Dia Bimaku

Dia Bimaku
Hantunya Bima


__ADS_3

Kiki duduk menyendiri, menekuk kedua kakinya dan memeluknya. Menatap alam yang memiliki suasana sangat nyaman dan asri. Pepohonan yang seluruhnya hijau menambah kesan indah untuk setiap daerah pegunungan. Mata berkali-kali mengerjab, bukan karena mengantuk, tapi karena matanya yang berkaca-kaca. Mengingat kejadian telah lalu. Kembali merasakan udara dingin di pegunungan, dengan orang yang berbeda dan status yang berbeda.


"Sayang aku suapin kamu? Enak tau ikan bakarnya."


"Nggak ah, malu tau banyak orang. Apa lagi ada keluarga kamu."


"Udah ah buka mulutnya."


Kiki tersenyum kecut, bayangan itu muncul. Liburan bersama Agam dulu berputar di kepalanya. Lalu mengingat kembali kejadian malam itu, kejadian yang tak pernah ia inginkan seumur hidupnya. Kiki menghapus air mata yang berhasil lolos walaupun cuma satu tetesan. Menghapusnya, dan segera mematik korek api.


Mengeluarkan beberapa photo kenangannya, dan juga beberapa barang yang pernah di berikan Agam untuknya. Kiki menyusun rapih ke dalam kotak berwarna merah dan memiliki pita di atasnya. Api menyala membakar perlahan kenangannya.


Ketika ini musnah begitu juga dengan perasaanku.


Kiki sengaja mengambil video beberapa detik, memberi caption lalu mengunggahnya sebagai story ke sosial media miliknya.


Kiki diam dan semakin erat memeluk kedua kakinya, menatap dengan lamunan ke arah api yang semakin membesar.


"Ki? Kamu ngapain disini sendiri?" Kiki langsung menoleh, Revan ikut duduk di sampingnya.


Tidak menjawab dan kembali menatap ke arah api. Perasaan canggung yang terjadi beberapa jam lalu belum juga hilang, tapi Revan sudah bisa bersikap santai dan menganggap kalau Kiki memang tidak sengaja. Lain hal dengan Kiki yang merasa kalau itu adalah perbuatan yang membuatnya malu sepanjang hidup.


"Kenapa di bakar?" Revan bertanya lagi. Revan memang selalu bersikap lembut dan berbicara dengan lembut, bukan hanya dengan Kiki tapi dengan siapapun itu, yang memang merasa layak untuk di hargai.


"Lalu, kalau aku tetap simpan. Pasti kamu juga akan tanya kan? Kenapa masih di simpan?" Revan tersenyum.


"Ya nggak lah, itu kan hak kamu. Memangnya siapa aku harus larang?" Kiki terdiam.


"Terkadang Tuhan itu memang selalu kasih kita orang yang salah, sebelum menghadirkan yang lebih baik." Kiki menoleh.


"Benarkan?" Kiki mengangguk.


"Kamu contek kata-kata dari mana?"


"Nggak lah itu memang asli buatan aku." Dengan sombongnya dan menepuk dadanya. Kiki bisa tertawa sekarang.


"Hem, Van?" Revan menoleh ke arahnya, menatap tanpa berkedip. Kiki langsung merasa salah tingkah.


"Hem, maaf ya. Soal tadi, sumpah aku nggak ada maksud-"


"Sstt.." Revan menempelkan jarinya di bibir Kiki. Kiki terdiam.


"Aku nggak keberatan." Revan tertawa lepas.


"Aku serius lah!" Kiki mengubah posisi duduknya, wajahnya langsung masam.


"Iya-iya maaf. Nggak lah, aku juga salah. Harusnya aku tuh nggak bangunkan kamu dengan terlalu dekat. Tapi tenang, aku nggak akan berpikir negatif tentang kamu kok. Aku yakin kamu perempuan baik-baik." Kiki langsung tersenyum menatapnya.


"Makasih sudah berpikir baik tentang aku." Revan mengangguk.


"Kamu nggak nyesel udah bakar ini semua?" Bertanya lagi. Kiki hanya menggeleng.


"Ki? Aku mau tanya?"


"Tanya aja Van." Revan terdiam, lalu memfokuskan pandangannya lurus ke depan.


"Kalau seandainya, ada laki-laki yang ngelamar kamu saat ini? Apa kamu mau terima?"


"Maksudnya?" Belum mengerti, kenapa Revan tiba-tiba tanya begitu, batinnya.


"Iya, aku nanya aja. Apa akan kamu terima?"


