Dia Bimaku

Dia Bimaku
Aku cinta kamu


__ADS_3

Malam tidak sepi, tapi ada hati yang merasakan itu. Bima membolak-balik ponsel miliknya berharap Maudy menghubunginya. Untuk menghubungi lebih duluan Bima terlalu takut, karena ia tau. Ia sendiri yang memutuskan.


Begitu juga dengan Maudy. Bentuk kasurnya saat ini sudah tidak lagi rapi, ada selimut yang terjatuh, bantal di ujung kasur dan juga ada yang ia lemparkan ke bawah. Sebagai bentuk kekesalannya.


"Nyesel tau nggak Ki aku jatuh cinta."


Kembali mengambil tissue untuk mengelap hidungnya yang sudah meler karena terlalu lama menangis.


Kiki hanya pasrah, saat ini ia duduk di bawah dekat pintu dengan menopang satu tangannya di kepala. Tidak berkomentar dengan semua yang Maudy lakukan. Hanya memainkan ponselnya untuk melihat perkembangan sosmed miliknya.


Dengan iseng Kiki mengambil speaker milik Maudy. Dan memutar lagu yang cocok untuk sahabatnya ini.


*Ternyata belum siap aku..


Kehilangan dirimu..


Belum sanggup untuk jauh darimu..


Yang masih selalu ada dalam hatiku..


Tuhan tolong bantu kan aku.. Oh..


Tuk lupakan dirinya..


Semua cerita tentang dirimu yang membuatku..


Selalu mengingat akan cinta yang dulu hidup kan ku...


"Ahhhhhhhhh Kiki.. Rese!!" Semakin kencang menangisinya. Kiki malah menertawakan Maudy.


"Lucu ya, kalau orang jatuh cinta ini. Untung aku masih single." Dengan bangga menyebut statusnya yang masih sendiri.


"Dy, ponsel kamu berdering tuh." Menunjuk ponsel yang terus berkedip layarnya, tanda ada panggilan yang masuk. Tentu tidak terdengar, karena saat ini ruangan di penuhi dengan suara musik galau yang di putar oleh Kiki.


"Hallo?" Menjawab dan langsung mengecilkan volume musik.


"Oh gitu ya?"


"Siapa Bima ya?" Kiki menempelkan telinganya di samping Maudy, untuk mendengar siapa yang menelepon.


Maudy kembali mencampakkan ponsel miliknya dan bergulung dengan selimut yang sempat ia lempar kesana-kemari.


"Dy, siapa yang nelepon? Bima ya?" Mengguncang tubuh Maudy.


Mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut.


"Bukan, tapi si Agam." Kembali lagi ke selimut.


"Maksud kamu, dia nelepon karena nyuruh kita datang ke cafe nya ya?"


"Hmm."


"Ayo Dy. Dari pada kamu galau terus, lebih baik kita keluar. Kan lumayan Dy cuci mata."


"Kamu lupa ya Ki, gara-gara dia loh aku putus sama Bima!" Protes dan duduk tidak lagi bergulung dengan selimutnya.


"Iya sih. Tapi kan enggak masalah, lagian juga udah basah ya basah sekalian lah Dy. Bima juga nggak tau kan?" Masih membujuk, dengan mode yang tepat.


"Ya udah, aku ganti baju dulu." Berdiri dan memilih pakaian di dalam lemarinya.


Yes yes!! Teriak Kiki dalam hati.


Seperti biasa, Maudy selalu menggunakan jeans yang robek di lutut, dan memakai kaus longgar yang bergambar Micky mouse. Tak lupa menggunakan sepatu sebagai perpaduan yang cocok dengan pakaian yang ia kenakan. Meskipun hanya anak seorang PNS, tapi semua barang-barang Maudy ini ORI loh. Bukan KW yang di jual di pasar.


Kiki, mulai mengukir make up. Dengan menggunakan lipstick tipis di bibirnya yang ranum. Bedak juga tak lupa agar terlihat sudah mandi mungkin.


"Kamu nggak mau pakai?" Menawarkan lipstick yang saat ini ia genggam.


"No!" Hanya itu jawaban yang Maudy berikan. Maudy juga pernah bilang, ya saat ini memang tidak mau menggunakan itu semua, tapi mungkin kalau sudah dewasa nanti pasti bakal mencobanya.


