Dia Bimaku

Dia Bimaku
Tentang papa


__ADS_3

"Maksud kamu apa Bim?"


"Kita bicaranya di rumah aja ya?" Maudy melengos tapi dia sendiri membiarkan Bima naik ke boncengan motornya.


Dalam perjalanan pulang, Bima berkali-kali melingkar kan tangannya. Tapi Maudy memaksa Bima untuk melepasnya. Terserah, aku masih sakit hati dan butuh penjelasan, batinnya.


Sampainya di halaman rumah, tampak Kiki yang sudah duduk di depan teras rumah sendirian, mungkin mama Lisa di dalam.


"Ki, kamu kenapa nggak masuk?" Berjalan meninggalkan Bima yang harusnya menjelaskan semuanya.


"Nggak, masak iya aku gabung sama orang tua sih Dy." Maudy tersenyum mendengarnya. Iya juga pikirnya.


"Ki, kamu nggak keberatan kan kalau aku bicara sama Maudy disini?" Bima datang menyusul.


"Nggak, ya udah ngomong aja kali Bim. Memang harusnya kamu jelasin semuanya." Kiki mengalihkan pandangannya ke ponsel. Tak ingin ikut campur urusan mereka, karena itu memang harus mereka sendiri yang menyelesaikan.


"Sayang?" Memegang tangan Maudy, menariknya mengajaknya untuk duduk.


"Ya udah ngomong." Mengibaskan tangannya.


"Sayang, itu sebenarnya-"


Tin.. tin..


Suara klakson mobil yang baru saja memasuki halaman rumahnya. Maudy berdiri, meneliti mobil siapa yang kali ini datang.


"Ilham?" Ucapnya bingung. Menoleh lagi ke arah Bima.


"Mau apa dia kesini?" Kiki juga menatap Maudy.


"Sebentar." Maudy berjalan mendekat ke arah mobil, tampak pemiliknya turun dari dalam mobil.


"Ilham, kamu ngapain kesini?" Bingung, sesekali menoleh ke arah Bima yang tatapan matanya sudah tak bersahabat.


Sementara itu, mama Lisa juga keluar dari depan pintu dan mengajak Bima untuk segera pulang. Tapi matanya tertuju ke arah depan, dimana Maudy tengah berdiri dan berbicara kepada laki-laki lain. Di iringi ibu dan ayahnya Maudy yang juga ikut melihat.


"Itu siapa?" Tanyanya, yang tertuju kepada semua orang yang ada disana.


"Ayo ma, kita pulang?" Bima malah tak ingin membahas ini sekarang. Baginya sudah jelas, Maudy lebih memilih berbicara kepada laki-laki lain. Dari pada mendengarkan penjelasannya yang statusnya adalah calon suami.


"Oh itu arsitek yang memegang kendali proyek pembangunan resto nantinya." Ayahnya tampak meneliti dengan tatapan matanya.


"Oh, mungkin mereka lagi ada urusan. Ya udah kalau gitu aku pulang ya mbak. Cepat sembuh, jangan banyak gerak dulu. Harusnya mbak istirahat aja, nggak perlu antar aku sampai ke depan mbak." Ah ternyata mama Lisa pengertian tak seperti anaknya yang tatapannya kini ingin membunuh.


Sementara Maudy masih berdiri di samping mobil Ilham. Ternyata, Ilham hanya mengembalikan barang Maudy yang tertinggal sewaktu makan.


"Makasih ya Ham. Hati-hati kamu." Melambaikan tangan dan melihat mobil Ilham sudah pergi menjauh.


"Ma, mama mau pulang?" Berjalan mendekat, sekarang beralih ke mobil Bima. Bima tak peduli, bahkan ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa sedikitpun melirik ke arah Maudy.


"Iya sayang, mama pulang ya? Sekarang kamu kelihatannya mulai sibuk ya? Gimana nanti kalau udah dekat sama hari pernikahan, pasti kamu tambah sibuk, mama harap kamu bisa jaga kondisi ya?" Ya ampun, rasanya Maudy ingin memeluk calon mertuanya ini, pengertian sekali.


Tapi apa? Pernikahan? Apa bakal jadi, dan tadi Bima mau menjelaskan sesuatu kan? Kenapa sekarang pulang?


"Iya ma." Maudy menyalim tangannya. "Mama hati-hati ya?"


Melirik ke arah dalam mobil, tapi Bima tetap tak ingin meliriknya.


Pasti cemburu dan punya pikiran aneh-aneh.


"Bim, kamu nggak pamitan dulu sama Maudy?" Mengetuk jendela mobil yang sudah di tutup rapat oleh Bima. Perlahan ia menurunkan kaca mobilnya, melihat ke arah Maudy. Wajahnya datar dan "Aku pulang dulu ya." Tersenyum dua detik lalu kembali ke mode semula.


