Dia Bimaku

Dia Bimaku
Penuh dengan drama part 2


__ADS_3

"Bima, kamu kira enak apa nikah muda?" Rio menatapnya dengan tajam.


"Enak, buktinya aku sering denger kalian di-"


"Nggak mas Bima becanda. Tapi serius kok kami nggak ngapa-ngapain." Maudy memotong ucapan Bima.


Bima mau ngomong apa tadi ya? Apa dia dengar kalau malam kami tuh, ah sudah lah!


"Ya sudah. Sana kalian jalan-jalan aja. Ngapain juga di kamar, sekarang gantian kami yang mau ngamar, bye!" Ucap Rio dan kembali menarik Siska.


Sementara Bima dan Maudy saling tatap lalu haha.


***


"Bim, aku gemetar tau nggak?" Sekarang mereka sudah berada di luar hotel, entah kemana tujuannya mereka juga tidak tau.


"Kalau sama mas Rio aku nggak takut, tapi kalau tadi papa baru lah, mungkin udah pipis di celana." Sambil melambaikan tangan ke taxi.


"Kita kemana sekarang?" Tanya Maudy.


"Udah nanti kamu tau."


Ah Bima, aku curiga kalau kamu yang cari tempat.


"Jangan cari di tempat sepi, kali ini aku nggak mau Bim!" Bisiknya. Sebenarnya tanpa berbisik juga supir taxi tidak akan tau apa yang di bicarakan mereka.


Bima hanya tersenyum dan itu semakin membuat Maudy curiga.


Setengah jam setelah menaiki taxi.


"Pak, berhenti di depan ya?" Ucap Bima.


Tempat apa itu?


Maudy sudah memanjangkan lehernya berharap akan kelihatan tempat apa yang dituju Bima sekarang.


Nuansa bercorak putih, menjulang tinggi. Sebelahnya terdapat danau dan banyaknya pengunjung, mereka juga yakin kalau sebagian dari pengunjung juga banyak yang asalnya dari negara mereka. Ternyata tempat ini sangat ramai, baru kali ini Bima berani mengajak Maudy di tempat seperti ini. Bahkan Maudy juga tidak kepikiran untuk datang ke tempat favorit di negara ini.


"Kamu suka?" Melihat Maudy tersenyum menatap ke sekeliling tempat, merentangkan tangannya dan menghirup udara bersih.


"Suka Bim." Menoleh ke arah Bima dan memberikan senyum termanisnya.


Dering ponsel Maudy menganggu suasana sepertinya.


"Siapa?" Tanya Bima, dan melirik Maudy yang mengangkat telepon.


"Iya-iya, oh iya aku disini. Kok kamu tau?" Masih berbicara pada orang di seberang telepon.


"Iya karena aku juga disini." Sambil menepuk bahu Maudy. Maudy segera berbalik badan untuk melihat, begitu juga dengan Bima.


Wajah Bima langsung memerah, melihat lelaki yang sama. Lelaki yang meminta nomor milik Maudy.


Ngapain tikus ini ada disini.


"Hai?" Gugup, Maudy gugup dan melirik ke arah Bima.


Bakal ada drama lagi ni dari Bima.


"Kamu disini? Sama siapa?" Tanya Wira dengan senyuman.


Sama aku! Apa kamu nggak lihat ada pacar tampannya Maudy disini, dasar gatal!


"Oh ini sama Bima." Menarik lengan Bima agar memperkenalkan diri.


"Oh, aku Wira teman Maudy."


Ha? Teman? Sejak kapan?


"Iya." Tidak tersenyum sama sekali.


"Dy kesana yuk? Tempatnya jauh lebih indah dari disini, disana juga bisa lihat pemandangan kota dengan jelas." Langsung menarik tangan Maudy tanpa menunggu persetujuan. Tidak melihat Bima sudah mengepalkan tangan.


"Ah iya." Maudy juga bingung, kenapa Wira jadi agresif seperti ini?


"Cukup Wir, aku bisa jalan sendiri." Melepaskan tangannya dari Wira.


Maudy menoleh ke belakang. Ternyata Bima mengentikan langkahnya, tidak mengikuti mereka pergi.


"Sebentar ya Wir." Meninggalkan Wira lalu berjalan ke arah Bima.


"Ngapain kamu balik? Ya udah pergi aja aku mau disini." Ucapnya.


"Nggak, ayo Bim? Gandeng tangan aku." Memaksa Bima.


