Dia Bimaku

Dia Bimaku
Aku cemburu


__ADS_3

"Jadi om setuju juga sama usul Bima?" Setelah dengan ibunya, Maudy juga meminta pendapat dengan omnya. Sambil berjalan mengelilingi resto miliknya, mengelus perut anaknya yang semakin hari semakin aktif di dalam perut. Tendangan kecil yang terjadi di sudut kiri dan kanan, wajar juga janinnya ada dua.


"Iya lah mo, lagian jugakan om begitu. Yang terpenting memang dia chef asli. Maksudnya tuh udah ada pengalamannya. Kamu juga tau kan chef yang memasak di resto om?" Maudy mengangguk.


"Om sudah mau pulang?"


"Iya hari sudah hampir gelap, tuh sana Bima udah nunggu kamu." Ya ampun, Maudy menoleh. Benar, Bima sudah berdiri di samping dapur resto dengan menatapnya saat ini. Yang biasanya dengan berkacak pinggang, tapi kali ini hanya bisa memasukkan satu tangannya ke saku celana.


"Ya udah, om hati-hati ya, besok kesini ya om?"


"Iya, tapi om nggak janji ya?"


***


"Kamu kenapa sih Bim? Apa aku ada salah?" Bima menggeleng dan dengan sombongnya berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.


"Nyonya, mau makan malam di bawah atau di antar ke kamar nanti?" ART berjalan mendekat sebelum Maudy menaiki tangga.


"Nanti aja bi, kalau mau makan aku bilang."


"Eh iya, ice cream nya nyonya, semenjak pulang dari rumah sakit nyonya belum makan itu." Maudy menghela nafas.


"Perutku sepertinya sudah pas untuk usia kandungan ku sekarang bi, jadi bibi makan aja bareng yang lain."


"Benarkah nyonya? Boleh?" Maudy tersenyum.


"Boleh lah bi."


Yes, makan ice cream gratis.


Sepertinya dia senang sekali mendengar hal itu, ya ampun. Untung majikan juga baik.


Maudy membuka pintu kamarnya, kosong tak mendapati Bima di dalam, di sofa ataupun di tempat tidur. Dia kembali berjalan ke arah balkon kamar, biasanya juga Bima disana.


"Kok nggak ada?" Terdengar suara gemercik air. Maudy segera menuju lemari pakaian, seperti biasanya menyiapkan baju untuk Bima. Dan menunggu dengan duduk di sisi ranjang hingga Bima keluar kamar mandi.


Eh apa dia bisa buka baju sendiri?


Merasa khawatir Maudy mendekat ke arah pintu kamar mandi. Mengetuknya dengan pelan.


"Bim, apa kamu bisa buka baju sendiri?"


Tidak ada jawaban, hening, hanya ada suara air yang jatuh ke lantai.


"Bim? Jawab, kamu pingsan ya di dalam?" Diam lagi, ah terserah lah. Maudy kembali duduk di sisi ranjang.


Hingga beberapa menit kemudian, tampak Bima sudah keluar dengan memakai bawahan saja, sementara tubuhnya tak terbalut sehelai kain pun, dibiarkan begitu saja dengan bertelanjang dada.


"Aku udah siapin baju, taunya kamu udah pakai duluan ya?" Bima hanya mengangguk.


Bima berjalan menuju lemari, mencari pakaian untuknya, Maudy tidak tau itu, yang dikira Bima hanya ingin mengambil sesuatu dari dalam sana. Dengan cueknya juga ia berjalan menuju kamar mandi, waktunya untuk membersihkan diri.


Bernyanyi di dalam kamar mandi memang seperti masuk di dapur rekaman, berteriak sesuka hati sambil menggosok tubuh, ah bebas tidak ada yang akan protes. Sampai air mengguyur tubuhnya, kepala menjadi terasa dingin, begitu juga dengan pikirannya.


Bima kenapa ya, perasaan aku nggak ada buat salah. Memangnya dia marah karena aku tadi keluar, bukannya dia juga ikut kan?


Mengelap seluruh tubuh dengan handuk, lalu keluar kamar mandi. Melihat, ternyata Bima sedang berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Bim, tadi bibi nanya mau makan di kamar atau di bawah?" Diam, malah tersenyum sendiri sambil memainkan ponselnya.


