
Karena hari ini adalah hari pertama Maudy berada di rumah dengan status anak sekolah yang telah lulus, cie harusnya senang. Tapi ini juga hari dimana Maudy terbangun dengan status hubungan yang telah berubah dengan Bima. Maudy bangun pukul 7 pagi, ia langsung mengambil ponsel dengan cara merabanya. Bahkan matanya juga belum terbuka sempurna. Kembali membaca pesan semalam dengan harapan yang sama, berharap ini mimpi buruknya semalam karena lelah satu harian mengukir detik kenangan bersama Bima.
Jadi ini benar??
Dan pagi ini Maudy baru bisa meneteskan air matanya. Tidak berhenti, terus mengalir. Maudy menutup wajahnya dengan bantal, agar tangisnya tidak terdengar. Bahkan ia tau, sebentar lagi ibunya pasti akan teriak untuk menyuruhnya bangun.
Bima kamu jahat!
Kembali mencoba menghubungi Bima, tapi ini kenyatannya Bima sudah memblokir nomor miliknya.
Kiki, aku butuh Kiki sekarang.
"Hallo Ki, kamu jemput aku nanti jam 10 ya? Aku tunggu!" Terisak.
Kiki sudah bingung di seberang telepon.
"Udah pokoknya aku tunggu kamu, nanti aja aku cerita." Mematikan sambungan telepon, lalu bangkit menghapus sisa air matanya. Menarik nafas agar tidak terlihat sedih hadapan orang tuanya.
"Bu, masak apa?" Setelah sampai di dapur. Dengan membawa handuk di pundaknya.
"Baru bangun? Masak hati ayam." Kembali mengaduk masakannya.
"Ayah mana bu?" Duduk di kursi kayu yang berada di dapur.
"Ayah ada rapat hari ini, jadi jam 6 tadi udah berangkat. Kamu ngapain duduk lagi, udah sana mandi." Kini menatap putrinya.
"Itu kenapa banyak sekali belanjaan bu? Kayak ada acara aja." Masih setia duduk dan belum ada niatan untuk bangkit.
"Oh itu ya stok belanja mingguan ibu lah Dy."
"Tisha mana bu?" Bertanya lagi. Rasanya hari ini ingin malas-malasan.
"Tisha ya udah berangkat lah. Sampai kapan kamu mau duduk disitu dan bertanya terus sama ibu?" Berkacak pinggang.
"Iya-iya." Langsung berjalan ke arah kamar mandi. Maklum, hidupnya sederhana tidak ada kamar mandi di dalam kamar seperti Kiki. Hanya ibunya saja yang memiliki kamar mandi di dalam kamar, itu juga ukurannya tidak terlalu besar.
"Bu, nanti aku mau pergi sama Kiki." Berhenti di depan pintu kamar mandi.
"Kemana?" Tanya ibunya.
"Jalan-jalan lah bu." Menjawab setelah berada di kamar mandi.
Maudy mengguyur kepalanya dengan air dingin, rasanya begini sedikit mengurangi kegalauannya. Ah segar, itu yang ia rasakan.
Pukul 10 pagi Kiki benar-benar datang. Tidak telat, seperti perintah Maudy.
"Tante, mana Maudy?" Sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Sebentar tante panggil dulu ya?" Berjalan ke arah kamar anaknya.
"Dy. Kiki udah datang tuh, kamu cepetan." Teriak dari balik pintu.
"Iya bu." Langsung membuka pintu dan ikut ibunya ke ruang tamu.
Maudy langsung mengajak Kiki pergi, padahal Kiki baru saja sampai. Tapi apalah daya jika sahabatnya ini sudah berkata, ia juga tidak mampu menolak.
"Hati-hati ya." Ketika mereka menyalim tangan.
***
Maudy hanya terdiam di dalam mobil, Kiki meliriknya sekilas, bahkan tujuan mereka saat ini kemana ia juga tidak tau.
"Nanti kalau sudah sampai di perempatan belok kanan ya?" Hanya itu yang di ucapkan Maudy.
"Ini ya?" Setelah sampai perempatan.
Maudy mengangguk.
Mobil sudah berhenti di pinggir jembatan, yang di bawahnya ada sungai mengalir dengan deras. Maudy langsung turun dan berdiri di pinggir jembatan. Ia menatap lurus ke depan menarik nafas lalu siap untuk mengeluarkan sesak di dadanya saat ini.
"Aku benci jatuh cinta!!!!!" Berteriak sekeras mungkin. Kiki langsung turun dan menghampiri Maudy.
"Dy apaan sih, sebenarnya kamu kenapa?" Memukul lengan sahabatnya.
"Tenang aja disini nggak akan ada yang dengar kalau aku teriak" Masih menatap lurus ke depan. Rasanya nyaman setelah meluapkan sedikit sesaknya. Baginya berteriak adalah satu cara untuk menghilangkan rasa sakit. Bukan sakit perut, bukan. Tapi sakit hati.
