
Menunggu waktu walau hanya 3 hari itu lama bagi seseorang yang sudah tidak sabar menanti. Dan dihari ini akhirnya ia dapat merasakannya. Duduk di dalam bus bersama kekasih tercintanya. Bahkan tak melepas genggaman tangan walau hanya sedetik. Lebay sih jika di lihat, tapi masalahnya ada saja akalnya, jaket ia ambil untuk menutupi genggamannya. Agar tidak terlihat siswa lain.
"Mama tadi bawakan bekal, khusus untuk kamu? Mau kan?"
"Mau, emang tante bawakan apa?" Menatap Bima dengan wajah berbinar. Siapa pun juga pasti bakal senang mendapat sesuatu dari calon mertua.
"Sebentar." Bima mengambil kotak bekal dari tas ranselnya. Dengan susah ia membuka hanya menggunakan satu tangan, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat tangan Maudy. Karena saat ini Bima duduk di samping jendela.
"Lepas dulu tangannya, kamu susah bukanya kalau begini Bima." Bicara setengah berbisik.
"Enggak!" Ketus merasa tidak senang Maudy mengatakan itu. Bisa apa sekarang? Maudy hanya menghela nafas dengan kesusahan Bima.
Sampai lima menit berkutat akhirnya bisa mengeluarkan kotak bekal yang ia bawa.
"Ini, coba kamu buka." Menyerahkan kepada Maudy.
"Wah, nasi goreng seafood." Tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ini. "Ini mama kamu sendiri yang masak?" Bima mengangguk dan tersenyum.
"Kata mama itu khusus untuk kamu. Bahkan lupa sama anaknya sendiri." Menggerutu di akhir kalimat.
"Tenang, kita makan ini sama-sama ya? Biar aku suapin?" Mana mungkin Bima menolak, bahkan rasanya ia juga sudah tidak sabar. Bukan soal rasa dari masakan mamanya, tapi suapan dari kekasihnya yang memang jarang sekali bisa Bima rasakan.
Suapan demi suapan mulai Maudy berikan, sesuap untuknya dan sesuap untuk Bima.
"Cie, enak bisa ciuman tanpa menyentuh." Setelah berhasil menelan nasi gorengnya.
"Maksudnya?" Maudy menghentikan aktivitas makannya.
"Hehe, iya kan kita berbagi sendok. Bukan kah itu juga berarti ciuman tidak secara langsung?" Maudy hanya mendengus. Lagian sudah terjadi juga, batinnya. kembali menyuapi Bima.
"Kalian ngapain suap-suapan?" Salah seorang guru menegur. Bima langsung tersedak, wajahnya memerah, bukan karena malu. Tapi ah, bagaimana rasanya tersedak. Terbatuk-batuk. Bahkan Maudy masih tak menghiraukan guru yang saat ini berdiri di samping dan mantap mereka. Maudy malah mengeluarkan air mineral untuk Bima. Kasihan bahkan Bima tidak bisa berbicara, karena rasa perih di tenggorokannya yang tembus sampai ke hidung.
"Maaf bu." Hanya itu, untuk memberi alasan juga mereka bingung. Saat ini seluruh siswa juga sudah ada yang berdiri, mungkin penasaran karena mendengar suara Bima yang terbatuk-batuk tanpa berhenti.
"Kalian pacaran ya?" Masih setia berdiri menghakimi muridnya.
"Memang mereka pacaran bu." Ketua kelas yang duduk di depan menjawab. Maudy tidak bisa berkutik, begitu juga Bima. Ia hanya mampu menunduk dan mengelus lembut tenggorokannya.
"Wah, enak dong bisa pacaran sama anak pak Adi." Ternyata tidak marah, malah membuat Maudy melambung tinggi dengan menyebut nama papanya Bima.
"Ah nggak bu. Kami hanya teman kok, soalnya kan ibu tau sendiri kalau Bima anaknya pemalu. Dan hanya biasa berteman sama saya." Tidak jujur, bohong sajalah, batinnya.