Sabar Maudy.


Sesekali melirik ke arah Bima yang masih saja fokus dengan ponselnya, bahkan tidak menjawab pertanyaan yang Maudy ajukan tadi. Lupa atau memang tidak dengar?


Selesai dengan urusan memakai pakaian, Maudy naik ke atas tempat tidur, mengambil remote dan menyalakan televisi. Berbaring tepat di sebelah Bima.


"Bim? Apa kamu nggak dengar aku tadi nanya?" Dia melirik.


"Iya, terserah mau makan dimana. Makan sendiri juga nggak apa-apa." Bergumam pelan di akhir kalimat.


"Oh ya udah, kamu makan di kamar aja, aku makan di bawah bareng sama ART."


Mau cuekin aku, baik oke aku juga.


"Terserah." Ah dia menjawab begitu, semakin geram saja wanita yang tengah rebahan di sampingnya ini.


Maudy sengaja memperbesar suara volume televisi, padahal dia juga tidak menikmati apa yang dia tonton. Sesekali melirik ke arah ponsel Bima, ternyata dia sedang melihat akun sosial media miliknya. Semakin penasaran saja jiwa seorang wanita.


"Bim, kamu ngapain sih?"


"Hem, nggak ada." Berdenyut sudah jantung Maudy, ingin marah tapi juga kenapa? Lalu sekarang apa? Heh, Maudy menghembuskan nafas secara kasar.


Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Perlahan beringsut turun, tanpa mematikan televisi Maudy langsung berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Kenapa dia nggak nanya aku mau kemana sih?


Sambil menutup pintu kembali menggerutu dalam hati.


***


"Nyonya, ngapain ke dapur?" ART yang tengah menyiapkan makan malam bertanya.


"Bi, nanti antar makan malam ke kamar ya, tapi untuk Bima aja. Aku mau makan di meja makan, tapi temani ya bi? Yang lain kemana? Mereka juga pada belum makan kan?" Banyak sekali dia bertanya, untungnya bi Marni masih hafal apa saja yang di tanya.


"Kenapa gitu nyonya? Mereka ada di belakang, nanti saya sampaikan. Tapi nggak apa-apa nyonya kalau kami makan bareng nyonya?" Maudy tertawa kecil.


"Memangnya kenapa bi? Aku siapa? Sama ajalah bi. Udah ah, aku tunggu di meja makan ya bi? Jangan lupa antarkan untuk Bima."


"Iya nyonya."


"Eh, satu lagi bi." Maudy berbalik, menghentikan langkahnya. "Maaf ya bi, aku belum bisa masak sendiri."


"Ya ampun nyonya, itukan sebenarnya memang tugas saya. Tapi nyonya saja yang malah mau memasak sendiri." Maudy mengangguk dan tersenyum.


"Makasih ya bi. Semoga bibi sehat terus."


Bi Marni jelas langsung mengaminkan doanya.


Heh, andai saja semua majikan di dunia ini sepertinya mereka, pasti orang-orang lebih memilih menjadi babu rumahan dari pada buruh pabrik.


Maudy duduk sendirian di meja makan, menopang kepalanya dengan satu tangan, dan mengetuk meja dengan jari tangannya. Begitu kan kalau orang yang merasa bosan? Sesekali menoleh ke arah atas, dimana letak pintu kamar masih terlihat dari tempat dia duduk.


"Bi, sudah di antar?" Bi Marni mengangguk.


"Sudah nyonya, sebentar ya saya panggil yang lain, sekalian siapkan makanan ke meja. Nyonya mau makan sekarang kan?"


"Iya bi, aku sudah lapar."


"Tunggu sebentar ya nyonya." Bi Marni langsung berjalan dengan cepat ke arah dapur.


Bi Marni, dia pembantu yang paling tua di antara yang lain, bisa di bilang dia senior disini. Dia juga yang mengatur dan membagi tugas kepada yang lain, untungnya mereka rukun. Jangan di tanya soal keluarga, mereka jelas punya di kampung. Awalnya mereka hanya pembantu yang pulang hari, jika selesai bekerja mereka akan pergi dari rumah Maudy dan Bima. Tapi setelah Maudy menanyakan mereka tinggal dimana, dan jawabannya hanya perantau Maudy langsung meminta mereka untuk tinggal bersama.


