Dia Bimaku

Dia Bimaku
Kenangan membuat sakit


__ADS_3

Kiki sudah menunggu dengan cemas, untungnya Maudy masih setia berada di sampingnya. Bahkan sampai para keluarga sudah pulang dan rumah Kiki kembali sepi, Revan belum muncul.


"Tenang Ki, Revan nggak apa-apa. Dia hanya menjadi saksi mungkin."


"Maksudnya?"


"Maksudnya?" Kiki dan mamanya serentak bertanya, kaget dan masih belum tau ada masalah apa sehingga di hari pernikahannya saja Revan sampai di panggil untuk datang ke kantor.


"Nanti saja kalau Bima disini, biar jelas jadi kamu dan Tante Ratih nggak penasaran. Aku juga ingin tau akhirnya bagaimana." Kiki mengangguk dan kembali masuk ke dalam rumah.


Beberapa kali terdengar bunyi klakson, Maudy tau itu pasti Revan. Dan menarik tangan Kiki untuk tetap duduk.


"Sabar Ki, segitu rindunya ya baru juga di tinggal beberapa jam." Menggoda agar wajah Kiki tidak terlalu panik dan tegang.


"Iya Ki, Maudy juga kan udah bilang tadi kalau Revan nggak bakal kenapa-napa." Kiki menghela nafas dan kembali duduk.


Dua pria yang bersikap sok cool itu masuk, Bima tapi dengan stelan jas kantornya dan Revan yang tampan dengan stelan jas pernikahannya.


"Bim, gimana?" Maudy langsung bertanya sebelum Bima di persilahkan untuk duduk.


"Duduk dulu Bim, baru bicara." Ucap Tante Ratih.


"Sudah, ternyata Rina dalang di balik semua ini." Jawabnya. Maudy menuangkan satu gelas air dan memberikannya kepada Bima.


"Rina? Maksudnya ini apa?" Kiki yang sudah tampak penasaran. "Rina pacarnya Revan?" Ha? Mereka langsung menoleh ke arah Kiki. Begitu juga dengan Revan, sudah menatap Kiki berasa ingin melahapnya sekarang. "Eh maaf! Ada kata-kata yang kurang, maksud aku Rina yang mengaku-ngaku pacarnya Revan?" Mereka bertiga langsung mengangguk, hanya Tante Ratih yang tampak diam, karena memang dia tak tau dan memilih diam mendengarkan. Tidak seperti anaknya yang selalu memotong pembicaraan sebelum di jelaskan.


"Tenang dulu tenang." Sambil menggerakkan kedua tangan keatas dan kebawah.


Bima menjelaskan permasalahan yang terjadi. Rina yang mengaku awalnya memang ingin menjebak Revan, dengan menggunakan inisial nama, padahal namanya juga berawal dari huruf yang sama dengan Revan. Lalu Rina sengaja membuat kisi-kisi tentang kedekatan Bima dengan seseorang yang sangat dia percayai, sehingga Bima pasti akan menuduh Revan. Sayangnya semua tidak berjalan mulus, Rina hanyalah orang kecil bagi keluarga Bima. Dalam kurun waktu 24 jam saja sudah bisa melacak dan mengetahui siapa pelaku sebenarnya.


"Dan tentang diagram waktu itu juga ulah Rina, dia kira kamu nggak teliti. Jadi pasti aku akan menyalahkan mu. Revan sudah memberi tau hal itu, tapi aku tetap diam karena kamu tau sendiri kan. Aku paling nggak suka marah-marah sama karyawan aku." Tegas Bima lagi. Reaksi Kiki dan Maudy sama, mereka sama-sama menggeleng tidak percaya.


"Sampai segitunya?" Menoleh ke arah Revan. "Segitunya dia cinta sama Revan." Lagi, tetap menatap ke arah Revan.


"Sudahlah Ki. Revan sekarang suami kamu." Ucap Tante Ratih sebelum pamit pergi untuk masuk menyusul suaminya di dalam kamar.


"Jadi beneran Rina di penjara sekarang?" Bima mengangguk. "Kasian juga lah Bim." Kiki saja juga menjadi korban tetap berbicara begitu.


