
Sudah beberapa hari ini Bima merasa uring-uringan, contohnya seperti pagi ini. Dimana Bima harus mulai masuk ke kantor. Setelah beberapa hari libur karena masih ingin menemani istrinya yang belum bisa melakukan semuanya sendiri.
Bima duduk sendirian di meja makan untuk memulai sarapan paginya. Pertama sudah ingin sekali sarapan di kamar bersama istrinya, tapi mama Lisa melarangnya karena baby Endah dan Gio sedang tidur. Takut terbangun dan mengusir Bima untuk sarapan di meja makan saja. Minggu ini giliran mama Lisa yang membantu Maudy. Mulai dari mandi, dan membantu mengurus kedua anaknya.
Bima yang merasa hari-harinya suram, tidur harus sendirian. Dan lebih parahnya, jam delapan malam saja mama Lisa sudah mengusirnya keluar kamar. Maudy yang masih kesulitan melakukan aktivitas juga tak bisa berbuat apapun. Mama Lisa mengatakan bahwa Bima hanya perlu fokus keperjakaannya saja, soal anak biar Maudy yang urus.
"Bi, tolong bereskan piring kotor nya ya. Saya sudah selesai." Bi Marni mengangguk, meskipun bingung saat melihat sarapan pagi masih teronggok dan hanya di makan beberapa suap saja. Bahkan keadaan nasi dalam piring terlihat seperti masih utuh.
"Bilang juga ke mama dan Maudy kalau saya sudah berangkat kerja." Kendala Maudy yang tidak bisa turun dari kamarnya, yang tak bisa mengantar Bima sampai ke depan pintu seperti biasanya.
Saat sudah masuk di dalam mobil, Bima langsung meminta untuk supir menjalankan mobilnya. Duduk diam tak bicara apapun. Wajahnya sangat dingin, sehingga supir sangat enggan untuk sekedar mengajaknya bicara.
Sampai di kantornya, Bima hanya mengangguk dan tersenyum sekenanya saat di sapa oleh karyawannya. Kalau bisa cepat-cepat sampai diruangan, pikirnya saat ini.
Sampai kapan harus begini, ah 40 hari itu terlalu lama bagiku!!
Saat sudah berada di ruangan, sudah ada beberapa laporan berkas yang menumpuk di mejanya, Bima tau itu pasti mereka mau minta di tanda tangani. Sebelum Bima datang ke kantornya, di pastikan seluruh karyawan sudah datang lebih dulu. Mulai memeriksa berkas, dan ada satu kertas bentuk print yang menyelip disana.
Jadwal meeting hari ini.
"Revan, tolong ke ruangan saya sekarang." Menelpon Revan.
Beberapa menit Revan langsung masuk.
"Ada apa pak?" Revan berdiri tak jauh dari meja kerja Bima.
"Jadwal meeting hari ini? Bersama klien? Ini benar?" Revan mengangguk.
"Itu Kiki pak yang sengaja meletakkan di atas meja bapak tadi pagi. Tapi sudah di print olehnya." Bima memandangi sebuah kertas berwarna putih itu.
"Mereka mau bertemu dimana?"
"Mereka mengirim email dan meminta untuk bertemu disini pak, di dalam kantor." Bima mengangguk.
"Baik kalau begitu kembali lah keruanganmu. Jam 9 sudah bisa di mulai, Kiki harus menyelesaikan prestasinya dengan baik. Soalnya ini anak perusahaan dari luar kota yang baru sekali ini mengajukan kerja sama dengan kita." Revan mengangguk dan berjalan keluar ruangan melalui pintu penghubung.
***
Pukul 9 tepat. Revan yang sudah mulai sibuk kesana-kemari, termasuk mengingatkan Kiki untuk tidak mengecewakan klien hari ini. Dan Kiki juga bukan hanya mempersiapkan mentalnya hari ini, begitu juga penampilannya. Sebelum meeting di mulai, Kiki masih sempat bercermin dahulu untuk memastikan wajahnya tidak terlalu memalukan jika dilihat oleh orang lain.
