
Sesuai perjanjian ketika mereka sudah sah menjadi suami istri, begitu juga persetujuan dua keluarga. Dan hari ini acara resepsi pernikahan akan di laksanakan, Maudy tidak mau acara di selenggarakan di gedung, tapi dia meminta acara resepsi di laksanakan dirumah baru mereka, dengan alasan tidak repot-repot untuk kembali ke rumah ketika sudah lelah. Benar, dan dua belah pihak juga menyetujui, apa lagi saat ini Maudy tengah mengandung.
"Hallo, kamu sudah sampai kan di bandara? Biar kakak suruh orang menjemput."
"Iya kak, aku menunggu."
Ibu, dia adalah orang yang paling repot disini. Bahkan sejak pukul 05 pagi, ibu sudah stay di rumah baru anaknya. Bukan soal memasak, karena semua sudah di atur oleh besannya, tetapi soal Maudy yang ngidam aneh-aneh. Bima sampai kuwalahan menghadapi istrinya, mood yang kadang berubah-ubah. Seperti pagi ini, meminta hal yang membuat semua orang memegang dada hampir jantungan.
"Kalau nggak acara resepsi di batalkan aja bu. Aku kayaknya malas." Hah? Semua orang tercengang, terutama Bima. Undangan untuk seluruhnya sudah di bagi, baik kolega bisnis ataupun kerabat dan juga karyawan kantor. Belum lagi seluruh keluarga yang di beri kabar, dan om nya juga sudah sampai di bandara pagi ini, sudah dalam perjalanan menuju kesini.
"Dy, apa itu kemauan anakmu?" Maudy mengangguk.
"Sepertinya dia nggak suka keramaian bu." Deg. Bima langsung membulatkan mata.
Jangan nak, jangan jadi seperti papa!!
"Sayang, sayang." Mendekat. "Kalau kamu memang nggak mau, kamu bisa di dalam aja nanti. Nggak bisa sayang di batalkan, undangan sudah di sebar. Dan dekor juga sudah terpasang rapi di halaman rumah."
"Iya Dy. Ajak bicara anak kamu di dalam perut, untuk memaklumi hal ini." Maudy kembali masuk ke kamar tanpa menjawab.
"Gimana bu?" Bima pasrah.
"Sudah, semua harus berjalan Bim. Kamu juga nggak mau malu kan?" Bima mengangguk.
***
Siang hari, seluruh keluarga besar sudah berkumpul, begitu juga para tamu yang sudah tampak hadir walau hanya beberapa. Tinggal menunggu pengantin yang belum nampak duduk di singgah sana megah mereka. Seluruhnya berbalut kain putih, dengan beberapa bunga hidup yang menjadi kesan cantik di pandang oleh mata. Dan kang photo juga sudah standby disana.
Ibu memakai kebaya kompak dengan mama Lisa, dan ayah, papa Adi, juga Rio memakai batik cokelat yang berkesan wibawa. Seluruh keluarga sudah duduk rapi menyambut tamu, hanya saja ibu khawatir dengan anaknya. Yang belum juga keluar dari dalam.
"Mbak aku masuk sebentar ya, mau lihat Maudy sudah siap belum make upnya."
"Iya mbak, silahkan." Ibu Irma masuk ke dalam, terlihat Bima tengah berbincang dengan adiknya Wisnu, membahas masalah resto mungkin.
"Mana Maudy Bim?" Bima menoleh.
"Sebentar lagi bu, tadi udah selesai, cuma Maudy komplain soal penampilan, jadi MUA mengubahnya lagi." Dia juga kelihatan sudah lelah sebelum acara di mulai.
"Sabar ya. Ya sudah ibu keluar lagi, tamu udah banyak yang datang." Bima mengangguk.
"Wisnu, kamu kenapa masih disini? Ayo keluar." Menarik lengan adiknya dan meninggalkan Bima sendiri.
Ya ampun, kenapa lama sekali.
Melihat ke arah jam di tangannya, dan masih berdiri di depan pintu kamarnya, kamar baru dan rumah baru.
Bima sudah rapi dengan stelan jas berwarna putih, dan ada pita kecil di bagian tengah jas, jangan di tanya seperti apa tampannya Bima sekarang. Sudah bisa di bandingkan dengan Oppa Korea.