"Nggak lama, nanti juga bakal aku bebasin." Jawabnya santai. "Sayang kita pulang sekarang ya? Mereka juga butuh waktu berdua." Mengelus puncak kepala Maudy. "Kasian, baru juga sah menjadi suami istri sudah harus aku ganggu. Maaf ya." Revan tersenyum mengangguk.


"Ki, ingat." Menatap ke arah Kiki. "Jangan resign loh. Aku nggak mau cari sekretaris lagi."


"Siap pak Bima." Memberi hormat, Maudy langsung tertawa.


"Pamit dulu sama Tante Ratih." Ucap Maudy. Bima mengangguk, lalu Kiki berjalan untuk memanggil mamanya.


Setelah berpamitan, Maudy dan Bima langsung pulang. Dan tinggallah mereka berdua, duduk diam di sofa ruang tamu. Sambil menatap ke ruangan yang menjadi tempat mereka menikah tadi. Semua tampak berserakan, mamanya pun lebih memilih istirahat di dalam kamar bersama papanya. Walau hari sudah sore, tapi lelahnya mungkin sudah tidak bisa di tutupi.


Begitu juga dengan bi Asih, beliau juga yang paling disibukan disini. Harus belanja pagi-pagi buta, lalu memasak sebanyak ini, jadi maklum kalau bi Asih juga harus istirahat. Mereka saling pandang lalu tersenyum.


"Nggak mungkin juga kan kita masuk kamar sekarang?"


"Iya emangnya mau ngapain." Jawaban Kiki santai.


"Iya. Kita yang beresin mau nggak?" Kiki langsung mengangguk saja. Biarlah meskipun tak pernah membereskan rumah, tapi kali ini harus mau. Begitu pikirnya.


"Kamu yang sapu, aku yang bereskan barang-barang ya?" Kiki mengangguk lagi, lalu memegang gagang sapu, membersihkan di mulai dari sudut rumahnya.


Revan menggeser beberapa barang kembali di tempatnya, seperti guci besar dan meja. Lalu beralih menggulung karpet yang berukuran lebar, terlihat masih di lipat asal. Kiki tersenyum melihatnya.


"Jangan lihatin aku terus." Hampir saja karena malu Kiki melempar sapunya.


"Habis ini belajar masak ya?" Kiki langsung menghentikan aktivitasnya. "Iya aku tau, kamu juga bakal tetap kerja jadi nggak sempat, tapi itu memang kewajiban kamu. Setidaknya kamu bisa memasak." Diam dan melanjutkan aktivitas menyapunya lagi.


"Aku yang ajarin."


"Memangnya kamu bisa?"


Revan menjentikkan jarinya. "Kecil."


"Sombong amat." Jawabnya sewot dan mempercepat tugasnya.


Setengah jam berberes, Kiki menyapu Hingga keluar rumah. Lalu untuk mengepel Kiki menyerah, sungguh tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, hanya menyapu saja sudah kelelahan. Memang bisa dikatakan Kiki anak manja, tapi bukan kemauan mamanya, melainkan Kiki sendiri. Jika di suruh jawabannya hanya 'kan ada bi Asih'. Dan sekarang berakibat, sudah punya suami mau tidak mau harus begini.


"Serius, kita beresin rumah masih pakai pakaian ini?" Baru menyadari dan tertawa bersamaan.


"Kita mandi, terus nanti malam jalan-jalan."


"Mandi bareng?" Kiki yang merasa polos malah bertanya.


"Iya, kalau kamu mau?" Malah menggoda, padahal jelas-jelas bukan itu tujuan awalnya.


Kiki yang memang mengakui perasaannya saat ini, tapi tidak terucapkan dengan kata-kata. Begitu juga dengan Revan, Kiki menerima lamarannya karena Revan hanya mengajaknya menikah tapi tidak mengatakan kalau dia juga cinta. Aneh bukan? Mungkin itu sudah sifat dari mereka sendiri, meskipun sudah menikah harus tetap seperti teman agar dijauhkan dari pertengkaran. Kenapa? Kiki trauma mengucap kata itu berulang-ulang yang akhirnya harus terpisah. Setiap hari mendengar kata manis dan begitu juga sebaliknya. Selalu memberikan hari-hari indah dengan mengucapkan kata i love you di pagi hari sebelum memulai beraktivitas.


