Dia Bimaku

Dia Bimaku
Fitting baju


__ADS_3

Suasana malam di taman kota sangat ramai, ada beberapa anak muda yang memilih berjalan kaki dengan bergandeng tangan. Ada pula yang duduk di pojok menghindari sinar lampu, agar tak terlihat banyak orang. Apa yang mau mereka lakukan disana??


Dan ada juga yang menepikan kendaraannya, memilih makan di pinggir jalan berdua dengan kekasihnya.


"Sayang, kita makan disana? Sepertinya enak." Berpelukan tanpa melepas tangannya meski hanya beberapa detik, di mulai dari motor melaju.


Berkeliling, mereka sudah memutari taman kota. Dan akhirnya Bima memilih untuk makan di warung pinggir jalan, merasa iri melihat pemuda yang lainnya.


"Turun lah Bim." Maudy merasa malam ini malah hanya mengajak seorang adik berkeliling menggunakan motor. Teriak kegirangan layaknya bocah, memeluk sampai Maudy sendiri sudah bernafas. Asik sih, berbicara teriak-teriak agar saling mendengar satu sama lain.


NASI GORENG GILA.


Itu nama yang tertulis di depan gerobak. Tersedia beberapa kursi yang terbuat dari plastik disana dan juga mejanya. Tidak ada tenda, kalau hujan mungkin pembeli yang mengisi perutnya disana akan berlari kocar-kacir.


"Itu, nasi goreng gila? Maksudnya?" Maudy tersenyum, dia tau pasti Bima belum pernah mencobanya.


"Kita kesana ya? Kamu belum pernah makan kan?" Bima jelas menggeleng. Maudy menggiring langkah bersama Bima, menuju gerobak sederhana dan membiarkan Bima yang lebih dulu duduk.


"Tunggu disini, aku yang pesankan."


Semua mata menyoroti mereka, dari mulai turun kendaraan sampai mereka duduk.


"Ganteng banget."


"Cantik banget."


"Kok mau makan disini? Kayaknya anak orang kaya yakkan?" Bisik-bisik mereka berbicara, sambil terus menatap kedua pasangan aneh yang memilih makan di tempat seperti ini.


"Udah di pesan sayang?" Melihat Maudy kembali. "Kenapa semua orang menatap kita?" Melirik kesamping.


"Siapa suruh kamu nggak ganti baju, kamu kan masih pakai jas."


Maudy menertawakan Bima yang kikuk melihat penampilannya sendiri. Kenapa baru sadar sekarang? Batinnya. Sementara Maudy, dia lebih memilih memakai celana di bawah lutut, masih terkesan feminim.


"Kamu pesan apa sayang?"


"Kamu nggak lihat ya Bim, itu kan ada tulisan di gerobak. Ya hanya itu lah yang tersedia." Tertawa lagi.


10 menit menunggu pesanan, dan penjual sudah mengantarkan nasi goreng gila yang di pesan Maudy. Dengan hiasan telur dadar, timun dan kerupuk.


"Ayo makan?" Bima mengangguk. Satu suap masuk ke dalam mulutnya, masih terasa biasa. Dua, masih ingin coba lagi.


"Huh hah." Wajah mulai memerah. Maudy menahan tawa dan masih santai memakan nasi goreng miliknya.


"Air sayang, pedas. Ini nasi goreng masaknya pakai cabe sekilo ya?" Protes, dan menerima air putih yang sudah disediakan di meja.


"Namanya tadi apa?"


"Nasi goreng gila?"


"Nah ya udah, pedasnya gila." Bima menggeleng. Mengambil tissue dan mengelap bibirnya yang makin memerah. Tidak, cukup sudah. Rasanya telinga ingin mengeluarkan api.


"Kok nggak dihabiskan?" Melihat belum juga separuh habis di piring Bima.


"Nggak sanggup ah. Ayo cepat habiskan, setelah ini kita jalan-jalan lagi." Lebih memilih melihat calon istrinya makan dengan santainya, tak menunjukkan rasa pedas sama sekali.


"Kamu ngerjain aku ya sayang?" Ha? Maudy hampir tersedak. Bima langsung memberikan air.


"Iyakan?" Masih menyelediki.


