
Kado-kado tersusun dengan rapinya di dalam box besar yang sengaja di sediakan pihak keluarga, apa bila ada tamu yang hadir memberikan kado untuk kedua baby. Maudy yang sudah bisa beraktivitas kembali dan menjaga anaknya seorang diri. Karena masa nifasnya sudah terlewati. Jika berbicara soal waktu, memang selalu tak terasa. Dan malam nanti, adalah malam pertama Bima untuk kembali tidur di kamarnya. Bersama istri dan anaknya.
Balon berwarna-warni menjadi penghias dekor dimana baby Endah dan Gio di letakkan. Mereka yang masih bayi saja sudah seperti model, yang di ambil photonya dengan berbagai gaya. Tidur dengan nyenyak, tanpa memperdulikan suara bising yang di ciptakan orang-orang di sekitar. Maudy tersenyum senang menatapnya. Tak menyangka bisa memiliki anak dari Bima, anak mereka yang sangat di sayangi banyak orang.
Bima mengundang seluruh karyawannya. Rekan bisnis yang berada diluar kota, dan juga seluruh keluarga. Maudy saat ini tengah berdiri dengan di temani ibu dan mama Lisa. Mereka juga ikut menikmati pemandangan yang ada di hadapan mereka. Tertawa geli melihat cucu kecilnya yang bak model saat ini.
"Gemes mama Dy lihatnya. Memang jaman sekarang super canggih." Dia saja orang yang terkenal kaya raya bisa mengakui hal itu. Meski sedari dulu, sedari melahirkan anaknya sudah memiliki kekayaan, tapi memang pada jamannya tidak ada yang seperti ini.
"Iya mbak. Lah kalau kita dulu ada acara syukuran aja udah hebat ya mbak." Ibu juga setuju dengan hal itu.
Sesi photo selesai, baby Endah dan Gio langsung di pindahkan ke box mereka lagi. Karena masih dalam keadaan tidur. Maudy mencari keberadaan Bima yang tak ada di pandangan matanya saat ini. Karena tamu semakin banyak yang datang, banyak juga yang menanyakan Bima. Terutama rekan bisnis dan karyawan kantornya. Mereka juga ingin sekali mengucapakan selamat untuk kedua pasangan ini.
"Sebentar ya." Tersenyum dan meninggalkan beberapa tamu yang mencoba menyapanya.
Hingga menemukan Bima di sudut rumahnya, tengah menelpon seseorang. Maudy menepuk bahunya, Bima menoleh.
"Sebentar sayang." Maudy sedikit menjauh dan menunggunya selesai menelpon.
"Bim, di luar banyak yang cari kamu. Kenapa malah disini sih." Wajah jika seorang istri marah bagaimana, sudah bisa di bayangkan bukan.
"Iya sayang, ayo." Bima menggandeng lengannya.
Rumah yang luas saja kini tampak padat, baik di dalam ataupun di luar rumah mereka. Bima kembali menyambut mereka yang sengaja menunggunya. Dan karena saat ini mereka benar-benar sibuk, penjagaan anak di serahkan kepada dua ART dirumah mereka. Dengan di awasi mama Lisa tentunya. Super ribet jika orang tua tak percaya cucunya di pegang orang lain.
"Kiki belum datang ya Bim?" Bima menoleh, lalu mendekatkan wajahnya.
"Apa sayang? Maaf aku nggak dengar."
"Kiki, Bim. Dia belum datang?
"Belum. Wajarlah sayang, dia jugakan sibuk karena menikah besok." Maudy mengangguk. Tapi jujur saja, entah kenapa setiap melakukan acara selalu mengharapkan sahabatnya itu datang.
"Hei, Maudy selamat ya." Mata Maudy langsung berbinar.
"Kak Sun? Apa kabar? Ya ampun, kirain kakak udah nggak ingat. Undangannya nyampe kan?" Sundari mengangguk. Tubuhnya sudah membesar bersamaan dengan perutnya saat ini.
"Tinggal nunggu bulan ya kak?" Sundari mengangguk lagi.
"Iya, doain ya. Kiki mana?"
"Kiki sibuk kak, besok dia menikah." Ucap Maudy.