Tapi sejak memutuskan untuk menikah dengan Revan, Revan memperlakukannya dengan baik, dengan caranya tanpa perlu kata-kata manis dan janji setiap harinya. Perlahan, Kiki bisa memahami seperti apa Revan. Dan Revan, dia juga tau soal trauma Kiki maka dari itu Revan berjanji tidak mau menyentuh sebelum Kiki mau untuk melakukannya meskipun status mereka sudah sah. Soal trauma memang sulit hilang, kecuali orang itu sendiri mengalami amnesia.


Revan duduk di sisi tempat tidur, karena Kiki memilih untuk mandi lebih dulu. Revan tersenyum menatap ke arah dinding kamar, yang menampakkan beberapa photo kebersamaan, yakni Maudy, Bima dan Kiki. Memakai seragam SMA, menampakkan senyum mereka yang sangat bahagia pada masanya. Ah itu hanya menurut pandangan Revan saja, tidak tau cerita pahit di balik hubungan Maudy dan Bima dulu seperti apa.


Revan yang merasa penasaran, ingin sekali melihat lebih dekat wajah Kiki sewaktu SMA seperti apa, langsung mengambil photo dari dinding. Tak sengaja saat mengambilnya, ada dua photo yang terjatuh dari balik bingkai. Dahi Revan mengerut, kenapa bisa ada photo yang di letak di balik bingkai? Batinnya. Posisi photo yang jatuh terbalik membuat Revan tidak mengetahui, lalu mengambilnya dan kembali duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Deg. Jantungnya berdenyut, seperti sakit. Mau marah? Tapi bagaimana cara menegur Kiki nantinya?


Revan memandangi photo dimana Kiki dan Agam tengah berpelukkan di atas jembatan, berpelukan bak film Titanic. Hatinya memanas seketika, bagaimana bisa Kiki menyimpan photo itu?


Dan beralih ke photo yang satunya, berukuran sama tetapi photo di tempat yang berbeda. Revan tau ini kalau photo ini di ambil bukan di dalam negeri, karena terlihat beberapa bangunan yang ia kenali dan memang terletak hanya di negara orang.


Kiki yang tertawa dan Agam menyentuh wajah dengan kedua tangan, Revan bisa merasakan sudah terlalu banyak kenangan indah Kiki bersama Agam. Mengusap photo, dan terus berpikir. Apakah harusnya ini di tanyakan oleh Kiki?


Ternyata mereka juga sudah sering jalan-jalan keluar negeri? Sejauh inikah hubungan mereka? Lalu apa sekarang Kiki masih mengingatnya?


Ah tidak, Revan menggeleng pelan. Ini adalah hari pernikahannya. Dimana Kiki baru beberapa jam lalu sah menjadi istrinya. Tidak ingin terkecoh dengan hal semacam ini dan akhirnya malah bisa membuat hubungan mereka terancam.


"Revan? Ngapain?" Melihat Revan yang duduk sambil memegang bingkai photo. Revan kaget dan meletakkan bingkai di atas meja. Kiki yang sudah memakai pakaian dari dalam kamar mandi, langsung berjalan mendekat.


"Nggak, tadi aku penasaran sama photo kamu ini. Soalnya aku juga penasaran, pengen lihat wajah kamu sewaktu SMA." Kiki diam, dan seperti mencari sesuatu di balik bingkai itu.


"Eh, sepertinya memang pak Bima dan mbak Maudy pasangan yang serasi ya. Enak banget pacaran dari SMA bisa langgeng sampai menikah." Lagi, Revan tak ingin Kiki mengetahui kalau Revan sudah melihat photo itu.


"Ah itu hanya menurut kamu kan? Pahit jugalah kisah cinta mereka."


"Maksudnya? Bisa kamu ceritakan?" Revan menepuk ruang kosong di sebelahnya, supaya kini duduk di sampingnya dan menceritakan kisah Bima dan Maudy.