"Nggak lah, lagian juga mana bisa sembarangan main terima aja. Iya kalau sudah kenal baik, kalau belum? Nikah itu kan seumur hidup. Kamu lihat sendiri kan, Maudy dan Bima aja yang udah pacaran bertahun-tahun saja, hanya karena masalah sepele bisa betengkar sampai rumah tangga jadi taruhannya." Revan manggut-manggut.


"Kalau laki-laki itu aku gimana?"


"Hei, kalian malah duduk santai disini ya? Bukannya bantuan tante Ratih masak!" Ibu hamil ini sudah berkacak pinggang. Revan langsung menunduk, kenapa harus menganggu dan datang di saat waktu yang tidak tepat mbakk!! Begitu batinnya berteriak.


"Kamu aja lah, kamu kan ibu-ibu Dy. Aku nggak bisa masak." Ucapnya datar.


"Ih, kamu juga harus belajar lah Ki. Kalau nanti menikah terus suami kamu minta di masakan sama kamu gimana?"


"Iya bener tuh Ki." Revan yang sangat bersemangat sepertinya.


"Belum ada pikiran buat nikah! Masih jauh Dy!" Dengan santainya dia menjawab.


"Eh kamu ini Ki. Revan lamar aja Kiki sekarang, siapa tau di terima. Haha." Hanya bercanda, tapi kedua orang ini saling pandang. "Kenapa? Apa beneran Revan udah ngelamar kamu Ki?"


Kiki langsung berdiri dari duduknya. "Eh nggak lah, kamu ngomongnya ngawur." Revan duduk diam, tau kalau Kiki juga tidak akan mengaku meskipun dengan sahabat dekatnya kalau baru saja Revan memang benar sudah melamarnya.


"View nya bagus banget. Kita photo yuk Ki?" Mencari tempat ternyaman untuk bergaya, dan baground yang bagus.


"Van, tolong ambilkan photonya ya?" Revan mengangguk dan menerima ponsel yang sudah Maudy sodorkan.


"Satu, dua, tiga." Ibu hamil ini bergaya sesuka hati dengan antusiasnya.


"Lagi-lagi." Ketagihan.


"Lagi Van." Kiki juga mulai candu.


"Sekali lagi ya?" Saat akan mengambil photo mereka, Revan mengeluarkan ponselnya dari dalam kantung celana.


"Sebentar mbak, aku angkat telepon dulu." Menyerahkan ponsel ke Maudy, lalu berjalan menjauh dari mereka.


Mereka berdua menggeser layar ponsel untuk melihat beberapa photo yang baru saja di ambil.


"Cantik banget kita ya."


"Eh sebentar Ki, ibu aku telepon?" Kiki mengangguk, dan Maudy hanya menjauh beberapa langkah dari Kiki.


Kiki hanya bisa menatap Revan dari kejauhan, berdiri dengan satu tangan di masukan ke dalam kantung celana, dan satu tangan ia gunakan untuk memegang ponsel yang di letakkan dekat telinga kirinya.


Maksudnya Revan ngomong gitu tadi apa ya? Apa benar kalau dia itu sebenarnya ngelamar aku? Atau hanya bercanda? Ah dia memang selalu bilang bercanda kan kalau aku menanyakan hal itu kedua kalinya.


Revan berbalik badan, dan Kiki langsung membuang muka, tapi Revan sudah terlanjur tau kalau Kiki sebenarnya memperhatikannya dari jauh. Kiki menunduk dan memainkan kerikil kecil dengan kakinya. Maudy yang juga belum selesai menelepon ibunya. Ingin sekali lagi melihat ke arah Revan yang sedang menelpon, memastikan sudah selesai atau belum. Tapi ragu, takut kalau Revan juga menatapnya saat ini.


Revan sedang menelepon siapa ya? Kenapa harus menjauh? Atau pacarnya? Dan yang dia bilang tadi itu, hanya untuk latihan untuk melamar pacarnya?

__ADS_1


Diam lagi, berpikir.


Eh, kenapa aku jadi mikirin Revan sih!


"Nanti kaki kamu kotor." Eh Kiki langsung mendongak.


"Gimana apa di terima lamarannya?" Langsung menutup mulutnya sendiri. Ya ampun, bagaimana bisa dikira bicara dalam hati taunya keluar dari mulutnya.


"Maksudnya?" Revan mengerutkan keningnya.


"Nggak."


"Kita masuk yuk? Hari juga sudah hampir gelap." Nah kan, tadi masih semangat untuk berphoto padahal, sekarang setelah selesai menelpon ibunya malah mengajak untuk masuk.