Menit ke lima setelah Bima di tinggal sendiri, Maudy sudah keluar dengan di iringi beberapa MUA yang memegang Selayar panjang berwarna putih, pilihan mereka sewaktu fitting baju pengantin.
"Bim, aku cantik nggak?"
"Sekali sayang." Memegang lengan Maudy dan siap berjalan keluar. MUA yang berada di belakang mereka ikut tersenyum, puas dengan hasil make up dari tangan mereka. Meski Maudy beberapa kali komplain, tetapi mereka bisa memaklumi karena Bima mengatakan kalau istrinya hamil.
Tatapan tanpa kedip mengiringi perjalanan mereka menuju singgah sana. Bahkan sampai ada yang mengambil photo diam-diam dan menjadikan story' dia akun sosial media mereka dengan caption 'sepasang putri dan pangeran' sebagian tamu yang hadir yang saat ini juga mengandung mengelus perutnya sambil berharap kecantikan dan ketampanan dari Bima dan Maudy bisa menurun ke anak mereka.
Seorang MC sudah mulai bersuara ketika mereka sudah berhasil duduk disana. Acara segera di mulai, tak lupa doa yang akan di panjatkan untuk kedua mempelai. Lalu acara selanjutnya berphoto dengan keluarga besar, barulah setelah itu akan ada dua artis papan atas yang sengaja di undang oleh keluarga. Bukan, ini hanya ide papa Adi yang mau acaranya semegah mungkin dan mendapat pujian dari tamu dan keluarga yang hadir disini.
"Bim, aku pengen nyanyi sama kamu." Duh, Bima sudah ketar-ketir sekarang, berphoto saja sudah cukup baginya dengan senyum yang tak pernah lepas ketika kamera sudah mengarah ke arah mereka.
"Nanti sayang tunggu semua tamu sudah pulang?" Ah ya ampun Maudy langsung berdecak kesal.
"Mbak makan dulu?" Tisha datang dengan membawa dua piring, satu untuk Bima dan satu untuk Maudy.
"Makasih dek." Menerima dengan tangannya.
"Mbak, Bian mau minta photo."
"Nanti ya setelah makan." Tisha mengangguk lalu turun.
Baru saja satu suap masuk kedalam mulut, sudah ada tamu yang datang untuk memberi ucapan selamat kepada mereka. Maudy meletakan piring dan berdiri, tak lupa senyum.
"Selamat ya pak, semoga langgeng sampe maut memisahkan." Iya-iya terima kasih, jawaban yang sama ketika para tamu undangan mengucapkan segala doa baik untuk mereka.
Baik Bima ataupun Maudy cepat-cepat mengabiskan makanan mereka, karena suasana semakin padat, dan tamu datang silih berganti. Mana yang harus bersalaman mengucapkan selamat dan mana yang meminta photo bersama mereka. Pokonya hari ini mereka mendapat ribuan selamat dari orang-orang.
__ADS_1
"Bim, kayaknya ini anak kita bakal seperti kamu deh."
"Kenapa sayang?"
"Aku kayak risih gitu ada di keramaian." Bima menelan ludah, jangan sampai sayang, begitu batinnya berbicara.
Mata Maudy menangkap ke arah meja prasmanan, dimana Kiki dan Agam yang menjaganya. Terlihat Kiki juga sibuk, wajah lelah jelas terlihat.
"Bim, lihat Kiki. Kasian hehe." Eh dia malah tertawa.
"Semoga dia cepat nyusul ya Bim." Mengangguk saja, apapun yang di katakan istrinya dia setuju saja.
"Bim, itu kak Sun." Tersenyum. "Cantik sekali dia hari ini Bim, Ilham juga-"
"Lebih cantik kamu dan hanya aku yang tampan." Ah tidak kali ini Bima tidak setuju. Maudy langsung mendengus.
Maudy kembali menagih janji, yang katanya selesai berphoto dengan keluarga akan menyanyi.
"Ayo Bim?"
"Sayang, bukannya kata kamu anak kita nggak suka keramaian. Kenapa sekarang berubah lagi." Dia mengeluh, ini sudah lelah. Hari juga sudah sore, tak terbayang jika harus sampai malam berada disini, duduk di pandang oleh orang-orang.