"Kamu tau Ki. Aku menyesal jatuh cinta. Benar kata orang, kalau siap jatuh cinta berarti siap sakit hati." Menoleh ke arah Kiki.
"Sebentar, ini maksudnya apa? Kamu putus sama Bima gitu?" Meminta penjelasan dengan Maudy.
"Lebih tepatnya Bima yang mutusin aku. Tanpa sebab! Aku pikir kemarin adalah perpisahan di antara hubungan kami."
"Kamu nggak bercanda kan?" Menggoyangkan lengan Maudy. Karena baginya ini mustahil. Biasanya juga kalau bertengkar selalu baikan lagi hanya dengan hitungan jam.
"Bima udah blokir nomor aku setelah mutusin aku. Sebenarnya apa salahku? Apa ini salah satu keinginan papanya?" Menatap ke arah Kiki. Berharap Kiki tau sesuatu, karena biasanya juga Bima selalu cerita dengannya.
"Ki, coba kamu tanyakan sama Bima?" Kiki langsung mengeluarkan ponsel miliknya. Ia menghubungi Bima dan Maudy siap mendengarnya.
"Kamu speaker aja biar aku dengar, jangan bilang kalau aku ada di samping kamu." Berbisik di telinga Kiki.
"Ya Ki? Kenapa?" Suara Bima mulai terdengar.
"Bim aku mau tanya?"
"Apa?" Suara yang terdengar dingin tapi tampak baik dari pada Maudy saat ini.
"Kamu mutusin Maudy ya? Kenapa Bima?" Sepertinya Kiki juga sebal dengan Bima.
__ADS_1
"*Iya aku cuma mau fokus ke kuliah aku dulu, biar Maudy juga fokus dengan kuliahnya di luar negeri. Dan aku juga berharap semoga dia bakal dapat pasangan yang jauh lebih baik dari aku Ki. Dan juga, eh tunggu!! Kamu pasti di suruh Maudy kan nanya sama aku? Jangan-jangan kalian sedang duduk berdua sekarang."
Kok Bima tau sih*!!
"Ah nggak Bim. Hem kamu yakin bisa tanpa Maudy? Kamu yakin dengan keputusan kamu ini?" Kiki sedikit ingin membuka kembali hati Bima.
"Udah ya Ki, mama aku manggil."
Langsung memutus panggilannya sebelum Kiki menjawab lagi.
"Hua..." Maudy menangis dan memeluk Kiki.
"Jahat kan Ki, Bima jahat kan? Padahal dia udah janji sama aku bakal terus sama-sama. Tapi kenapa. Eh Ki?" Langsung kembali ke posisinya dan menghapus air matanya. "Kenapa Bima sepertinya baik-baik aja ya? Apa dia cuma ngerjain aku aja?" Menatap Kiki meminta jawaban.
"Mana mungkin Dy. Kamu kan tau Bima gimana, bercanda sampai mutusin kamu itu nggak mungkin kan?" Meragukan pikiran Maudy.
"Hisk.. hisk.. Kamu benar. Aku buang aja kalung dan gelang ini." Langsung membukanya dan siap melempar ke bawah sungai.
"Eh jangan di buang tau!!" Protes Kiki dan menahan tangan Maudy.
"Kenapa?"
"Udah jangan, kamu simpan aja anggap kenang-kenangan dari cinta pertama kamu. Kalau jodoh pasti bakal balik tau!" Mengambil gelang dan kalung yang di genggam Maudy. "Biar aku yang simpan, nanti kalau perlu kamu bisa minta ke aku."
"Makasih ya Ki?" Memeluk sahabatnya lagi.
Ponsel Kiki berdering, ia pergi berjalan menjauhi Maudy. Maudy juga sekarang sudah kembali berpegangan dengan jembatan, dan menatap ke bawah dimana derasnya air sungai.
Ini tempat kita waktu itu Bim, aku ngajak kamu kesini supaya masalah kamu dan papa kamu akan cepat kelar. Dan hari ini aku datang lagi kesini, berharap masalah kita juga cepat kelar. Aku tau Bim. Kamu pasti berat kan lupain aku! Dua Minggu lagi loh Bim aku berangkat, padahal aku berharap dan memang sangat berharap kamu bisa ngantar aku ke bandara, lalu memelukku dengan erat, seperti di film-film kalau sepasang kekasih akan berpisah.
"Dy? Kamu masih mau disini?" Kembali setelah siap dengan urusan teleponnya.
"Kenapa? Papa kamu yang telepon?"
"Ha, iya Dy."
Maaf Dy aku harus bohong!
"Papa kamu suruh kamu pulang ya?" Kiki menggeleng.