"Ibu bilang kalau sudah hampir gelap harus masuk, nggak boleh di luar." Menjelaskan, tau kalau Kiki akan bertanya kenapa?


***


Mereka duduk di luar penginapan setelah selesai makan malam yang di masak sendiri oleh mamanya Kiki. Berkali-kali Revan memuji kalau masakannya enak, Kiki tau kalau sebenarnya Revan sedang menyindirnya yang tidak bisa memasak.


Disini mereka sekarang, duduk di hadapan api unggun yang di sediakan oleh penjaga penginapan. Tante Ratih duduk di apit kedua wanita, dengan sama-sama menyandarkan kepala mereka di bahu tante Ratih. Kiki duduk di sebelah kanan, dan Maudy di sebelah kiri. Revan duduk di hadapan mamanya Kiki, dengan pembatas api unggun di tengah mereka.


"Van?" Revan mendongak, semula bermain api dengan menggunakan kayu kecil. Menekuk kedua kakinya dan menyandarkan kepala di atas lutut.


"Iya tante?"


"Gimana kabar mama kamu?" Kiki langsung duduk tegak, menoleh ke arah mamanya, lalu merebut cemilan yang sedang di nikmati sendiri oleh Maudy.


"Sini nggak!" Bentaknya, Kiki tak peduli dan langsung mengunyah.


Revan tersenyum sebelum menjawab, melihat keakraban mereka.


"Baik tante, sehat. Sehatnya mama tidak perlu sampai beliau bisa berjalan, tapi tidak merasakan sakit kepala saja mama sudah bisa bilang kalau beliau sehat." Mamanya Kiki tersenyum. "Tadi sore juga mama udah sempat telepon, memang begitu mama tante, di tinggal pergi sebentar aja udah kecarian."


"Namanya mama kamu itu sayang sama kamu."


Oh jadi tadi sore Revan teleponan sama mamanya? Tapi kenapa mama tanya-tanya soal keadaan mamanya Revan? Waktu sama Agam aja nggak pernah tuh.


"Sini nggak?" Merebut cemilan dari tangan Kiki.


"Ih!" Mendengus.


"Hei, masih ada di dalam. Jangan seperti anak kecil lah, nggak malu kalian sama Revan?" Revan tersenyum.


"Aku malah senang lihatnya tante, soalnya kalau dirumah adik aku juga gitu."


"Iya? Maklum Kiki nggak punya saudara. Jadi kalau sama Maudy ya gitu, nggak heran. Ada sih saudaranya tapi waktu itu kan kuliah di luar negeri, terus sekalinya balik langsung nikah. Dan nggak tinggal satu rumah."


"Oh Kiki punya saudara tante? Berarti anak Tante ada dua?" Tante Ratih menggeleng lalu tersenyum.


"Itu anak dari papanya Kiki, karena waktu tante menikah sama papanya Kiki, papanya itu duda. Nah punya anak ya satu itu, laki-laki." Revan manggut-manggut.


Kenapa mama cerita itu ke Revan sih.


"Tapi akur kan tante?"


"Berarti papanya Kiki tampan sekali waktu itu ya tante, buktinya duda aja bisa menarik perhatian tante." Mereka sama-sama tertawa, tapi tidak dengan Maudy. Dia malah merasa ada yang janggal dari perkataan Revan barusan.


Duda tampan? Berarti kalau aku pisah sama Bima, Bima juga bakal jadi duda tampan?


"Ya gimana ya, papanya Kiki kan baik orangnya, perhatian. Siapa yang nggak mau, malah waktu itu tante juga tau kalau papanya Kiki pengusaha. Yang jelas, bukan tentang matre sih, cuma tante berpikir setidaknya kalau menikah dan memiliki anak, tidak akan kekurangan."


Kenapa aku jadi takut sekarang?


Maudy masih diam.


"Wah, ternyata pemikiran tante memang out the box." Revan mengacungkan kedua jempolnya.


"Ah kamu bisa aja?" Tante Ratih tertawa kecil.


"Sudah malam, kita masuk ya? Udara dingin sekali, kasian ini ibu hamil, sepertinya sudah mengantuk." Maudy tersenyum tipis dan mengangguk.


"Kamu nggak apa-apa kan Dy?" Maudy menggeleng pelan.


"Nggak tante, cuma memang benar kata tante, aku ngantuk. Tadi kan selama di perjalanan aku nggak tidur kayak Kiki."


"Iya Kiki tidur sampai nggak bangun, padahal sudah sampai." Kiki melirik ke arah Revan, begitu juga dengannya. Lalu menunduk dan mengikuti langkah mamanya yang memasuki kamar penginapan.