"Tapi kali ini aku beneran pengen Bim." Mau apalagi? Menolak juga tak mungkin, malah yang ada Maudy ngambek dan ngajak masuk. Dan terakhir, Bima pasrah, berdiri di panggung sebelah, memegang mikrofon walau dia sedikit pun tak membuka suara. Hanya Maudy yang tampak antusias, berlenggok sesuka hati, tak menghiraukan Selayar yang sudah menyapu di atas panggung.
Setelahnya, merasa puas dengan keinginannya mereka kembali duduk. Dengan wajah yang mulai kusut, tapi tidak sama sekali mengurangi pesona mereka.
"Hei, selamat ya." Ilham sudah mengulurkan tangan ke arah Maudy, tapi malah Bima yang menyambutnya.
"Pak selamat ya, Maudy selamat." Nah kali ini dia membiarkan jika Sundari menyentuh tangan istrinya.
"Kalian kapan nyusul?" Pernyataan yang di lempar untuk kedua pasangan ini.
"Bulan depan." Dengan bangganya Ilham menjawab lalu menatap ke arah Bima. Bima mengangguk pelan dan tersenyum penuh arti.
"Jangan lupa hadiah kami." Maudy menoleh ke arah Bima.
"Satu Minggu sebelum itu terjadi sudah aku siapkan." Jawab Bima mantap. Dua wanita yang belum mengerti hanya tersenyum, padahal hati juga masih bertanya. Dan ketika Sundari bertanya waktu itu Bima hanya menjawab 'sudah takdir kalian' dan jawaban yang sama juga di berikan kepada istrinya.
"Wah, selamat ya kak." Maudy bahkan memeluknya. "Selamat." Lagi, dia sangat senang sepertinya.
***
Tengah malam, ya mereka sudah kembali ke dalam kamar. Maudy juga sudah berganti pakaian tidur, dan Bima dia juga sudah bertelanjang dada. Duduk di pinggir ranjang, menatap istrinya yang tengah membersihkan make up.
"Kapan itu kadonya di buka Bim?" Sambil mengusap wajahnya dengan kapas yang sudah di beri air.
"Terserah sayang." Sesekali menguap. Lelah, benar-benar lelah.
"Ya sudah, nggak usah di buka aja." Lah? Terserah kamu sayang, begitu lagi Bima menjawab.
Beberapa menit, setelah selesai Maudy juga ikut naik ke atas tempat tidur. Melihat Bima sudah memeluk guling, yang ia kira hanya rebahan, tapi tidak. Bima bahkan sudah mengeluarkan suara dengkuran halus.
"Bim, ah? Kenapa aku di tinggal tidur." Menggerutu, dan masih duduk.
"Bim?" Menggoyangkan lengan Bima. "Hiks.. Bim!" Tidak juga ada jawaban. Maudy turun dan melangkah keluar kamar.
Mencari keberadaan ibunya yang juga menginap di rumah barunya.
"Bu?" Samar-samar Maudy mendengar suara tertawa, terus mencari di setiap ruang. Dan yang terakhir, Maudy melihat ke arah pintu yang masih terbuka.
"Bu?" Melihat ternyata keluarga masih berada di luar, berbincang dengan hangat, baik Tisha dan Bian juga ada disana.
"Loh Dy, kenapa belum tidur? Katanya tadi ngantuk?" Maudy berjalan mendekat, menarik satu kursi dan duduk di dekat ibunya.
"Bima mana?"
"Dia tidur." Mereka saling pandang setelah melihat raut wajah Maudy.
"Kenapa ibu masih di luar?"
"Kan kamu tau sendiri Dy, kalah keluarga kita memang selalu punya kebiasaan begini sehabis melakukan hajatan." Ayah menjawab dengan santai.
"Beda dengan keluarga Bima, kalau mereka kan selalu buat acara di gedung jadi tidak tau yang begini." Diam mendengarkan.
Sampai Maudy tak mampu lagi menahan kantuknya, dia kembali berjalan masuk kerumah dan meninggalkan keluarga yang masih tetap on duduk di luar.
__ADS_1
Ih Bima beneran nggak ngerasa kalau aku nggak ada di sampingnya ya!!