"Masak sih? Kenapa aku tidak di undang?" Mengerutkan keningnya.
"Nanti sewaktu resepsi juga bakal di undang kak. Ini Kiki nikah dulu." Sundari mengangguk.
"Anak kamu mana Dy?" Ilham bertanya. Hanya bertanya, dan Bima sudah berdehem memberi kode.
"Di sana." Menunjuk ke arah box baby yang berada tak jauh darinya. "Kalau mau lihat kesana aja, ada mama juga kok disana." Sundari dan Ilham langsung pamit sebentar, untuk melihat baby Endah dan Gio.
***
Acara berlangsung hingga malam. Mungkin karena banyaknya tamu, sehingga sudah pukul 08 pun masih ada juga yang datang. Padahal acara juga sudah di mulai sejak pagi. Memang jika memiliki keluarga besar akan seperti ini, dan apalagi Bima, papa, dan masnya sama-sama pengusaha. Jadi tak heran, jika ada aja tamu yang datang dari kalangan bisnis.
Bima menunjukan beberapa berita berupa artikel yang sudah tersebar di internet, padahal acara juga belum selesai. Mereka berdua duduk, tamu mulai lenggang.
"Apa ini Bim?" Menatap ke arah layar ponsel. Lalu mendongak lagi melihat Bima yang tersenyum.
"Bisa-bisanya, penjagaan super ketat begini kita bisa kecolongan dan tak tau jika ada wartawan yang masuk." Bima mendengus. Lalu mengusap pelan layar ponselnya, padahal seluruh emosi sudah tertumpah disana. Hal ini jelas bisa di tuntut. Menyebarkan berita seenaknya tanpa meminta ijin, meskipun berita itu benar. Tapi Bima sudah diberi tau papanya agar tidak menyebarkan tentang kelahiran anaknya. Boleh saja mengundang siapapun, tapi tidak untuk wartawan. Begitu pesan papanya, karena apa anak-anaknya juga dulu begitu. Tidak ada yang tau, meski nama papanya harum di negeri ini dan di kenal sebagai pengusaha sukses. Sehingga, ketika Bima dan Rio sama-sama sudah dewasa, barulah orang-orang tau siapa mereka.
Itu juga dilakukan papa Adi supaya tidak adanya parasit yang selalu mendekati anak-anaknya dan hanya mau berteman karena melihat harta dan juga statusnya. Dan sekarang, malah Bima yang merasa kecolongan. Maudy sendiri yakin, kalau ini adalah kerjaan orang dalam, misal, salah satu tamu undangan yang sengaja mengambil photo anaknya beserta nama mereka yang sudah terpajang besar di antara balon dekorasi. Begitu Maudy menyimpulkan saat ini, lalu mereka sengaja menjual berita kepada wartawan. Ah manusia sekarang apapun di halalkan asalkan itu menghasilkan uang.
"Kamu tau kan sayang, sampai aku SMA baru orang-orang tau kalau aku anaknya papa." Maudy mengusap pelan bahu Bima, mencoba menurunkan sedikit emosi suaminya. Di hari bahagia mereka ada saja masalah.
"Bim, sebaiknya kamu cari tau." Bima mengangguk.
"Aku juga tidak mau begini, anak yang berumur satu bulan sudah harus terekspos di media."
"Tunggu sampai tamu undangan sudah pulang semua. Aku akan bicara dengan papa." Maudy mengangguk saja. Lalu mereka kembali ke depan, dimana para tamu undangan masih duduk dan menikmati makanan mereka. Maudy dan Bima, mereka kali ini berdiri dekat box baby Endah dan Gio. Mereka masih minum susu, sudah ada mama Lisa dan ibu Irma juga disana.
Dan hari ini Kiki benar-benar tidak datang. Maudy mengambil ponsel dari dalam tas yang ia bawa saat ini. Bermaksud untuk menghubungi Kiki, tapi sudah ada notif pesan masuk disana. Maudy langsung membukanya.
"Dy, maaf ya. Aku benar-benar nggak bisa datang. Mama aku juga, kami sibuk dirumah Dy. Aku juga udah nggak boleh keluar kemanapun. Maaf ya, besok kamu datang kesini kan?"