"Hei, sudah cantik? Ayo kita keruangan meeting sekarang." Kiki kaget ketika Revan masuk dan langsung memasukkan cermin kecil ke tasnya. Berdiri merapikan lagi pakaiannya yang dia kenakan. Lalu mengambil berkas yang akan Kiki prestasikan. Lalu berjalan mengikuti Revan untuk menuju ruangan meeting.
Ruangan yang berbeda, yang di kira Kiki sama dengan ruangan rapat bulanan untuk karyawan kantor. Ternyata berbeda, kali ini lebih mewah. Benar-benar belum pernah masuk keruangan ini sebelumnya.
"Kamu yakin bisa ya? Semangat." Revan berbisik, saat melihat Kiki yang sudah mulai tegang wajahnya. Bima duduk di kursi paling depan, Revan duduk di sampingnya. Sementara Kiki berdiri dekat layar infokus. Menunggu klien yang katanya sudah mulai memasuki gedung kantor.
"Ki? Kamu sudah hafal materinya kan?" Bima bertanya.
"Sudah Bim."
"Baguslah. Kirain udah sibuk pacaran sekarang." Revan menunduk seperti menahan tawa, Kiki langsung memukul bahu Bima dengan kertas makalah yang sudah di pegang Kiki.
"Dari pada jablay!" Bima menoleh ke arahnya. "Jarang di belay!" Tak bisa tertawa lagi, sekarang waktunya mode serius. Karena suara langkah kaki yang sudah mendekat ke arah pintu. Bima berdehem untuk mengembalikan kewibawaannya. Lalu Bima dan Revan berdiri, menyambut klien mereka yang sudah masuk, berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri. Kiki hanya bisa tersenyum dan menunduk sebagai rasa hormat.
Kenapa bisa kliennya Niko? Ini takdir Tuhan atau gimana sih, atau dia sengaja karena tau aku kerja disini? Tapi perjanjian kerja sama itu sudah ada sebelum aku bertemu Niko.
"Ki, kamu langsung jelaskan saja." Kiki mengangguk, dan tak lagi menoleh ke arah klien Bima saat ini.
Tarik nafas saat sudah mulai dengan BAB yang baru, menjelaskan lagi, sesekali tersenyum. Dan hingga 30 menit Kiki berdiri dan menjelaskan, mereka langsung tepuk tangan karena merasa puas. Kiki mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, bagiamana menurut anda pak? Apa masih ada yang ingin di tanyakan? Atau ada hal yang kurang dipahami tentang perusahaan kami dari penjelasan sekretaris saya tadi?" Mereka berbisik sebentar, ada lima orang yang datang. Salah satunya adalah Niko, dia juga menawarkan kerja sama dengan perusahaan Bima.
__ADS_1
"Maaf pak Bima. Kami memutuskan untuk melakukan kerja sama, tapi pimpinan kami juga mau kalau beberapa hari sekali datang kesini, untuk melakukan peninjauan langsung. Karena kan baru sekali ini melakukan kerja sama. Bagaimana pak, apa bapak keberatan?" Bima tersenyum dan mengangguk.
"Boleh, saya setuju itu. Berarti beliau malah bersikap tanggungjawab dan tidak hanya berpangku tangan. Saya akan siapkan ruangan untuknya." Mereka langsung tersenyum senang dengan keputusan Bima. Karena ini adalah kerja sama terbesar Bima.
"Kenalkan pak, saya pimpinannya?" Niko mengulurkan tangannya ke arah Bima. Bima tampak bingung, karena semula berpikir, mereka yang ada disini hanya utusan dari cabang perusahaan.
"Niko pak." Bima tersenyum.
"Saya Bima." Lalu memperhatikan wajah Niko dengan saksama, Bima langsung menoleh ke arah Kiki yang sedari tadi menunduk saja.
Sialan, jadi ini calon suaminya.
Lali melirik ke arah Revan yang tak memiliki ekspresi apapun.
"Kenalkan, ini Revan asisten pribadi saya. Nanti juga pak Niko akan sering berinteraksi dengannya selama di perusahaan. Karena Revan juga berperan penting disini." Niko mengangguk.
"Dan ini, sekretaris saya. Saya yakin anda sudah mengenalnya." Niko tersenyum manis ke arah Kiki yang saat ini sudah ingin mengeluarkan jantungnya dari dalam sana.
