
Rumah mewah, taman luas, dan juga ada kolam renang di halaman belakang. Tapi masih kalah di bandingkan rumah Bima. Mulai dari desain, juga barang mewah lainnya. Bisa dibilang 10-12 lah nilainya.
Ini yang buat Maudy betah dekat dengan Kiki, anak orang kaya, tapi tidak sombong, bahkan tidak terkesan jijik jika harus di ajak main ke tempat kumuh atau yang memang tidak sepantasnya untuk kalangan menengah ke atas.
Hari ini Maudy di undang makan siang oleh mamanya Kiki. Entah ada hal apa, yang pasti ada sesuatu. Karena tidak biasanya juga seperti ini.
"Tante." Tersenyum dan langsung memeluk Ratih mamanya Kiki.
"Kamu sehat? Udah lama nggak main kesini." Menggandeng lengan Maudy dan mengajaknya duduk di sofa. Bahkan anaknya sendiri tidak di sambut.
"Lupa ya ma sama Kiki?" Cemberut.
"Haha, kamu ini."
"Ada apa Tante, nggak biasanya ngajak makan siang?" Langsung ke intinya.
"Gini, jadi papanya Kiki kan ulang tahun hari ini, nah Tante mau minta bantuan kalian buat kasih surprise, kalian mau kan?" Menatap mereka secara bergantian. Menunggu jawaban.
"Jadi papa ulang tahun ma? Ya ampun aku lupa ma."
"Memang tiap tahun kamu lupa, kamu ulang tahun sendiri aja lupa, tapi kalau Maudy yang ulang tahun baru cepat banget." Mereka sama-sama tergelak, memang benar dan itu kenyataannya. Entahlah, bukan berarti Kiki tidak sayang papa atau mamanya dan lebih penting Maudy baginya, tentu tidak. Tapi karena setiap hari lebih sering dengan sahabatnya ini, jadi ingatannya lebih sering untuk Maudy.
"Mau masak apa Tante?" Setelah berada di dapur, dan Kiki ke kamarnya untuk mengganti baju.
"Hem. Kita masak steak aja."
"Wah, Tante bisa ya buatnya? Kemarin ibu buat, tapi alot dagingnya Tante, jangan kan di kunyah, di belah pakai pisau juga susah." Ini yang membuat Maudy gampang akrab dengan siapapun. Sifatnya yang memang tidak sombong dan jika bicara dengan orang yang lebih tua juga akan nyambung.
"Tante juga baru belajar kok Dy. Makannya Tante putusin buat masak sendiri aja, takutnya kalau pembantu yang masak nggak enak om Septian nggak mau makan, tapi kalau istrinya yang masak kan walau nggak enak juga pasti dia hargai, ya nggak?"
"Bisa di contoh ni Tante." Mengacungkan dua jempolnya.
Daging mulai di iris tipis sesuai dengan ukuran steak pada umumnya. Sementara Maudy membantu mengupas kentang yang akan di rebus lalu di goreng. Semua sudah Tante Ratih siapkan, dan memang akan mengerjakan sendiri. Sehingga pembantunya bisa duduk santai walau hanya beberapa jam.
Pantas saja punya ibu alot, orang bakarnya nggak di alat yang semestinya. Kalau ini pasti di jamin enak.
Sudah membayangkan steak buatan Tante Ratih. Karena satu bulan sekali juga ia belum tentu makan ini, bukan nggak ada uang sih, masih cukup lah kalau nyisih kan uang jajannya, tapi ayahnya selalu berpesan, jangan terlalu boros.
"Udah Tante, ini kentangnya." Sudah terkupas dan sudah di potong sesuai anjuran Tante Ratih.
"Kamu rebus di panci yang udah Tante letak di atas kompor ya? Kamu bisa kan Dy?"
"Bisa lah Tante." Kalau cuma ngerebus siapa coba yang nggak bisa.
"Kok Kiki belum turun juga, coba Dy kamu naik ke atas sana. Kentangnya bisa di tinggal kalau udah di masukan."
"Iya Tante." Langsung berjalan, menaiki anak tangga untuk menuju kamar Kiki.