Maudy tersenyum dan mengabaikan pesan dari Kiki. Berniat akan datang tapi tidak perlu membalasnya. Biar saja Kiki merasa bingung, batinnya. Lalu memasukan kembali ponsel ke dalam tas.
Pukul 21:15. Rumah sudah tampak sepi. Ini kesempatan Bima untuk berbicara dengan papanya. Maudy yang sudah berada di dalam kamar dengan kedua anaknya. Dan keluarga yang lain, seperti ibu dan mama Lisa memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. WO yang bertugas disini, langsung melepas dekor dan mengembalikan tataan rumah, malam ini juga harus selesai. Dan di pastikan besok pagi rumah akan kembali bersih dan rapi.
Bima mengajak papanya berbicara di halaman belakang rumah. Ini juga memiliki alasan, kalau bicara di depan seluruh keluarga yang ada para ibu-ibu akan rempong, baik itu ibunya sendiri ataupun ibu mertua.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa Bim?" Langsung berbicara ketika sudah berdiri saling berhadapan.
"Pa, awalnya aku iseng buka berita melalui sosmed. Tapi aku malah ketemu ini." Bima langsung memberikan ponsel kepada papanya. Untuk melihat artikel yang sama, hanya saja kali ini sudah banyak media yang menyebarkan.
"Aku tidak pernah pa, mengandalkan kekuasan ku untuk hal-hal lain. Mengancam orang lain, ataupun memanfaatkan situasi. Tapi kali ini aku akan lakukan itu pa." Papa Adi mengembalikan ponsel Bima. Wajahnya sudah merah padam. Pernikahan boleh saja tersebar luas, bahkan itu harus. Tapi soal anak, itu privasi.
"Kita harus selesaikan malam ini juga. Dan harus tau siapa yang berani menjual berita ini." Bima mengangguk setuju. "Apa yang akan kamu lakukan ketika tau siapa orangnya?"
"Aku akan menuntutnya!" Tegas, dan tanpa berpikir. Karena sedari tadi memang sudah Bima putuskan untuk hal ini.
"Kita keruang kerja ku aja pa."
"Panggil mas kamu dulu, biar dia juga bantu. Papa akan menelepon salah satu manager media yang menyebar berita ini. Jangan sampai terbit cetak di koran yang akan di baca seluruh orang di negara ini." Bima mengangguk lagi. Mereka berpencar saat ini, papa yang masuk keruangan kerja. Dan Bima memanggil masnya Rio untuk ikut andil mencari tau tentang berita ini. Karena, Rio juga memiliki keahlian dalam internet, hanya saja dia bukan hacker handal, hanya otodidak.
Setelah mereka bertiga berkumpul, papa yang sudah dengan cepat memberi informasi mengenai hal ini.
"Ciri-ciri khusus karyawan kantor kamu Bim, dan dia juga dekat denganmu. Sangat dekat." Deg. Bima mendongak semula mencari sumber berita di internet melalui laptop. Bima menggeleng dan mengatakan tidak mungkin, karena langsung menangkap satu nama dipikirannya ketika papanya menyebutkan hal itu.
"Coba cari tau lagi pa. Mas gimana apa sudah dapat?" Rio diam sebentar, hingga dia berhasil mengklik sebuah akun pojok kabar atau berita terkini. Di sana jelas tertera siapa nama-nama wartawan yang ikut andil untuk menjual berita ke media masa dalam waktu kirim dari dua jam.
"Mereka mulai jam 3 sore. Media sudah menyepakati hal ini dan langsung menaikan berita ke internet sebagai artikel. Dan disini juga semuanya benar, beritanya benar. Coba lihat." Bima dan papanya langsung melihat ke arah layar. "Kalau begini, berarti benar apa yang di katakan papa. Ini orang terdekat kamu."
"Tapi kenapa disana ada namaku yang tertera dengan membuta sebuah pengakuan?" Bima mengerutkan keningnya. "Ini sudah terlalu jauh pa. Mereka bahkan berani memanipulasi bahwa aku sudah angkat bicara." Nafasnya langsung naik turun karena emosi.