"Baiklah, jika masih ada yang ingin ditanyakan silahkan?" Revan langsung memotong pembicaraan yang keluar dari jalur, wajahnya mulai tak bersahabat.
"Oh tidak, ini sudah jelas." Revan langsung menyodorkan berkas yang harus di tanda tangani oleh Niko.
"Baca saja lagi pak, kalau takut ada yang tidak disetujui." Ucap Revan lagi.
Baiklah, sabar Revan. Harus profesional dalam bekerja.
"Sudah, saya percaya bahwa pak Bima dan kandidatnya jujur." Langsung menandatangani dan menyerahkan kembali berkasnya kepada Revan.
"Ya sudah kalau begitu kami pamit pak Bima." Mereka saling berjabat tangan.
Kiki yang terus merasa dirinya harus sibuk, satu ruangan dengan cinta segitiga sekarang sangat membuatnya tak nyaman, sungguh Kiki tak sedikitpun melihat ke arah Niko.
"Jangan terlalu lelah ya, nanti pulang aku jemput." Kiki tak bisa menjawab dan mengentikan aktivitasnya yang sedang mencabut kabel dari layar infokus.
"Aku bawa mobil kak." Ucapnya. Niko diam tak menjawab lalu keluar ruangan meeting.
**
Bima kembali kerumah pukul 05 sore. Mobil berhenti di halaman rumah, Bima turun dan langsung masuk ke dalam. Berganti pakaian dan membersihkan diri di kamar bawah yang menjadi tempatnya selama 40 hari ke depan.
Lalu segera naik ke atas, untuk berjumpa istri dan anaknya. Tanpa mengetuk Bima langsung membuka pintu, sepi semua tidur. Bima langsung mendekat ke arah box baby dimana kedua anaknya tidur.
"Papa pulang sayang." Mengelus pipi anaknya, lalu beralih ke tempat tidur. Mencubit pelan hidung Maudy, lalu mengambil kesempatan untuk mencium kening, pipi dan terkahir bibir.
"Bima?" Kaget.
"Sayang, mama mana?"
Maudy mengucek matanya, lalu berusaha untuk duduk.
"Mama tadi ijin pulang sebentar, soalnya papa telepon." Melihat Bima yang sudah rapi dengan pakaian santainya. "Kamu udah pulang dari tadi Bim?" Bima mengangguk.
"Kamu kenapa tidur sore hari sayang?" Mengelus puncak kepala istrinya, kesempatan tidak ada mamanya. Kalau saja ada, pasti Bima juga di larang untuk duduk di samping Maudy.
"Iya, tadi siang Endah rewel nggak tidur. Ini keduanya tidur, barulah aku bisa terus tidur Bim." Bima tersenyum.
"Kasian sekali istriku, pasti lelah ya jaga baby?" Maudy tersenyum dan menggeleng.
"Enggaklah Bim, tapi aku bahagia. Dengan adanya mereka aku jadi nggak kesepian kalau ditinggal kamu bekerja."
Owek.. Suara tangis bayi. Bima langsung cepat untuk melihat ke box baby. Hanya ada satu suara tangisan, yang berarti keduanya tidak menangis.
__ADS_1
"Duh sayangnya papa." Mengambil anaknya dari box baby.
"Bim hati-hati gendong nya." Bima dengan telaten menggendongnya, mengayun pelan dalam pelukannya.
"Sayang, kamu gendong dulu ya. Biar aku buatkan susu untuk Gio." Bima meletakkan anaknya ke pangkuan Maudy, dengan hati-hati.
"Sebentar ya sayang, papa buat cucu dulu, jangan nangis."
Dan, seperti kemauan Bima. Maudy di larang untuk memberi ASI. Jadi, kedua anaknya hanya di beri susu formula. Itu juga kualitas terbaik agar anaknya dapat tumbuh dengan sehat dan bijak.
Baru juga Bima menuangkan susu ke dalam botol, suara tangis kembali terdengar dari baby Endah. Padahal Gio yang sudah dengan Maudy juga belum diam karena haus dan terus menangis.
"Bim, buat dua sekalian ya?" Bima mengangguk. Meraih botol susu dan langsung membuatnya.
