
"Bim, kamu becanda kan? Biar aku terhibur kan?" Menggeleng tidak percaya. Dari semua masalah yang mereka hadapi, hubungan, pertengkaran dengan papanya. Mana mungkin bisa percaya begitu saja mendengar ucapan Bima.
"Aku serius. Ayo?" Ha? Maudy lebih kaget sekarang.
"Mau kemana?" Bima sudah berdiri mengulurkan tangannya.
"Ngomong sama ibu dan ayah kamu." Maudy menyambut uluran tangannya, dan siap untuk berbicara dengan orang tuanya.
"Sayang, nanti kamu yang ngomong duluan ya? Aku malu." Maudy meliriknya dengan tajam. Tadi saja gayanya ngajak, sekarang malah bilang malu. Maudy sudah kesal sendiri.
"Ibu, ayah?" Maudy duduk di samping ibunya. Sementara Bima, dia duduk agak jauhan. Entah apa juga yang ditakutkannya.
"Ada apa? Bima mau pulang?" Maudy sudah meliriknya, berharap Bima langsung mengutarakan niatnya, tapi Bima malah diam.
"Nggak bu. Udah Bim, bilang sama ibu?" Bima menghela nafas, tadi sifatnya bisa santai, tapi sekarang malah berkeringat. Gimana kalau di tolak sama ayahnya? Pikir Bima.
"Hem gini bu, besok malam keluarga aku mau datang kesini." Ayahnya langsung merespon.
"Mau apa?"
Eh aku takut.
"Mau ngelamar Maudy." Ayahnya langsung menatap putrinya.
"Kamu beneran Bim?" Sepertinya ibu Irma senang mendengarnya, tapi wajahnya lebih terlihat seperti kaget.
"Iya bu. Sebenarnya aku datang kesini cuma mau bilang ini. Mama mau menelepon, tapi takut nggak enak kalau nggak bicara langsung, mama nggak bisa ikut kesini, karena mama juga sibuk, nyiapin lamaran aku besok. Dan besok pagi, aku ijin bawa Maudy ya bu, om? Mau beli cincin." Deg. Maudy terharu mendengarnya. Ini seperti mimpi baginya, hubungan yang awalnya di tentang, bahkan sempat berpisah selama bertahun-tahun, tak ada kabar. Dan kini, tiba dirinya di lamar. Ya ampun, benar yang di katakan ibunya sebelum Maudy memutuskan untuk pergi keluar negeri, kalau jodoh pasti akan tetap bersama.
"Tapi Bim, maaf bukannya kamu sudah tunangan?" Deg. Kedua kalinya jantung Maudy terguncang. Kenapa bisa melupakan hal ini? Maudy menatap Bima, untuk segera memberi penjelasan.
"Tadi malam, pertunangan dan perjodohan di antara kami di batalkan. Semua sudah selesai bu." Syukurlah, Maudy bisa membuang nafas lega, begitu juga dengan ibunya.
"Yah, apa ayah tidak keberatan jika anak ayah di lamar?" Seharusnya Bima yang mengatakan ini, tapi ibu Irma juga tau kalau Bima pasti tidak berani.
"Apapun, jika anak ayah bahagia pasti ayah juga bu." Sepertinya malas banyak bicara dan bertanya.
"Hem iya bu, satu lagi. Mama bilang nggak usah masak, jangan repot-repot menyiapkan apapun. Ibu sama ayah-" Berhenti sebentar, kenapa aku manggilnya ayah? Batinnya.
"Memang seharusnya kamu panggil saya begitu." Ah Bima menunduk, malu rasanya.
"Iya yah. Jadi mama bilang ibu tinggal menunggu keluarga datang, karena nanti sudah ada catering yang nganter makanan kesini."
"Ya ampun, beneran ini Bim?" Maudy mengelus lengan ibunya, bersandar dengan hati yang menghangat. Lagi-lagi malam ini mendapat kejutan, dengan kabar ataupun kenyataannya.
"Bu, aku pamit ya?" Dengan sopan menyalim tangan kedua calon mertuanya, resmi ya sekarang di bilang calon. Tinggal menunggu waktu hingga bisa menyebutnya mertua.