"Oh gitu ya." Pergi, langsung berjalan lagi melanjutkan mengechek seluruh siswa yang ikut pergi studi tour hari ini. Baik Bima atau pun Maudy sama-sama menarik nafas lega.
"Makan lagi ya?" Bisik Maudy, dan Bima langsung menggeleng. Hilang sudah selera makannya.
"Kamu aja yang makan, lagian kan mama buat memang untuk kamu." Dengan suara serak sekarang Bima berbicara.
"Masih sakit ya?" Rasa khawatir tidak dapat Maudy sembunyikan. Bima mengangguk lalu membuang pandangannya dengan senyum yang ia tutupi.
*Kenapa Bima tersenyum?
Kalau sakit begini Maudy perhatian, rasanya jadi pengen sakit setiap dekat dengannya. Ah ya tuhan, kenapa aku sangat mencintai wanita yang satu ini, andai saja umurku sudah cukup untuk menikah, pasti aku akan melamarnya sekarang*.
"Kenapa Bim?" Bertanya saat Bima menatap wajahnya tanpa berkedip.
"Ah enggak." Langsung tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Tidak lagi ada yang berbicara, mungkin semuanya sudah pada terlelap dalam perjalanan. Berangkat pagi sekali, mungkin membuat semua siswa harus bangun lebih awal dari yang biasanya, dan akhirnya mengantuk. Begitu juga dengan Maudy dan Bima. Kepala mereka sudah saling bertaut, entah pulas atau tidak. Yang terpenting saat ini, mereka bisa merasakan getaran di setiap detak jantung yang berdetak. Rasa senang juga tidak Maudy tutupi, bahkan sampai tujuan ia tidak keberatan jika Bima terus saja berada di sampingnya.
"Kenapa Ki?" Melihat Kiki yang cemberut.
"Bosan ah duduknya pisah sama kalian, nggak ada temen ngobrol. Nanti kita pulang duduk bertiga ya? Kan bisa?" Masih berbicara dengan kekesalannya hari ini.
Maudy menatap Bima, ia tau pasti Bima yang keberatan.
"Kamu duduk sama Edi aja, dia kan sendiri Ki." Malah tambah membuat Kiki semakin kesal.
"Bim." Peringatan dari Maudy.
"Iya-iya. Asal dia nggak ganggu kita." Ucapnya santai.
"Ganggu? Emangnya kalian mau ngapain?" Berdiri dengan berkacak pinggang.
"Anak-anak semuanya berkumpul dulu, ibu akan beri arahan. Dan membagi setiap kelompok untuk mengerjakan tugas disini." Semua siswa langsung berkumpul. Berbaris dengan rapinya.
"Semua udah pada sarapan kan?" Seluruhnya mengangguk. "Bagus. Untuk kelompok silahkan kalian pilih sendiri. Karena kalau ibu yang pilih pasti kalian akan keberatan kan? Nah, satu kelompok terdiri dari tiga atau empat orang. Silahkan keluarkan buku catatan, catat tugas kalian saat ini." Menunggu siswa mengeluarkan alat yang sudah ia beri tahukan. Ada suara kisak-kisuk membahas kelompoknya masing-masing. Tapi Bima tenang, ia tau kalau kelompoknya pasti hanya dengan Kiki dan Maudy. Setelah semua bersiap, guru langsung mengarahkan tugas apa saja yang akan mereka kerjakan.
"Tugas kalian yang pertama, di jalur yang sudah di tentukan disana." Menunjuk hutan yang ditumbuhi pepohonan besar. "Kalian silahkan cari tumbuhan mana yang akan kalian pilih untuk di analisis. Setiap tumbuhan sudah ada namanya, dalam bentuk bahasa Indonesia dan juga dari bahasa biologi nya. Jadi, karena pelajaran saat ini adalah tentang IPA. Kalian harus menganalisis berapa usia tumbuhan itu mampu bertahan. Jika kalian memilih tumbuhan yang berbunga, maka juga jelaskan bagaimana tumbuhan tersebut melakukan fotosintesis. Ini tugas kelompok, dan harus semua ikut mengerjakan."
