
Dadanya terasa sesak, ingin marah sekarang dan membentak Revan yang sepertinya memang sengaja mengganggu Kiki.
"Angkat aja nggak apa kok, siapa tau penting." Kiki mengangguk saja.
Mana orang yang di dalam mobil bersamanya jarang sekali bicara, di tanya mau kemana jawabannya hanya jalan-jalan. Untung papanya selalu bilang kalau Niko anak yang baik. Kalau tidak pasti Kiki sudah berontak sedari tadi karena tak tau kemana arah tujuannya saat ini.
Kiki memang tidak menjawab telepon dari Revan, tapi dia sendiri sudah bersiap dan melakukan ancang-ancang jika Niko sampai berbuat sesuatu yang nekat dengannya.
"Kamu beneran mau nikah sama aku?" Kiki menoleh ke arahnya. Pertanyaan macam apa itu, hei aku belum juga mengatakan hal itu sedari tadi.
"Apa yang kamu lihat dari aku?" Lagi di bertanya, semula pertanyaan awal belum juga di jawab oleh Kiki.
"Apa yang aku lihat dari kamu, sama seperti kamu ngelihat aku." Niko terdiam dan menoleh.
"Maksudnya?" Kiki tersenyum tipis.
"Kamu salah bertanya, kalau saat ini kamu tanya seperti itu aku berbohong jika lihat dari kebaikanmu. Sementara kita saja belum saling mengenal, dan belum juga ada satu jam kita berkenalan. Dari mana asalnya aku bisa bilang kamu baik?" Menoleh lagi ke arah Niko dan tersenyum.
"Begitu juga dengan kamu kan? Kita manusia jangan munafik, kalau sebenarnya pertama kali yang kita lihat itu fisik. Kamu juga gitu kan?"
"Kamu jenius!" Ucap Niko dan tersenyum tipis tanpa menoleh, tapi Kiki bisa tau itu karena meliriknya.
Dan yang membuat Kiki bingung sekarang adalah, ini sudah berkali-kali memutari jalan yang sama. Bila dihitung dengan menit, maka totalnya sudah 30 menit. Dan selama itu hanya ada obrolan singkat mereka barusan. Kiki lebih merasa seperti ditangkap polisi lalu diintrogasi di dalam mobil, lebih tepat seperti itu.
"Niko, kita balik aja ya? Sepertinya orang tua kita juga belum pulang kan, jadi kamu nggak perlu repot-repot buat antar aku pulang kerumah."
"Memangnya kenapa?" Ha? Maksudnya gimana sih, Kiki menggerutu dalam hati.
"Kamu ngantuk? Besok kerja lagi ya?" Kiki mengangguk saja, malas menjawab percuma juga pasti akan di tanya kenapa.
"Aku langsung antar kamu pulang aja ya? Ya walau orang tua kita masih disana." Heh, Kiki menyandarkan tubuhnya.
"Iya." Hanya itu, lalu kesempatan untuknya membuka ponselnya.
Banyak sekali pesan masuk dari Revan, mulai bertanya Kiki ada dimana. Bagaimana keadaannya sekarang, sepertinya Revan merasa cemas saat ini karena telepon dan pesan yang di kirim tak kunjung mendapat jawaban. Kiki tersenyum tipis melihat kepanikan Revan seperti ini, tapi lagi-lagi dia menggeleng pelan. Mengingat kalau Revan sudah memiliki pasangan juga.
Dan pesan terkahir yang di kirim Revan
"Ki, kamu baik-baik aja kan? Kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku ya?"
Tidak, sepertinya itu bukan pesan terakhir. Karena Revan mengirim pesan baru, mungkin karena tau Kiki sudah membuka dan membacanya. Yang berarti Revan menebak di seberang sana jika saat ini Kiki sedang memegang ponsel.
"Ki, kalau sudah pulang kerumah kamu bilang ya? Aku mau datang kerumah kamu." Deg. Kiki langsung menggenggam erat ponselnya.
"Maaf Van, mau ngapain? Aku juga pasti sampai malam pulangnya."
Ah Kiki terpaksa berbohong saat ini.