Mereka keluar dari rumah pukul 8 malam. Menggunakan mobil milik Kiki, melaju memecahkan keramaian di jalan raya. Maudy sengaja membuka kaca mobil, agar udara malam masuk dapat menyejukkan sedikit pikirannya saat ini.


Bima, kamu lagi apa sekarang?


Sementara Kiki terus mengomel karena kaca mobil yang terbuka menerbangkan rambut miliknya yang di gerai.


"Susah-susah nata rambut ah!" Tapi Maudy tidak memperdulikan, ia bahkan berpura-pura tidak mendengar.


Sampai di cafe tujuan. Mereka turun dan tak lupa menghubungi Agam. Maudy menyerahkan ponsel miliknya, dengan maksud Kiki saja yang berbicara. Sementara Maudy berdiri dan pandangannya melihat ke seluruh cafe.


Bagus banget. Ah nggak nyesel deh kesini. Apa itu, ada musiknya juga ya, keren-keren. Melihat panggung di dalam cafe yang berisi alat musik. Karena seluruhnya menggunakan kaca, jadi mereka juga bisa melihat meskipun masih berada di luar.


"Kalian baru sampai? Ayo masuk." Suara Agam terdengar, Maudy langsung memutar tubuhnya dan melihat ke arah Agam.

__ADS_1


Wih, keren juga Agam ya kalau tidak memakai seragam sekolah. Lebih terlihat dewasa gitu. Tanpa sadar Maudy mengaguminya.


"Dy, ayo kok melamun?" Kiki menarik tangannya untuk mengikuti langkah Agam.


"Ayo silahkan duduk, ini kenalin teman-teman aku." Ternyata sudah ada tiga orang lelaki disana, dan dengan Bima tentunya menjadi empat. Mereka langsung berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing.


"Kalian mau makan apa?" Langsung menawarkan mereka yang baru saja mendudukkan tubuhnya ke kursi empuk, kursi atau sofa ya, bingung sendiri mereka.


"Oh, nanti aja lah gam." Tolak Kiki halus.


"Sekarang aja lah, aku lapar belum makan." Tanpa memperdulikan suasana Maudy mencetuskan saja perkataanya.


Mereka yang mendengar langsung tertawa, tapi tidak dengan Kiki, ia merasa malu atas sikap Maudy. Tapi mereka tertawa bukan karena mempermalukan, hanya saja heran ada cewek yang tidak jaim begini.


"Aku suka kalau ini, tidak jaim." Salah satu teman Agam yang bernama Haikal mengagumi Maudy.


"Jangan terlalu lama mandang nya, ini jatah ku." Bisik Agam, agar tak terdengar oleh Maudy.


Lantunan musik mulai terdengar, ada band khusus yang di sewa keluarga Agam untuk mengisi acara di malam hari. Mereka makan dengan mendengar kan musik yang di mainkan.


"Kamu bisa nyanyi Dy?" Tanya Agam.


"Enggak-"


"Bisa, dia bisa! Suaranya bagus gam. Coba aja kamu suruh dia naik."


Maudy langsung menendang kaki Kiki dari bawah meja. Dan membulatkan matanya, yang artinya ia tidak suka Kiki berbicara begitu.


"Apa sih." Gerutunya.


"Ayo naik, biar aku temani?" Agam sudah mengulurkan tangannya. Tapi Maudy masih tidak bergeming.


"Naik, nanti aku bakal up story' pas kamu nyanyi." Bisik Kiki.


Maudy langsung menyambut uluran tangan Agam. Mereka sudah berada di atas panggung cafe. Agam meminta Maudy sendiri yang memilih lagu yang cocok untuk mereka berdua mengeluarkan suara emasnya.


"Lagunya Ari Lasso Ft Bcl, gimana mau nggak?"


Agam mengangguk, dan untungnya dia juga tau lagunya. Musik mulai mengalun seluruh pengunjung cafe sudah melihat ke arah panggung.


*Tiba saatnya kita saling bicara..


Tentang perasaan yang kian menyiksa..


Sudah terlalu lama kita berdiam..


Tenggelam dalam gelisah yang teredam*..


