Dia Bimaku

Dia Bimaku
Usaha Bima


__ADS_3

Hati orang tua mana yang bisa tenang, mendengar anaknya yang ingin bercerai padahal rumah tangga baru beberapa bulan terbangun, apa lagi mengingat Maudy juga tengah dalam keadaan hamil. Tidak mungkin juga bisa di lakukan.


Ibu dan ayah menjadi uring-uringan, tidak tidur malam ini. Berusaha memanggil Maudy juga dia tidak mau keluar kamar. Mata terus saja melek, benar-benar rasa kantuk tidak melanda mereka. Tak sabar menunggu pagi dan menunggu penjelasan dari anaknya. Kenapa bisa secepat itu mengambil keputusan.


"Berdoa saja bu, semoga tidak terjadi. Ini memang salah ayah."


"Kenapa salah ayah?" Ayah membuang nafas kasar, lalu mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ayah bilang ke Bima, kalau nggak usah datang kesini dulu, gimana respon Maudy nantinya. Ayah yakin kalau Maudy sendiri juga tidak akan tahan jauh dari Bima. Tapi ayah salah, Maudy malah menganggap Bima lupa dengannya, mungkin itu sebabnya Maudy minta pisah karena Bima tak datang pagi ini untuk menjemputnya."


"Ayah beneran lakuin hal itu?"


Suaminya menceritakan, kalau pagi itu ketika malamnya Bima datang untuk menjemput, ayah Subi menelepon Bima dan bertanya dia ada dimana. Bima mengatakan kalau tidur di hotel dan tidak mau pulang kerumah tanpa istrinya, dan ayah Subi sendiri yang meminta Bima untuk tidak datang dulu. Karena memang dia sendiri yakin kalau anaknya tidak akan tahan jauh dari suami, apa lagi dalam keadaan hamil.


"Ayah harus jelasin sama Maudy tentang ini yah! Harus!!" Ibu juga sepertinya marah mendengar apa yang di katakan suaminya. Berbuat sesuatu tanpa persetujuannya.


"Iya bu, tapi tidak sekarang. Besok pagi bu, bakal ayah bilang. Ibu tenang, sekarang tidurlah." Ibu Irma diam tak menjawab, hanya memejamkan matanya saja.


Ah sepertinya kedua orang tua ini juga akan saling aduh mulut nantinya.


***


Ibu sudah berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Maudy, berharap anaknya segera keluar kamar. Sementara ayah duduk menikmati kopinya sambil melihat istrinya yang memang tidak bisa tenang, jangankan duduk, berdiri dengan posisi tegak saja dia tidak bisa.


"Bu, duduk dulu. Sebentar lagi juga Maudy keluar."


"Nggak bi-"


"Ibu, ibu ngapain?" Benar saja, kalah sepertinya firasat seorang ibu sekarang.


"Dy, duduklah ayah mau bicara." Maudy mengangguk dan berjalan ke arah ayahnya. Sudah rapi dan wangi dengan mengunakan daster longgar layaknya ibu hamil ketika di rumah.


"Dy, kamu ngomong apa semalam? Kamu jangan main-main soal rumah tangga." Maudy diam.


"Itu tuh salah ayah kamu!" Ibu ikut duduk di samping anaknya, dan melirik suaminya dengan tajam. Sudah kalah ibu hamil sensitifnya dengan ibu Irma.


"Kok ayah?" Menoleh ke ibu, lalu ke ayahnya.


"Jadi sebenarnya, memang ayah yang minta Bima untuk tidak datang kesini dulu. Pasti kamu marah kan karena Bima semalam tak datang jemput kamu? Dan berpikir Bima lupa sama kamu?" Maudy menggelengkan kepalanya lemah.


"Bukan itu yah! Bukan itu penyebab utama aku mau pisah sama Bima."


"Lalu?"


"Bima sudah bermain dengan wanita lain." Aku harus jujur sama ayah dan ibu, begitu batinnya berbicara.


"Nggak mungkin lah Dy, Bima kan memang sibuk di kantor. Apa lagi juga dia terkadang harus meninjau proyek pembangunan sekolah yang kamu minta. Bima juga cerita kok soal itu sama ayah." Maudy diam.


"Sekolah? Sekolah apa yah?" Ibu yang selalu tertinggal berita.


"Nggak usah bahas itu dulu bu, sekarang bahas soal rumah tangga anak kita." Ibu Irma langsung mendengus.


"Bima bohong yah, Bima berbohong sama kita semua, termasuk juga sama orang tuanya sendiri. Bima nggak rapat, dia pergi bersama wanita yang berasal dari luar negeri, wanita yang memang menyukai Bima dari sewaktu aku dan Bima belum menikah." Mata Maudy sudah berkaca-kaca, tapi dia sendiri harus menahannya agar tidak jatuh dan menambah rasa khawatir pada orang tuanya.