"Ki? Siapa pacar kamu?" Hah? Kiki reflek langsung menatap ke arah Niko. "Kita udah sampai!" Lagi, Kiki kaget dan menoleh ke arah samping. Benar, ini gerbang rumahnya.
"Kok kamu-"
"Kan papa aku udah jelasin alamatnya. Lagian juga sepertinya kamu sedang sibuk, kalau aku nanya juga kamu nggak bakal kedengaran."
"Maaf ya Niko. Tadi teman aku soalnya-"
"Iya aku mengerti. Apa aku boleh mampir ke rumah kamu?" Kiki langsung mengangguk. Tidak mungkin juga menolak.
"Sebentar ya Revan." Kiki turun terlebih dahulu, memencat bel yang ada di gerbang supaya ART rumahnya keluarga dan membukakan pintu gerbang.
"Non?" Berjalan dengan tergesa-gesa.
"Itu mobil siapa non? Bukan mobil papa kan?" Kiki menggeleng.
"Udah cepetan buka deh bi. Bibi pasti juga penasaran kan?" Kiki tersenyum jahil.
"Laki-laki yang di ceritakan nyonya tadi pagi ya?" Sambil membukakan pintu gerbang. Mobil Niko sudah memasuki halaman rumah Kiki dan berhenti tak jauh dari teras rumahnya.
"Mama cerita juga bi?" Mereka berdua berjalan menuju rumah. Bibi selaku ART mengangguk, lalu pandangannya fokus menatap ke arah mobil yang kini sudah terbuka, menunggu seperti apa wajah dari laki-laki yang di jodohkan dengan anak majikannya.
"Wih, tampan sekali non." Kiki mencubit lengan bi Asih.
"Kalau sama Revan lebih tampan mana?" Berbisik lalu tertawa dan meninggalkan bi Asih yang masih berpikir.
"Niko? Ayo masuk?" Kiki segera menawarkan.
"Kita duduk disini aja ya?" Menunjuk sofa empuk yang ada di teras rumah. "Nggak enak kalau masuk, sepertinya papa dan mama kamu juga belum pulang."
Ya ampun, beneran dia nggak mau masuk karena nggak ada orang tua aku. Sudah dua laki-laki yang aku temui begini, Revan dan Niko.
"Oh iya boleh."
"Maaf den yang ganteng, mau minum apa ya?" Ini lagi benar-benar bi Asih ganjen banget deh ah, dia masih menunggu di depan pintu rumah ternyata.
"Apa aja deh bi." Jawab Niko.
Memang Niko ini susah senyum ya?
Kiki selalu melihatnya ketik berbicara, mau dengannya ataupun dengan orang lain.
"Apa aja, berarti kalau bibi kasih air putih aja mau dong ya?"
"Bibi?" Kiki memperingati, barulah bi Asih dan terdengar beliau tertawa di dalam rumah. Kalau tak mengusik sepertinya tak senang, sewaktu dengan Revan juga begitu. Tapi bedanya Revan selalu menanggapi dan bahkan bisa sampai lama juga kalau sudah bercanda dengan bi Asih. Berbeda dengan yang satu ini, ah mungkin karena belum mengenal, batin Kiki.
Lama mereka duduk diam dalam keheningan, Kiki juga tidak tau harus bertanya apa. Hingga bi Asih datang membawakan minuman kaleng yang biasa di sediakan mamanya dirumah. Tak lupa juga gelas kaca yang di bawakan bi Asih.
"Silahkan den ganteng."
"Makasih bi." Niko mengangguk, dan kali ini dia bisa tersenyum.
"Kamu pernah pacaran?" Kiki mengangguk. "Apa saat ini kamu punya pacar?" Jelas Kiki langsung menggeleng.
"Sama." Menghela nafas.
"Apa kamu pernah pacaran?" Gantian kini Kiki yang bertanya.
"Pernah, tapi di tinggal menikah." Deg.
"Kenapa sama?" Lirihnya Kiki menjawab.
"Benarkah?" Kiki mengangguk lagi.
__ADS_1
Kiki meraih minuman kaleng dan membukanya, tapi Niko langsung merebut dari tangannya tanpa berkata dan membukakan lalu menyerahkannya lagi kepada Kiki. Dalam hati masih berdebar, kenapa setiap hal kecil yang di lakukan lelaki tampan selalu memiliki pesona tersendiri?