"Kita tidur bertiga ma?" Mamanya mengangguk, dan mulai mengatur posisi tidur untuk mereka.


"Cukup lah. Sudah ayo kita tidur?" Maudy sudah berbaring, dan mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap ke arah jendela.


"Selamat malam tante?" Maudy mengucapakan sebelum memejamkan matanya.


"Aku nggak Dy?"


"Hem." Sudah menutup matanya. Memang begitu kan kalau orang ngantuk berat? Beberapa detik memejamkan mata saja sudah tak bisa lagi untuk kembali membukanya.


Tante Ratih yang melihat Maudy dan Kiki sudah tertidur langsung mematikan lampu.


***


Tengah malam Maudy merasa kedinginan, mungkin karena AC tidak di matikan. Sehingga dia meraba mencari dimana letak remote dan mematikannya. Kembali lagi ke tempat tidur, tapi karena keadaan di dalam gelap, dan gorden penginapan tak setebal gorden milik ibunya. Maudy bisa melihat dari dalam sini, kalau ada sesuatu yang berada dekat jendela. Seperti ada seorang disana tengah mengintip, bentuknya menurut Maudy jelas itu kepala.


Maudy mengucek lagi matanya. Dan benar masih ada, ingin sekali rasanya Maudy berjalan mendekat dan membuka jendela, tapi takut kalau itu orang jahat. Maudy memilih untuk berbaring lagi dan tidur dengan posisi miring dan membelakangi jendela.


Matanya kali ini di paksa untuk terpejam.


Tok. Tok.


Suara jendela di ketuk dengan jari tangan.


Tok. Tok.


Lagi, sampai berulang-ulang. Maudy yang merasa takut langsung membangunkan Tante Ratih.


"Tante, ada orang di luar. Dia ketuk jendela." Tante Ratih mengucek matanya dan melihat kemana Maudy menunjukan.

__ADS_1


"Mungkin itu Revan Dy, kamarnya juga kan sebelahan sama kita. Mungkin dia nggak bisa tidur."


"Iya tapi ngapain dia ketuk ketuk jendelanya Tante?" Bingung, dan sekali lagi menatap ke arah jendela yang masih berdiri sosok misterius disana.


"Udah Dy, kita tidur aja? Kalau kira-kira dia nekat dengan mencongkel jendela, kita tinggal teriak." Maudy mengangguk, tapi itu tak mengurangi rasa takutnya.


Lagian kalau memang itu Revan, pasti dia akan manggil nama kita kan?


Sekali lagi menoleh ke arah jendela, lalu menutup kepalanya dengan selimut.


Pagi datang, tante Ratih sudah tidak ada di dalam kamar. Dia lebih dulu bangun untuk menyiapkan sarapan pagi. Lalu disusul oleh Maudy, dan yang terakhir Kiki.


"Ki? Kita jalan-jalan keluar ya? Temani aku?" Maudy sudah mengambil handuk kecil untuk membersihkan wajahnya yang baru saja di cuci.


"Keliling sini ajakan?" Maudy mengangguk.


Kiki juga mencuci wajahnya terlebih dahulu, merapikan rambutnya yang berantakan sehabis bangun tidur. Lalu bercermin lagi untuk memastikan penampilannya di pagi ini.


"Udah lah Ki, belum mandi juga. Kayak mau ketemu sama siapa aja!"


"Iya bawel."


"Ki? Kamu tau nggak tadi malam ada kejadian horor?" Maudy duduk di tepi ranjang, yang awalnya sudah bersiap untuk berjalan keluar kamar.


"Kejadian horor?" Dia tertarik dan ikut duduk di samping Maudy.


"Iya! Aku tuh ke bangun karena dingin, tapi aku lihat ada seseorang yang berdiri di dekat jendela. Terus aku pura-pura nggak tau dan apa dia ketuk itu jendela kamar, aku langsung bangunkan mama kamu."


"Haha." Kiki malah tertawa. "Dy, itu tuh penjaga penginapan disini. Memang begitu kalau setiap penjaga malam. Dia akan berdiri dekat jendela kamar yang saat ini ada penghuninya. Supaya bisa antisipasi kalau terjadi apa-apa." Terangnya.


"Kamu kok bisa tau?"


"Ya dulu." Berhenti sebentar. "Waktu kita nginep di villa Agam kan gitu, kamu aja tidurnya nyenyak banget. Aku yang tau, terus aku cerita ke dia, katanya itu penjaga malam." Maudy manggut-manggut.


"Eh tapi tunggu deh, kenapa dia ketuk jendelanya? Kan nggak lucu, itu sih namanya bukan jagain tapi malah menganggu tau nggak?" Kiki diam dan berpikir, lalu berdiri berjalan mondar-mandir.