"Dan, wanita itu juga yang membuat Bima celaka!" Ayah dan ibu langsung kaget.


"Maksudnya?" Maudy mengatur kembali nafasnya yang sudah mulai naik turun tak beraturan jika harus membahas hal ini lagi, dengan terpaksa Maudy menceritakannya. Karena jika tidak, kedua orang tuanya juga akan tetap bertanya mengenai alasan mengapa sampai meminta cerai.


"Ibu serahkan semuanya sama kamu Dy, hanya saja ibu kasian nantinya jika harus melihat kedua anakmu yang tidak mempunyai ayah." Setelah mendengarkan cerita dari anaknya, ibu juga merasa sakit hati. Ayah diam tak berkomentar lagi lalu bangkit dari duduknya.


"Yah, ayah mau kemana?"


"Ayah mau ke belakang." Jawabnya seperti tak bergairah.


Kalau begini ayah kecewa sama kamu Bim.


Berjalan sambil menggelengkan kepalanya pelan mengingat kejadian yang di ceritakan anaknya.


"Bu?" Maudy memeluknya.


"Aku mohon bu, untuk saat ini aku benar-benar nggak mau bertemu Bima. Kalau dia datang kesini jangan pernah suruh dia untuk masuk." Pintanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Ibu Irma mengangguk.


"Dy, ibu berharap kamu masih mau mengubah keputusan kamu." Menghela nafas, mengusap lembut puncak kepala anaknya. "Bagaimana kalau keluarga Bima tau?"


"Bu, jangan pernah memberi kabar apapun kepada mamanya Bima, biarkan mereka tau sendiri dari mulut Bima. Bagaimana tanggapan mereka nantinya." Ibu setuju juga dengan keputusan anaknya sekarang.


"Ya sudah, kamu makan ya? Ibu udah masak kok."

__ADS_1


"Bu, aku makan di kamar aja ya, aku juga nggak akan keluar kamar, aku takut kalau nanti tiba-tiba Bima datang." Mau tak mau juga harus menuruti kemauan anaknya.


Maudy berjalan masuk ke dalam kamar, dan ibu membawa sarapan paginya. Tak lupa Maudy langsung mengunci pintu ketika ibu sudah keluar kamarnya.


Sarapan pagi belum di sentuh oleh Maudy, dengan kekuatan sosial media yang sekarang, Maudy sangat ingin melihat seperti apa rupa dari wanita yang bernama Celine. Wanita yang sudah nekat menggoda suaminya secara terang-terangan. Pertama, Maudy mencari melalui pertemanan di akun sosial milik Bima, tapi juga tidak ketemu, karena sudah banyak pertemanan disana. Kedua, Maudy mencari nama akun yang atas nama Celine, dan bukan hanya satu dua yang muncul, tapi ratusan.


Dan terkahir, Maudy mengingat kembali perkataan Bima. Cari saja nama pengusaha berlian di luar negeri, ya Maudy jelas langsung mengingatnya, mencari melalui internet.


"Ini dia." Maudy memperbesar photonya, di dalam photo wanita yang bernama Celine juga berdampingan dengan seorang lelaki tua, dan Maudy juga yakin kalau itu adalah papanya. Karena disitu tertulis pewaris muda. Baiklah, Maudy masih penasaran dengan yang lainnya.


Beberapa pengusaha yang melakukan kerja sama dengan perusahaan milik Celine Matew. Berikut ini potretnya dan ada juga yang berasal dari tanah air.


Maudy langsung mengkliknya, terdapat beberapa nama perusahaan disana, termasuk perusahaan milik suaminya.


"Kenapa belum di hapus ya? Padahal katanya Bima sudah memutuskan kerja sama. Memang benar, jejak digital susah untuk di hilangkan." Gumamnya sambil membaca beberapa artikel yang terdapat disana.


Beberapa photo bersama juga terdapat disana, Maudy kembali mengkliknya. Bima berdiri tepat di samping Celine, dengan senyum Celine yang mengembang sepertinya sangat bahagia. Dan terlihat juga disana, kalau Celine dan Bima lah yang paling muda.


Pantas saja dia selalu mengejar Bima!!


"Ah, kenapa aku jadi melow melihat ini!" Maudy melempar asal ponselnya, dan segera menyantap sarapan paginya.


"Kalau saja bukan karena kalian, pasti mama sudah kehilangan semangat." Mengelus perutnya sendiri lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulut.


***


Dan satu harian Maudy benar-benar tidak ada keluar kamar. Makan dan melakukan aktivitasnya di dalam kamar, menerima telepon dari salah satu karyawannya kalau bahan resto mulai menipis, dan Maudy mengatakan kalau besok siang dia akan datang.