Untung rumahku tidak tingkat, kalau nggak bisa tambah kurus aku setiap hari gini.
"Ki!" Mengetuk pintu dengan keras.
Tidak ada jawaban. Mencoba membuka handle pintu, ternyata tidak di kunci.
"Kiki, ya ampun!!" Ternyata orang yang di tunggu sedang tidur dengan pulasnya, tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Kaus kakinya juga masih terbalut dengan rapi.
Kalau aku begini bisa disiram air sama ibu.
"Ki bangun. Ih kamu gimana sih? Katanya mau ganti baju, taunya tidur. Malah masih pakai seragam lagi."
Menguap, Kiki menguap berulang-ulang.
"Ngantuk Dy." Masih setia dengan gaya tidurnya.
Maudy langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Kiki. Jauh berbeda lah dari kamar miliknya, disini juga AC dinginnya terasa.
Maudy kembali dengan membawa segayung air. Tanpa berpikir dan bicara, Maudy mulai menuangkan ke rok sekolah Kiki. Kemudian kembali lagi ke kamar mandi mengembalikan gayung pada tempatnya.
"Ki, kamu ngompol ya?"
"Hoam, apa Dy?" Sedikit membuka matanya.
"Kamu ngompol?" Langsung terduduk.
"Ha?" Melihat roknya yang sudah basah. Langsung menatap Maudy. Maudy yang sudah tidak bisa menahan tawa melihatnya.
"Dy, jangan bilang siapa-siapa." Langsung berlari secepat kilat ke kamar mandi.
Maudy langsung tergelak dan kembali ke dapur. Mungkin kentangnya udah matang.
__ADS_1
"Mana Kiki Dy? Kenapa lama?" Masih mengolesi bumbu pada steak.
"Mandi Tante Kiki nya. Dia tidur tadi, pantas aja nggak turun-turun."
"Sudah Tante duga, kebiasaan."
Maudy kembali mengangkat kentang yang sedari tadi ia rebus, mungkin karena terlalu lama jadi kompor sudah dimatikan duluan oleh Tante Ratih.
Setelah itu, Maudy di ajarkan membuat kentang sesuai resep untuk menyantap bersama beef steak. Dengan telaten Maudy mengerjakannya. Kiki datang setelah semua pekerjaan sudah selesai, dan sekarang hanya menunggu matang.
"Papa pulang jam berapa ma?" Sambil mengunyah apel yang ia ambil dari kulkas.
"Sekitar 2 jam lagi. Kamu tolong ke depan sekarang, tunggu orang yang bakal anter orderan roti ulang tahun buat papa. Soalnya orangnya udah hubungi mama, sudah di jalan katanya."
"Panas lah ma. Suruh bibi aja ya?" Mencoba negosiasi.
"Nggak! Semua harus kita yang kerjakan hari ini, karena semua spesial buat papa kamu." Tidak ingin perkataannya di bantah.
Dengan malas Kiki melangkah. Maudy hanya tersenyum sambil menunduk.
Dasar anak manja!
***
"Selamat ulang tahun papa." Dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun diiringi dengan gitar yang dimainkan oleh Maudy. Wah, multilatent nih Maudy, semua dia bisa.
Ruang tamu sudah mereka dekor dengan bagusnya. Ada beberapa balon dan hiasan lainnya. Sebenarnya sederhana, hanya saja karena memang rumahnya mewah jadi tinggal di poles dikit juga akan cantik.
"Makasih ya sayang?" Memeluk istri dan anaknya. "Maudy, kamu juga bantu buat surprise nya ya?"
"Iya om." Tersenyum ramah.
"Makasih ya, hilang sudah deh capeknya papa." Kembali merangkul anak dan istrinya.
"Mama udah siapkan makanan kesukaan papa. Tapi ini asli home Made ya pa. Enak nggak enak makan aja." Langsung mengajak semuanya duduk bersama di meja makan.
Tengah asik makan dan berbincang, memuji kalau steak buatan Tante Ratih memang asli enak banget. Eh ada aja yang ganggu.
"Angkat aja Dy, siapa tau penting?" Tante Ratih yang tau kalau ponsel miliknya berdering.
