
Pagi ini kembali datang, dengan akhirnya Maudy bisa menikmati indahnya suasana pagi bersama Bima. Memang itu impiannya dari kemarin, bahkan sebelum tiba disini. Sudah bisa dibayangkan olehnya, bagaimana nantinya bermain di bibir pantai, berlari kecil bersama Bima.
Tapi tunggu, kali ini ada wajah yang benar-benar di tekuk.
"Ki, ambil photo aku bersama Bima ya?" Bergelayut manja di lengan Bima.
"Hem." Mengeluarkan kamera mahal dan siap berdiri dengan posisi sedikit membungkuk, sudah kalah kalau kang photo asli.
"Lagi." Bima tersenyum.
"Sudah." Ucapnya.
"Kenapa sih Ki? Dari tadi cemberut terus, bertengkar lagi sama Agam?" Sundari hanya menundukkan kepalanya.
"Bukan, tapi sama suami kamu?" Maudy beralih menatap ke Bima.
"Maksudnya?" Kembali menatap Kiki.
"Tanya saja sama dia." Melirik dengan tajam.
"Bim, kenapa? Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa sayang." Jawabnya santai.
"Masih tidur nyenyak di bangunkan, suruh pindah kamar. Ih apa nggak bisa nunggu pagi apa." Menggerutu, tapi Maudy masih bisa mendengarnya.
Oh jadi karena itu!
"Maaf ya Ki?" Mendekat ke arah Kiki.
"Kamu nggak salah, tapi suami kamu tuh yang bucin akut!" Sundari masih menunduk, terlihat dia menahan tawanya.
"Kenapa? Nanti kalau menikah suami kamu juga begitu Ki, nggak bisa jauh dari kamu walau sebentar." Kiki menatap ke arah Bima. "Kamu nggak percaya? Coba aja nikah!"
"Bim, kamu jangan becanda ya? Buktinya Agam pergi keluar negeri tanpa aku bisa kok."
"Itu kan karena kamu belum menikah, kan aku bilang kalau kalian sudah menikah nanti." Sambil terus berjalan menyusuri bibir pantai.
"Benarkah?" Kiki tersenyum membayangkan hal seperti yang Bima katakan. Sampai tak sadar dengan lamunannya, Kiki berjalan menabrak Bima yang berhenti di hadapannya.
"Aduh." Bima mengaduh kesakitan, padahal Kiki yakin kalau Bima juga tidak apa-apa.
"Ki, kamu nggak apa-apa?" Tanya Maudy.
"Sayang, aku yang di tabrak. Kenapa malah tanya Kiki?" Cih, Kiki mendengus. Buyar sudah bayang-bayang yang ada di atas kepalanya.
"Oh iya, kamu nggak apa-apa kan?"
"Sakit, sayang. Kita balik ke kamar aja ya? Sakit kakinya."
Lah, yang terkena padahal hanya punggung belakang.
"Duduk disana aja ya?" Menolak secara halus.
"Nggak sayang, punggung aku sakit banget. Kita balik ke kamar aja ya?" Suaranya di buat semanja mungkin.
Maudy beralih menatap Kiki, ah baru juga sebentar kan disini?
"Ya udah iya kita balik, tapi nanti setelah enakkan kita keluar lagi ya?" Diam, tak menjawab. Yang berarti belum tentu Bima mengabulkan keinginannya.
Setelah berjalan, Bima menoleh ke arah Kiki sambil memainkan alisnya.
"Kalian balik hari ini ya, nanti akan ada jet yang menjemput. Terima kasih atas bantuannya." Tak mengehentikan langkahnya.
"Bim, jangan dong. Biar Kiki disini aja?" Merengek.
"Mereka hanya menganggu kita sayang?" Huh sudah tidak bisa lagi protes.
***
Sampai siang hari, Maudy masih terkurung di kamar. Dengan semua tingkah Bima yang menggemaskan, mengajaknya bermain catur, ular tangga, dan monopoli. Semua sudah di lakukan, Maudy bisa tertawa lepas melihat wajah Bima yang penuh dengan lipstik. Bukan karena di cium, tapi karena Bima selalu kalah dalam permainan.