"Mbak nggak pernah datang kesini? Kami rindu."


"Iya, mbak lagi dirumah ibu. Jadi nggak bisa ke resto, ya sudah besok siang mbak datang. Apa seafood udah di antar?"


"Sudah mbak, tadi siang. Tinggal bahan-bahan dapur aja yang tinggal sedikit."


"Ya sudah."


"Mbak, tadi pak Bima juga baru saja dari sini."


Maudy melihat ke arah jam dinding, pukul tujuh malam.


"Iya, mbak yang suruh dia datang."


Maudy langsung terdiam, dan berpura-pura tidak mendengar lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Dy? Kamu mau makan malam di kamar aja atau gimana?"


"Iya bu. Nanti biar aku yang ambil sendiri." Maudy menjawabnya dari dalam.


Maudy meletakkan ponselnya, lalu berjalan keluar menuju meja makan. Semua sudah berkumpul, termasuk Tisha yang sudah berpenampilan sangat rapi malam ini.


"Kamu kamu kemana?" Sambil menuangkan nasi ke piring.


"Ada acara ulang tahun mbak."


"Kamu pergi sama siapa?" Masih lanjut bertanya.


"Nanti di jemput teman aku mbak." Sudah dua kali Tisha membatalkan untuk memasukan nasi ke dalam mulutnya.


"Laki-laki atau perempuan?" Ya ampun, ini yang ketiga kalinya.


"Perempuan mbak, perempuan!" Ayahnya tersenyum dan menggeleng.


"Ingat Tisha, jangan yang aneh-aneh kalau di luar. Sebentar lagi kamu tamat sekolah, kamu harus kuliah." Tisha manggut-manggut, dan kali ini dia berhasil mengunyah makanannya.


Tok. Tok.


"Tante.." Maudy dan Ibunya saling pandang.


"Bu, aku masuk kamar sekarang. Coba ibu lihat, siapa tau itu Bima." Cepat-cepat Maudy berjalan dengan membawa piringnya ke dalam kamar. Walau sempat mengintip ketika ibunya membuka pintu.


"Dy, cuma Kiki Dy." Ibu berteriak.


"Kenapa memangnya tante?"


"Nggak, ayo masuk." Ibu memastikan sekali lagi melihat ke seluruh halaman rumahnya, takut kalau benar Bima juga ikut datang. Bukan tentang tidak mau, tapi sebagai orang tua yang memiliki perasaan juga ibu bingung bagaimana cara mengusir Bima kalau datang kesini.


"Ki, kamu langsung aja masuk ke kamar. Atau mau ikut makan dulu?"


"Aku baru makan juga kok tante." Kiki langsung mengetuk pintu kamar Maudy, tapi jahilnya dia tidak bersuara.

__ADS_1


Lagi, Kiki mengulanginya, tidak ada sahutan dari dalam, Kiki sudah mulai menahan tawanya, karena dia sendiri yakin kalau Maudy mengira ini pasti Bima yang datang.


"Dy, buka lah! Ini aku Kiki!" Tak tahan, Kiki langsung tertawa sambil memegang handle pintu yang dia gerakkan.


"Kamu beneran sendiri kan?" Maudy masih mengurungkan niatnya untuk membuka dan bersandar di daun pintu.


"Iya aku sendiri, udah cepetan buka!"


"Kenapa ngetuk nggak manggil sih, buat orang takut aja!" Menggerutu setelah membuka pintu, Kiki masih menyisakan tawanya.


"Lagian kenapa sih, Bima juga masih suami sah kamu Dy. Kamu kira dia hantu apa, pakai acara takut segala." Mereka duduk di sofa yang terdapat di dalam kamar.


"Kenapa datang kesini?" Melihat penampilan Kiki malam ini. "Kamu baru pulang kerja ya?"


"Iya aku lembur, cuma tadi sempat makan dulu sih sama Revan di resto kamu?" Maudy mengerti sekarang, pantas saja karyawannya mengaduh kalau Bima ada datang dan sempat mencarinya.


"Oh gitu, jangan bilang kalau kamu datang kesini hanya karena suruhan atasan kamu?" Kiki diam dan hanya tersenyum. "Jangan bilang kamu juga sama Bima kesana?"


"Itu bukan tebakan, tapi lebih kenyatannya." Maudy langsung mengubah raut wajahnya.


"Maaf Dy, tapi aku nggak tega lihat Bima. Dia nangis loh Dy, baru kali inilah aku lihat Bima menangis?"


"Sekarang aku tanya, kamu ada di pihak aku atau Bima?" Maudy bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat jendela kamar.