Semua sudah berkumpul, terkecuali Bima yang mungkin juga sudah menghabiskan makan malamnya. Mereka masih diam, menunggu Maudy yang lebih dulu untuk mengambil nasi dan ayam juga sayur yang sudah tersedia di meja makan.


"Ayo makan, kenapa diam? Ya ampun, santai aja bi. Anggap aja kita makan keluarga." Mereka tersenyum dan detik berikutnya malah berebut untuk mengagumi nasi.


Maudy geleng-geleng dan tersenyum.


"Bi? Tadi waktu bibi masuk Bima nggak ada bilang apa-apa?" Di sela-sela makan Maudy bertanya.


"Memangnya dia tadi ngapain bi? Masih main ponsel?" Sepertinya Maudy mengorek informasi.


"Hem, sepertinya sedang menelpon seseorang nyonya, soalnya ponselnya nempel di telinga."


"Perempuan atau laki-laki bi?" Bi Marni bingung dan saling tatap dengan pembantu lainnya.


"Ah sudah lah bi lupakan."


"Ah iya nyonya."


Apa mereka sedang betengkar?


Tandas makanan yang ada di piring, Maudy sampai bersendawa, lalu masih sempatnya untuk mengambil buah dan mengunyah.


"Bi, nanti selesai bereskan piring, bibi temani aku disini ya?" Wajahnya tampak bingung.


"Aku bosan sendiri bi, aku juga mau cerita."


"Oh iya, sebentar ya nya?"


"Bi, bi Marni duduk aja disini temani nyonya, biar kami yang bereskan piring." Ucap salah satu ART.


"Nggak apa ni?" Bi Marni juga segan dengan yang lain, takut kalau mereka cemburu dan mengatakan dirinya istimewa.


"Nggak apa-apa bi." Bi Marni mengangguk dan menunggu mereka selesai membereskan piring, dia juga diam dan menunggu majikannya berbicara.


"Bi, menurut bibi aku sama Bima cocok nggak?" Hah? Pertanyaan macam apa ini, batin mi Marni.


"Ya, ya cocok sih nya, nyonya cantik baik lagi. Begitu juga dengan tuan Bima, dia baik orangnya, meski kami jarang berbicara dengan tuan Bima, tapi kami tau dia baik. Buktinya tuan pernah mengirim uang ke kampung tanpa sepengetahuan kami." Maudy menggeleng tidak percaya, sebegitu baiknya kah suaminya? Sampai memerhatikan hidup orang lain, orang yang berada di dekatnya tapi seperti tidak dia pedulikan, padahal malah lebih dari itu.


"Kenapa nyonya tanya begitu?" Maudy diam. "Maaf nyonya kalau saya lancang, tapi kalau boleh saya bertanya, apa nyonya sedang betengkar dengan tuan muda?" Maudy menoleh sekilas dan tersenyum kecut.


"Iya bi. Aku juga nggak tau apa salahku, tau-tau pulang dari resto Bima udah diemin aku." Sepertinya Maudy menemukan tempat curhat baru selain Kiki.


"Kalau laki-laki begitu biasanya ya cemburu nya."


"Cemburu? Cemburu dengan siapa?" Maudy lebih bingung sekarang. Mengingat lagi kejadian setiap detiknya di resto.


"Ya bibi nggak tau lah nyonya, kan bibi nggak setiap saat lihat nyonya dengan siapa. Tapi yang bibi tau juga biasanya begitu?"

__ADS_1


"Gitu ya bi." Maudy manggut-manggut.


"Hem, kalau bibi boleh kasih saran. Sebaiknya nyonya tanya baik-baik, terus tanya kenapa, ada apa?"


"Iya bi, nanti aku tanya."


"Sekarang aja nya, sebelum tuan malah bertambah jengkel. Apa lagi tadi nyoya lebih memilih makan bersama kami dan meninggalkan tuan sendiri di kamar."


"Iya bi, ya udah makasih ya bi udah mau dengerin cerita aku." Maudy tersenyum.


"Iya nya, sama-sama."


Bi Marni menatap majikan yang dia anggap baik, menaiki anak tangga, dan wajahnya tak semurung beberapa menit lalu.