Seluruh siswa dengan cepat mencatatnya.
"Bu?" Edi mengatakan tangannya.
"Kenapa Edi?" Bertanya dengan lembut.
"Saya belum ada kelompok bu." Seluruh siswa malah menertawakannya.
"Siapa yang kelompoknya masih berjumlah 3 orang?" Tidak ada yang menjawab, hening.
"Kenapa tidak ada yang menjawab?" Malah saling lirik.
"Maudy masih 3 orang itu bu." Ada saja yang merasa iri, entah ada dendam apa seorang siswi berani mengatakan itu.
"Benar Maudy?" Mengarahkan pandangannya melihat Maudy.
"Iya bu." Sambil mengangguk.
"Edi, kamu ikut bersama mereka. Sudah, semua tugas sekarang kerjakan. Saat jam makan siang kita kembali berkumpul disini." Barisan langsung bubar. Bukan mengerjakan tugas yang sudah di berikan oleh guru, tapi dengan antusias mengambil photo Selfi.
"Dy, kita photo yuk?" Disini mereka sekarang, di antara pepohonan besar yang ada di hutan lindung, tempat mereka akan mengerjakan tugas. Mereka juga di larang membawa makanan dalam bentuk apapun, karena ribuan monyet akan menyerbu mereka nantinya.
"Sama aku ya?" Malah Bima yang lebih dulu berdiri di samping Maudy. "Kita kan belum punya photo berdiri, semuanya juga hanya Selfi." Berbisik di telinga Maudy. Kiki sudah siap dengan kameranya, bukan kamera ponsel, tapi kamera khusus untuk photo.
Sementara Edi yang diam berdiri, dengan membawa semua peralatan milik mereka. Ia juga tidak protes, mana mungkin ia berani.
"Sudah Bim. Waktunya kita fokus ngerjain tugas, bukan ini tujuan kita kesini." Tegas Maudy.
"Siapa bilang? Niat aku kesini juga buat kamu, biar bisa sama kamu." Memainkan kedua aslinya. Maudy tidak menghiraukan lagi apa yang di katakan Bima. Karena saat ini yang terpenting baginya hanya tugas, harus selesai. Ia tidak mau nilainya menurun karena sibuk pacaran, baginya masa depan yang utama.
Maudy mengatur setiap tugas untuk kelompoknya. Ia memilih tumbuhan seperti kaktus, karena itu unik untuknya. Tumbuhan yang mampu bertahan hidup tanpa air, meski di gurun sekalipun.
"Kaktus memiliki daun yang bisa berubah menjadi duri, hal itu akan membantu penguapan pada kaktus sehingga dapat bertahan hidup dengan waktu yang lama walau tanpa air." Menjelaskan pada kelompoknya, dan yang bertugas mencatat Edi.
"Kok kamu bisa tau Dy? Kamu tanya Mbah Google ya?" Ucap Kiki.
__ADS_1
"Kita udah belajar itu dari SMP kali Ki, apa dulu nggak pernah belajar?" Jawabnya santai dan masih terus menganalisis tumbuhan yang ia pilih.
"Bukan sayang, kaktus itu Edi, makannya tidak ada yang mau dekat-dekat." Bisik Bima. Maudy menahan tawanya mendengar ucapan jahil dari Bima.
"Udah Dy, udah aku tulis. Ada lagi?" Ucap Edi sambil membenarkan kaca mata yang ia pakai. Mungkin turun karena hidungnya yang kurang mancung.
Sementara Kiki menggunakan kameranya untuk mengambil gambar tumbuhan kaktus yang berada disini. Tidak di tanam dalam pot, melainkan langsung ke tanah, entah lah mungkin disini juga tidak selalu di lakukan perawatan setiap saat.