"Menang lagi." Teriaknya girang, dan satu coretan lagi di pipi Bima.
"Bim, lihat sini." Mengarahkan ponsel ke wajah Bima, dan mengambil beberapa photo. Menjadikan momen ini sebagai kenangan.
"Sayang jangan di upload, nanti karyawan aku ada yang lihat, aku malu sayang."
"Iya, nggak kok."
Lanjut tertawa lagi.
"Bim, udah ya bosan? Kita keluar aja?" Menatap ke arah jendela.
__ADS_1
"Panas sayang, nanti kulit kamu hitam."
"Bim, sebentar ajalah." Masih merayu, menggoyangkan lengan Bima.
"Ya sudah sebentar, aku cuci muka dulu ya?" Maudy mengangguk dan tersenyum, yes begitu sorak dari dalam hatinya.
Sambil menunggu Bima, Maudy juga berganti pakaian yang menutupi seluruh lengannya, takut hitam juga ternyata. Ponselnya berdering, Maudy mendekat. Tertera nama ayah disana, Maudy langsung menggeser layar ponselnya.
"Hallo, iya yah?"
"Dy, apa kamu masih lama bulan madunya?"
"Mungkin tiga hari lagi yah, kenapa?"
"Dy, Tisha nggak pulang dari semalam. Ayah udah cari ke tempat temannya, tapi nggak ada Dy."
Maudy langsung menggelengkan kepalanya, mana mungkin Tisha berani. Pasti ada masalah dirumah.
"Yah, apa ayah bertengkar dengan Tisha?"
"Nggak, ayah cuma beri dia nasehat. Mungkin dia nggak terima. Gimana? Ibu kamu nangis terus nggak mau makan?"
"Ya ampun, nanti aku ngomong sama Bima ya yah?"
Mematikan sambungan teleponnya. Ternyata Bima juga sudah selesai dengan urusan membersihkan wajahnya.
"Kenapa sayang?" Mendekat dengan memegang handuk kecil yang ia gunakan untuk mengelap wajahnya.
"Sayang?" Lebih mendekat, cium sana sini, unyel-unyel hidung dengan wajahnya.
"Bima..." Menahan kepala Bima dengan tangannya. "Ayah tadi telepon." Duduk di tepi ranjang, Bima meletakkan handuknya baru ikut duduk dekat istrinya. Lagi, masih dengan tingkah nya yang tak berhenti menciumi setiap inci wajah istrinya.
"Ayah bilang Tisha nggak pulang kerumah dari semalam? Ibu sampai tak mau makan, nangis terus." Menoleh ke arah Bima. Dan secepat itu dia merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
"Jadi gimana? Apa kita pulang sekarang?"
"Kamu nggak keberatan kan? Aku mau bantu cari Tisha, kasian ayah?" Bima mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke arah luar, mungkin menelpon atau apa. Yang terpenting Maudy lega kalau Bima juga bisa mengerti.
"Kita packing sekarang ya sayang. Satu jam lagi jet sampai." Maudy mengangguk dan mulai membereskan barang mereka. Walau sedikit kecewa karena bulan madu penuh dengan halangan.
"Nanti kita pergi lagi setelah resepsi kita." Bima tau apa yang di pikirkan istrinya.
Selesai packing, mereka berjalan keluar kamar. Maudy mengelus lembut pintu kamar penginapan, dan mengucapkan selamat tinggal hanya melalui hati, huh helaan nafas kasar terdengar.
"Ayo?" Menggandeng lengan istrinya dan berjalan menuruni tangga. Koper sudah di bawakan oleh seorang pelayan. Tinggal menunggu jet datang langsung berangkat.
"Pulang." Jawab Bima santai, dengan satu tangan menggandeng istrinya dan satu lagi ia masukan ke saku celana.
"Bukankah masih tiga hari lagi?" Bingung, begitu juga dengan Sundari.
"Iya Ki, ayah aku telepon kalau Tisha nggak pulang."