Dengan merasa tidak enak Maudy meninggalkan meja makan.
"Iya Bim? Aku lagi makan tau nggak. Enggak enak nanti kalau kelamaan angkat telponnya. Nanti aja ya?"
Maudy kembali ke meja makan dan tersenyum. Ia duduk, dan meletakkan ponselnya di hadapannya.
Maudy kembali menyantap steak miliknya. Pandangnya masih tetap ke arah ponsel. Oh ternyata, Bima meminta Maudy tetap berada dalam panggilan, hanya saja merubahnya dengan video call.
Bima menjulurkan lidahnya melihat wajah Maudy yang sudah tampak menahan emosi. Maudy mau melakukan ini tapi dengan satu syarat, Bima di larang mengeluarkan suara. Karena ia takut malu kalau sampai ketahuan dengan keluarga Kiki.
Sehabis makan Maudy dan Kiki langsung pamit untuk kembali masuk ke kamar. Urusan piring kotor barulah tugas pembantunya.
"Gila ya, jadi dari tadi kalian video call?" Heran sendiri
Maudy mengangguk.
"Kita renang yuk Dy? Udah lama juga nggak renang, kasian tuh kolam nganggur."
"Sayang jangan di matikan walaupun kamu renang."
Bicara di seberang telepon.
"Ih, apa sih Bim. Sekalian aja pas Maudy ganti baju kamu lihat!" Kiki yang protes. Kalau Maudy hanya menghela nafas. Menolak juga percuma, pasti Bima bakal keluarin jurus manjanya.
"Iya-iya." Hanya itu yang di jawab Maudy.
Maudy meninggalkan ponselnya untuk berganti pakaian yang pantas untuk renang. Tenang, Kiki punya stok banyak, yang masih baru juga ada, orang kaya mah bebas.
Siap untuk masuk kedalam kolam. Maudy meletakan ponselnya di salah satu kursi kayu khusus untuk duduk dan rebahan setelah renang. Ia meletakkan ponselnya dengan posisi berdiri, agar seluruhnya nampak di pandangan Bima.
"Sayang, tunggu? Apa Kiki pakai pakaian seperti kamu juga?"
Ini nih waktu yang tepat.
"Iya Bim, kenapa?"
"*Ah nggak mau. Ya udah lah kamu renang aja dulu, nanti kabarin aku ya kalau udah selesai renang."
Oh akhirnya selamat*. Batin Maudy.
__ADS_1
Satu jam lamanya mereka berendam di dalam air, sudah gaya apa saja yang mereka coba. Dan juga sudah mengambil beberapa photo. Tanpa sadar waktu sudah sore. Dan malam ini adalah malam terakhir Kiki menginap dirumahnya. Karena besok orang tuanya sudah pulang, cuti ayahnya sudah habis.
"Makasih ya tante, om? Nanti Maudy bakal ajari ibu cara buat steak yang benar, hehe. Maudy pamit tante, om." Hal yang selalu Maudy lakukan terhadap orang yang lebih tua, menyalim tangan dengan sopan.
"Iya sama-sama Dy." Mengelus puncak kepala Maudy.
"Eh tunggu, ada oleh-oleh yang om bawa kemarin dari luar kota, mau kasih ke ayah kamu belum sempat. Mumpung kamu disini, om titip ya? Sebentar." Berjalan dengan cepat menuju ruang kerjanya. Kembali membawa beberapa tas yang bertuliskan merk terkenal.
"Ya ampun, banyak banget om. Makasih banyak ya om."
"Iya, ya udah kalian hati-hati ya. Om titip Kiki ya Dy."
Sifat anak tergantung bagaimana orang tuanya yang mendidik. Contohnya Kiki, apa yang ia tidak punya? Semua juga pasti diberikan untuknya, apa lagi ia anak satu-satunya. Sebenarnya Kiki masih punya saudara tiri, karena dulu papanya saat menikah dengan mamanya sudah berstatus duda yang memang ditinggal istrinya lebih dulu menghadap yang maha kuasa. Tapi saudara tirinya kuliah di luar negeri. Dan tahun depan juga akan segera pulang.