"Nggak lah Bim, dasarnya kamu aja nggak doyan pedas. Jadi kan beda sama aku." Iya, dan secepat itu Bima percaya.


Setelah merasa perutnya sudah terisi, Maudy mengikuti kemauan Bima, berkeliling tanpa arah. Demi menyenangkan hati kekasihnya, sebagai rasa ucapan terima kasihnya, untuk hadiah yang selalu Bima beri. Karena memang itu kan nyatanya? Untuk uang, Bima tak pernah kekurangan.


Jam sudah menunjukkan pukul 23:00 sudah sejauh apa mereka sekarang, tidak tau. Selagi bensin masih cukup, motor tidak akan berhenti. Langit juga nampaknya tengah bersahabat sekarang. Dan bintang, dia selalu berkedip, tersenyum. Mungkin suasana langit lagi cerah.


"Bim, aku ngantuk. Kita pulang ya?" Setelah melihat status jalan kota yang tertera di perempatan jalan. Tampaknya sudah cukup jauh dari rumah.


"Sini biar aku yang bawa motor." Maudy merasa tidak yakin.


"Sayang, aku bisa. Tenang." Maudy menghentikan motornya setelah putar balik. Menyagakkan motornya di trotoar jalanan, sekarang mulai sepi. Mungkin semua anak muda yang masih berstatus sekolah sudah pada pulang kerumah.


"Pegangan." Setelah tukar posisi. Maudy memeluknya, mempererat pegangannya. Bersandar di bahu Bima, hal yang tak pernah ia rasakan seumur hidup bersama Bima atau orang lain, terkecuali ayahnya. Itu pun tidak sampai pegangan begini, bisa iri ibu Irma nanti.


Bima melajukan motor dengan kecepatan sedang, sesekali mengelus tangan yang melingkar di pinggangnya. Entah kenapa, hatinya begitu menghangat malam ini. Dengan hanya berkendara motor di malam hari, sama halnya dengan Maudy. Sebuah kejadian yang tak pernah ia alami selama hidup. Senyumnya mengembang ketika tau sang pemilik tangan yang melingkar memejamkan matanya, sepertinya benar-benar tertidur.


Hingga larut menyambut mereka pulang ke rumah. Susana di dalam juga sudah sepi, sepertinya penghuni sudah pada terlelap. Begitu juga dengan tetangga yang lainnya. Tapi dia tetap diam di atas motor, menikmati menit terakhir malam yang menurutnya indah ini, membiarkan sebentar saja ia menjadi sandaran untuk Maudy tidur.


"Bim?" Suaranya terdengar lirih. Mengendurkan pelukannya, dan mulai menyadari dimana dia sekarang.


"Kita udah sampai." Sesekali masih menguap. Menatap ke depan, benar ini rumahnya.


"Kenapa nggak bangunin aku sih Bim?" Langsung beringsut turun. Bima masih tersenyum memandang Maudy.


"Kalau kamu nggak bangun, aku juga mau sampai pagi dengan posisi seperti ini." Maudy mendengus.


Melihat jam di tangannya.

__ADS_1


"Ya ampun, udah jam segini Bim. Kamu pulang, bukan kah besok katanya mau cari gaun pengantin??"


"Iya aku pulang." Seperti tak rela, huh andai waktu bisa di putar dengan cepat, sehingga tak perlu lagi ada kata 'pulang'.


"Kamu masuk sana."


"Motor aku Bim?" Bima lupa, ia langsung beringsut menuruni motor. Mendorong hingga ke dalam, tak membiarkan Maudy yang membawanya.


"Aku pulang ya?" Maudy mengangguk dan tersenyum. Bima mendekat, cup satu kecupan di keningnya. Hangat, itu yang dirasakan Maudy. Tidak menolak, biar melanggar janji yang tak akan sentuh menyentuh sebelum halal.


Masih setia berdiri di depan pintu, Bima mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil, menyuruh Maudy masuk dengan bahasa mata. Baik, begitu juga ia menjawab dengan anggukan.


Maudy langsung berlari ke kamar, melihat mobil yang sudah putar arah dari jendela kamarnya. Sampai benar-benar memasuki jalanan raya dan tak terdengar lagi suara mesin, baru lah ia juga bisa tenang kalau tidur.