"Iya juga ya Dy. Atau mungkin itu hantu? Hantu kan suka ibu hamil?" Maudy langsung berdiri dan memukul lengan Kiki.


"Kamu jangan buat aku semakin takut lah Ki?"


"Iya nggak, kan aneh aja juga sih." Maudy langsung berjalan lebih dulu keluar kamar dan meninggalkan Kiki, membanting pintu sampai Kiki terlonjak kaget.


"Ye dia ngambek, takut haha."


Kiki dan Maudy sudah berdiri di luar kamar penginapan, merentangkan kedua tangannya lalu menghirup udara pagi. Huh..


"Kita jalan kesana ya?" Maudy menunjuk ke arah kanan, jalanan yang seluruhnya mengunakan Papin blok.


Sambil berbincang hangat dan berjalan santai, Maudy sengaja tidak mengunakan alas kaki saat ini. Karena itu memang anjuran dari dokter yang menangani kandungannya.


"Dy, kamu lihat nggak orang itu?" Lelaki yang juga sedang berlari di pagi hari, menggunakan celana Jogger berwana hitam dan kaus ketat tanpa lengan yang menampakkan otot-otot tubuhnya.


"Mana? Itu?" Kiki mengangguk.


"Iya, itu kayak Bima ya?" Heh, Maudy langsung memukul lagi mulut Kiki.


"Nggak ada yang nggak mungkin Dy, buktinya aja dulu dia juga lagi diluar negeri kan? Eh tau-tau udah sampai di villa Agam aja." Kiki yang penasaran sengaja berpura-pura lari ke arahnya, meninggalkan Maudy yang berjalan santai.


Maudy hanya memandangnya, sambil geleng kepala melihat ulah Kiki. Benar saja, Kiki melewatinya lelaki itu dan menoleh ke samping, setiap pergerakan Kiki selalu di awasi dengan mata Maudy.


Kenapa lewat aja? Syukurlah berarti bukan Bima.


Kembali menunduk memandangi kakinya sendiri yang sudah mulai membengkak.


Lalu mendongak ke arah depan, yang kini Kiki sudah berlari kecil dengan lelaki tadi dan menuju ke arahnya. Maudy berhenti melangkah, lalu berbalik.


"Dy? Tunggu?" Kiki menarik tangannya, sampai nafasnya ngos-ngosan karena lari-lari.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau itu beneran Bima?" Sebalnya. Wajahnya langsung masam.


Bima dengan santainya berjalan, melewati Maudy dan juga Kiki. Maudy tak berkedip menatapnya dari belakang, melihat otot-otot yang sangat dia rindukan.


Eh kenapa aku jadi mesum sih. Dan kenapa Bima malah lewat aja tanpa menyapa??


"Dasar orang aneh." Gerutunya.


"Kamu masih mau lanjut jalan kan?" Maudy diam. "Ayo aku temani? Kalau kamu balik, berarti kamu mau kejar Bima." Memainkan kedua alisnya.


Tak ada pilihan lain, Maudy segera berbalik dan mengikuti jalur yang tadi dia lewati.


***


Epilog


Bima sampai ke tempat dimana istrinya dan temannya liburan saat ini. Karena kendala macet yang panjang hingga satu kilometer, sehingga tiba disini sudah tengah malam. Bima segera menjumpai seseorang yang tengah berdiri di dekat jendela, dia juga tau kalau itu pasti penjaga penginapan disini.


"Maaf pak, permisi?"


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau sewa satu kamar. Sekarang ya pak?" Penjaga mengangguk. "Ini ada orangnya ya pak?"


"Iya ada, makannya saya berdiri disini tuan." Bima mengangguk. Lalu melihat ke arah jendela dan mendekat.


"Tapi kok gelap pak?" Mengetuk jendela kamar yang ada di dekatnya.


"Iya mungkin mereka sudah tidur dan mematikan lampunya tuan."


"Masak sih, kok kayak sepi." Mengetuk lagi.


"Iya pak, tiga wanita yang ada di dalam, dan salah satunya sedang hamil." Ucapnya. Bima langsung mengerti, ini pasti kamar istrinya.


"Ya sudah pak mari ikut saya." Bima mengangguk, tapi sebelum pergi dia menyempatkan untuk mengetuk lagi.


"Maudy sayang..." Dengan suara yang di buat menyerupai anak-anak. Mengetuknya dan lalu pergi setelah penjaga penginapan menoleh ke arahnya.


--__

__ADS_1


__ADS_2