"Ya, saya memang sangat senang dan bahagia. Mendapatkan dua baby sekaligus."
Itu adalah sebuah kutipan, yang berarti membuat orang-orang berpikir bahwa Bima sudah setuju dan mau di wawancarai.
"Aku memang pernah mengatakan hal itu pa, tapi tidak semalam."
"Kamu bicara begitu dengan siapa?" Bima diam, dan menggeleng lagi. Batinnya selalu mengatakan ini tidak mungkin.
"Aku hanya bicara dengan Revan. Tapi semalam saja dia tidak datang kesini pa. Lalu dari mana photo itu dia dapatkan?" Papanya langsung mengangguk. Begitu juga dengannya, tak mungkin jika Revan berani melakukan hal ini. Selama bekerja saja sudah di akui kinerjanya bagaimana, jujur juga jangan di tanya.
"Sebentar, aku bakal buka siapa tau ada nama Revan disana."
Rio mulai lagi dengan keahliannya. Karena setiap berita pasti memiliki sumber dan satu nama. Tak mungkin bisa tercipta kalau tidak ada yang membuatnya.
"Inisial R." Rio menoleh ke arah Bima dan papanya.
Bagaimana mungkin.
Bima terduduk lemas. Masih berpikir bagaimana mungkin orang yang di percayai bisa menghkianatinya?
Panggilan pertama tidak ada jawaban.
Bima menekan ulang dan menelponnya kembali.
"Hallo?" Papa dan Rio langsung menoleh ke arah Bima.
"Iya pak. Ada apa?" Terdengar jika Revan sudah tidur dan terbangun karena Bima menelponnya.
"Maaf Revan saya mengganggu kamu malam-malam. Saya hanya mau tanya, apa kamu ada menjual berita tentang anak saya ke media atau wartawan?"
"Maksudnya pak? Saya tidak mengerti."
"Ada yang menjual berita dan itu tanpa sepengetahuan saya. Ciri-ciri yang di miliki, orang terdekat saya, yang memang mengetahui tentang kelahiran anak saya. Dan memiliki inisal R."
"Pak, bagaimana mungkin saya melakukan hal itu? Sedangkan saya saja saat ini masih di kampung." Bima terdiam.
"Kalau begitu, kamu bisa kan bantu saya? Karena ini harus selesai malam ini juga. Kamu coba aja buka berita itu."
"Baik pak."
Bima meletakkan ponselnya ke atas meja. Dan duduk, frustasi dan memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Mas, apa ada hal lain yang bisa membuka jalan untuk kita?" Rio menggeleng. Lalu meninggalkan laptop dan ikut duduk di hadapan Bima. Sementara papanya kali ini sibuk menelpon, siapa juga mereka tidak tau. Tapi yang pasti, mereka percaya dengan kekuatan papanya di dunia bisnis dan memiliki rekan dari berbagai macam kalangan pasti dapat membantunya.
"Gimana pa?" Melihat papanya sudah mematikan sambungan telepon.
"Bima CCTV dan lihat, amati baik-baik. Siapa yang berada di dekat anakmu. Dari sana akan kelihatan, siapa gerak-gerik yang di curigai." Bima dan Rio saling pandang. Kenapa tidak kepikiran itu dari tadi, pikir mereka. "Teman papa menyarankan untuk hal itu. Karena itu bukti terjelas untuk melihat siapa pelaku. Karena papa sendiri nggak yakin kalau itu Revan. Bisa saja media memanipulasi, dan berkata kalau itu adalah orang terdekat kamu."
Bima mengajak papanya masuk keruangan CCTV rumahnya, yang ada di sebelah ruangan kerjanya. Hanya tinggal masuk lewat pintu penghubung.
Mungkin sudah berbagai pertanyaan untuk para istri yang sedang menunggu. Kenapa mereka begitu lama di dalam tak kunjung keluar. Padahal ketika lelaki ini sudah seperti detektif saat ini.
"Buka di jam dimana mulai adanya tamu yang datang." Bima mengangguk, dan dia yang memegang kendali, sementara papa dan masnya yang menilik setiap orang yang datang.