Kamu benar-benar ya Bim!!!


"Bim, nanti malam antar aku ya? Ada yang ingin aku beli."


Tidak menjawab.


"Kamu dengar nggak Bim Maudy ngomong?" Bima menoleh dan mengangguk.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Cemburu karena ada laki-laki yang datangin Maudy?" Maudy menahan tawa, membuang pandangannya karena yang di katakan mama Lisa benar dan anaknya tidak bisa menjawab.


"Bima, itu kan urusan pekerjaan. Lah gimana kamu sendiri yang setiap hari juga harus berkomunikasi dengan wanita lain Bim?" Mamanya sampai geleng-geleng kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.


"Nggak ma." Hanya itu, padahal iya. Ya ampun Bima.


Maudy melambaikan tangannya, saat mobil putar balik Maudy menunjuk kedua bola mata Bima dengan kedua jarinya. Bima langsung menutup kaca mobil, membuat Maudy semakin ingin mencekiknya sekarang juga.


***


"Ki, kamu pulangnya nanti aku antar ya?" Mereka berdua sama-sama rebahan di atas kasur milik Maudy.


"Terserah, nggak di antar juga nggak apa. Aku nginep disini." Maudy tertawa, tampaknya galau yang di rasakan Kiki sekarang melebihi dirinya.


"Ki, menurut kamu aku harus gimana sama Bima?" Mengubah posisinya menjadi miring ke arah Kiki.


"Maksudnya gimana?"


"Ya aku ngerasa Bima tuh udah banyak berubah, iya dia walaupun masih pemalu, tapi bukan itu yang utama. Bima tuh kayak selalu nyembunyikan sesuatu dari aku, nggak terbuka kayak dulu. Jujur Ki, aku jadi ragu. Dia selalu periksa ponsel aku Ki, kamu tau kan? Bahkan urusan pekerjaan juga sampai dia blok itu nomor kalau yang punya laki-laki. Tapi Ki, aku sendiri nggak pernah lihat ponselnya. Aku jadi curiga."


"Itu harusnya kamu bicarakan sama dia kali Dy, bukan sama aku. Lagian semenjak Bima pimpin perusahaan, dan kamu di luar negeri, aku juga jarang kan ngomong sama dia. Alasan dia nggak kasih kabar ke kamu sampai sekarang juga belum dia bilang kan?" Maudy langsung mengingatnya.


Benar, beberapa tahun aku di luar negeri Bima nggak ada ngabarin aku, hubungi aku. Dan aku jelas tidak tau bagaimana perubahannya. Ah, aku harus bertanya soal ini. Dia harus punya alasan yang jelas kenapa jauhi aku.


"Hei, kok malah ngelamun. Lanjutkan lah."


"Iya Ki, jadi aku harus gimana?" Masih bingung.


"Ajak dia bicara berdua, yang jauh dari keramaian. Hotel juga bisa." Maudy langsung memukul lengan Kiki.


"Haha. Bercanda, tapi ya terserah kalian lah." Maudy mengangguk.


"Aku rindu Bima yang dulu Ki, yang kalau aku marah 5 menit aja dia udah nggak tahan. Beda sama sekarang Ki, dua hari nggak komunikasi juga dia biasa aja. Aku rindu sifatnya yang manja, aku rindu Ki. Jujur, aku menyesal memaksanya untuk merubah sifat." Kiki langsung menoleh ketika mendengar suara Maudy sudah bergetar seperti menahan tangis, Kiki memeluknya mengelus pundak Maudy.


"Udah, semua memang harus berubah Dy. Ingat, kita sudah dewasa sekarang." Maudy menghapus setitik air matanya yang jatuh.


"Dy, Ki. Ayo keluar kita makan malam." Teriak ibu dari luar kamar.


***


Di tengah-tengah mereka makan, Kiki selalu membahas masalah make up dengan Tisha. Maudy hanya menyimak pembicaraan mereka sambil menelan makanan yang merasa di paksakan masuk ke dalam perut.


"Nanti kakak kasih kamu gratis!" Kiki membuat Tisha semakin bersemangat untuk mempercantik diri.


"Beneran kak?" Girang mendengar apa yang di katakan Kiki.


"Iya." Kembali melanjutkan makannya.


"Tisha, kamu jangan pacaran dulu." Ayah kembali mengingatkan, karena tau anaknya berbeda dengan Maudy. Sering keluar malam kalau di malam Minggu. Dengan alasan ke rumah teman.