Kiki langsung menuangkan minuman ke dalam gelas dan menyodorkan kepada Niko.
"Minumlah, kamu belum ada minum kan? Pasti haus." Niko tertawa kecil, hah? Kiki meleleh melihatnya tertawa. Gigi Cakil ada yang ada di atas bagian kanan jelas terlihat sekarang.
"Makasih." Ucapnya dan langsung menjenguk hingga habis setengahnya.
"Aku boleh tanya nggak?"
"Boleh." Kiki menunggu.
"Kenapa bisa kamu di tinggal menikah dengan mantan kamu?"
"Ya bisa lah."
"Alasannya?" Lama Kiki menjawab. Bingung, apa harus mengatakan hal ini dengan Niko? Takut kalau dia merasa bahwa dirinya meminta belas kasihan kepada Niko.
"Memangnya penting ya?"
"Penting lah, kamu kan calon istri aku." Deg. Benar-benar bisa jantungan sekarang.
"Ah iya." Gugup, lupa bagaimana dan apa sebab Agam meninggalkannya. Orangnya blank seketika. Ya ampun, oksigen Kiki butuh oksigen sekarang. Udara luar ini sepertinya tidak cukup.
"Hem." Berdehem untuk mengatur nafasnya kembali. "Dia ninggalin aku karena sudah menghamili wanita lain." Tanpa memberi jeda di kalimatnya.
Niko langsung menoleh ke arahnya. Kiki tau, setiap orang yang mendengar hal ini pasti berpikir dirinya juga sudah tidak suci karena memiliki mantan pacar baji Ngan seperti Agam.
Terkutuk kau Agam!
"Kenapa bisa?" Nah kan, harus menjelaskan panjang lebar lagi nih. "Kenapa bisa kasusnya sama seperti aku?"
"Benarkah? Tapi kan tidak mungkin kalau itu orang yang sama. Memangnya pacar kamu orang luar negeri apa?" Kiki tertawa kecil. Dan Niko menjawab dengan anggukan.
"Serius?" Niko mengangguk lagi. "Kok bisa ya?" Ucap Kiki lirih, dan berpikir ini hanya kejadian yang memang kebetulan saja. Tidak, tidak mungkin Niko dan dia bisa sama-sama terikat dalam hubungan gelap seorang mantan. Dan berjumpa dengan cara seperti ini, putus asa dengan masa lalu, dan memilih jalan perjodohan, apa lagi sampai dengan orang yang sama. Pasangan yang sama yang menyakiti hati mereka.
"Dulu aku kuliah di luar negeri, dan aku balik ke tanah air setelah lulus dengan jurusan bisnis manajemen. Aku sudah pacaran dengan dia, lalu aku sering melakukan penerbangan keluar negeri, satu bulan sekali untuk menemuinya. Dan terkahir aku kesana, aku sudah mendapatkan kabar kalau wanita itu sudah menikah." Wajah Niko berubah sendu. "Aku juga menyesal tak mendengarkan apa kata papa, yang dari awal sudah menentang hubungan ku dengannya. Karena papa tidak suka wanita luar negeri, yang sudah jelas pergaulannya sangat bebas dan berbeda jauh dengan wanita dari tanah air. Hingga aku terpuruk, larut dengan kesedihan setiap harinya. Papa berniat mencari kan aku jodoh, dan sekarang ini kita berjumpa."
"Aku juga sama seperti itu."
"Apa kamu masih sayang dengan mantan pacar kamu?" Niko bertanya.
"Aku malah benci, karena dia hampir memperkosa-"
Kiki langsung mengentikan perkataannya. Hampir saja.
"Lanjutkan Ki, aku mau dengar." Niko menatapnya tajam tanpa berkedip. Mata Niko yang berwarna coklat tampak bergerak-gerak, bibir merahnya mengatup sempurna.
"Iya, dia melakukan itu karena meminta ku untuk kembali merajut hubungan dengannya. Karena dia bilang sudah bercerai dengan istrinya." Niko sampai menggeleng mendengar penuturan Kiki yang masih sempat-sempatnya tersenyum di akhir kalimatnya.
