sama.
"Sayang, biar aku yang ambil." Kali ini Bima yang menuangkan nasi ke piring istrinya, tak membiarkan Maudy bergerak sedikit pun.
"Romantis sekali ya yah mereka, ibu mau juga dong yah." Suaminya malah mendengus. "Ah ayah!" CK, ibu hanya bisa berdecak dan mengambilkan suaminya makanan ke piring.
"Mbak maaf ya? Ini gara-gara aku tadi." Bima langsung menatap Tisha dengan tajam. Tisha merasa sangat takut.
"Maaf kak, tadi pakaian aku basah." Bima langsung membuang muka dan menoleh ke arah Maudy.
"Iya nggak apa-apa. Udah mbak juga nggak apa-apa kan?" Ayah juga menoleh ke arah Tisha. Kalau saja terjadi apa-apa, pasti tetap akan Tisha yang di salahkan.
"Kenapa nggak di habisin? Kan kamu yang masak Dy?" Melihat belum juga separuh nasi di piringnya habis.
"Nggak enak bu." Bima langsung menoleh.
"Enak kok, ibu makan juga kan?" Bima bertanya.
"Iya enak. Ini pasti karena kamu jatuh tadi jadinya nggak selera makan." Lagi ibunya mencicipinya, memang enak batinnya.
"Bim, kamu bawa Maudy berobat habis makan ini ya?" Tiba-tiba ayah bersuara. Maudy sudah ingin protes dan membuka mulut.
"Iya yah." Huh, Maudy sudah melirik ayahnya dengan tajam. Tapi ayahnya tetap pura-pura tidak tau.
Sesuai kemauan ayah dan Bima, Maudy sudah duduk di kursi antrian rumah sakit sekarang. Menunggu panggilan dari dokter, karena yang ingin berobat bukan hanya dia.
"Kita pulang ajalah Bim, lagian apa yang mau di periksa coba? Aku nggak sakit Bim, hanya terkilir aja kakinya." Bima hanya diam tidak menjawab, menatap wajah istrinya tanpa berkedip, membiarkan dia protes sesuka hati. Dan sampai panggilan untuknya, Maudy tidak bisa lagi protes.
"Silahkan berbaring." Dokter mulai mengeluarkan alat dan memeriksa di bagian perut.
Kenapa semua dokter harus laki-laki sih?
"Apa jatuhnya keras?" Menatap ke arah Bima.
"Nggak terlalu sih dok." Maudy yang menjawab.
"Apa istri anda hamil?" Mereka menjawab bersamaan dengan menggeleng.
"Saya sarankan, coba aja kalian mendaftar ke ruang periksa kandungan ya?" Hah mereka saling tatap.
"Biar lebih jelas. Saya tidak bisa mendiagnosa, lebih baik kalian kesana biar dokter kandungan yang periksa." Dokter tersenyum lalu menatap mereka yang keluar ruangan.
"Sayang, apa kamu hamil?" Berbisik pelan sebelum memasuki ruang dokter kandungan. Untungnya tidak ramai, jadi tak perlu lagi mengantri bisa langsung masuk dan menjumpai dokter kandungan.
"Bim, aku bilang kan nggak!" Ih Maudy sudah menekuk wajahnya.
"Silahkan duduk dulu, isi daftar ya." Dokter mempersilahkan setelah mereka masuk ke dalam. Maudy mengisi selembar kertas berupa data dirinya. Setelahnya menyerahkan ke dokter cantik, ya kali ini dokternya wanita jadi Bima masih bisa santai.
Dokter menanyakan beberapa keluhan akhir-akhir ini, dan Maudy menjawabnya dengan tidak ada. Hanya perutnya yang terasa keram karena tadi terjatuh.
"Saya juga baru selesai datang bulan dua hari lalu dok." Dokter menjawab dengan senyuman lalu mengangguk.
"Sebaiknya kita lakukan USG ya? Supaya lebih jelas. Bagaimana pak?" Bertanya pada Bima, dia juga mengangguk.
Dokter mulai mengoleskan gel dingin ke perut Maudy, dan mengeluarkan alat lalu meletakkan di atas perut.
"Lihat ke layar ya?" Bima tentu memokuskan pandangannya kesana, begitu juga dengan Maudy.
"Apa terlihat?" Maudy bingung, begitu juga dengan Bima. Jangan di tanya, baginya semua sama hitam putih, apa yang di lihat?
"Ibu hamil, usia kandungan sudah hampir genap satu bulan." Mereka sama-sama teriak "apa?" dokter bahkan sampai kaget, belum juga selesai menjelaskan.
"Iya, dan yang kemarin itu bukan datang bulan tetapi hanya mengalami flek saja, itu terjadi tidak dengan setiap ibu hamil, walaupun itu juga tanda dari orang hamil. Saya sarankan untuk lebih berhati-hati. Untung janin ibu tidak apa-apa walupun terjatuh sangat keras. Dan nanti jika ibu mengalami flek lagi, segera periksa ya?" Mata Bima berkaca-kaca, sudah ingin memeluk istrinya sekarang juga.
Terima kasih ya Tuhan.
"Ini vitamin di minum ya, sampai habis. Jangan lupa untuk selalu periksa setiap bulan." Maudy dan Bima mengangguk. "Sekali lagi selamat ya."
"Terima kasih dokter."
Bima berjalan dengan tangan terus menggandeng, tak membiarkan Maudy melepasnya walau hanya sedetik.
"Sayang, besok aku bakal kasih makanan ke seluruh karyawan kantor sebagai rasa syukur ku atas rezeki ini." Mengelus perut Maudy yang memang masih rata.
Bima, terima kasih.
--_
__ADS_1