Baru beberapa bait yang mereka nyanyikan, sudah ramai riuh tepuk tangan dari pengunjung cafe. Agam dengan spontan menggenggam tangan Maudy, Maudy tidak menolak dan hanya meliriknya. Saat ini Kiki juga mulai menayangkan siaran langsung. Memamerkan suara emas sahabatnya, seperti bakat yang terpendam.


Di tempat lain, ada hati yang hancur. Melihat Maudy dengan senyum yang mengembang, bernyanyi, dan bergandeng tangan.


"Jahat banget hiks..hiks.." Tangisnya, dan melempar ponsel yang saat ia ini genggam, dan masih berlangsung tayangan yang di lakukan Kiki.


Ya, Bima menangis. Menangis sejadi-jadinya, dan memukul dadanya berulang-ulang. Sesak, itu yang ia rasakan saat ini.


Baru tadi siang kan aku mutusin kamu, dan sekarang apa! Sudah ada lelaki lain! Yang kamu bilang tidak kenal, ternyata apa! Jahat banget sih Dy.


Bima kembali mengambil ponsel miliknya. Tampaknya siaran langsung sudah berakhir.


***


"Keren tau nggak kalian!" Kiki menyambut dengan dua jempol yang ia acungkan.


"Biasa aja sih." Malu untuk mengakui bakat yang ia punya.


"Eh, sebentar ya." Berjalan keluar cafe untuk menerima telepon.


Sebenarnya Maudy ragu untuk mengangkatnya. Tapi sudah terlihat kalau ada panggilan tak terjawab, yang berarti sedari tadi Bima menelepon nya.


"Hallo?"


"Kamu dimana?" Suara serak dan parau, begitu lemah terdengar di telinga Maudy.


"Aku, aku di cafe." Masih menjawab dengan nada canggung.


"Kamu beneran udah lupain aku ya dalam waktu beberapa jam?"


"Maksud kamu?"


"Tadi aku udah liat kok, tadi Kiki buat siaran langsung di sosmed. Kamu cocok, selamat ya Dy" Ada air mata yang jatuh di sebrang telepon. Tapi Bima menahan agar tidak terisak.


"Terserah kamu Bim mau bilang apa. Intinya aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Kamu tau orang yang aku cinta siapa, kamu tau Bim! Kamu hubungi aku ketika kamu udah liat tayangan yang di buat sama Kiki, tadi waktu aku nunggu kamu hubungi aku, kamu kemana? Malu untuk hubungi aku duluan? Iya? Ini akibat dari sikap kamu sendiri Bim. Jangan selalu nyalahin aku, kita beda. Aku bisa bergaul dengan siapa saja, sementara kamu tidak. Iya kan?"

__ADS_1


Bima tidak menjawab lagi dan langsung memutus sambungan telepon.


Maudy Kembali masuk kedalam dengan wajah yang sudah tidak bersemangat.


"Kita pulang!" Bisik nya kepada Kiki.


Pasti tadi Bima yang telepon!


Kiki pamit dengan Agam dan teman-teman nya yang lain. Tak lupa juga mengucapkan terima kasih untuk makanan malam ini yang sengaja di gratiskan untuk mereka berdua. Maudy hanya pergi tanpa berkata-kata lagi, baginya Kiki sudah mewakili ucapan terima kasihnya.


Kalau sudah begini Kiki tidak ingin bertanya, sudah tau kalau suasana hati Maudy masih mendung.


"Tadi kamu buat siaran langsung ya Ki?" Akhirnya ia yang memulai pembicaraan. Dan Kiki hanya menjawab dengan anggukan.


"Bima lihat tadi Ki." Kiki sampai mengerem mendadak. Karena ia sadar, semua juga salahnya. Ini yang kedua kalinya selama satu hari ia membuat kesalahan, sehingga temannya yang menjadi salah paham.


Sampai di rumah. Maudy langsung memutuskan untuk tidur, sementara Kiki mencoba menghubungi Bima untuk menjelaskan semuanya. Semua karenanya. Tapi ponsel Bima tidak aktif. Dengan berat hati ia juga memejamkan matanya, menyusul Maudy ke alam mimpi.