Kalau saja Kiki anak yang sombong pasti ia enggan bermain dengan Maudy. Apa lagi sampai menginap yang jelas-jelas rumahnya terkesan sederhana. Tapi untungnya, orang tuanya tidak pernah mengajarkan hal untuk berteman memilih-milih. Sedari kecil sudah mereka tanamkan pada Kiki.
***
Lagi-lagi Maudy selalu lupa untuk memberi kabar ke Bima. Bahkan sudah sampai dirumahnya. Padahal ia sendiri tau kalau pacarnya itu sangat posesif.
"Dy, coba kamu buka oleh-oleh dari papaku." Memberi usul.
"Nggak ah. Itu untuk ayah, nggak sopan tau kalau di buka duluan. Lagian ngapain, palingan juga baju buat ayah. Pasti kamu cemburu ya?"
"Haha, nggak lah. Semua aku udah punya, maksudnya tuh kalau kebesaran atau apa, aku bisa komplain ke papa nanti." Kembali fokus pada ponselnya.
"Jangan lah Ki. Di kasih itu harusnya bersyukur tau bukanya malah komplain."
"Eh Dy. Ini Agam kan?" Mengganti topik dalam hitungan detik.
"Mana?" Ternyata Maudy juga kepo ya.
"Ini, iya kan?" Menunjukan sosmed milik Agam.
"Eh iya. Coba buka photo nya Ki?"
Mengabaikan ponselnya yang berdering.
"Wah, ada photo cewek Dy. Pacarnya mungkin ya?"
Maudy menjawab dengan hanya mengangkat bahu.
"Iya mungkin. Pantes aja dia nggak pernah hubungin kamu lagi?" Memberi jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Eh bukan nggak pernah hubungin, tapi nomornya udah di blokir sama Bima!" Membenarkan keadaan.
"Ah payah si Bima."
Terdiam, mereka sama-sama terdiam. Maudy kembali mengambil ponsel yang ia letakan di depan meja kamarnya.
"Baru renang di rumah Kiki aja udah lupa, apa lagi kalau nanti pergi ke luar negeri!"
Pesan yang di kirim Bima dan baru di baca oleh Maudy.
Baru saja ingin mengetik, Bima sudah menelepon.
"Iya Bim?"
"Iya-iya maaf." Mungkin saat ini Bima masih menggerutu di seberang telepon.
"Sebentar." Langsung mengubah panggilan menjadi Video call lagi.
"Udah kan?"
"Rindu tau nggak!"
"Besok juga jumpa Bim?"
"Besok kayaknya aku nggak masuk, badanku terasa nggak enak, kayaknya mau demam."
Jujur entah hanya drama agar Maudy khawatir.
"Kamu udah makan? Udah minum obat?" Ternyata Maudy juga khawatir.
"Harus sakit dulu ya biar kamu perhatian?"
Sampai malam menjelang, Bima tidak memperbolehkan Maudy menutup panggilannya. Bima dengan setianya menunggu Maudy lebih dulu tertidur. Dengan lembut Bima mengusap wajah Maudy meskipun hanya melalui ponsel. Sampai Maudy benar-benar tertidur pulas baru lah ia mematikan sambungan teleponnya.
Bima, meskipun setiap harinya kamu selalu buat aku kesel, buat aku marah. Tapi kamu juga selalu buat aku nambah rasa ke kamu setiap harinya, melihat tingkah aneh mu, sifat mu. Itu yang selalu buat aku yakin, bahwa kamu tidak akan pernah melirik perempuan mana pun lagi. Tapi itu semua tidak buat aku besar kepala Bim, hanya saja aku tidak ingin kamu berubah ketika kita nanti dipisahkan oleh jarak. Aku ingin kamu selalu jadi Bima ku. Bima yang posesif, Bima yang pemalu, dan Bima yang aneh. I love you Bim. Kamu adalah my first love!
__ADS_1
Kata itu Maudy ungkap dalam hati, sebelum ia memejamkan matanya. Beberapa menit memandang wajah Bima yang tersenyum terus selama beberapa menit. Aneh, itu kata yang berulang Maudy katakan.
--__