"Sepertinya kamu jadi saksi kisah cinta mereka ya?" Tertawa kecil, menutupi kecemburuannya.


"Ya begitu lah. Ah aku sampai bolak-balik keluar negeri dulu, hanya mau kasih informasi tentang Bima." Revan semakin tertarik. "Kamu nggak jadi mandi?" Revan menggeleng dan tersenyum.


"Tunggu ceritanya selesai, baru aku mandi." Kiki menghela nafas. Baik lah mengalah dan menceritakan saja.


"Mereka itu nggak di restui. Bima tuh nggak pernah boleh keluar rumah. Kalau jumpa juga selalu diam-diam. Sampai setelah lulus Maudy tuh kuliah di luar negeri. Terus, ada kejadian yang saat itu yang membuat mereka harus terpisah selama bertahun-tahun. Tapi mereka tetap kembali bersatu dan mendapat restu dari papanya Bima."


"Udah cuma segitu doang? Kirain panjang sekali." Kiki memukul bahu Revan pelan.


"Panjang, kalau di ceritain sampai besok pagi kamu nggak akan mandi?" Ucapnya dan langsung berjalan ke arah cermin.


"Kita jadi pergi jalan-jalan kan?" Revan mengangguk. Sambil berjalan mengembalikan photo pada tempat asalnya.


Saat sudah menutup pintu, Kiki meliriknya lalu cepat-cepat berjalan ke arah tempat dimana photonya di tempel. Kiki mengambilnya, lalu mencari sesuatu yang sudah hilang disana.


Apa Revan sudah melihatnya?


Kiki mulai panik, dia takut jika Revan berpikir bahwa Kiki belum bisa melupakan Agam dan tidak menyerahkan perasan seutuhnya.


"Ki? Sayang?" Revan teriak dari dalam kamar mandi. Kiki cepat-cepat lagi berjalan dan meletakkan lagi photonya.


"Iya kenapa?" Berbicara dari balik pintu.


"Tolong ambilkan handuk ya, aku lupa bawa."


"Revan, ini handuknya." Mengetuk pintu. Revan membuka dan hanya mengeluarkan tangannya saja lalu mengambil handuk dan menutup pintu kembali.


Padahal kalau aku lihat juga nggak apa-apa kan? Eh aku berharap apasih.


Revan lebih lama berada di dalam kamar mandi dari Kiki yang statusnya adalah perempuan. Sampai Kiki sudah selesai dengan urusan memoles wajah, memakai sepatu pansus hitam. Sudah rapi dan siap berangkat dan duduk di sofa kamar. Sambil memainkan ponselnya. Revan berjalan keluar dari kamar mandi, hanya dengan melilitkan handuk di bagian pinggang ke bawah. Kiki hanya meliriknya lalu memainkan ponselnya lagi.


"Ki?" Kiki mendongak. "Baju aku mana?" Kiki langsung berjalan ke arah lemari.


"Kalau suami mandi itu kamu siapkan pakaiannya." Kiki hanya mengintip dari balik celah pintu lemari.


"Ini?" Kiki menyerahkan kemeja berwarna merah yang senada dengan warna bajunya saat ini. Dan celana jeans berwarna hitam.


"Daleman aku mana?" Kiki mengerutkan keningnya. "Iya itu. Atau aku nggak udah pake aja?" Kiki langsung terdiam dan mencarinya.


"Belum di susun ya, masih di dalam koper." Ucapnya lagi, Kiki beralih ke koper milik Revan yang belum sempat untuk di susun. Dan ternyata, benar isinya lebih banyak dalaman.


"Ih Revan, aku geli lah." Sambil melempar ke arah Revan.


"Haha. Kamu juga harus terbiasa untuk itu, dan itu juga harus kamu sendiri yang cuci ya, nggak boleh orang lain. Apa lagi sampai bi Asih yang cuci. Berdoa loh." Kiki hanya mengangguk dan berjalan melewati Revan.