***


Ditempat ini, di tempat dimana Bima memutuskan untuk mengajak Maudy berbicara hanya berdua saja. Kembali ke tempat di mana Maudy membawanya waktu itu untuk menenangkan pikiran.


"Aku sayang kamu, dan nggak rela kehilangan kamu!"


Pernyataan yang memang sudah Bima pikirkan sejak tadi malam. Matanya masih sembab sampai saat ini. Berarti Bima menangis sepanjang malam, huh cengeng padahal lelaki.


Suara gemercik air yang terdengar bersamaan dengan suara nafas mereka yang beradu. Maudy masih diam, ia mendengar apa yang di katakan Bima, dan sebenarnya itu juga yang ada di pikirannya saat ini.


"Aku minta maaf."


"Bima aku yang salah!" Langsung memotong ucapan Bima.


"Aku yang salah, aku sadar. Aku semalam berbicara terlalu kasar sama kamu, aku juga cinta sama kamu Bim. Maafkan aku." Bima langsung menarik Maudy ke pelukannya.


Apa ini pantas di lakukan untuk anak seusia kami? Batin Bima.


Bagi Bima pembicaraan yang singkat ini sudah mampu memperjelas hubungan mereka. Tidak harus panjang lebar, yang ada intinya sama. Mereka akan tetap kembali. Bima berharap tidak ada lagi kata pisah di kemudian hari selama mereka masih bersama.


Baginya, Maudy adalah satu-satunya wanita yang bisa mengerti sifatnya, sifat yang aneh menurut orang lain.


Hari ini Bima mengantar Maudy bahkan sampai di depan pintu rumah. Takut kalau Maudy akan mampir kemana-mana lagi, dan Kiki ia pulang ke rumahnya dulu untuk mengambil baju gantinya. Karena malam ini akan kembali menginap, dan juga malam berikutnya. Sampai orang tua Maudy akan kembali ke rumah.


"Tunggu aku nanti malam." Sebelum pergi meninggalkan rumah Maudy.


Mana mungkin di kasih ijin sama papa kamu Bim!


"Bilang dulu, Bima hati-hati ya sayang!" Permintaan yang aneh.


"Apa sih Bim." Maudy tergelak mendengar permintaan Bima.


"Kalau enggak, aku disini aja sampai malam."


"Ya udah, paling di cari sama mama dan papa kamu."


Masih berdiri dengan melipat kedua tangannya, dan menatap tajam Maudy.


"Haha iya aku kalah, hati-hati ya Bima sayang."


Akhirnya, Bima langsung mengepalkan tangannya ke udara dan berkata "Yes!" Ya ampun, padahal hanya di panggil sayang, eh tapi mungkin dia rindu 1 hari tidak di panggil dengan sebutan itu, batin Maudy.


"Jangan angkat telepon dari orang lain, terkecuali aku dan keluarga kamu!" Masih belum pulang ternyata.


"Hapus nomor laki-laki yang ngamen sama kamu tadi malam!"


Apa? Ngamen?


"Kamu dengar kan Dy, ih kamu nggak dengar ya dari tadi aku ngomong?" Malah menghentakkan kakinya seperti anak kecil.


"Pulang sana Bim. Iya aku dengar, udah pulang." Mengusir dengan tangannya.


"Kok kamu ngusir sih sayang." Kembali dengan mode melow nya.


Ya ampun aku bisa gila Bima!! Tapi aku suka sama sifatnya yang begini, gigi aku jadi kering ketawa melulu.


"Sayang, kamu pulang ya sekarang, nanti mama kamu nyariin. Kamu juga hati-hati ya sayang, jangan ngebut basa mobilnya ya sayang ya." Dan melentikkan matanya bak boneka.


"Haha." Kali ini Bima yang tergelak dan kembali masuk ke mobilnya. Tidak lagi berbicara, karena hatinya puas jika di panggil dengan sebutan sayang.


Maudy menutup pintunya, dan bersandar di balik pintu. Ia senyum-senyum sendiri.


Entah kenapa, hal yang di lakukan Bima selalu buat aku nyaman dan tersenyum setiap hari. Huh beda banget sama semalam, Bima kalau lagi marah berubah 190 derajat. Bahkan menurut ku, wajahnya juga ikut berubah, hahaha Bima Bima.


--_

__ADS_1


__ADS_2