Maudy juga bingung, pasalnya Wira tidak tau kalau Bima pacarnya. Ini akan ia jelaskan kepada Wira. Tapi kenapa, kenapa Bima malah susah sekali untuk di bujuk.


"Ayo Bim!" Masih menarik lengan Bima. Dan Bima menahan sekuat tenaganya agar tidak goyang saat di tarik.


"Nggak!"


"Ayo?"


"Nggak!"


"Dy, udah ayo? Kalau teman kamu tidak mau ya udah, mungkin dia lebih nyaman disini. Lagian aku kan ngajak kamu!"


Wira datang karena melihat Maudy memaksa Bima.


Wah, ngajak ribut.


"Nggak deh. Aku juga disini aja Wir. Kamu kalau mau kesana ya udah." Maudy menolaknya dengan bahasa yang lembut.


"Kenapa? Apa karena dia?" Wira menunjuk wajah Bima.

__ADS_1


"Jangan tunjuk wajah aku!" Bima menampik tangan Wira yang ada di hadapannya.


"Ha?" Wira tersenyum mengejek.


"Udah cukup. Wira kamu pergi aja lah." Maudy terpaksa mengusirnya, sudah terlihat Bima sangat emosi.


"Ya udah, aku ikut kalian aja disini ya? Soalnya aku juga sendiri nggak ada teman?" Ucapnya dan berdiri di samping Maudy.


Ini nih orang kayak gini cocoknya di jodohin aja sama Kiki, sama soalnya, apa-apa suka maksa. Hilang Agam, muncul lagi si suwir.


Bima melirik, melihat Wira yang masih saja terus mengajak Maudy berbicara, sementara dirinya hanya diam. Lama-kelamaan Wira ngelunjak menurut Bima, bahkan ia berani menyentuh tangan Maudy.


"Kita photo yuk?" Langsung mengeluarkan ponsel miliknya. Dan memaksa Maudy untuk mendekat. Sementara Bima, Bima malah melangkah pergi meninggalkan mereka.


Lebih baik aku pulang saja. Rasanya hatiku ingin meledak sekarang.


"Loh, Bima mana?" Melihat ke sekeliling.


"Pulang kali Dy." Maudy langsung berjalan meninggalkan Wira dan mencari Bima.


"Dy, tunggu. Kamu mau kemana?" Ucapnya dan berlari mengejar Maudy.


"Dy?" Menarik tangan Bima.


"Apa sih Wir." Menghempaskan lengan Wira.


"Kamu mau kemana?" Tanyanya.


"Aku mau cari Bima. Lagian kenapa sih emangnya?" Maudy sudah emosi.


"Ya ya udah kita cari." Wira melembutkan suaranya. Maudy mendengus lalu pergi berjalan mencari Bima.


Terlihat Bima sudah ada di pinggir jalan siap menunggu taxi.


"Bima?" Teriaknya dan berlari ke arah Bima.


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Maudy lembut.


Sayang? Batin Wira.


"Pulang!" Suaranya dingin.


"Kenapa?" Maudy bertanya lagi.


"Biarin aja Dy. Mungkin dia lelah." Wira ikut bersuara.


"Tuh, kamu denger kan, aku lelah." Menarik sudut bibirnya, dan tersenyum kecut.


"Aku ikut pulang." Maudy juga berdiri di samping Bima.


Bima hanya diam tidak menjawab.


"Kalian pacaran ya?" Wira bertanya.


"Kok kamu mau sih Dy sama dia? Nggak gantleman jadi laki-laki."


"Maksud kamu apa ngomong gitu?" Bima sudah tidak bisa menahan emosinya. Ia langsung maju di hadapan Wira.


"Kan emang bener. Kenapa? Harusnya kamu kan nggak usah pergi, ini main ti-" Bruk.. Satu tinju mendarat di bibir Wira. Itu langsung menghentikan ocehannya.


"Bimaaaa!!" Teriak Maudy. Padahal Wira yang berdarah, tapi ia malah berteriak memanggil Bima.


Wira tersenyum dan memegang sudut bibirnya.


"Anj***" Tanpa aba-aba Wira membalas pukulan Bima. Bima langsung jatuh tersungkur. Dan perkelahian pun terjadi. Semua pengunjung tampak berkerumun untuk melihat. Bima bangkit dan langsung memukuli Wira membab* buta. Maudy bahkan sampai tercengang, tidak menyangka Bima bisa melakukan ini. Wira sudah berada di bawah, tapi Bima tetap sama melakukan aksinya. Wajah Wira sudah tidak bisa dikenali, banyaknya luka dan darah yang mengalir dari hidungnya.