"Iya yah." Wajahnya kembali di tekuk. Maudy sendiri tau, mana mungkin adiknya itu tidak mempunyai pacar. Tapi, dia juga pernah ngalamin masa sekolah, masa-masa indah untuk anak seusianya mengenal apa itu cinta, sakit hati dan menangis. Semua juga sudah ia lewati.


Suara pintu tampak di ketuk, ibu bergegas berjalan ke depan. Meninggalkan makanannya. Berbeda dengan Maudy, bahkan ia tak mendengar kalau ada yang datang.


"Ayo Bim ikut makan." Ternyata ibu kembali dengan membawa Bima. Maudy mendongak, kaget karena sudah ada Bima disini. Ia melirik Kiki, lalu menunduk lagi.


"Tadi udah makan kok bu sebelum kesini." Menolak secara halus kemudian ikut duduk.


"Kalian mau pergi?" Bima diam.


"Mau ngantar Kiki bu." Maudy akhirnya membuka suara. Menatap wajah Bima yang seperti tak mempunyai masalah.


Selesai makan malam. Maudy langsung pamit untuk segera pergi, mengantar Kiki. Memang benar begitu, setelah itu barulah ia akan berbicara kepada Bima.


***


Bima sudah melajukan mobilnya, memasuki jalanan raya dengan keramaian di luar sana dan keheningan di mobil. Entah apa yang masing-masing dari mereka sedang pikirkan. Tapi yang terpenting Bima tetap fokus dalam menyetir, dan kepala Maudy terasa sangat berat walau hanya untuk menoleh ke samping.


Kiki fokus memainkan ponselnya, dan hari ini ia resmi tidak membuka tokonya. Ternyata cinta sangat mempunyai pengaruh besar pada mood seseorang. Siapa saja, bukan hanya Kiki dan Maudy atau pun juga Bima, tapi mereka yang diluar sana juga pasti begitu. Rela meninggalkan kewajiban apapun, baik dalam pekerjaan atau hal lain. Hanya karena merasa kegalauan, meski anak SMP sekali pun, pasti akan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Pikiran Maudy terasa uring-uringan. Memang dunia itu akan berputar, dan keadaan cepat berbalik, dulu saja Bima selalu mengharap kabar jika tengah bertengkar, dan sekarang Maudy sendiri yang selalu ingin berkomunikasi dimana pun dan kapan pun.


"Dy, kalian nggak mampir?" Maudy langsung menoleh ke belakang, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah gerbang tinggi. Benar sudah sampai, bahkan Maudy tak menyadarinya.


"Lain kali ya Ki, titip salam sama papa dan mama." Kiki juga tak ingin memaksa, baginya posisinya dengan Maudy saat ini sama. Hanya saja Maudy bisa melampiaskan amarahnya karena Bima ada di sampingnya, sementara dirinya tak tau, karena Agam juga belum memberikan kabar.


"Aku duluan ya. Makasih ya Bima udah di antar."


"Iya Ki, sama-sama." Tersenyum ke arah Kiki dan melirik ke arah Maudy yang tak sama sekali menatapnya.


Mobil kembali melaju, memutar arah keluar komplek perumahan. Baik Bima ataupun Maudy, mereka sama-sama terdiam.


"Katanya mau membeli sesuatu, kemana?" Mengalah dan bertanya, karena itu yang di ucapkan Maudy sebelum Bima pulang.


"Hotel." Bima mengentikan mobilnya. "Kenapa?" Bertanya tanpa menatap.


"Bukan kah itu yang kamu suka kan? Itu yang kamu mau kan? Ambilah kesucianku jika itu membuatmu tidak akan berpaling ke wanita lain, dan selalu jujur dalam hal apapun sama aku." Bima masih diam, belum menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya.


"Kita sebentar lagi menikah."


"Aku tau, aku tau itu. Dan itu bila tidak batal!" Menjawab ucapan Bima dengan cepat.


Terdengar Bima menghela nafas berat. Membuangnya dengan kasar.


"Sayang, sebelumnya aku udah bilang kalau kerjaan di kantor aja udah buat aku pusing."


"Tapi bukan berarti kamu selalu nutupin semuanya dari aku Bim!" Membentak Bima dengan menahan air matanya.


Kenapa sekarang aku yang takut kehilanganmu Bim!


"Oke kita ke hotel." Langsung melajukan mobilnya dengan kencang. Maudy tidak protes, dan jika dia mati malam ini itu semua juga karena Bima.


Bima mencari hotel yang kali ini benar-benar privasinya terjaga, tak sembarang orang bisa masuk. Hotel yang sangat terkenal mewah di kotanya. Dengan nilai sangat mahal walau hanya menginap satu malam. Persetan dengan masalah uang, batinnya.