Mengurungkan niatnya untuk kembali masuk ke dalam kamar. Lalu melangkah ke kamar satunya yang berada di lantai bawah. Seharusnya ibu dan ayahnya yang tidur disini, tapi Maudy masuk saja dan merebahkan tubuhnya disana. Toh ayah dan ibu belum ada disini, pikirnya.
***
Pagi menjelang, Bima bangun dan mengira kalau istrinya sudah lebih dulu bangun.
"Sayang." Mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada suara apapun di dalam.
"Sayang." Tetap tidak ada jawaban. Bima kembali naik ke atas tempat tidur. Gelisah, sampai 15 menit berlalu Maudy juga tidak ada. Dengan langkah gontai ia keluar kamar, melihat semua sudah rapi kembali.
"Bu, Maudy dimana? Kok nggak ada di kamar?" Bertanya kepada ibu Irma yang tengah berberes untuk pulang.
"Maudy masih tidur Bim."
"Tidur? Tapi dia nggak ada di kamar bu." Bingung, tidur dimana? Sudah begitu yang ada di pikirannya.
"Di kamar itu." Menunjuk ruangan yang pintunya tidak di tutup. Bima langsung melangkah kesana, masuk dan melihat benar-benar ada istrinya di dalam. Tidur dengan memeluk guling. Bima menutup pintu dan menguncinya. Perlahan naik ke atas dan menggeser guling yang di peluk Maudy, menggantikan posisi guling.
Berhasil!
"Eum." Bima langsung memejamkan mata begitu Maudy menggeliat.
"Sayang." Berpura-pura lagi, menguap dan mengucek mata.
"Bima?" Kaget.
"Kenapa sayang?" Memejamkan mata.
"Ngapain kamu disini? Bukannya kamu tidur di atas?"
"Siapa bilang? Aku juga tidur disini sama kamu." Maudy menggeleng.
"Kamu ninggalin aku Bim, kamu tidur duluan!" Maudy bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Nyatanya aku disini kan?"
"Sayang, aku tidur disini sama kamu. Karena tadi malam aku cari kamu nggak ada."
"Beneran?" Bima mengangguk dan memberikan morning kiss kepada Maudy.
Akhirnya, dia percaya.
"Dy, Maudy?" Ibu berteriak dan mengetuk pintu.
"Iya bu, sebentar." Maudy mengajak Bima keluar.
Untung pintu aku tutup, kalau nggak mertua bisa melihat aku mencium tadi.
"Dy, ibu mau pulang. Om Wisnu sama tante mu juga ikut pulang kerumah ibu. Tisha sama Bian yang tinggal disini, mereka bakal bantu kamu nanti." Maudy mengangguk.
"Bim, ibu pulang ya?" Bima menyalim dengan sopan. "Bim, lain kali jangan sampai Maudy tidur sendiri ya, apalagi dia sedang mengandung." Bima mengangguk.
"Tapi kan Bima juga temani aku tidur disini bu?" Ibu Irma menatap Bima. Bima tersenyum kikuk.
"Ah ya sudah ibu pulang ya? Kalian baik-baik, yang akur." Serentak mengangguk.
"Bim, kenapa ibu ngomong gitu?" Masih berusaha mencari kebenaran, Maudy tipe istri yang sulit di bohongi.
"Ya mungkin di kira ibu aku nggak ada di dalam sayang." Sambil berjalan kembali ke kamar mereka, menaiki anak tangga sambil bergandengan.
"Kita mandi bareng ya?" Maudy diam. "Mau kan sayang?" Masih diam. Dan saat sampai di depan pintu kamar, Maudy berhenti.
"Kenapa sayang? Kamu nggak mau?" Diam, malah menatap Bima dengan tajam.
"Bim, antar aku ke ruangan CCTV." Deg.
Habislah aku!
--___
Hai, hai..
Sebenarnya mereka sudah bahagia, tetapi aku mau minta saran kalian para pembaca setia Bima dan Maudy. Apa kalian setuju jika novel terus berlanjut di kehidupan Bima setelah memiliki anak?? Karena saat ini mereka sudah bahagia, tetapi pasti akan tetap ada konflik ketika mereka sama-sama sibuk menjalankan usahanya. Gimana? Komen ya hehe makasih ^_^
__ADS_1