Ah ternyata Maudy juga merasakan hal yang sama dengan Bima, tak ingin dan tak rela malam ini berakhir. Memang sesuatu yang sederhana mampu membuat bahagia, tidak hanya melulu soal uang.


***


Gelap sudah berlalu, dan secepat itu bumi berputar. Kini aktivitas mereka yang sibuk, karena akan melakukan fitting baju.


"Kamu mandi duluan, ibu mau siapin sarapan buat ayah, cepetan!" Bima sudah bilang kalau jam 8 pagi sudah datang menjemput. Mamanya juga sudah mengabari ibu Irma. Dan, lagi-lagi Maudy bangun kesiangan. Membuat ibunya terus ngedumel.


"Udah, ibu mandi aja nanti biar ayah ambil sendiri sarapannya." Ah, pahlawan menyelamatkan.


"Ibu mau kemana?" Di susul Tisha yang berdiri di pintu tengah dekat dapur. Menyandarkan tubuhnya, masker ketat masih menempel di wajahnya. Dia sudah mulai beranjak dewasa sekarang, duduk di bangku SMA semakin membuatnya repot mempercantik diri.


"Ibu mau pergi sama mbak mu, mau Fitri baju atau tadi namanya." Tisha tertawa sampai terbahak. Tak peduli masker yang retak karena pergerakan di wajahnya.


"Fitting yah! Fitting!"


"Ibu mana yah?" Selesai mandi, sudah rapi wangi. Pokoknya sudah perfect untuk menyambut Bima datang.


"Mandi, kamu nggak sarapan dulu?" Mencium aroma masakan ibu mana mungkin menolak, batinnya.


"Iya yah." Langsung mengambil piring, tidak menunggu duduk dulu di meja makan, ala kadarnya saja kursi juga ada di dapur.


Detik jam terus berputar, sepertinya Bima terlambat hari ini, tidak on time seperti biasanya. Tapi, tak masalah bagi Maudy. Toh, jam berapa pun sama saja yang terpenting itu jadi.


"Dy, besok kamu datang ke proyek pembangunan ya? Liat perkembangannya, ayah kerja nggak sempat datang kesana." Mengangguk saja, karena tengah sibuk mengunyah.


"Atau kalau nggak, kamu bisa hubungi Ilham. Kamu tanya memalui dia juga bisa kalau nggak bisa kesana. Kamu punya kan nomor teleponnya?"


Nggak yah, udah di blokir Bima.


Minum dulu satu tegak, telan perlahan.


"Ya sudah."


Tin.. Tin..


Suara klakson sudah berbunyi, tepat dimana Maudy menyelesaikan sarapannya. Piring langsung di letak begitu saja, berjalan ke depan. Siap menyambut Bima atau pun calon mertuanya.


"Mbakk, aku ikut dong." Melihat Maudy yang berjalan tergesa-gesa. Tidak menjawab, maaf Tisha tak sempat.


"Mbak." Masih berteriak walau tak di gubris.


"Ih Tisha, ngapain ikut?? Kamu juga belom mandi, urus aja masker kamu tuh." Lanjut berjalan.


"Ma, masuk ma?" Ah ternyata sudah berdiri di depan teras. Mata Maudy menatap lekat ke arah Bima yang tersenyum sambil memainkan alisnya, apa coba maksudnya? Pikirnya.


"Udah nggak apa duduk disini aja, enak. Kamu udah siap kan? Ibu mana?"


"Ibu lagi di kamar, sebentar ya ma aku tinggal dulu."


Ih nggak ada negur aku malah!!


Maudy kembali masuk, mengambil dompet dan melihat lagi penampilannya di depan kaca. Setelah itu, secepat mungkin melangkah keluar dan memanggil ibunya.


"Bu, mereka udah datang." Mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Iya, ibu udah siap kok, ayo?"


"Yah, ibu pergi dulu ya? Tisha kamu jangan kemana-mana, temenin ayah di rumah."


"Ayah mau mancing bu." Langsung berjalan dari arah dapur. "Tisha suru jaga rumah saja, nanti ayah mau pergi mancing."


"Ya udah."


"Dah ayah? Selamat mancing." Maudy melambaikan tangan dan berjalan menggandeng lengan ibunya.


