
Siang ini, Siska dan mama Lisa sepakat untuk pergi ke salah satu toko yang menjual berbagai jenis keperluan baby. Siska hanya membawa Rafa bersamanya, sementara Dafa di rumah dengan Opa nya. Tentu tidak sendirian Opanya menjaga, ada seroang ART juga membantu.
"Kamu tau kan tempatnya?" Bertanya kepada supir.
"Dekat jalan senturi kan nyonya?" Mama Lisa tersenyum. "Soalnya kan waktu itu yang antar nyonya Siska juga saya." Sepertinya membanggakan dirinya yang selalu mengantar majikannya jika pergi kemanapun.
30 menit mereka sampai di pusat perbelanjaan untuk baby, jangan di tanya kualitas disini, sama dengan harga yang mereka beri. Dan yang biasanya belanja disini juga hanya kalangan menengah ke atas, yang tidak kaget melihat harga satu baju untuk baby bisa mencapai jutaan.
Padangan Siska terfokus kepada seseorang yang tengah mengantri untuk membayar, dia sangat mengenalinya. Sampai jarak mereka begitu dekat, karena Siska mengambil troli dahulu, meninggalkan Rafa dan mama Lisa.
"Luna?" Menepuk bahu wanita muda yang sedang diam berdiri dengan kedua tangannya memegang troli. Terlihat semua belanjaan penuh memenuhi isi troli.
"Eh." Kaget dan menoleh.
"Luna kan?" Dia mengangguk.
"Iya, siapa ya?" Mencoba mengingat.
"Kak Siska, aku kakak ipar Bima." Ah Luna langsung tersenyum.
"Kamu gendutan sekarang ya?" Luna tersenyum lagi, walau terlihat jelas kalau senyum itu tak seramah ketika pertama kali Siska menyapanya.
"Kamu udah lahiran?"
"Iya kak."
Kenapa cepat sekali?
"Lalu mana anak kamu? Nggak di ajak?"
"Mbak, silahkan." Kasir sudah memanggil. Ternyata sudah gilirannya.
"Aku bayar dulu ya kak." Siska mengangguk, lalu berjalan pergi mendatangi anak dan mertuanya.
Sesekali dia menoleh ke belakang, pikiran sudah menjelajah jauh.
Bukan kah seharunya dia masih hamil tua, ah atau anaknya lahir prematur ya? Kalau iya kasian sekali dia.
"Kenapa lama Sis?"
"Eh, iya ma. Tadi ramai, jadi susah."
Mereka mulai menjelajah, dari lorong khusus untuk popok bayi.
"Lucu ma, gambar Barbie." Satu masuk ke dalam troli, bukan satu popok, tapi satu lusin.
"Ma, kan yang satu belum tau jenis kelaminnya, masa iya warna harus sama." Siska kembali mengambil popok berwarna biru muda.
"Tante, kak Siska." Mereka serempak menoleh, melihat ke arah belakang dan mama Lisa tersenyum.
"Luna?"
"Tante, apa kabar?" Hal yang biasa di lakukan wanita jika bertemu, cipika-cipiki.
"Baik, kamu sendiri?" Luna mengangguk.
"Suami kamu mana?" Eh wajah Luna langsung berubah.
"Dia di luar negeri Tante?" Mereka berdua saling pandang, iya ibu mertua dan menantu. Mama Lisa tidak lagi Bertanya lebih detail takut mengganggu privasi Luna.
Sambil terus berjalan sambil mendorong troli mama Lisa berbincang hangat. Sementara Siska fokus untuk mencari keperluan lainnya untuk anak Maudy, dengan Rafa yang naik di atas troli.
"Papa kamu kenapa nggak kasih kabar kalau kamu udah lahiran?" Luna diam, membuang pandangannya. Raut muka kesedihan jelas tak bisa ia tutupi.
"Mungkin papa kamu lupa kali ya, soalnya kan rekannya juga banyak." Mengelus lengan Luna dan tersenyum.
Andai aja aku yang jadi menantu tante, pasti asik.
"Ma, kita kesana ya? Kita cari baju baby nya."
"Untuk siapa tante? Kak Siska hamil lagi?" Melihat perut Siska yang jelas-jelas rata. Siksa menggeleng dan tersenyum.
__ADS_1
"Untuk anaknya Bima." Luna hanya menjawab 'oh' sambil manggut-manggut.
Mereka juga menikah nggak ngundang aku.
"Kalau begitu aku duluan ya kak, tante."
"Iya hati-hati ya. Salam buat papa kamu." Luna mengangguk, tersenyum lalu pergi.