Maudy mengantar Bima hingga ke depan. Hati mereka sama-sama menghangat. Seperti ada bunga yang mekar karena di siram air malam ini. Senyum bisa mengubah malam yang gelap menjadi terang. Senangnya setelah beberapa tahun, sejak duduk di bangku SMA. Pacaran diam-diam, duh.
"Bim, makasih ya?" Tersenyum ke arah Bima, begitu juga dengan Bima.
"Nggak sia-sia ternyata ngamar." Bergumam tapi Maudy masih bisa mendengarnya.
"Bima!!" Mencubit pinggang Bima.
"Sakit sayang." Meringis dan mengaduh kesakitan.
"Cium?" Maudy menoleh ke arah dalam rumah.
"Nggak! Nanti ada yang liat?" Mendorong tubuh Bima agar menjauh.
"Ya udah ngamar lagi, kan nggak ada yang lihat!"
"Bim, udah pulang. Udah malam ini. Nanti papa kamu marah?"
"Nggak peduli, nggak takut!" Dengan gayanya melipat kedua tangannya di dada.
"Ikut aku ke mobil." Menarik tangan Maudy, menolak juga percuma kalau begini.
Bima masuk ke mobil dan duduk dihadapan kemudi. Sementara Maudy masih mematung.
"Buka, masuk?" Anehnya Maudy langsung menurut.
"Ini." Menyerahkan sebuah paper bag yang bertuliskan logo dari pusat mall yang terkenal di kota ini.
"Apa ini Bim?" Melihat dari sisi luar.
"Itu gaun, kakak ipar yang pilihkan, dia pergi sama mama. Itu kamu pakai besok malam ya?" Lagi-lagi tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Memeluk lagi tanpa Bima meminta, mencium wajah Bima tanpa Bima meminta juga.
"Eh." Langsung beringsut menjauh dari Bima. Malu, kikuk, iya.
Apa-apaan sih aku.
__ADS_1
"Kenapa malu? Aku suka kalau kamu agresif!" Ih merinding Maudy tuh, rasanya geli mendengar itu.
"Udah, aku turun ya? Kamu hati-hati. Sekali lagi makasih ya Bim?"
"Makasih aja nggak cukup?" Sudah satu kaki menggantung untuk memijak bumi. Maudy menoleh lagi.
"Maksudnya? Cium? Kan udah tadi Bim, walau nggak sadar." Bergumam pelan di akhir kalimat.
"Sini." Ih Maudy memutar bola matanya malas, mau apa lagi dia sih!
"Aku mau lihat tai lalat di dada kamu!" Spontan Maudy memukul dada bidang Bima. Bima tertawa puas, melihat wajah Maudy sudah emosi.
"Nggak becanda, sini." Menjentikkan jarinya agar Maudy lebih mendekat.
"Makasih ya, kamu udah terima lamaran aku." Memeluknya penuh kehangatan. "Makasih, udah mau sama aku yang nyebelin, pencemburu dan anak yang selalu di kekang. Makasih mau dampingi aku sampai saat ini. Besok, itu adalah hari dimana salah satu bentuk pembuktian kalau aku serius sama kamu." Mengeratkan pelukannya.
***
Maudy berjalan gontai memasuki rumah, tak lupa senyum.
"Kamu ngapain di dalam mobil Bima Dy?" Langkahnya terhenti, ah ternyata ibunya melihat?
"Ah ini." Memperlihatkan paper bag yang dia bawa.
"Apa itu?" Lebih heran, wajar bukan anak muda ibunya.
"Ini gaun yang di beli mamanya Bima bu, buat di pakai besok malam. Belinya di mall X lagi bu. Pasti mahal harganya." Pamer nih ceritanya.
"Ibu nggak ngerti, soalnya banyak mall disini. Nggak hafal nama. Udah sana masuk kamar tidur. Jangan bangun siang-siang, ingat besok kamu mau pergi sama Bima cari cincin." Maudy mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Maudy segera membuka paper bag yang katanya berisi gaun. Matanya terbelalak, melihat harga yang masih menempel disana. Gaun merah hati yang memiliki renda di bawahnya. Dengan panjang di atas lutut, terkesan seksi tapi juga elegan, sangat malah.
"10 juta?" Maudy sampai menggeleng, ini bahan dari emas apa ya? Pikirnya.