Dengan cepat Bima menyerahkan kepada istrinya, dan lalu meletakkan botol susu untuk entah di atas tempat tidur. Bima menggendong anaknya terlebih dahulu. Lalu duduk di tepi ranjang dan memberikan anaknya susu. Keduanya diam, Bima menghela nafas.
"Repotkan Bim?" Maudy tersenyum ke arahnya. Ini salah satu alasan ibu dan mama Lisa harus membantunya saat ini. Karena kalau anak kembar, pasti jika satu menangis, pasti yang sedang tidur juga akan terbangun dan menangis. Maka dari itu, kedua orang tuanya itu melarang untuk Bima saat ini untuk tidur satu kamar, karena apa? Bima bisa terganggu tidurnya, dan juga bisa tidak fokus bekerja karena istirahat nggak cukup.
"Udah kenyang ya sayang?" Bima mengusel hidung anaknya. "Cantik kayak mama ya?" Lagi, Maudy tertawa kecil melihat pemandangan indah ini.
"Lihat, papa lelah pulang kerja sayang. Kenapa kalian menangis?" Gio yang juga sudah selesai minum susu, Maudy sengaja selalu mengajak kedua anaknya berbicara.
"Kenapa nak? Oh Gio mau bobok lagi ya sayang?" Benar saja, Gio langsing menguap. Maudy menepuk pelan sambil mengayunkan dalam pelukannya.
Mereka serempak menoleh saat pintu kamar terbuka.
"Ma?"
"Bima, kamu sudah pulang? Untung saja, soalnya tadi mama kedatangan tamu dirumah." Mama Lisa berjalan mendekat ke arah Bima dan mengambil Endah dari gendongannya.
"Papa?" Melihat papanya yang juga menyusul masuk ke dalam kamar.
"Mana cucu papa ma?" Langsung melihat baby Endah yang berada di gendongan istrinya.
"Uluh, cucu Opa ini ya sayang? Duh gemes." Menoel pipi dan hidung baby Endah. "Ma, sini papa mau gendong." Mengulurkan kedua tangannya.
"Papa bisa?"
"Bisa lah ma." Mama Lisa menyerahkan dengan sangat hati-hati. Papa langsung mengajaknya berkeliling sudut kamar, jalan mondar-mandir.
"Loh, Gio tidur Dy?" Baby Gio tidur dalam pangkuan Maudy. Mulutnya yang sedikit terbuka, ah sangat gemes jika melihat bayi tidur seperti ini.
"Iya ma. Mama bisa tolong pindahkan Gio ke box ma?" Mama Lisa mengangguk, dan segera mengambil Gio dari pangkuan Maudy. Lalu meletakkan secara hati-hati supaya tidak lagi terbangun.
"Kok, Endah anteng ya sama papa?" Maudy bertanya.
"Iya ya Dy, padahal dari tadi siang juga rewel."
"Mungkin karena Endah maunya sama Opanya." Papa Adi menjawab dan terus mengayun Endah dalam gendongan dan tak berhenti berjalan mondar-mandir.
Maudy benar-benar merasakan sangat diistimewakan saat setelah habis melahirkan. Bagiamana tidak? Bahkan untuk turun dari tempat saja mama Lisa tak memperbolehkan. Semua itu dengan alasan, karena orang yang habis melahirkan harus istirahat total sampai 40 hari. Agar semua bisa kembali, mulai dari urat-urat yang sempat tegang karena proses melahirkan. Dan juga, kondisi tubuh Maudy. Memang pada dasarnya, Maudy juga masih susah untuk bergerak. Perutnya yang sudah terlilit kain dan diikat sangat kencang, hal itu di lakukan untuk menjaga tubuh Maudy, agar perut dan tubuh tidak melar setelah pasca melahirkan.
Seperti malam biasanya, mama Lisa akan mengusir Bima keluar kamar. Karena Maudy dan juga anaknya harus istirahat. Menjaga stamina, karena kalau tengah malam pasti baby Endah dan Gio akan terbangun karena haus.
"Sayang, aku balik ke kamarya?" Maudy mengangguk, dan menatap wajah Bima yang sangat memelas.
Kasian kamu Bim.
Mama Lisa langsung mengunci pintu kamarnya, lalu melihat lagi ke dalam box baby. Memastikan kedua cucunya benar-benar sudah tidur pulas.
--__
__ADS_1