Bukan wanita namanya jika tidak doyan bergosip, berbicara sedikit tentang kehidupan orang lain. Hidup tidak dalam kemunafikan, sudah pasti ingin tau tentang Luna.
"Ma, kayaknya dia lagi ada masalah."
"Iya, mama juga berpikir begitu."
"Dan juga, harusnya Luna kan masih mengandung, kenapa sudah mempunyai anak ya ma."
"Sudah lah, mungkin ada hal lain sebelum mereka menikah." Siska tau maksudnya.
Hingga sampai di lorong khusus pakaian baby, Siska kembali melanjutkan mencari yang menurutnya cocok. Matanya berbinar melihat begitu banyak jenis baju ingin baby perempuan. Ya ampun, segini imutnya ya, batinnya sambil memilih mana yang pas, mulai dari warna dan motif.
"Ma, liat deh ini lucu."
"Iya, ya udah kita ambil yang itu."
"Ma, Rafa capek, ngantuk." Heh, resiko membawa pergi anak ya begini memang.
"Sebentar lagi ya sayang, nanti kita pulang beli ice cream." Janji Oma yang pasti akan di tagih oleh Rafa.
"Ma, ini udah cukup belum?" Melihat isi troli ternyata sudah hampir penuh.
"Udah, gini aja nanti kalau ada yang kurang kita beli lagi, kasian juga Rafa di ngantuk."
Soal pembayaran di lakukan oleh mama Lisa. Dan Siska menunggu di depan pintu kaca untuk masuk ke butik.
Selang beberapa menit mama Lisa keluar, dengan dua karyawan yang membawakan belanjaan mereka.
"Bawa ke mobil ya mbak." Karyawan mengangguk ramah dan mengikuti langkah mereka.
***
"Pa? Apa Bima sudah ada bicara sama papa?"
"Bicara apa?" Siska dan mama Lisa diam mendengarkan.
"Sebenarnya Minggu depan, Bima harus berkunjung keluar negeri pa, itu adalah undangan resmi dari cabang kita disana. Mereka yang melakukan kerja sama meminta Bima langsung yang datang. Dengan alasan katanya sekaligus meninjau usaha kita disana." Papa Adi masih diam, sepertinya dia memikirkan hal yang sama dengan Rio, ya tentang hubungan anaknya dengan istrinya, mana mungkin Bima mau.
"Tapi pa, papa kan tau, Bima tidak bisa meninggalkan Maudy dengan keadaan hamil, begitu juga Maudy, mana mungkin mau di tinggal Bima."
"Apa kamu tidak bisa mewakilkan Rio?" Mamanya membuka suara, Siska masih santai, karena baginya juga tidak masalah.
"Nggak bisa ma, perusahaan kan yang pimpin Bima. Kalau aku yang mewakili sudah beda jalur."
Hening sebentar, sepertinya papa Adi masih memikirkannya. Ah berarti dia sudah mulai mengerti posisi menantunya.
"Kamu telepon Bima sekarang, suruh dia menemui papa." Rio mengangguk lalu berjalan pergi untuk mengambil ponselnya yang ada di kamar.
"Papa ikut." Rafa berlari mengejar.
"Sayang, jangan lari-lari." Siska memberi peringatan.
***
Bima melangkah masuk ke dalam rumah orang tuanya, begitu juga dengan Maudy. Mereka masuk dengan melihat sekeliling, sepi. Kemana semua orang?
"Bi, dimana papa?"
"Ada di halaman belakang den, mereka semua duduk disana."
Tumben.
"Nona muda, hamil malah kelihatan semakin cantik ya." Maudy tersenyum mendengar pujian.
__ADS_1
"Ah bibi bisa aja. Mari bi, aku ke belakang dulu ya?"
Cantik, nggak sombong lagi.
Memandang kepergian anak dan menantu majikannya, dengan senyum dan mendoakan semoga kelahiran Maudy nantinya lancar dan selalu rukun dalam berumah tangga.
Bima mendengar suara tawa papa yang sedang mengajak bicara Dafa, dan suara lain dari anggota keluarganya. Semua serentak menoleh, ketika mendengar derap langkah mendekat. Suasana malam tanpa bintang, mereka keluarga bapak Adi berkumpul di belakang rumah, meski tanpa kelip bintang tetapi sinar lampu menerangi gelapnya suasana malam.
"Bim, kamu udah datang. Maudy sini sayang." Melihat menantunya datang dengan perut yang semakin hari semakin terlihat membesar.
"Bima, papa mau bicara sama kamu." Semua terdiam, membiarkan papanya sendiri yang bertanya bagaimana keputusan Bima.