"Nggak cuma tanya kita dimana, soalnya kan aku tadi bilang pergi sama kamu, terus aku bilang kalau kita disini. Tapi kata papa aku, disini kan sepi sekali, bahaya untuk anak perempuan kayak kita. Kalau ada rampok gimana? Hem, aku mulai takut sih, karena memang nggak ada yang lewat dari tadi. Kita balik yuk? Terserah kamu mau kemana aku bakal ikut dan nganter, tapi jangan disini ya?" Menarik lengan Maudy.
Maudy juga tidak menolak, memang apa yang di katakan Kiki benar. Disini sepi, jarang sekali orang yang lewat.
"Kamu mau kemana? Bilang aja biar aku antar?" Sudah siap dengan memegang kemudi mobilnya.
"Ke rumah Bima!" Kiki membulatkan matanya. Maudy pun tertawa.
"Nah kalau begitu kan jadi Maudy yang sebenarnya nggak melow lagi." Membuat Maudy kembali semangat.
"Langsung nonton aja gimana? Kan bisa beli ice cream nya di dalam." Takut panas mungkin Kikinya.
"Hem ya udah deh." Maudy menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya, sudah seperti orang kantoran yang memiliki beban kerja setumpuk.
***
Sampai di mall terkenal di daerah mereka. Hari ini tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan hari weekend. Tapi bagus juga, karena tidak perlu antri membeli tiket. Dan bangku juga masih banyak yang kosong.
"Mau film apa ni?" Sudah berdiri di hadapan SPG cantik yang menunggu mereka membuat pilihan.
"Film horor aja, masih ada yang tayang kan mbak?" Maudy bertanya dengan lembut.
"Masih, mau duduk di mana?" Berbicara dengan senyum yang ramah.
Setelah membuat pilihan, mereka kembali duduk di lorong bioskop. Menunggu satu jam lagi film akan di mulai. Sesuai janji Kiki, ia membelikan Maudy es cream vanilla. Dan popcorn rasa caramel. Saat berbalik dari antrian membeli popcorn Kiki menabrak seseorang.
"Eh maaf-maaf ya." Ucapnya panik.
"Iya nggak apa? Eh teman Maudy ya?" Menggaruk kepalanya karena lupa siapa namanya.
Nama Maudy aja ingat, hu!
"Iya, aku Kiki lupa ya? Kamu Agam kan? Kamu disini? Sama siapa?" Melihat ke sekeliling.
"Oh aku sama Haikal aja, Maudy nya mana?" Kiki langsung menunjuk Maudy yang duduk dengan menopang tangan di dagu. Dan satu tangannya mengetuk meja, sepertinya ia melamun.
"Aku duluan ya gam?"
"Eh tunggu. Kalian liat film apa?"
"Horor." Menjawab tanpa menghentikan langkahnya dan berjalan ke arah Maudy.
"Nih, kamu habisin ya. Kalau mau nanti aku belikan lagi di dalam." Maudy langsung tersenyum.
"Wah, makasih ya Ki. Baik banget deh?" Mengelus tangan Kiki.
"Ada Agam tau Dy?" Mendekatkan kepalanya ke arah Maudy.
"Ha? Dimana? Kenapa selalu ada dia sih?" Langsung melihat ke kanan dan ke kiri. "Kita cabut yuk?"
"Ih kenapa! Nggak jadi nonton gitu?" Protes Kiki.
"Nggak, maksud aku tuh jangan duduk disini lagi, pasti kamu kan udah ngasih tau kalau kita disini. Kita pindah tempat gitu Ki." Kiki mengangguk.
Dan akhirnya mereka memilih duduk bawah tepat di sebelah pintu masuk ruangan yang akan menayangkan film mereka. Untungnya karpet bioskop bersih, jadi tidak masalah kalau mau ngelesot di bawah.
"Hahaha." Saat saling pandang mereka tertawa bersamaan.
__ADS_1
"Kamu tau nggak kenapa aku nggak mau berjumpa Agam?" Kiki menggelengkan kepalanya, karena memang ia tidak tau.
"Ini gara-gara Bima tau nggak?" Kiki sudah terlihat antusias ingin mendengar.
Dengan setia ia mendengarkan cerita Maudy bagaimana bisa Bima menipunya dengan memberikan nomor milik pembantunya. Kiki tergelak sampai wajahnya memerah.
"Masak Bima bisa lakuin itu?" Tergelak lagi sembari memegangi perutnya yang keram.
"Iya, aku juga heran. Jadinya kalau jumpa Agam aku kan segan Ki."
"Eh tuh panggilan, pintu udah dibuka. Yuk ah masuk, dari pada kita di tabrak orang-orang nantinya." Bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangannya ke Maudy, membantunya berdiri, karena terlalu lama duduk kaki terasa keram.
Mereka langsung menyerahkan tiket dan berjalan masuk, mencari tempat sesuai yang mereka pesan.