"Ayo?" Mengulurkan tangan dan membukakan pintu mobilnya. Maudy turun tanpa menyentuh uluran tangan Bima. Setelah Maudy berjalan, Bima mengusap wajahnya dengan kasar.


Andai kamu tau, aku bahkan belum siap melakukannya, setelah menikah ataupun sekarang.


***


"Kamu bilang sama ibu dulu kalau malam ini kamu nggak pulang." Ikut berdiri di sebelah Maudy yang menatap lampu kota dari jendela hotel.


"Aku menyesal." Bima merubah posisi berdirinya dan menatap ke arah Maudy.


"Aku menyesal memintamu merubah sifat. Akhirnya, aku sendiri sekarang yang merasa kehilangan kamu yang dulu."


"Aku tetap Bima mu yang dulu. Aku begini karena keadaan." Maudy meliriknya dan kembali menatap ke arah luar.


"Aku minta penjelasan, siapa wanita itu dan kemana kamu selama beberapa tahun tak memberi ku kabar. Apa yang kamu lakukan disini, karena penjelasan kamu waktu itu tidak cukup." Bima menghela nafas.


"Aku udah bilang, kalau aku lakukan itu hanya supaya papa percaya aku nggak jalani hubungan sama kamu." Maudy masih diam, ingin mendengar lebih detail.


"Iya, sebenarnya papa buat janji. Kalau aku bisa menjalankan perusahaan dengan baik, dan fokus. Papa akan memberikan aku kebebasan. Dengan syarat aku tak di perbolehkan pacaran dulu. Aku nurut, aku berusaha untuk tidak menghubungi kamu, aku pulih dari sakit, cedera para yang kamu sendiri tau penyebabnya. Papa memberikan ku perawatan terbaik. Dua bulan lamanya aku menahan kan rasa sakit, baik fisik maupun hati. Aku kacau saat itu, tapi demi bisa bersama, aku memutuskan untuk menuruti kemauan papa. Tapi aku juga tidak tau, kalau akhirnya aku malah menjadi terbiasa tanpa kamu. Bahkan rasaku sedikit memudar waktu itu. Tapi, aku bertemu kamu lagi, kamu tertawa bersama lelaki lain, aku cemburu. Dari situ aku yakin, bahwa tidak ada rasa yang memudar."


"Lalu dengan tiba-tiba papa memutuskan untuk aku bertunangan dengan seorang wanita pilihannya. Aku tidak bisa menolak ataupun menyetujuinya. Tapi akhirnya, aku tetap sama kamu. Dari situ aku yakin, kalau aku sama kamu jodoh. Kamu benar, sekarang aku berubah. Aku sibuk, bahkan ketika pulang kerumah juga aku harus melanjutkan pekerjaan ku. Itu juga aku selalu sempatkan waktu untuk selalu datang menemui kamu. Karena bagiku sekarang komunikasi melalui pesan sudah tak penting, yang terpenting aku bisa berjumpa kamu dengan secara langsung." Maudy menahan buliran bening yang siap jatuh.


"Dan mengenai wanita semalam, dia sepupu jauh aku. Dia datang untuk membantu mama. Mama tidak menjelaskan sama kamu yang dikira mama kamu juga sudah tau. Mona, dia memiliki usaha WO untuk pernikahan. Dan papa sengaja menyuruhnya datang kesini dari luar kota, untuk membantuku. Agar aku tak susah payah mengurusi acara pernikahan kita. Baik mama atau pun papa juga begitu. Maaf ini salahku yang tak memberi tau apa yang di bicarakan papa waktu di telepon. Aku sengaja nggak bilang kalau papa sebenarnya juga membantu persiapan pernikahan ku. Dan soal dress yang ada di tempat tidurku, aku sudah tau kalau kamu melihatnya. Itu dress yang di pilih Mona, untuk photo prewedding kita nanti. Maaf, aku tidak sempat untuk membelinya, dan aku serahkan ke dia, karena fostur tubuh kalian sama. Dan dia juga lebih ahli dalam memilih." Maudy tak tahan lagi, semuanya hanya kesalahan pahaman. Air mata menetes dari pelupuk matanya.


"Apa kamu sekarang masih ragu untuk menikah?" Maudy menggelengkan kepalanya.


"Lalu bagaimana ceritanya malam itu kamu bisa di antar pulang olehnya?"


Ya ampun, kenapa masih ingat sih!!!


"Dan kenapa tadi dia datang?"


*Bim*a!!!


"Jawab, waktunya kamu menjelaskan."

__ADS_1


Rasanya aku ingin melompat dari sini sekarang. Senang karena mendengar papanya ternyata sudah menyetujui tapi kesal melihat anaknya.


--__


__ADS_2