
Huh menghirup udara malam di tanah air kembali dapat dirasakan. Bahkan jalanan disini akan terus ramai walau malam akan semakin larut. Rasanya sudah rindu untuk jalan-jalan dan tak lupa memberi kejutan untuk sahabatnya yang tidak tau kepulangannya ke tanah air. Sungguh dia masih disibukan oleh banyak hal, sehingga melupakan sahabatnya yang satu itu.
Sebelum keluar rumah, dengan tujuan mengunjungi toko tempat Kiki membuka usahanya bersama Agam. Maudy bermaksud membongkar isi koper yang sudah dua hari menginap di kamarnya. Karena selama dua hari itu lah dia juga sibuk, dengan mencari seorang arsitek untuk membangun usahanya nanti.
"Bu, ibu sini." Teriaknya dari dalam kamar. Ibunya berjalan dengan tergepoh.
"Kenapa Dy? Ada apa?" Sudah berdiri di depan pintu kamar anaknya, melihat tidak ada bahaya yang mengancam.
"Hehe, nggak ada apa-apa. Ini, bantuin bongkar koper yang di kasih tante?" Perlahan mulai mendekat, menilik isi koper dengan kedua manik matanya.
"Ini bukan koper kamu dan Dy?" Mulai menyentuh dan memahaminya.
"Memang bukan, kan tadi udah aku bilang bu, ini koper dari tante, koper aku di tinggal. Nggak boleh dibawa, karena tante nggak kasih ijin aku pakai baju lama. Katanya biar lebih terlihat elegan gitu." Ibunya tersenyum. Memang dia juga berpikir begitu.
"Ya sudah, buka lah." Malah ibu yang terlihat antusias. Bisa-bisanya tidak membuka koper setelah dua hari pulang kerumah, gerutu ibu Irma.
Maudy langsung membuka kancing, perlahan mengeluarkan satu persatu isi dalam koper. Matanya berbinar menatap baju-baju mewah. Ah ada juga baju untuk Tisha. Maudy segera memisahkannya.
"Bagus, pasti ini mahal. Eh ini kotak apa?" Mengeluarkannya dari dalam koper.
"Wih, high heels bu." Maudy belum paham memakainya. Jarang sekali, bisa dibilang tidak pernah.
"Cantik Dy, kamu harus belajar menggunakan ini?" Menjinjing tinggi high heels ditangannya.
"Itu kan di pakai hanya untuk pergi ke acara pesta bu." Kembali melihat isi yang lain. Lengkap, ada make up dan skincare yang biasa di pakai oleh Maudy sekarang.
"Udah bu. Sekarang jam berapa?" Bertanya, padahal sudah ada jam dinding yang bertengger di kamarnya.
"Itu, kamu nggak bisa lihat sendiri?" Sambil membereskan baju anaknya. Maudy menepuk jidat, lupa mungkin.
Di lihatnya sudah pukul 19:30.
"Bu, aku keluar ya? Mau ketemu Kiki." Ibunya mengangguk dan Maudy sudah keluar, dengan meminjam mobil ayahnya. Eh yang sudah bisa bawa mobil tuh, lupa ya sama motor kesayangan.
***
Maudy, keluar malam ini dengan menggunakan gaun berwarna putih dan ada corak bunga mawar di bagian dada. Gaun yang pas menempel di tubuhnya, dengan memiliki postur tubuh yang tinggi membuat penampilannya semakin terlihat sempurna. Ia sekarang tak lupa memoles wajahnya setiap ingin keluar rumah. Pansus yang ia kenakan tampak senada dengan bajunya, ditambah kulitnya yang putih bersih menjadikan mata orang lain memandangnya dengan berdecak kagum.
Berjalan di bawah lampu yang tidak begitu terang, melangkah pasti meninggalkan mobil di parkiran. Matanya tertuju pada seroang wanita muda yang tengah sibuk melayani banyaknya pembeli malam ini. Dari kejauhan Maudy tersenyum. Semakin mempercepat langkahnya, membuka pintu kaca yang berukuran besar bertuliskan OPEN. Oke tanda toko masih buka dong.
Mengambil salah satu barang yang lucu di toko ini.
"Ini berapa mbak?" Suaranya di buat selembut mungkin.
"Sebentar ya mbak." Masih sibuk melayani pembeli yang lain.
"Udah deh mbak saya nggak jadi beli." Meletakkan barang di hadapan pemiliknya. Sepertinya pemilik sudah mulai emosi, ia menghela nafas dan langsung menatap Maudy dengan tajam.