Jika harga bajunya saja segitu, lalu bagaimana soal cincinnya nanti? Apa akan seharga rumahnya? Ah entahlah. Lelah menebak, intinya sedih bertahun akan segera di balas dengan bahagia di kemudian hari, dan semua di mulai dari malam ini.
Maudy meletakkan gaun tersebut ke dalam lemari, tapi padangannya menangkap sebuah bingkisan.
Ya ampun, ini dari Aldy ya? Aku sampai lupa.
Dengan cepat Maudy membukanya. Di dalam, berisi sebuah kotak musik kecil. Berwarna putih, dan ada lambang hati disana, bertuliskan namanya Maudy Ambar Sari. Ya, ini apa maksudnya? Maudy juga heran, kenapa harus ada lambang hati dan bertuliskan namanya.
Maudy mengambil ponselnya dan meletakkan di atas meja kamarnya. Segera memotret kotak musik berukuran yang tidak terlalu kecil. Maudy mencari kontak di ponselnya yang bertuliskan Aldy.
Maudy kembali meletakkan, dan berbaring di atas kasur. Suara musik yang mengalun pelan mampu membuatnya cepat terlelap. Kembali menuju alam mimpi.
***
Pagi ini semua orang sudah di sibukkan, begitu juga dengan Tisha. Ia libur hari ini, tidak bisa santai malah harus bangun pagi membantu ibunya. Bukan soal masak, tapi mencuci karpet bulu tebal, dan sibuk membersihkan seluruh isi rumah. Maudy juga sudah bangun dan dia ke bagian menyapu halaman depan. Mengingat ini masih jam tujuh pagi.
"Tisha, kamu ambil kain pel."
"Tisha, ini jendelanya nanti di lap ya."
"Tisha, nanti jangan lupa kamar mandi kamu yang bersihkan, ibu mau cuci gorden rumah."
"Tisha, cepetan!" Sudah berapa kali namanya di sebut. Tisha lari ke depan, dengan wajahnya yang sudah di tekuk.
"Mbak, mbak yang mau lamaran kenapa aku sih yang repot?" Duduk di depan teras, mengaduh kepada orang yang akan melaksanakan hajatan.
"Nanti kamu juga bakal ngerasain Sa, nanti juga mbak bakal repot kalau kamu lamaran." Tak menghentikan aktivitasnya menyapu halaman rumah.
"Mana mungkin, kalau aku lamaran nanti mbak juga udah nikah, mana mungkin mbak disini." Gerutunya lagi, menyangkal kenyataan yang di katakan Maudy.
"Tisha, kamu malah duduk disini, ibu manggil kamu berkali-kali!" Langsung menarik lengan anaknya. Tisha pasrah saja, kalau menjawab malah tambah di omeli. Maudy tertawa sambil terus menyapu halaman yang luas, berasa tidak kelar dari tadi.
"Dek, ada acara apa di rumah? Kok kelihatannya bersih-bersih." Tegur salah seorang tetangga rumahnya.
"Iya bang." Lanjut menyapu. Malas banyak menjawab, orangnya gatal sih menurut Maudy.
***
"Dy, kamu jadi kesini kan?" Kiki menelpon saat Maudy baru saja selesai mandi.
"Dy, Bima udah datang itu." Ibunya juga teriak di balik pintu. Maudy melihat jam dinding, sudah pukul 08:30.
"Dy?"
"Sebentar Ki."
"Iya bu, sebentar?" Berteriak juga agar ibunya mendengar.
__ADS_1
"Hallo Ki, maaf ya? Aku nggak bisa datang soalnya-"
"Ih, mama udah masak tau Dy. Gimana sih."
"Ki, dengar dulu. Keluarga Bima mau datang kesini, aku juga mau pergi ini, cari cincin. Kamu dengar tadi kan ibuku berteriak kalau Bima udah datang?" Dengan cepat menjelaskan sebelum Kiki marah dan menutup panggilannya.
"Kamu serius? Kamu bohong kan? Supaya aku nggak kecewa."
"Apa perlu ibu yang kasih tau kamu? Beneran Ki, tadi malam tuh Bima kesini." Ih Maudy sudah menggerutu, melihat waktu yang terus berjalan. Belum juga berdandan.
"Ya udah, aku bilang dulu ke mama supaya nggak jadi masak. Oh iya aku nggak disuru datang?"