"Bima cukup!" Maudy menariknya dengan sekuat tenaga.


"Biar, biar mati sekalian!" Bima masih tetap akan menyerang Wira.


"Bima!" Menahan Bima. "Kamu mau di penjara?" Maudy membentaknya.


Ya ampun gimana ini?


Maudy mengambil ponsel Bima siap untuk menghubungi mas Rio.


Sementara Wira sudah di tolong oleh pengunjung lain yang sedang sama-sama berlibur disini. Entah itu asli warga negara disini atau dari tanah air juga Maudy tidak tau, yang terpenting Maudy sekarang memegang tangan Bima dengan kuat, agar Bima tidak lagi berkelahi, sambil menunggu mas nya datang setelah dihubungi.


"Akan aku tuntut kamu!" Teriak Wira dan tersenyum kecut.


"Lakukan!" Tantang Bima.


Wira tampak menelepon seseorang. Maudy yang sudah ketar-ketir takut kalau Wira akan nekat melakukannya.


"Bim, kalau dia beneran gimana? Orang tuanya ada disini Bim! Di negara ini!" Maudy mulai panik.


"Aku juga akan suru papa datang kesini." Tanpa berpikir terlebih dahulu Bima berbicara.


"Kamu apaan sih Bim! Kamu cari masalah besar tau nggak!" Maudy duduk dan berdiri, rasanya sangat tidak tenang sekarang.


Ah kenapa mas Rio lama sekali.


Orang tua Wira sudah datang bersama beberapa bodyguard.


"Mana orangnya?" Tanya orang tuanya dengan suara berat.


"Itu disana." Wira menunjuk ke arah Bima. Maudy langsung membulatkan matanya, dan saat ini ia siap jadi tameng buat Bima.


"Hajar dia gantian!" Ucap orang tua Wira kepada 3 orang bodyguard yang ia bawa.


"Mau apa kalian?" Maudy berdiri di hadapan Bima. Menjadi penghalang untuk mereka.


"Minggir!" Ucap salah satu dari mereka yang wajahnya paling seram. Semuanya juga seram sih.

__ADS_1


Tenang Maudy tenang.


"Pegang wanitanya!" Perintah salah satu dari mereka lagi, sepertinya yang seram itu adalah ketuanya.


Saat tangan Maudy akan di pegang, dengan cepat Maudy menendang tangan mereka.


"Wah, kuat juga." Ucapnya dan tersenyum mengejek.


Tapi itu mustahil jika Maudy dapat mengalahkan mereka yang berbadan besar. Bahkan dari jumlahnya saja Maudy sudah kalah.


Bima langsung di hajar habis-habisan. Maudy menjerit meminta Wira menyuruh mereka menghentikan semuanya. Maudy menangis melihat keadaan Bima.


"Cukup hentikan!" Suara yang sangat Maudy kenali.


Mas Rio?


"Cukup!" Menarik salah satu tangan yang akan menghajar Bima lagi.


Mas Rio langsung memeluk Bima ke pelukannya. Bima sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya.


"Bima." Ucap Maudy lirih dan bersamaan dengan jatuhnya air matanya.


Semua orang yang ada disini hanya bisa melihat dan menontonnya. Tidak satu pun di antara mereka yang berniat membantu, dan memang tidak berani untuk mendekat.


"Kita bawa kerumah sakit. Sayang telepon papa sekarang!" Ucap Rio dan ia juga meneteskan air matanya melihat keadaan adiknya. Adik yang menurutnya aneh, lemah dan sekarang Bima memang terlihat lemah di pelukannya.


"Mas?" Ucap Maudy lirih.


"Kamu ikut, kamu harus jelaskan gimana kejadiannya." Dan langsung membawa Bima ke dalam taxi.


"Keterlaluan kamu Wira. Aku nggak akan maafkan kamu jika terjadi sesuatu dengan Bima ku!!" Sebelum ikut pergi Maudy menghampiri Wira. Tidak peduli dengan tatapan orang tuanya yang seperti menyepelekan dirinya.


Bima, Bima aku mohon bangun lah. Buka matamu.


Mereka sudah ada di dalam taxi sekarang. Hanya ada Rio, dan Maudy. Sementara Siska menyusul menggunakan taxi yang lain.


***


"Gimana dok?" Setelah Bima di masukkan ke ruang ICU.


"Belum sadar. Lukanya sangat berat, tunggu beberapa jam lagi." Jawabnya dan langsung berlalu pergi.