Detik ke tiga.
"Sialan!!!" Teriaknya, sehingga semua pengunjung di tokonya sudah menatap mereka, termasuk Agam. Ya dia langsung berlari melihat ada apa, kenapa pacarnya ini teriak.
"Kenapa sayang?" Memegang tangan Kiki. Maudy sudah tertawa sampai wajahnya memerah sekarang. Agam menoleh, bingung.
"Maudy?" Lirih mengucapkan.
"Sayang, tolong urus pelanggan ya, aku mau menghajar wanita ini." Langsung menyeret lengan Maudy ke ruangannya, dimana tempatnya biasa beristirahat jika sudah terlalu lelah.
Maudy sudah menjatuhkan dirinya di sofa panjang berbentuk tempat tidur, ah sofa atau tempat tidur. Yang terpenting sekarang, tertawa bisa di lanjut.
"Sumpah ya, aku pengen bunuh kamu sekarang."
"Hahaha." Belum, Maudy belum bisa menjawabnya. Kram di perutnya belum hilang.
"Gila ya! Udah pulang nggak ngabarin, bilang kek, kan bisa ikut jemput ke bandara." Berdecak kesal.
"Udah-udah, duduk dulu. Sini." Menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Uh aku rindu." Memeluk sahabatnya yang masih terus mengomel.
"Tutup jam berapa tokonya?" Bertanya setelah Kiki mulai berhenti menggerutu.
"Sebentar lagi, jam delapan atau sembilan gitu. Kenapa?"
"Kita jalan-jalan ya, mau kan? Sama Agam juga nggak apa? Aku yang traktir." Memainkan kedua alisnya. Mana mungkin Kiki menolaknya.
"Besok kamu harus datang kerumah, mama kamu rindu tuh." Tau Maudy maksudnya, pasti mamanya Kiki.
__ADS_1
"Iya-iya, tapi selesai urusanku kelar ya?" Mengangguk saja, mungkin rasa jengkelnya belum hilang. "Iya maaf, aku sengaja nggak ngabarin Ki, mau buat kejutan, ayah sama ibu juga nggak aku kasih tau kalau aku pulang. Maaf ya?" Memeluk lagi.
"Bima?" Maudy membuang nafas kasar. Kiki tau, pasti ada yang tidak beres.
"Aku, Hem. Aku cerita tapi kamu tetap jaga rahasia aku ini ya?" Kiki langsung merubah posisi duduknya, menghadap ke arah Maudy.
"Janji?" Menunjukan jari kelingkingnya. Dan Kiki jelas menyambutnya.
Maudy langsung menceritakannya, bagaimana mereka bertemu Luna di hotel. Dan apa? Jelas Kiki kaget mendengar Maudy bahkan sudah tidur satu kamar. Tapi melihat Maudy yang sungguh-sungguh berkata dan bersumpah tidak melakukan hal itu, sepertinya dari tatapannya Kiki percaya.
"Jadi, gimana Dy?" Maudy hanya bisa menggeleng.
"Udah, aku tutup toko sekarang, udah delapan, tunggu ya?" Langsung beranjak. Keluar ruangan meninggalkan Maudy.
***
"Kita naik mobil sendiri-sendiri kan?" Tanya Maudy.
"Iya nggak masalah, kamu kan bawa mobil. Ya udah ayo berangkat." Masing-masing dari mereka sudah bersiap memasuki mobilnya. Tujuan mereka adalah, Taman lampu di daerah kota yang saat ini tengah ramainya pengunjung yang rata-rata dari kalangan anak muda seperti mereka. 30 menit sampai tujuan. Yang menatap penuh heran ya cuma Maudy, jelas dia tidak tau kalau sekarang taman kota sudah di sulap seperti ini.
Beberapa pedagang sudah berjajar rapi, menggunakan stand masing-masing. Dan, di tengah taman terdapat kursi yang sengaja di sediakan untuk mereka menyantap makanan yang sudah di pesan.
Kalau aja Bima disini, eh. Apa aku telepon aja ya?
"Dy, kita kesana ya? Yang paling sudut itu lebih enak di pandang." Langsung mengurungkan niatnya mengeluarkan ponsel. Ikut berjalan bersama Kiki dan Agam. Ya, jadi obat nyamuk lagi.