***


Mobil sudah memasuki gedung dengan terdiri dari beberapa lantai. Mata Maudy menatap lekat ke arah patung yang menjadi model dari salah satu baju pengantin disini, yang berada di lantai atas. Jelas terlihat dari balik kaca. Ini hanya satu yang ia lihat, sudah mampu menarik pandangan matanya, gimana kalau sampai di dalam??


Seluruhnya sudah di disigne dari kaca, sehingga hanya beberapa dinding saja yang menggunakan batu. Mungkin ini sudah di rancang untuk menarik perhatian orang-orang. Terutama kaum yang akan melaksanakan pernikahan. Tapi, butik ini di jamah hanya dengan kalangan ke atas. Tidak mungkin kalangan menengah ke bawah mampu membeli, ataupun hanya sekedar menyewa.


Langkah mereka terhenti di depan wanita cantik, sepertinya umur masih sekitar 30an. Dan itu mamanya yang berbicara, sepertinya memang sudah membuat janji. Baik Maudy ataupun ibunya hanya mengikuti. Jujur, batinnya saja memang tidak tau menahu.

__ADS_1


"Tante Lisa kan?" Ia langsung tersenyum mengangguk. "Ini ya Tante calon pengantinnya?" Dia menunjuk ke arah Maudy.


"Iya, kemarin katanya sudah ada rancangan terbaru. Saya mau lihat bisa?"


"Bisa tante, ayo?" Mereka mengikuti langkah wanita cantik itu, Maudy juga tak tau dia siapa. Mungkin hanya pekerja, tapi kenapa bisa kenal dengan mama Lisa? Batinnya bertanya. Apa memang sudah sering mama datang kesini? Tapi untuk apa? Bukan kah ini hanya khusus untuk mencari gaun pengantin? Maudy menggelengkan kepalanya, hal yang seharusnya tak ia pikirkan malah masuk begitu saja dan diolah otaknya dengan baik.


"Ini tante." Sudah menunjukan tiga gaun yang terpasang di patung.


"Bagus. Kamu coba ya Dy?" Maudy mengangguk. Seorang pekerja lain sudah siap membawanya ke fitting room. Mereka semua juga ikut, berdiri menunggu di depan ruangan dimana Maudy masuk dan di bantu dua orang pekerja.


"Cantik menantu tante ya?" Memuji dengan senyuman.


"Ini, siapa tante?" Menunjuk ke arah ibu Irma.


"Ini besan saya." Menarik lengan ibu Irma, sepertinya sedang pamer kepada wanita cantik ini.


"Pantas saja anaknya cantik, ibunya juga cantik."


Hei, jangan terus-terusan memuji calon istriku!!


"Hehe makasih." Tersenyum. Mereka kembali menatap arah pintu, menunggu calon pengantin keluar. Ah rasanya semua tampak tidak sabar.


"Ini yang punya butik ya mbak?" Eh, jiwa penasaran ibu Irma tak tertahankan ternyata, langsung berbisik dan bertanya.


"Nanti aja kita ceritanya di mobil." Balik berbisik.


"Ma, bu, gimana?" Pintu terbuka, dan tirai yang menjadi penghalang juga di sibak kan. Semua mata memandang kagum Maudy. Gaun yang ia coba pertama, tanpa lengan menempel pas di tubuhnya.


"Cantik, tapi coba deh kamu tes juga yang lain." Hem, mertua sepertinya kurang puas. Baik lah, tirai kembali di tutup.


Beberapa menit kemudian, gaun kedua masih tanpa lengan dan hanya saja berbeda motif. Dan kali ini berwarna kuning keemasan. Cantik, hanya itu kalau menurut Bima, apa pun yang di pakai calon istrinya tetap cantik.


"Cantik, ada satu lagi kan? Coba aja juga." Huh, mau protes juga bagaimana.


Apa harus semau di coba ya? Ah ku pikir hanya melihat saja!


"Tunggu sebentar ya tante." Ucap wanita cantik itu lagi.


Dan yang terkahir, gaun yang berbeda dengan yang pertama atau pun kedua. Kali ini dengan lengan, berwarna putih secara keseluruhan. Maudy berputar untuk menambah daya tarik penglihatan mama Lisa.