"Apa? Memangnya dia kemana Dy?"
"Kalau tau nggak perlu dicari." Jawab Bima.
"Jadi kita pulangnya barengan?" Maudy mengangguk.
"Yes, kita beli oleh-oleh dulu ya?"
Bima menggeleng.
"Nggak sempat, sebentar lagi kita melakukan penerbangan."
"Sebentar aja kali Bim." Bima tak menjawab hanya melihat jam di tangannya.
"Nanti saja kalau sudah di rumah, kalian beli apa yang kalian mau."
"Beneran pak?" Sundari bersuara.
"Iya pakai uang masing-masing."
Kiki langsung memukul lengannya.
"Pelit amat sih Bim." Ngedumel.
"Iya-iya, aku yang bayar. Tapi nanti kalau sudah tiba di rumah ya?" Yes, Kiki langsung tersenyum.
***
Sebuah jet turun di halaman rumah Maudy. Wah bisa di bayangkan ya luasnya halaman Maudy saat ini, jet aja sampai cukup mendarat disana.
Tentu ini mengundang tatapan para tetangga disana, semua pada keluar rumah untuk melihat, begitu juga dengan ibu dan ayahnya, yang masih menatap tak percaya. Berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung. Begitu melihat Kiki yang turun dan di susul oleh Sundari, dan terakhir pasangan ini.
__ADS_1
Sudah banyak pertanyaan yang akan ayah dan ibunya tanyakan, bukan tentang Tisha. Tapi tentang pemandangan yang mereka lihat saat ini, ada Kiki? Bagaimana bisa, dan seorang wanita asing.
"Ibu, ayah?" Berjalan mendekat. "Apa sudah ada kabar mengenai Tisha?" Ibunya menggeleng, Maudy tau dari raut wajah ibunya sangat tersirat kesedihan.
"Apa sudah lapor polisi yah?" Tanya Bima.
"Belum, ayah masih cari sendiri."
"Iya sebaiknya tidak usah melibatkan pihak berwajib, kita cari sendiri aja." Usul Bima dan kedua mertuanya mengangguk.
"Kalian pergilah, bawa kartu ini dan belanja sesuka kalian. Jangan lupa kembalikan besok, kamu dengar kan Sun?" Sundari mengangguk. Tapi rasa girang Kiki tadi hilang begitu saja. Melihat ada duka yang di alami keluarga sahabatnya. Mana mungkin bisa senang-senang di atas penderitaan orang lain pikirnya.
"Bim, nggak usah. Lain kali aja, keadaannya lagi begini." Menolak dan tak menerima kartu yang sudah di berikan Bima. "Lebih baik kita cari Tisha sekarang." Mereka terdiam tampak memikirkan ucapan Kiki.
"Kita masuk aja dulu." Ucap ayahnya. "Bicara di dalam." Semua menurut dan masuk ke dalam, duduk di sofa. Masing-masing memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan mereka ambil.
"Sun, kamu pulang aja nggak apa. Naik taxi, kamu nggak usah terlibat dalam hal ini." Bima memberikan dua lembar uang seratus kepada Sundari.
"Baik pak." Melangkah dan pamit pergi.
"Kak Sun, terima kasih ya?" Sundari mengentikan langkahnya.
"Kakak?" Tanya Bima.
Ya ampun, matilah aku ibu.
"Dia lebih tua dari kita." Bima terdiam, dan kesempatan Sundari untuk mengambil seribu langkah menjauh dari sana.
"Yah, gimana bisa Tisha pergi dari rumah?" Hal yang ingin Maudy dengar dari ayahnya. Bahkan sebelum Maudy kembali kerumah.
Lama ayahnya menjawab.