"Kalian mau makan apa? Tinggal tunjuk aku yang pesan." Agam memilih mengalah, karena hanya dia kan disini yang statusnya lelaki?
"Eh, tapi aku aja yang bayar gam. Aku udah janji?" Mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan. Cukup lah segitu kalau makan di tempat seperti ini, bebas pajak. Bahkan bisa lebih malah.
Maudy menunjuk salah satu stand makanan yang menjual dimsum. Dan Kiki sepertinya juga sama seleranya, yang lain mereka serahkan kepada Agam. Untuk mencari cemilan yang lain, kentang goreng atau apalah.
"Minumannya?" Kiki dan Maudy saling pandang, kenapa bisa lupa batinnya.
"Samaan aja, kamu yang pilih Gam." Baru beberapa langkah Agam pergi, mereka sudah tersenyum saling pandang.
"Agam kasian kayak tukang suruh." Kiki tertawa.
"Aku juga mikirnya gitu Dy. Ah udahlah, kan nggak tiap hari." Benar juga, pikir Maudy.
"Dari semenjak kejadian itu, aku nggak ada komunikasi sama Bima Ki, aku juga takut, sekarang dia bagaimana sama papanya aku juga nggak tau?" Wajahnya kembali sendu, tapi tidak mengurangi kecantikannya malam ini.
"Kamu yang sabar, sebenarnya malam itu juga Bima cerita ke aku, dia datang ke rumah malam-malam, bawa Rafa lagi keponakannya." Mengusap lembut tangan Maudy.
"Rafa? Anak mas Rio? Ih pasti gemesin ya Ki?" Kiki menatapnya dengan iba, kasian pasti Maudy belum pernah lihat. Batinnya.
"Iya. Tapi selesai cerita Bima langsung pulang, karena Rafa juga udah tidur sih." Diam sebentar. "Kalau seandainya Bima ngajak kamu kerumahnya, kamu mau?" Lama mau menjawab, dan ketika akan menjawab, sekelompok pemuda datang menghampiri.
"Hei, boleh gabung nggak?" Maudy menghitung jumlah mereka dengan tatapan matanya, sekitar empat orang, tampan memang, tapi kelihatannya masih bocah.
"Nih makanannya." Agam keburu datang. Ia menatap satu persatu sekelompok pemuda yang menghampiri pacarnya.
"Mau ngapain?" Tanyanya.
"Eh nggak, pacar abang yang mana?" Eh dia malah bertanya, dan Agam langsung saja duduk di sebelah Kiki, bukan kah itu sudah menjawab pertanyaan mereka.
"Berarti yang ini jomblo?" Menunjuk ke arah Maudy. Mereka malah tampak menahan tawa.
"Hem kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa?" Maudy berdiri dari duduknya.
"Dy, sesuaikan penampilan sama kelakuan." Tau saja kalau Maudy mau berbuat sesuatu.
"Siapa namanya?" Teman yang lain hanya menonton, tampaknya ini bos gitu di Antara mereka berempat, bos atau ketua gitulah. Ah dasar anak muda.
"Nama aku Maudy, mau kenalan?" Ih makin digoda balik. Baik Agam atau pun Kiki, mereka hanya mampu menonton saja drama yang Maudy lakukan.
"Nama aku Agung." Menyodorkan tangannya. Sayangnya, Maudy hanya melirik tak ada niatan untuk menyambut uluran tangannya.
"Masih sekolah?" Agung mengangguk. Agung kan dia bilang namanya, batinnya.
"Ya sudah sana pulang belajar yang bener, biar bisa buat bangga orang tua."
"Pfftt.." Yang lain tampak menahan tawa.
"Pergi, calon suaminya bentar lagi datang lo." Agam menakuti. Dan anehnya mereka benar-benar pergi, dengan satu jitakan di buat oleh teman-temannya. Malu, mungkin itu yang mereka rasakan.
__ADS_1
"Ini alasanku malas kalau datang ke tempat ini, suasananya enak sih Ki, tapi ya gitu banyak sekali anak-anak ingusan." Duduk kembali setelah pengganggu pergi. Langsung mengambil minuman yang di beli oleh Agam. Menetralkan rasa kesalnya. Membuang waktu dengan meladeni anak-anak di bawah umur.
Mereka langsung menyantap makanan yang ada, beneran di abisin uangnya sama Agam. Dengan membeli banyak cemilan lain, tak apa ini tidak setiap hari. Biasanya juga Kiki yang selalu bayar.