"Ya udah, kita ambil ketiganya?" Ha? Ibu Irma tampak kaget, begitu juga dengan Bima. Apalagi Maudy.


"Iya, soalnya kan mereka juga harus ganti nantinya. Pagi beda, siang beda, dan malam. Nah, kalau yang warna keemasan tadi bisa di pakai malam. Lebih santai."


"Sudah ini saja tante?"


"Carikan kebaya untuk keluarga ya, sepasang dengan suami." Mengangguk dan lalu berjalan ke lantai lain.


Maudy sudah berputar-putar, lelah. Iya, sepertinya sepele ternyata ah tidak. Sangat melelahkan, belum lagi mama Lisa selalu komplain jika merasa tidak cocok. Dan yang terakhir, Bima. Tinggal dia yang harus mencoba beberapa jas untuk pernikahan. Semua sudah selesai, bahkan Tisha dan Kiki juga kebagian, walau itu Maudy yang meminta dan untungnya mama Lisa tidak keberatan.


"Sudah kan ma? Kita pulang ya?" Sepertinya yang paling bosan ya dia, Bima. Wajahnya sudah nampak di tekuk, bukan karena bosan, tapi disini dia sendiri malah tak dapat bicara dengan Maudy. Mana betah dia.


"Kita bayar dulu Bim." Semua mengikuti langkah Lisa ke arah kasir yang sudah berdiri menyambut mereka.


"Berapa total yang tadi? Sudah ada konfirmasi kan?" Ternyata semua baju tidak mereka bawa, akan langsung di antar kerumah jika waktu acara sudah dekat.


"Sebentar ya ibu." Tampak menghitung dengan teliti, sesekali hanya bola matanya yang bergerak.


"Ini ibu, semuanya 478juta." Ibu Irma langsung memegang dadanya, takut-takut kalau terkena serangan jantung karena ulah besannya.


"Ma tunggu, gaun Maudy biar aku yang bayar."


"Nggak, anggap aja ini hadiah dari mama untuk pernikahan kalian." Deg. Maudy bahkan tak percaya, apa seistimewa inikah aku? Batinnya.


"Ma?" Bima masih tetap dengan pendiriannya. Mamanya lebih dulu menyerahkan kartu sakti ke kasir. Done, Bima tak bisa berkata lagi, dan mengikuti langkah mamanya yang sudah keluar dari butik.


"Dy, itu mertua kamu sehatkan?" Berbisik setelah besannya berjalan agak jauh.


"Bu, kan udah aku bilang, mereka beda bu." Ibunya tau yang di maksud Maudy dan memilih kembali diam. Beda derajat, ya itu maksudnya.


Ah beda ya beda, kemarin aja waktu si Baim pesta di rumah ngawinkan anaknya. Dari mulai gaun dan make up, juga sama pelaminan, mereka menyewa dengan harga 25juta aja di bilang mahal, lah ini.


***


"Mbak, tadi nanyakan siapa wanita yang tadi?" Maudy sudah bersiap memejamkan telinganya, walau duduk mereka tidak jauh, Maudy duduk di samping Bima yang mengemudi, sementara kedua orang tua duduk di kursi belakang.


"Iya mbak, siapa dia? Pemiliknya?"


Mama Lisa tersenyum sebelum menjawab.


"Iya dia memang yang punya butik mbak, masih terbilang muda kan, sudah sukses?" Ibu Irma mengangguk. "Aku juga yakin nanti Maudy sukses tuh jalani bisnis restonya." Maudy mengaminkan dalam hati. Takut ketahuan kalau menguping.


"Tapi ada satu hal mbak, kenapa aku selalu milih beli di butik itu, ya memang alasan utama soal kualitas. Tapi yang lebih buat aku tertarik kesana, itu dia anak mantan pacar papanya Bima. Kedua orang tuanya tinggal di luar negeri, dan anaknya malah membuka usah disini. Jadi aku tuh sengaja kesana, supaya keluarga mereka juga tau, kalau hidup ku dan suamiku itu bahagia." Ya ampun, Maudy langsung melirik ke arah Bima. Kenapa sih dia responnya biasa aja, menggerutu dalam hati.


Oh jadi itu anaknya orang yang photonya di tunjukan sama aku!


--__

__ADS_1


__ADS_2