"Sebentar pa, kalau begini buang-buang waktu kan? Bisa sampai besok pagi juga nggak Nemu. Kalau tadi di berita, katanya kan jam 3 sore. Nah buka aja mulai dari jam satu siang. Karena setelah laporan 2 jam sudah diproses." Ah Bima sangat bangga dengan pemikiran masnya.
__ADS_1
"Itu siapa?" Papanya menunjuk ke arah layar, yang menampakkan satu wanita berbaju kuning sedang berbicara dengan istrinya. Dan waktunya juga begitu lama.
"Nggak jelas deh, cuma ini karyawan kantor aku sih pa." Mereka masih memerhatikan dengan seksama.
"Itu lihat, dia ngambil photo anak kamu. Tapi dia juga sepertinya sudah ijin dengan mama." Mereka masih tetap fokus melihat. Terhitung hampir setengah jam wanita itu berada di dekat box baby sambil terus berbincang dengan mama Lisa.
"Papa yakin kalau ini orangnya? Soalnya tadi di awal-awal juga ada yang mengambil photo anakku, meski dia nggak terlalu lama berdiri disana." Bima menunggu jawaban papanya.
"Mana berita tadi, coba lihat cara dia mengambil photonya. Dari jarak dekat atau jauh." Bima mengambil lagi ponselnya yang tadi berada di meja ruangan kerjanya. Bergegas secepat mungkin, dan kembali dengan memberikan ponsel kepada papanya.
Papa Adi tampak menganalisa bagaimana orang itu mengambil photonya. Jika memang ada yang cocok, barulah bisa di pastikan siapa orangnya.
"Bim, coba buka CCTV yang memperlihatkan orang pertama." Bima mengangguk.
"Ini pa." Papanya memerhatikan dengan baik, lalu melihat lagi ke ponsel.
"Gimana pa?" Papa Adi menggeleng.
"Dia hanya mengambil satu photo, itu juga bukan ke arah anak kamu ataupun nama Gio dan Endah yang ada di sekitaran dekor. Tapi dia hanya mengambil photo Selfi untuknya sendiri, coba perhatikan." Rio dan Bima mengulang lagi rekaman CCTV. Lalu terlihat memang jika wanita itu melakukan photo Selfi untuknya sendiri. Tidak ada kecurigaan yang bisa mereka ambil.
"CCTV kedua Bim." Papanya memberi perintah lagi. Dan jika ini juga sama, maka papa Adi berniat akan melanjutkan besok dengan bantuan rekannya. Merasa sudah larut malam dan mengantuk.
Kali ini mereka sama-sama fokus melihatnya. Dan, detik berikutnya papa Adi meminta Bima untuk menjeda sebentar rekaman CCTV.
"Lihat, dia mengambil photo langsung ke dalam box dan menampakkan kedua anakmu yang sedang tidur. Jika kita mencurigai pihak WO tidak bisa, karena mereka dan di tempat sampai acara selesai." Mereka kembali memerhatikan photo kedua dengan gerak-gerik wanita berbaju kuning.
"Jeda lagi Bim, itu dia mulai ambil photo lagi."
"Kamu perhatikan lagi Bim, siapa tau kamu kenal. Soalnya dia pintar, dia selalu mengajak mamamu mengobrol barulah mengambil photo. Sepertinya dia meminta ijin dulu, jadi kalau kita pun menghakiminya pasti dia akan menjual nama mama kamu. Pintar sekali dia." Bima bahkan tak memikirkan hal itu.
"Pa, kalau memang dia disana mengobrol lama tak mungkin mama tak bertanya soal nama." Deg. Mereka saling pandang. Bima, sungguh akalnya masih di bawah papa dan masnya.
"Sebaiknya kita pastikan sekali lagi." Mereka bertiga setuju, dan sekali lagi memerhatikan rekaman CCTV. Lalu perintah akhir dari palanya adalah, Bima harus mengcopy rekaman itu untuk menjadi bukti nantinya.
Mereka keluar dari ruangan dengan keringat mengucur, padahal juga AC sudah di nyalakan. Seperti habis membunuh seseorang saja. Ya ampun.