***


Maudy membuka pintu, masuk ke dalam dan lalu menutup pintunya kembali. Matanya jelas menangkap makanan yang masih utuh di atas meja, bahkan sepertinya belum sama sekali di sentuh. Sendok juga masih kering dengan posisi yang sama ketika bi Marni mengantarnya tadi.


Bima hanya melirik sekilas lalu memainkan ponselnya lagi. Yang tadinya akan mengikuti saran bi Marni untuk bicara baik-baik hilang sudah, yang ada malah emosi melihat Bima seperti tidak peduli dengan kehadirannya.


"Bim?"


"Iya?"


"Kenapa nggak di makan?"


"...."


"Kamu lebih mementingkan main ponsel? Lebih mementingkan membuka akun sosial media kamu? Iya?"


"Dari mana kamu tau kalau aku buka sosial media? Bukannya kamu tadi fokus melihat televisi?"


Eh Maudy terdiam, ketahuan mengintip ni ceritanya.


"Ya, ya aku nebak ajalah. Lagian kan nggak mungkin kamu main game?" Bima meletakkan ponselnya. Beringsut turun dan berjalan menuju sofa kamar, yang di meja sudah tersedia makan malam yang belum dia sentuh.


"Sini?" Menepuk tepat di sebelahnya. Maudy menurut dan duduk.


Bima memakan makanannya sendiri, tanpa meminta disuapi, dan membiarkan Maudy duduk sambil menatapnya bingung.


Kirain mau minta di suapi.


Baru beberapa suap yang masuk ke dalam mulutnya, Bima menyodorkan ke hadapan Maudy.


"Buka mulutmu!" Maudy jelas menggeleng.


"Aku udah makan Bim."


"Buka mulutmu!" Sekali lagi dia mengatakannya, tapi Maudy tetap menggeleng.


"Aku udah kenyang Bim, aku makan banyak sekali tadi. Kamu nggak percaya? Tanya aja sama bi Marni." Bima menjatuhkan sendoknya ke atas piring, hingga mengeluarkan suara dentingan. Dia diam sekarang.


"Bim, kenapa sih?" Frustasi sendiri melihat suaminya begini.


"Kamu nggak mau aku suapin?"


"Bukan begitu Bim, tapi aku beneran udah kenyang." Heh, harus bagaimana cara menjelaskan kepada Bima, gerutunya dalam hati.


"Atau nggak kamu buka aja CCTV, biar kamu bisa lihat aku tadi makan banyak." Masih diam, bahkan tak lagi melirik ke arah Maudy. "Sini, kamu makan biar aku yang suapin?" Maudy mengambil piring, menyendok makanan dan menyodorkan ke arah Bima.


"Aak buka mulutnya." Bima malah merebut piring dari tangan Maudy.


"Aak buka mulutnya." Dia malah berbalik menyodorkan ke arah Maudy.


"Aku bisa muntah Bim karena kekenyangan."


"Kenapa tadi kamu mau di suapi adik kamu itu? Bahkan kalian juga satu sendok, bukannya itu juga berciuman tidak secara Langsung?" Ha? Jadi ini masalahnya, Maudy tau sekarang.


"Bima, ya ampun. Kamu cemburu? Dia adik aku Bim? Kamu juga cemburu sama Bian?"


"Iya adik tapi kan bukan terlahir dari ibu yang sama. Menurut agama juga tidak di larang kalau kalian menikah?"


"Kenapa bicara kamu sampai kesana sih Bim!" Maudy sedikit meninggikan suaranya.


"Oke, aku akan makan bekas kamu!" Maudy mengambil lagi piring dari tangan Bima, menyendok makanan dan langsung ia masukan ke dalam mulut, mengunyah meski perut sudah terasa sangat sesak.


"Aku maunya kamu makan dari tangan aku, aku yang suapin kamu?" Ya ampun.


Duhai anakku, mohon jangan lah sepertinya papamu nantinya.


Sambil mengelus perutnya dan pasrah dengan kemauan Bima.


Setelah mau mendapat suapan, Bima tersenyum dan mengelus kepala Maudy.


"Maaf, aku cemburu." Maudy memejamkan mata sebentar, mengatur nafas dengan mengambil oksigen perlahan, dan membuangnya.

__ADS_1


--__


__ADS_2