***
Pukul menunjukkan sudah jam 10 malam tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Maudy sudah berada di parkiran mobil, siap untuk pulang ke rumah. Janji besok akan datang ke rumah Kiki, bahkan Kiki akan menyiapkan makanan, jadi mau tidak mau, sempat tidak sempat Maudy harus datang.
Terdengar notif pesan masuk di ponselnya, tapi Maudy urungkan untuk melihat, nanti saja kalian sudah sampai dirumah, pikirnya. Karena keadaan tengah menyetir, takut kalau mengganggunya.
Sampai di rumah sudah jam 10 lewat, Maudy sudah memasuki halaman rumahnya. Tapi dahinya langsung mengkerut, mobil siapa ini? Batinnya. Dari pada penasaran, Maudy langsung saja memasukan mobil ayahnya ke garasi.
Ia turun dan membuka pesan miliknya, sampai lupa kalau tadi ponselnya berdering. Maudy berjalan sambil menunduk.
"Dari mana?" Suara yang sangat ia kenali. Dengan perlahan mendongakkan wajahnya.
Bima?
"Dari mana? Sampai malam begini?" Maudy berdiri mematung di tempatnya. Maudy melihat ke arah dalam rumahnya.
"Kamu dari tadi Bim?" Setelah benar-benar percaya kalau yang ada di hadapannya ini memang Bima.
"Kamu dari mana?" Sampai tiga kali mengulang pertanyaan yang sama.
"Aku tadi keluar sama Kiki, kamu kenapa nggak ngabarin kalau mau kesini?" Bima diam.
"Ya udah aku masuk dulu ya, sebentar." Ayah dan ibunya menatapnya, ada apa sih? Batinnya.
"Kamu baru pulang?"
"Iya bu." Menjawab sambil berjalan menuju kamarnya, meletakan tas selempang yang ia bawa. Lalu keluar lagu untuk menjumpai Bima.
"Bima dari tadi nunggu kamu loh Dy." Langsung berhenti, menoleh ke arah ibu dan ayahnya. "Udah sana, nggak enak ibu sama dia." Huh.
"Kenapa ibu nggak suruh Bima masuk sih bu?" Entah siapa yang mau di salahkan, batinnya.
"Dia nggak mau, dia tetap mau nunggu kamu pulang." Ah Maudy langsung saja mempercepat langkahnya.
Ternyata Bima sudah duduk di teras rumah, aman lah jika bertengkar pasti ibu atau ayahnya tak mendengar. Karena agak jauhan dari ruang tv.
"Bim?" Langsung memegang lengannya. Minta maaf, terus cium pipi kanan, kiri. Ya begitu, pikirnya.
"Maaf ya, kamu nggak ngabarin kalau mau kesini." Hening.
"Bim?" Menggoyangkan lengannya.
"Aku dari tadi udah kirim pesan, telepon juga, tapi kamu nggak jawab. Kemana sih? Apa segitu bebasnya kalau keluar sendiri?" Deg.
Telepon? Kenapa aku nggak dengar?
Maudy langsung mengambil ponselnya, berlari lagi ke dalam rumah. Ibu dan ayahnya hanya bisa melihat Maudy bolak-balik, tanpa bisa bertanya.
Ya ampun iya, aku lupa. Panggilan aku senyapkan.
"Bim, maaf ya aku-"
"Sstt.. Udah aku tau alasan kamu."
"Jadi kamu marah ni?" Bima menoleh. Menatap kedua manik mata Maudy.
"Kamu lihat, aku marah?" Seperti terkena hipnotis Maudy menggeleng.
"Sayang, aku nggak bisa marah. Paling aku cuma bisa cemburu!" Maudy langsung memeluknya. Untung lampu teras rumah sudah mati, bisa jadi gosip ni kalau ada yang melihatnya.
"Aku tuh takut mau hubungi kamu Bim, aku takut kalau aku ganggu kamu. Aku ngerti masalah apa yang kamu hadapi, tentang kita, papa kamu. Aku ngerti, kamu yang semangat ya?"
Kenapa dia malah senyum?
"Besok sayang?" Maudy lebih heran sekarang.
"Besok? Apanya Bima?"
"Besok keluarga aku datang kesini, ngelamar kamu." Senyum yang terpancar di wajah Bima saat ini mampu membuat wajahnya bersinar di dalam kegelapan. Maudy masih terdiam, apa ini mimpi atau hanya sekedar candaan Bima? Batinnya.
--__
__ADS_1