"Untung nggak ramai." Ucap Maudy.
"Apa kamu udah ketularan Bima sekarang apa-apa harus di tempat yang sepi."
"Jangan sebut dia dulu lah."
"Ah haha lucu ya kalau orang yang galau."
Mereka sudah duduk di tempatnya. Lampu juga sudah di matikan, kesan horor sudah terasa sebelum film di mulai. Kiki menggenggam tangan Maudy dengan erat, resiko tidak ada pasangan ya begitu.
"Apa sih Ki?" Yang melihat Kiki mulai resah.
"Takut tau."
Mereka sudah fokus melihat ke layar, film mulai di putar tapi belum menampakkan horor yang sebenarnya. Kalau sudah waktunya pasti semua pengunjung akan menutup mata, itu juga bagi yang penakut. Tidak dengan Maudy ia masih santai.
"Aah.." Jerit semua pengunjung yang ada di ruangan saat ini. Kiki sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kamu pemberani ya?" Suara yang ada di sebelahnya membuat Maudy menoleh.
"Agam?" Ucapnya lirih.
Sejak kapan dia disini? Ya ampun!!
"Kenapa kok kaget gitu? Apa aku lebih seram dari hantu yang ada di film?" Menatap wajah Maudy.
"Ah nggak. Kamu nonton film ini juga ternyata." Maudy mengalihkan pandangannya.
Sebenarnya Maudy itu tipe yang sangat pemberani, bukan karena malu berjumpa dengan Agam. Hanya saja ia merasa bersalah atas kejadian waktu itu.
Semoga Agam udah lupa.
"Iya tadi aku samperin kalian, ternyata kalian udah nggak ada disana."
"Oh iya tadi ke toilet." Berbohong demi menyelamatkan reputasinya.
"Kalian berdua aja?" Kiki mulai melirik saat terdengar Maudy berbicara dengan seseorang.
Loh kenapa Agam bisa disini juga?
Ia kembali melihat layar bioskop.
"Iya." Jawab Maudy singkat.
"Mana pacar kamu itu?" Nadanya terdengar mengejek.
"Hem udah putus." Agam menaikan sudut bibirnya, jelas tidak terlihat oleh Maudy karena selain gelap ia juga tidak memandang wajah Agam.
"Oh. Nih." Menyerahkan ponsel miliknya ke tangan Maudy. "Catat yang benar nomor kamu! Jangan kasih nomor orang lain lagi." Maudy langsung terdiam, ia merasa perkataan Agam sangat telak untuknya. Tidak ada pilihan lain selain mencatat nomornya.
Benar apa kata Bima. Kalau tidak ada dia pasti aku tidak bisa menolak ketika di minta nomor telepon. Ah peduli apa sekarang, Bima juga udah bukan siapa-siapa aku kan.
"Nih, nomor aku masih sama kok, cuma kemarin nomor kamu di ponsel aku sengaja di blokir." Kali ini Maudy jujur.
"Sama pacar kamu itu?" Tampak Agam seperti kecewa.
"Iya." Jawab Maudy. "Maaf ya. Bukannya sombong, aku hanya jaga perasaan orang lain."
"Iya tapi sekarang kan sudah tidak ada perasaan yang harus di jaga? Jadi aku juga boleh dong kapan aja hubungin kamu?" Sekarang malah Maudy tidak fokus dengan film yang di tayangkan, karena asik bicara dengan Agam.
"Ah!!!" Kiki menjerit dan menggenggam tangan Maudy dengan erat.
"Ih sakit tau!" Protesnya.
Tak terasa film sudah berakhir, dan akhir juga awal Maudy tidak sepenuhnya melihat. Karena Agam terus saja mengajaknya bicara, jika tidak di jawab juga sangat tidak sopan.
"Kalian langsung pulang?" Karena saat ini mereka sudah sama-sama berada di parkiran.
"Iya sih, kenapa?" Kiki yang menjawab.
"Kita minum es kelapa di tempat pertama kali ketemu mau nggak? Aku yang traktir." Maudy dan Kiki saling pandang.
"Heleh ada cewek aja kamu yang bayar, kalau sama aku pasti bakal bayar sendiri-sendiri." Ucap Haikal temannya.
"Gimana Dy?" Bisiknya.
"Kenapa tanya aku, kan kamu yang bawa mobil?"
"Hem ya udah deh, boleh." Akhirnya Kiki yang memberi keputusan. Mereka langsung berangkat ke tempat tujuan, warung sederhana yang berada di daerah lapangan tidak jauh dari rumah Maudy. Dimana tempat mereka bertemu dan juga tempat dimana Maudy harus bertengkar hebat dengan Bima.
Tapi hari ini Maudy tidak merasa takut lagi, karena baginya ia sudah bebas.
--__
__ADS_1