Papa Adi yang berjalan lebih dulu di depan anaknya, sementara Rio dan Bima berada di belakangnya.
"Pa, sebenarnya ngapain sih? Lama sekali. Kasian Rafa sampai tertidur." Nah kan, padahal sudah berjalan dengan gaya yang cool, tapi belum sampai saja sudah di sambut dengan omelan istrinya.
"Ma, bisa bicara sebentar? Jangan pulang dulu, sebentar aja." Bima merayu mamanya.
"Ya udah disini aja."
"Nggak enak ma, nanti kalau Rafa terbangun gimana? Kasihan." Mama Lisa mengangguk dan mengikuti Bima yang masuk ke dalam kamar bawah. Ternyata, papanya juga ikut.
Setelah menanyakan hal itu, mamanya mengingat kembali siapa wanita tadi yang di maksud Bima. Lama berpikir, barulah dia mengingat. Bima dan papanya yang sabar menunggu.
"Mama nggak tau siapa namanya." Bima langsung menepuk keningnya sendiri, setelah sekian lama berdiri menunggu dan hasilnya nihil. Sementara papa Adi meraup wajahnya dengan kasar lalu tersenyum menatap istrinya yang wajahnya tampak bingung. Karena Bima dan papanya sepakat, jangan beri tau hal ini dengan mama.
"Tapi mama hanya tau dia bekerja di kantor Bima, katanya sih di bagian keuangan." Deg. Bima dan papa saling pandang.
Saat sudah menemukan titik terang, papanya berpesan lagi. Untuk Bima lebih memerhatikan siapa wanita yang ada di CCTV. Jika sudah bisa menebak, segera eksekusi. Begitu papanya berbisik saat berjalan keluar kamar.
***
"Sayang? Kamu sudah tidur?" Menepuk pelan pipi Maudy. Bima yang baru masuk langsung mendekat ke arah Maudy, padahal pakaian juga belum di ganti, lengkap dengan sepatunya.
"Sayang? Aku kangen." Suara manjanya terdengar, tapi sepertinya Maudy sudah benar-benar memasuki alam mimpi.
Melihat tak ada reaksi, Bima melangkah masuk ke kamar mandi, untuk mencuci wajahnya sebelum tidur. Dan membersihkan diri hanya dengan mengusapkan air ke seluruh tubuhnya. Takut kalau menggigil jika mengguyurkan. Karena mengingat ini juga sudah larut malam.
Saat keluar dan akan menutup pintu, Bima langsung terdiam memandang ke arah tempat tidur.
"Sayang?" Maudy menoleh dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya untuk meminta Bima jangan bersuara.
Bima melangkah dengan perlahan.
Kenapa dia bangun mendengar Gio menangis, sementara tadi aku saja yang sudah menepuk pipinya bahkan dia tak mendengar.
"Bim, tolong pindahin Gio." Bima mengangguk dan memindahkan Gio kembali di box, yang menjadi tempat tidurnya bersama Endah. Walau hanya satu box, tapi box juga lebar. Dan tengahnya memiliki sekatan untuk mereka.
"Sayang?" Bima tersenyum dan berjalan mendekat.
"Aku sudah puasa terlalu lama." Ucapnya lagi. Maudy tersenyum, dia juga tidak menolak. Dan ini adalah kesempatan untuk Bima.
Perlahan, tapi pasti. Berhasil membuat Maudy mengeluarkan suara aneh meskipun harus tertahan karena takut kalau anaknya terbangun. Saat Bima sudah berhasil melucuti pakaian istrinya.
"Bim, coba lihat. Itu Endah bangun." Mendengar suara tangisan anaknya saja Maudy sudah bisa membedakan sekarang. Bima mengusap wajahnya frustasi. Lalu secepat mungkin membuatkan susu untuk Endah.
__ADS_1
Karena keadaan Maudy yang sudah tidak mungkin lagi menggendong Endah, dan Bima lah yang menjaganya hingga Endah tertidur kembali. Tapi bukan hanya Endah, sepertinya Maudy juga tertidur di bawah gulungan selimut. Dan meninggalkan Bima yang sendiri menahan segala sesuatunya.
--__