"Datang aja, aku tunggu!!" Tut. Maudy langsung mengakhiri panggilan sebelum Kiki berbicara banyak lagi.
Tadi katanya mama udah masak, ih dasar!!
Melempar asal ponselnya ke tempat tidur, dan langsung memulai pemolesan di wajahnya.
***
"Bim, aku udah siap?" Maudy keluar dengan menggunakan rok di atas lutut dan kaus hitam ketat.
Bima tak berkedip.
"Bim?" Panggilnya ulang.
Cantik sekali.
"Bima ayo?" Bima langsung bangkit.
"Bu aku pergi." Teriak saja, pasti ibunya mengerti.
Dalam perjalanan, Bima tak banyak bicara, hanya sekedar menoleh lalu tersenyum sendiri.
"Apasih Bim?" Jengkel sendiri melihat Bima melakukan hal itu berulang-ulang.
"Kamu cantik sekali, rasanya jadi nggak mau ijinkan kamu turun mobil buat cari cincin."
"Nggak usah yang aneh-aneh Bim." Takut kalau Bima benar-benar melakukan itu.
Sampai di tempat, Maudy langsung membulatkan matanya. Ini bukan toko emas, ini toko berlian.
"Bim, kamu nggak salah kan? Datang kesini?" Memastikan sekali lagi.
"Kenapa? Kamu mau di dalam mobil aja?" Maudy menggeleng cepat.
"Ayo?" Bima sudah mengulurkan tangannya.
Mereka memasuki salah satu toko yang biasa menjadi langganan mamanya, bahkan mamanya sudah berpesan kalau harus beli di toko itu saja, kualitasnya bagus di antar toko lainnya.
"Mbak, mau lihat cincin tunangan yang kualitas berliannya nomor satu ya?" Maudy masih tidak percaya ini.
Penjual langsung mengeluarkan berbagai macam variasi, ada yang memiliki satu permata dan banyak lagi.
"Kamu pilih yang mana?" Bima sudah menyerahkan kepada Maudy. Sungguh, dia bingung. Ini semua bagus, bagus banget malah. Tapi nanti jika sudah menjatuhkan pilihan, kalau harganya selangit gimana? Itu yang terus di pikirkan Maudy.
"Kamu pilih itu?" Melihat Maudy yang sudah dua kali memegang cincin yang di hiasi berlian di setiap lingkarannya.
"Mbak, yang ini ya?" Padahal Maudy belum menjawabnya.
"158 juta mas." Bima mengangguk dan Maudy menggeleng.
"Bim, mahal banget, kita cari toko lain aja, yang biasa jual emas Bim." Berbisik di telinga Bima.
"Bayar pake Black card bisa kan mbak?" Penjual mengangguk dan tersenyum. Lalu menerima ketika Bima menyerahkan.
Setelah selesai dengan urusan cincin, Maudy berdecak kesal masuk ke dalam mobil.
"Kenapa lagi sih sayang ku?" Menyentuh dagu Maudy.
"Bim, itu mahal banget tau nggak?"
"Jadi cuma gara-gara ini kamu marah?" Maudy tidak menjawab, tangan ia lipat ke dada dan membuang pandangannya ke arah luar.
"Sayang, dengar. Aku bisa terkena Omelan mama nanti kalau hanya membelikan kamu perhiasan biasa, sementara aku sendiri saja CEO dari perusahaan pertambangan. Kamu tau, ini juga uang aku sendiri, ini hasil kerja keras aku sayang? Ini bukan uang papa. Apa kamu tidak merasa senang sama sekali? Kenapa kamu malah marah? Banyak di luar sana yang ingin di hargai oleh pasangannya, dan kamu beruntung, kamu salah satu dari orang itu." Maudy langsung menoleh.
Apa aku bersalah? Aku cuma nggak mau di anggap matre.
"Jangan berpikir kalau kamu matre, karena semua wanita harus seperti itu. Wajar, semua tentang ekonomi?" Seperti tau apa yang di pikirkan Maudy.
"Maaf Bim." Merasa bersalah sekarang. Bima melajukan kembali mobilnya.
__ADS_1
"Kita makan dulu ya?" Tidak menolak, Maudy juga mengangguk. Melihat jam sudah pukul 11 siang, waktunya perut juga minta di isi. Bukan hanya hati yang harus merasakan asupan bahagia di hari ini.
--__