"Lalu? Kamu nggak tuntut?" Kiki menggeleng. "Jangan bilang orang tua kamu juga nggak tau?" Kiki langsung menoleh ke arah pintu rumahnya, takut kalau bi Asih iseng dan mendengarkan obrolan mereka.
"Niko, aku mohon jangan ceritakan hal ini dengan siapapun ya? Papa kamu, papa aku. Aku mohon jangan. Aku nggak mau mereka marah, karena itu juga salah aku yang mau di ajak ketemu diam-diam." Tanpa sadar Kiki sudah menggenggam erat tangan Niko dan menempelkan di keningnya, Kiki menunduk sekarang dengan tangan Niko yang masih ia genggam.
"Ki?" Kiki menggeleng.
"Ki?" Kiki mendongak. Lalu tersadar, melihat ke arah tangan Niko yang sudah di genggam.
"Iya." Jawabnya sambil menatap wajah Kiki.
"Janji?" Niko mengangguk.
"By the way, umur kamu berapa sekarang?" Niko lebih memilih topik pembicaraan lain. Agar tak menganggu pikiran Kiki atau pikirannya sekarang. Yang memang selalu sakit jika mengingat penghianatan seorang mantan.
"Aku 23." Niko tersenyum.
"Kalau begitu, panggil aku kakak!" Kiki mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Kan lebih tua aku."
"Memangnya umur kamu berapa?" Niko tersenyum, lalu menggeleng.
"Coba tebak! Kalau kamu berhasil menebak aku akan kasih kamu hadiah."
Kiki diam dan berpikir, menelik wajah Niko dengan manik matanya. Kiki tampak sangat serius, tapi nihil dia tak menemukan jawaban apapun melalui wajah Niko. Wajah yang memang terlihat dewasa dan tampan, tapi tak terkesan tua jika di pandang.
"28 ya?" Niko langsung membulatkan matanya, dan meraba wajahnya sendiri dengan tangannya.
"Apakah aku terlihat setua itu?" Kiki tertawa lepas, kenapa bisa setenang dan senyaman ini bicara dengan Niko? Orang yang pertama kali Kiki jumpai.
"Nggak lah, kamu tampan kok eh!" Kiki langsung memalingkan wajahnya ketika Niko tersenyum mendengar ucapan Kiki barusan.
Gila! Bisa besar kepala dia nih?
"Coba tebak yang benar."
"25." Kiki menoleh ke arahnya lagi. "Umur kamu 25 kan?" Niko hanya menjawab dengan senyuman. Lalu mengambil sesuatu dari kantung celananya. Kiki melihat dengan jelas itu benda apa, ketika Niko mengeluarkan dari dalam kantung celananya.
Benda kotak siapapun yang melihat akan langsung mengenalinya. Niko membuka kotak dan menampakkan sebuah cincin mewah, yang di atas bagian cincin ada sebuah permata kecil. Kiki yakin, wanita manapun jika diberi ini pasti akan merasa senang dan tidak menolak.
"Jawaban kamu benar?" Ucapnya lagi yang membuat Kiki semakin tercengang, Niko menggunakan bahasa tangan untuk meminta Kiki menyerahkan tangannya.
Dan, Niko mulai melepas cincin dari kotaknya. Detik kemudian, cincin sudah terpasang di jari manis Kiki. Dan, ukurannya juga pas.
Bagaimana bisa?
Lagi-lagi Kiki harus di buat tercengang malam ini.
"Jadi panggil aku kakak!"
Kakak! Kakak!
Kiki mulai mengangumi Niko. Yang papanya bilang Niko anaknya begini dan begitu. Ternyata, Niko begitu hanya karena kisah cinta yang kandas, dan Niko juga mulai bercerita kalau sebenarnya dirinya juga sedikit trauma untuk pacaran, sehingga memutuskan untuk langsung menikah ketika sudah mau mengenal seroang wanita.
"Cincin itu, aku sendiri yang design dulu. Aku mau seseorang yang spesial untukku memakainya. Karena percintaan aku gagal, dan aku melihat sedari tadi jarimu sepertinya pas dengan cincin yang aku punya. Jadi aku mau kamu yang pakai." Ucapnya lagi.