"Tisha dua malam yang lalu keluar bersama laki-laki, tapi tidak pamit dengan ayah atau pun ibu. Ayah tegur dan dia jawab hanya teman. Lalu ayah kembali memperingatinya untuk tidak mengenal cinta dulu, umurnya masih terlalu muda Dy. Tapi dia melawan ayah. Dia bilang hanya teman. Tapi ayah juga marah karena dia pergi tidak pamit. Mau kemana, bahkan dia nggak bilang sama ayah ataupun ibu." Menghela nafas berat. "Orang tua mana yang tidak khawatir, dan setelah ayah menegur Tisha tidak mau keluar kamar, makan pun juga tidak. Setelah itu, ayah bilang kalau mau bebas ya jangan tinggal di rumah. Eh sekitar jam 7 malam kemarin, ayah sama ibu nggak tau kalau Tisha pergi dan tidak ada di kamarnya."
"Apa ayah sudah tanya ke teman-temannya?"
"Sudah, ayah sudah datangi semua?" Jawabnya lemah. "Ayah takut kalau dia pergi bersama laki-laki." Maudy yang mendengar juga takut. Dan kalau benar itu terjadi, apakah Tisha masih bisa menjaga dirinya?
Ini hal yang selalu membuat Maudy takut, karena orang tuanya selalu membandingkan dirinya dan adiknya. Mengunggulkan dirinya, dan menganggap sepele seorang Tisha.
"Jadi gimana yah?" Malah bertanya, sementara ayahnya juga sudah pasrah.
"Hem, ponselnya aktif nggak om?" Kiki bertanya.
"Nggak, sudah ratusan kali om menelpon."
"Ki, kalau melacak melalui email bisa kan?" Kiki langsung mengeluarkan ponselnya.
"Bisa Dy, kamu tau kan email ponselnya?" Maudy mengangguk dan segera memberikan alamat email milik Tisha.
"Sebentar ya?" Kiki sedang fokus mencari dimana Tisha sekarang.
"Apa ibu sudah makan?" Ibu menggeleng. "Ibu makan ya? Biar aku ambilkan." Berdiri, meskipun ibunya berkata tidak selera, Maudy tetap melangkah ke arah dapur.
Dan kembali dengan membawa piring berisi nasi dan sayur, juga tak lupa membawa satu gelas air putih.
"Sini aku yang suapin?" Maudy mendekat.
"Nggak usah Dy, ibu malu." Melirik ke arah Bima. "Biar ibu makan sendiri." Mengambil piring dari tangan Maudy.
"Kemarin aja ayah yang ambil ibu nggak mau makan." Ibu Irma diam dan tak menjawab, makan dengan lahapnya. Katanya tak selera, tapi suap demi suap masuk ke dalam mulutnya begitu saja.
"Nah ini ketemu." Ucap Kiki langsung menunjuk layar ponselnya.
"Dimana Ki?" Kiki memperbesar alamat yang tertera di layar ponselnya. Agar terlihat jelas dimana titik Tisha berada sekarang.
"Ini di luar kota kan?" Maudy menatap ke arah Bima dan lalu beralih ke ayahnya.
"Ha? Mana mungkin." Ayahnya juga tampak tak percaya. Dan mengambil ponsel dari tangan Kiki, melihatnya sendiri.
"Apa kita harus kesana?" Setelah melihat dan itu memang benar.
"Kita kesana sekarang. Ayah dirumah aja jaga ibu, biar kami yang pergi." Bima sudah berdiri, sepertinya dia serius dengan ucapannya.
"Kamu ikut ya Ki, sebagai petunjuk jalan." Kiki jelas mau dan mengangguk.
***
Sampai di kota seberang hari sudah terlalu malam, untuk melanjutkan mencari Tisha di titik yang terlacak rasanya sudah tidak mungkin. Dan akhirnya, mereka di haruskan menginap di hotel.
"Ki maaf ya aku jadi merepotkan kamu?" Merasa sungkan Maudy berbicara ketika hendak memasuki kamar hotel yang letaknya bersebelahan.
"Iya nggak apa-apa Dy. Kasian juga orang tua kamu." Lelah tak bisa ditutupi dari wajah Kiki.
__ADS_1
"Ya udah aku masuk dulu ya Dy?" Maudy mengangguk dan menyusul Bima yang sudah lebih dulu masuk ke kamar hotel
--__