Saat jam makan siang semua kembali berkumpul, dan kelompok Maudy adalah kelompok pertama yang berhasil mengumpulkan tugasnya. Guru memberikan waktu untuk mereka memakan bekal yang sudah di bawa. Dengan waktu setengah jam, dan yang sudah selesai mengerjakan tugas di perbolehkan untuk keliling menikmati udara sejuknya pegunungan. Sementara yang belum selesai harus menyelesaikan sebelum waktunya pulang ke rumah.
"Kita kesana ya?" Menunjuk taman luas yang banyak di hiasi dengan patung-patung.
"Sebentar lagi Bima, kita baru selesai makan." Kiki memberi saran.
"Edi kamu mau ikut?" Maudy bertanya dengan Edi.
Semoga dia nggak mau! Bima.
"Jangan terlalu lembut bicara sama dia." Kembali berbisik.
Ya ampun Bim, Edi loh ini. Kamu cemburu juga ya?
"Sayang." Berbisik lagi. "Kamu nggak dengerin aku ngomong ya?"
"Dengar kok Bim dengar." Mengeluarkan ponsel miliknya yang sedari tadi belum ia sentuh.
"Kita jalan-jalan berdua aja ya? Biar Kiki sama Edi?" Usul Bima lagi.
Maudy langsung membulatkan matanya.
"Iya-iya aku ngerti Bim. Pasti kalian berbisik pengen berdua aja kan? Tanpa harus aku sama Edi ikut!" Maudy merasa sangat tidak enak, karena semua ini gara-gara Bima. Kiki langsung berdiri dan meninggalkan mereka.
Dengan reflek Bima juga ikut berdiri dan menarik lengan Maudy. Sementara Edi, ia hanya bisa melihat kepergian kelompoknya. Hanya, kelompok bukan temannya. Kasian sekali Edi.
***
"Bagus banget Bim, aku suka." Membentangkan tangannya menghirup udara segar. Mereka berdiri di atas jembatan gantung khusus untuk pengunjung wisata di sini. Di bawah terdapat jurang yang berisi genangan air jernih yang hanya sedalam mata kaki. Di ujung jembatan terlihat air terjun yang terdapat di lereng gunung. Untungnya saat ini sepi, memang begitu kalau Bima yang mencari tempat, selalu jauh dari keramaian.
"Aku mau lempar koin ke bawah. Katanya kalau kita lempar koin terus buat permintaan bakal di kabulkan. Sambil genggam tangan kamu, sini."
"Ada-ada aja, lagian kamu bisa tau dari mana sih? Apa sebelumnya kamu pernah datang kesini Bim?"
"Sayang, itu." Membalikan badan Maudy secara lembut dan menunjuk sebuah papan yang bertuliskan seperti yang Bima katakan tadi. Sebenarnya itu bisa di katakan musyrik. Tapi, semua pengunjung yang datang tampak antusias dan mempercayai hal ini. Mungkin karena memang sudah sering terbukti. Dan, orang-orang juga memiliki keyakinannya masing-masing.
Bima memejamkan matanya dengan menggenggam tangan Maudy, setelah itu Bima langsung melempar koin yang sudah di sediakan disana. Menukar dengan selembar kertas uang tentunya.
"Kamu minta apa emangnya?" Setelah Bima kembali membuka mata.
Bima tersenyum. Dan mengalihkan pandangannya menatap ke depan.
"Aku minta, aku ingin kembali ke tempat ini suatu saat nanti, dengan pasangan yang sama. Aku ingin kembali lagi kesini, bersama kamu. Meski itu butuh waktu bertahun-tahun lamanya, tapi aku yakin, kita bakal kembali lagi kesini." Ini yang selalu membuat Maudy ingin dekat dengan Bima. Tidak ada yang tau kalau Bima sebenarnya bisa dewasa dan romantis. Meski permintaan nya benar, tapi tidak masuk akal menurut Maudy dengan hanya melempar koin.
Entah lah Bim. Aku juga berharap seperti kamu.
"Aku boleh peluk kamu nggak?" Maudy mengangguk.
Kehangatan mereka rasakan di udara dingin, di atas jembatan panjang. Yang menjadi saksi di mana kisah cinta mereka saat ini.
__ADS_1
--__