Jadi, benarkah aku spesial??
"Ki? Kamu sudah banyak tau tentang aku kan?" Kiki mengangguk. "Kalau begitu, kita lanjutkan obrolannya besok lagi ya. Soalnya udah malam."
"Iya kak." Panggilan itu langsung diucap oleh Kiki, membuat Niko langsung tersenyum.
__ADS_1
"Kamu langsung masuk kamar aja. Jangan ada di luar lagi." Kiki mengangguk. "Oh iya, aku lupa. Mana nomor ponsel kamu?" Eh, Kiki langsung menyerahkan ponselnya ke Niko.
"Sudah?" Niko kembali menyodorkan ponsel milik Kiki.
"Besok, aku jemput kamu ya?" Hah? Kiki lebih kaget sekarang.
"Nggak usah kak, aku takut merepotkan." Niko menggeleng.
"Nggak lah. Kamu kirim aja alamatnya." Heh, Kiki bisa apa sekarang selain mengangguk. Lagian kalau menolak bagaimana bisa dia menjadi dekat dengan Niko?
"Hati-hati ya kak. Oh iya makasih ya." Memamerkan cincin yang sudah melekat di jari manisnya. Niko tersenyum lalu mengangguk. Dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.
***
Kiki masuk ke dalam kamarnya, dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya. Setelah itu, barulah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tidak, karena ponselnya kembali berdering saat akan merebahkan tubuh. Kiki kembali turun dan mengambil ponselnya yang sedang di charger.
"Aku ada di depan rumah kamu. Bisa kamu keluar?"
"Van? Kamu serius." Hal yang selalu dilakukan Kiki untuk memastikan. Melihat dari jendela kamarnya, menyibakkan sedikit tirainya, tapi tidak ada Revan di halaman rumahnya.
"Aku di luar gerbang."
Kiki langsung keluar kamar dan meletakkan ponselnya.
"Ki, mau kemana?" Mamanya bertanya ketika melihat Kiki yang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Sebentar ma, di luar ada Revan. Tadi aku nitip berkas kantor sama dia."
"Oh, suruh masuk aja Ki ke dalam."
"Iya ma." Berteriak saat sudah sampai di pintu rumah. Persoalan tentang cincin yang di berikan oleh Niko baik sempat Kiki bicarakan dengan mamanya, perihal malam ini juga belum di bahas. Itu karena sewaktu mama dan papanya pulang Kiki baru saja masuk ke dalam kamar, dan rasanya sangat malas untuk keluar lagi.
Kiki melihat Revan yang berdiri dekat gerbang, menyandarkan tubuhnya sambil menatap ke arah langit.
"Van?" Kiki langsung membuka pintu gerbangnya. "Masuk aja ayok, mama suruh kamu masuk." Revan hanya tersenyum tipis.
"Bagaimana malam ini?" Kiki langsung mengerutkan keningnya, paling benci mendengar orang yang berbicara setengah-setengah seperti ini.
"Maksudnya apa ya? Coba bicara yang jelas lah Van. Aku nggak ngerti." Kiki menyibakkan rambut yang belum sempat ia ikat tadi. Mata Revan langsung menatap ke arah jari manis Kiki. Yang sebelumnya tak pernah Revan lihat ada cincin yang melingkar disana.
Revan menarik tangan Kiki lalu tersenyum.
"Selamat ya Ki." Ucapnya dengan senyum getir yang memang di paksakan.
"Oh ini, nggak ini bukan cincin tunangan. Ini cuma cincin biasa." Tersenyum lagi. "Masuk aja yuk? Mama udah suruh kamu masuk tadi." Kiki berdiri tidak tenang, melihat wajah Revan yang kini sudah berubah, tak seramah seperti biasanya.
Kenapa sih, apa aku ada salah?
"Kamu beneran terima perjodohan itu?" Kiki mengangguk.
"Kenapa memangnya Van? Kan sudah seharusnya, lagian juga aku memang belum punya pacar."
"Tapi kamu kan punya aku Ki." Deg. Kiki langsung menatapnya, melihat kedua manik mata Revan. Mencari kebenaran disana, apakah dia hanya bercanda lagi kali ini? Ah tidak, Revan memang suka melakukan ini, menarik ulur hatinya.