Pandangan Rio beralih ke arah Maudy.


"Coba kamu ceritakan seperti apa kejadiannya."


Maudy menghapus air matanya yang terus saja menetes. Menarik nafas dan siap menceritakan kepada Rio.


Siska dan Rio mendengarkan tanpa menyela apa yang di jelaskan Maudy.


"Kamu nggak bohong? Memang Bima melakukan itu?" Rio memastikan sekali lagi, pasalnya itu mustahil baginya. Seorang Bima berani memukul orang lain duluan.


"Mas, tadi lihat kan lelaki yang duduk dengan wajah yang hampir tidak bisa dikenali? Itu ulah Bima mas. Aku juga nggak nyangka." Rio geleng-geleng, begitu juga dengan Siska.


Ternyata adikku mengerihkan kalau sudah marah.


"Maaf mas, semua gara-gara aku. Sampai Bima jadi begini." Ucap Maudy lirih.


"Nggak. Udah, sekarang kita tinggal nunggu Bima bangun." Rio menoleh ke arah istrinya.


"Sayang, bagaimana papa? Apa sudah ada jawaban?" Maudy membulatkan matanya. Ini lebih di takutkan Maudy sekarang.


"Papa langsung melakukan penerbangan." Ucapnya.


"Apa mama juga ikut?" Tanyanya lagi.


"Kalau itu nggak tau, kemungkinan mama pasti ikut." Mengelus bahu suaminya. "Tenang, Bima pasti bakal baik-baik aja." Mencoba menenangkan hati suaminya.


Ponsel Maudy berdering.


"Maaf sebentar mas, aku angkat telepon." Pamit dan berjalan menjauh.


"Ya Hallo om?"


"Kamu dimana sekarang mo?" Ternyata om Wisnu yang menelepon. Karena hari sudah sore Maudy tak kunjung pulang.


"Om, maaf aku di rumah sakit. Teman aku kecelakaan. Keadaannya parah dan belum sadarkan diri om." Maudy menjelaskan.


"Dimana? Kalau mau pulang, kamu telepon om. Biar om suru supir aja yang jemput, jangan naik taxi."


"Iya om." Maudy tidak mampu menolak. Dan segera memberi tau dimana rumah sakit Bima di rawat sekarang.


"Dy, sebaiknya kamu pulang aja sekarang. Soal Bima biar kami yang tunggu. Pasti om kau juga nyari kan?" Maudy membisu. Bukan itu yang dia inginkan. Bahkan kalau bisa Maudy ingin menunggu Bima sampai sadar, bahkan besok sekalipun akan ia lakukan, tanpa tidur!


"Mas, boleh nggak kalau aku juga tetap disini dulu? Nunggu sampai melihat Bima kembali sadar." Rio tampak menimang.


Bukan itu Dy, aku takut kalau papa ku lebih dulu sampai kesini dan melihat mu.


"Ya sudahlah kalau memang kamu maunya begitu, mas juga ngerti posisi kamu sekarang. Tapi-"


"Ya udah Dy, kakak juga setuju sama kamu." Siska tau hal apa yang akan di katakan suaminya. Tidak ingin sama sekali membuat posisi Maudy semakin menjadi ketakutan.


Hingga pukul 10 malam Maudy tak kunjung kembali. Ia juga sudah mengabari om nya, dan untungnya omnya juga mengerti posisinya saat ini. Sehingga memperbolehkan Maudy untuk tetap di rumah sakit. Hanya saja dengan syarat harus pulang walau jam berapa pun itu.


"Dok kenapa adik saya tak kunjung sadar? Sebenarnya bagaimana kondisinya? Jika harus di operasi maka lakukan saja, yang penting dia selamat." Rio mendatangi ruangan dokter yang menangani Bima. Rasanya ia juga tidak tega melihat keadaan Bima. Ia bahkan tidak memikirkan kalau sebenarnya tujuan datang ke negara ini adalah bulan madu.


"Rio, kamu nggak bisa jaga adikmu! Ini semua karena ulah kalian!" Suara yang menggelegar di dalam ruangan. Tanpa mengetuk terlebih dahulu Adi Nugroho datang bersama emosinya. Bahkan tak memperdulikan adanya dokter di ruangan ini.


Papa?


--__


Maaf ya belum bisa Doble up. Tunggu waktu senggang, hehe. Yang penting kencengin dulu ya likenya, dan vote juga hehe

__ADS_1


__ADS_2