Duduk kembali di sofa, melirik sedikit. "Revan!!!" Menjerit dan menutup matanya. "Kenapa nggak pakai di balik lemari sih." Masih menutup mata karena Revan dengan seenaknya membuka handuk dan Kiki memang sempat melihatnya.


"Memangnya kenapa? Kalau kamu lihat juga nggak bakal bintitan? Cepat atau lambat kamu juga bakal lihat." Jawabnya santai.


Cepat atau lambat?


"Nanti malam." Tiba-tiba saja Revan mengucapkan hal itu.


"Harus nanti malam ya?" Bertanya lagi.


"Nggak lah." Tersenyum tipis. "Aku mengerti kok, tunggu kamu siap."


"Iya aku siap." Eh, keceplosan dan langsung menutup mulutnya.


Kenapa begini sih? Bukannya malah pengantin baru secepat mungkin mau Unboxing? Bahkan sudah ada yang lebih dulu melakukannya?


Kiki diam dan berpikir.


"Kalau begitu sekarang saja?" Revan berjalan mendekat.


"Nggak, kita mau pergi. Nanti malam!" Tolaknya dan langsung berlari keluar pintu kamar. "Aku tunggu kamu di bawah ya." Berteriak saat sudah menutup pintu.

__ADS_1


"Kenapa lari-lari sih?" Kaget, ternyata mamanya sudah ada di depan pintu kamarnya.


"Ma, mama? Ngapain?" Bingung, menoleh lagi ke belakang takut kalau Revan mengejarnya.


"Mama memang mau panggil kamu, soalnya papa nunggu di bawah. Papa mau pamit, mau pergi keluar kota." Ucap mamanya.


"Ha? Bukannya besok ya ma?" Kiki menggandeng lengan mamanya sambil berjalan menuruni anak tangga.


"Nggak, kalau besok takutnya waktu papa buat meeting nggak terkejar." Kiki mengangguk. "Kamu mau kemana? Kok udah rapi?"


"Mau pergi keluar sama Revan ma, jalan-jalan."


"Oh, nanti tunggu papa pergi." Kiki mengangguk lagi. Dan ikut duduk dengan papanya di sofa ruang tamu.


"Ki, papa mau bicara." Kiki langsung menoleh ke arah mamanya.


"Bicara apa pa?"


"Nanti saja pa tunggu Revan juga turun." Ujar istrinya, dan papa langsung mengangguk.


Sepertinya serius, kira-kira apa ya? Kenapa aku jadi takut begini.


Lalu mata Kiki menangkap sebuah koper berukuran besar yang di bawa oleh bi Asih. Tak biasanya jika papanya pergi membawa pakaian sebanyak ini, paling hanya tas ransel saja. Batin Kiki terus bertanya, dan selalu menatap ke arah tangga, menunggu Revan kenapa lama sekali.


Apa papa mau ngusir aku dari sini? Karena harusnya aku ikut dengan Revan. Ah nggak mungkin kan!!


Kiki yang cemas berulang kali menatap ke wajah mamanya, yang malah tersenyum saat melihat ke arah Kiki. Kedua orang tuanya membahas masalah pekerjaan, tapi telinga Kiki seperti tuli saat ini. Tak mendengar dan hanya memikirkan soal apa yang akan di katakan papanya, begitu juga masalah koper. Atau jangan-jangan papa akan pergi lama kali ini, dan akan menitipkan mama? Begitu lagi Kiki berspekulasi.


"Nah itu Revan." Ucap mamanya.


Kiki langsung menoleh, benar ketika dia tak melihat ke arah tangga barulah Revan muncul.


"Ma, pa?" Revan juga menatap dengan heran, penampilan papa mertuanya sudah rapi dan ada koper besar yang tergelak disana.


"Duduklah dulu van." Ucap papa Tian. Revan mengangguk dan duduk di samping Kiki. Tiba-tiba Kiki langsung menggenggam erat tangan Revan, rasanya malah nyaman jika membagi rasa khawatirnya. Revan semakin tidak mengerti, ada apa sebenarnya? Revan juga menebak dalam hati.