"Dy, kalau kamu tanya begitu maksudnya apa? Kalian itu sama-sama sahabat aku, bukan satu dua tahun Dy kita kenal. Aku marah memang sama Bima, marah banget malah lihat kamu di bohongi. Tapi Dy, pikirkan sekali lagi, kasih dia kesempatan."


"Ki, waktu Bima kecelakaan dan papanya mengetahui kenapa Bima sampai melakukan penebangan padahal belum waktunya dia pulang ke tanah air, papanya sudah pernah mengatakan untuk tidak selalu menyembunyikan hal yang harusnya keluarganya tau. Seperti ini contohnya, seharusnya kan dia langsung telepon aku, kasih kabar."


Kiki juga ikut berdiri dan mendekat ke arah Maudy, mengelus bahu Maudy dengan lembut.


"Aku belum mengalami rumah tangga, tapi aku berharap kalau kalian nggak akan pisah. Ingat, Bima sudah pernah bertunangan dan kalian sempat berpisah selama bertahun-tahun, tapi buktinya kamu masih mau terima dia kan?" Maudy menoleh ke arah Kiki. "Kenapa malah setelah berumah tangga kamu langsung mutuskan untuk pisah? Kamu tau kan Dy, Tuhan saja tidak suka itu."


"Ki, untuk sekarang ini aku memang belum bisa buat mikir hal yang membuatku emosi, ada mereka." Mengelus perutnya. "Aku takut ini akan berakibat pada mereka." Kiki memeluk Maudy.


"Aku ngerti kok." Kiki menuntun Maudy untuk kembali duduk.


"Weekend nanti aku mau pergi sama Revan dan juga mama, kamu mau ikut? Itung-itung buat refreshing, kamu juga kan sekarang lagi jenuh ni, banyak masalah." Maudy tampak diam berpikir.


"Tenang, nanti aku yang minta ijin ke ibu dan ayah kamu."


"Jangan bilang Bima juga ikut?" Menatap kedua mata Kiki, takut kalau Kiki berbohong.


"Kamu salah sekarang, bahkan dia juga nggak tau mengenai ini."


"Eh by the way, kamu sekarang beneran dekat sama Revan ya? Cie." Kiki tertawa kecil.


"Itu juga keinginan kamu kan? Duh, ini maunya anak mami ya?" Mengelus perut Maudy.


"Haha. Ya nggak apa-apa juga lah, Revan juga anak baik-baik." Kiki mengangguk.


Dan, Maudy benar-benar melupakan sejenak masalahnya, dengan membahas hal lain. Kedatangan Kiki membuatnya sedikit menghibur, menceritakan tentang siapa wanita yang bernama Rina. Dan mengingatkan Maudy kembali tentang wanita itu yang datang bersama Revan ketika menjenguk Bima di rumah sakit.


"Dia tuh selalu ngaku-ngaku jadi pacarnya Revan, nggak malu kan? Ya kamu tau akulah, sekalian aja aku buat dia jengkel." Mereka sama-sama tertawa.


Jam 08:30 Kiki pamit untuk pulang, tak terasa juga sudah hampir dua jam mereka berbincang. Duh, memang begitu kan kalau sudah wanita berkumpul.


***


Epilog


Bima masih memohon dengan Kiki, memintanya untuk datang sekarang juga ke rumah ibunya Maudy. Dengan bayaran makan gratis di resto istrinya sendiri. Revan hanya diam, dia sama sekali tidak mau ikut campur mengenai hal ini, hanya saja Bima selalu meneleponnya dan mengaduhkan bagaimana keadaannya saat jauh dari istrinya.


"Gimana Ki?"


"Iya Bim, iya."


"Nanti aku tunggu di depan jalan raya, usahakan buat kamu sama Maudy duduk di teras rumahnya ya, supaya aku lihat dia meski dari jarak jauh."


"Iya Bim. Tapi aku nggak yakin untuk itu, pasti Maudy juga ngajak ngobrol di dalam rumah."


"Kamu rekam aja Ki, kamu rekam dia ngomong apa ya? Jangan di jeda, dua jam sekalipun bakal aku dengerin."


Segitu besarnya ya rasa cinta pak Bima? Ah aku nggak mengerti!!


"Ki, tolong lah. Nomor aku udah di blok sama Maudy. Aku mau dengar suaranya. Atau nggak telepon aja, jangan kamu nantikan selama kamu masih di dalam."


"Iya udah terserah kamu!" Dan akhirnya Kiki mengalah, langsung berangkat ketika mereka sudah selesai makan. Berharap ibu Irma atau Maudy tidak curiga saat Kiki datang mengunakan mobil milik Revan.


--__

__ADS_1


__ADS_2