"Bim, apa benar kamu harus pergi keluar negeri Minggu depan? Dan kamu belum sama sekali membuat keputusan?" Bima langsung menoleh ke arah istrinya, dengan wajah yang bingung. Begitu juga dengan Maudy, ia tak berkedip, jantungnya berdegup, paling tidak suka jika ada sesuatu Bima tak membicarakan padanya.
"Iya pa."
"Kenapa?" Diam. "Apa karena tidak bisa jauh dari istrimu?" Bima langsung mengangguk.
Apa papa Adi bakal menghakimi Bima??
"Bim, papa mau kamu bijak dalam memimpin perusahaan." Beralih menatap menantunya, dan Maudy langsung menunduk. "Maudy, apakah kamu mengijinkan Bima untuk pergi? Tidak lama, tapi jika benar ada penurunan disana, mungkin bisa sampai satu bulan. Sebagai seorang istri, kamu harus siap." Maudy masih menunduk, sungguh entah kenapa dia merasakan ketakutan jika jauh dari Bima.
"Itu hanya seumpama, paling lama juga satu Minggu."
"Pa, apa papa tidak bisa mewakilkan?" Kali ini istrinya sendiri yang menyodorkan suaminya untuk pergi.
"Ma? Apa mama senang jauh dari papa? Kok mama malah suruh papa yang pergi?" Ah nada bicaranya sudah berubah. Rio membuang pandangannya, menahan tawa dengan membungkam mulut dengan bibir.
"Bukan begitu pa, tapi kan kita sebagai orang tua harus mengerti kondisi anak kita."
"Ma, mama salah. Harusnya kitalah yang jangan sampai terpisah." Ha? Mereka kaget dan langsung menatap papanya.
"Karena kita harus menikmati masa tua kita berdua gitu loh ma. Kenapa kalian malah menatap papa? Apa cuma kalian yang mau berdua dengan istrinya?" Sewot sendiri.
"Pa, tapi bukannya papa waktu itu pernah bilang bosan kalau dirumah terus? Bahkan papa pagi-pagi sudah datang ke kantor." Bima dengan beraninya menyuarakan isi hatinya.
"Benar begitu pa?" Nada lembut namun penuh penekanan.
"Papa kan bilang bosan dirumah ma, bukan bosan sama mama." Eh dia merayu.
"Bim, bukankah mas kamu bilang kalau ini tidak bisa di wakilkan?" Bima diam, semuanya memang benar, papanya sekalipun tidak bisa, karena semua harus dirinya sendiri, ini tentang profesional dalam berbisnis.
"Begini saja, sebaiknya kamu bicarakan hal ini dengan istrimu." Papa bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam, lalu di ikuti oleh istrinya. Sepertinya akan membahas masalah 'bosan" yang di katakan suaminya.
***
"Sayang, kamu yakin dengan keputusan kamu kan? Aku bisa saja tidak datang, biarlah aku di anggap tidak profesional, yang terpenting tidak jauh dari kamu."
Mereka kembali membahas ketika sudah berada dirumahnya sendiri. Bima berjalan ke arah balkon kamar, kedua tangan ia tumpu ke pagar besi pembatas.
Matanya menatap ke arah langit, memohon doa keputusan apa yang akan ia ambil. Walau hanya satu Minggu, tapi rasanya sudah seperti berpisah selama satu tahun.
Maudy berjalan mendekat ke arah Bima.
"Bim, aku yakin mama juga dulu sering kan di tinggal papa?" Bima menoleh. "Cuma seminggu kok Bim, aku nggak masalah. Soal resto juga sudah ada ibu yang bantu, dirumah juga ada ART. Aku nggak akan kesepian Bim."
"Sayang?" Memeluk istrinya, mengelus puncak kepalanya. Berdiri dan saling berpelukan dengan latar lampu kota yang berkelip dari kejauhan.
"Masih Minggu depan kok sayang." Maudy mengangguk, lalu mengajak Bima untuk kembali masuk ke kamar.
"Aku mau tidurnya di peluk sampai pagi."
"Sayang, tanpa kamu meminta aku pasti melakukannya. Bahkan lebih dari itu juga aku bisa sayang."
"Bima.." Memukul dada bidang Bima.
Dan, hitungan menit Maudy sudah terdengar mendengkur halus dalam pelukan Bima. Bima yang masih membuka mata, berkali-kali mengecup kepala istrinya.
Sayang, bukan aku tidak mau pergi tapi rekan Bisnisku wanita, aku merasa risih jika harus berada di dekatnya.
--__
__ADS_1