"Ki, dengar papa." Kiki mengangguk. "Kamu sudah menikah, kamu sudah mempunyai suami yang bisa menjaga dan bertanggungjawab." Mengangguk lagi.


"Jadi, papa sudah memutuskan untuk membawa mama keluar kota. Kasian juga mama selalu papa tinggal sendiri, rumah disana juga sering kosong. Ini memang sudah mama dan papa rencanakan. Menunggu kamu menikah." Kiki langsung menoleh ke arah Revan. Matanya sudah memanas, bagaimana bisa jauh dari mamanya, begitu yang Kiki pikirkan saat ini.


"Papa sekarang harus lebih sering berada di luar kota, papa juga sendiri disana Ki. Kamu jangan khawatir. Papa dan mama pasti sering pulang."


"Tapi pa."


"Apa kamu nggak kasian lihat mama? Mama selalu papa tinggal sejak kamu kecil. Dan sekarang, sudah ada tempat untukmu mengaduh, dan kamu juga akan mendapatkan perhatian dari suamimu?"


"Ki, benar apa yang di katakan papa." Bisik Revan.


"Jadi, mama juga akan pergi sekarang?" Mamanya menggeleng dan tersenyum.


"Papa saja sayang. Mama besok pagi baru berangkat. Nanti seminggu sebelum acara resepsi pernikahan kamu mama dan papa juga akan pulang." Jawabnya sambil tersenyum, tidak ingin melihat anaknya yang sedih dengan berbagi kesedihan. Walau sebenarnya saat ini mamanya juga ragu untuk jauh dari Kiki.


"Gimana Ki?" Kiki mengangguk lemah. "Kamu juga bisa kesana kan kalau weekend? Hanya berbeda kota sayang, bukan negara."


"Iya pa." Jawabnya lemah. Duh, semangatnya untuk pergi jalan-jalan malah hilang sekarang.


"Ya sudah, papa harus berangkat sekarang." Melihat jam di tangannya.


"Revan, papa titip Kiki ya? Ki, kalau Revan menyakitimu jangan ragu mengaduhkan kepada papa dan mama."


"Iya pa." Mereka mengantarkan papa hingga halaman depan rumah, lalu Revan juga mengambil mobilnya dari garasi untuk sekalian pergi dengan Kiki.


"Ma? Kira-kira berapa lama mama disana?" Bertanya, padahal juga belum pergi.


"Hehe." Tertawa kecil. "Mama sama papa hanya seminggu sayang, seperti papa bagaimana kamu tau kan?" Kiki mengangguk. Lalu mendengar klakson mobil Revan, Kiki juga langsung pamit untuk pergi.


***


Dalam perjalanan, Kiki hanya diam. Revan hanya bisa sesekali melirik ke arahnya, tau bagaimana rasanya akan di tinggal seorang mama.


"Sayang, mama dan papa akan tetap pulang kan? Sudah jangan khawatirkan itu. Terkecuali kamu merasakan seperti aku. Yang tidak bisa lagi berjumpa dengan papa dan mama, sampai kapanpun." Deg. Kiki langsung menoleh ke arahnya.


"Senyum dong." Kiki menggeleng. "Kenapa?" Kiki diam.


"Ya sudah, kalau nggak mau senyum. Kita pulang aja ya?" Langsung menatap Revan dengan tajam.


"Nggak, iya aku senyum." Memberikan senyum terbaiknya. Dan itu juga berhasil membuat Revan tertawa.


"Kita juga besok akan pergi kan?"


"Kemana?" Tanya Kiki.


"Kamu lupa, sudah disiapkan tiket pesawat dan penginapan untuk kita?"


"Bima yang kasih ya?" Revan mengangguk dan tersenyum.


"Sebenarnya aku pengennya honeymoon di luar negeri, tapi pak Bima sudah menyiapkan apalah daya. Padahal aku juga ingin memiliki kenangan indah diluar negeri sama kamu, sama seperti kamu dan dia." Deg. Benar dugaan Kiki, Revan sudah melihat photo itu.


"Maaf, aku lupa buang yang itu." Keadaan kembali hening, hingga mobil sampai tujuan.

__ADS_1


--__


__ADS_2