"Kamu ngaco! Memangnya aku siapa? Kamu juga udah punya pacar Van. Kamu bayangin deh, gimana perasaan pacar kamu kalau sampai tau lelakinya bicara begini dengan wanita lain?" Kiki mencoba menghakimi Revan sekarang.
"Aku tidak punya pacar." Jawabnya dengan santai dan terus menatap ke arah Kiki.
"Apa?"
"Iya, aku memang tidak punya pacar! Memangnya kamu pernah melihatku pergi bersama wanita lain selain kamu?"
Ya Tuhan ini maksudnya apa lagi? Apa sekarang Revan mau menyatakan perasaannya? Setelah aku memutuskan menerima perjodohan dari papa??
"Tapi waktu itu aku melihatnya, dia menelpon kamu."
"Siapa?" Kiki merasa kikuk dengan perkataannya sendiri. Malah menampakkan kalau dirinya sebenarnya cemburu.
"Yang telepon kamu pagi-pagi waktu itu. Aku melihatnya, maaf kalau aku lancang."
"Adikku?" Kiki benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.
"Dia adikku, dan itu nomor mama aku. Ponselnya di bawa pergi olehnya. Hanya saja itu sepupu laki-laki ku yang dari kampung, dia maksa aku buat pulang kesana. Karena sudah lama sekali aku tidak pulang ke kampung." Jelasnya, membuat Kiki terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi sepertinya aku sudah terlambat." Tersenyum kecut.
"Maksudnya gimana? Terlambat apa?" Berpura-pura untuk tidak mengetahui jika Revan membahas soal isi hati.
"Kamu pasti mengerti Ki, setelah berbulan-bulan kita lalui bersama? Apa itu belum cukup?" Kiki merasa kerongkongannya tercekat.
"Aku memang tidak mau pacaran, karena aku takut menyakiti hati wanita. Aku hanya mau langsung menikah dan menjaga orang yang aku sayangi." Deg. Malam ini benar-benar Kiki bisa mati karena terkena serangan jantung.
Cincin ini sudah memperjelas jika aku juga harus menjaga jarak dengan Kiki.
"Masuklah Ki, sudah malam."
"Tapi tadi mama suruh kamu masuk Van." Dan sekarang, Kiki merasa tidak rela bertemu Revan hanya sebentar. Masih banyak hal yang harus dia bahas dengan Revan, meskipun belum menemukan titik ujung untuk hubungan mereka.
"Baik, aku akan menemui tante Ratih. Dia pasti rindu aku, aku juga merindukannya." Kiki langsung membukakan lebar gerbangnya. Walau hari sudah terlalu malam, tapi jika sudah bersama Revan ngantuk juga akan hilang.
***
Di dalam rumah Bima, lebih tepatnya di dalam kamar. Maudy yang sedari tadi menunggu kabar dari Kiki, menunggu bagaimana kelanjutan perjodohannya malam ini, bagiamana lelaki yang akan menjadi jodoh sahabatnya itu.
"Sayang, tidurlah. Besok juga bisa kan kamu tanyanya? Mungkin sekarang Kiki sedang sibuk dan lupa mengabari kamu." Maudy tetap saja tak tenang dan membolak-balik ponsel di tangannya.
"Sayang?" Bima duduk di samping istrinya di tepi ranjang.
"Iya Bim." Menoleh.
"Kalau perlu kamu besok ikut aku ke kantor untuk bertemu langsung dengan Kiki dan menanyakan hal ini."
"Benarkah? Memangnya boleh?" Maudy langsung berbinar wajahnya.
Bima mengangguk saja, menguap dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Kita tidur sekarang ya?" Maudy mengangguk dan ikut berbaring di samping Bima. Tendangan kecil dari perutnya membuatnya tersenyum dan mengusap perut sebelum tidur.
"Dia rindu kamu Bim." Mata Bima langsung terbuka lebar, tersenyum jahil dan tidak biasanya istrinya berkata begitu.
"Baiklah, aku akan menemuinya." Dan, sebelum tidur Bima melakukan olahraga malam. Ah rasanya sudah harus lebih hati-hati dalam pergerakannya sekarang.
__ADS_1
--__