Dia Bimaku

Dia Bimaku
Kemana Kiki?


__ADS_3

Bukan Maudy namanya, jika jiwa kepo menurun dari ibunya. Sekalipun dia senang dan tidak berhak marah, tapi kenapa Bima sampai menyembunyikan ini, begitu rasa jengkel yang sedang bumil rasakan.


"Jelasin nggak Bim?" Menarik lengan Bima ketika hendak turun dari mobil.


"Sayang kan bisa di dalam? Kita masuk rumah dulu ya sayang, minum teh. Atau nggak kamu mau ice cream?" Maudy melipat kedua tangannya, menatap Bima dengan tajam. Bahkan Stelbelt juga belum di buka.


"Sayang, iya aku janji bakal ceritain, tapi kita masuk dulu kerumah." Mengalah, Bima turun lebih dulu dan berlari kecil memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Maudy.


"Sayang." Menghela nafas ketika uluran tangannya tak di sambut.


"Sayang, memangnya kenapa kalau aku yang jodohkan mereka? Apa salah? Apa jangan-jangan sebenarnya kamu nggak rela kalau Ilham menikah?"


Maudy langsung berbalik dan menghentikan langkahnya.


"IYA!!" Hah? Bima membulatkan matanya.


"Sayang, sayang kamu bercanda kan?" Mengejar dan menarik lengan Maudy.


Semua ART yang ada di dalam hanya bisa melihat mereka, seperti sedang menonton drama romantis. Bukan ingin melerai malah mereka senyum-senyum sendiri, saling tatap dan senyum lagi.


"Sayang, aku cemburu loh." Maudy tak peduli dan langsung menaiki anak tangga untuk segera masuk ke dalam kamar.


Kenapa bisa sih, ada yang aneh. Kenapa harus Bima sembunyikan dari aku! Ah pantas saja waktu itu Ilham menagih hadiah yang di janjikan Bima. Atau jangan-jangan, Ilham hanya mau hadiahnya dan setelah itu kak Sun di campakkan? Oh tidak.


Dari duduk Maudy bangkit berdiri, mondar-mandir. Bahkan sampai ada suara ketukan pintu berulang kali dia tidak mendengar. Padahal, tidak ada masalah baginya jika Sundari menikah dengan Ilham.


Kenapa aku jadi memikirkan ini sendiri? Aku harus dengar penjelasan Bima.


Melangkah menuju pintu dan membuka.


"Sayang, dari tadi aku ketuk. Kamu marah?" Diam.


"Sayang..." Memanggil dengan nada seperti orang bernyanyi.


"Oke, aku mandi dulu setelah itu aku bakal jelasin ya, tunggu jangan kemana-mana. Dan jangan melangkah kan kaki keluar kamar sebelum aku selesai mandi." Maudy hanya mengangguk, eh Bima mengentikan langkah lalu berbalik lagi menuju pintu, mengunci dan membawa kunci pintu kamarnya ke dalam kamar mandi.


Gila!!


***


"Bim, buruan." Sudah duduk di sofa kamar. Menepuk tempat di sebelahnya, mempersilahkan Bima untuk duduk.


"Sayang aku pakai baju dulu." Memperlihatkan penampilannya yang hanya mengunakan lilitan handuk sebatas pinggang, menonjolkan area sensitifnya.


"Baiklah-baiklah." Maudy mengalah dan menunggu.


Hingga beberapa menit kemudian.


"Sayang." Duduk, cium sana sini, tersenyum semanis mungkin. "Jadi aku jodohkan Ilham sama Sundari supaya Ilham nggak ganggu kamu lagi." Bima langsung to the point. "Karena aku perhatikan setiap ada kamu, Ilham selalu curi-curi pandang, aku nggak suka itu."


"Bim, aku yakin kamu maksa diakan? Dan kamu iming-imingi dengan hadiah?" Bima terdiam.


"Bim, kalau begitu kasian kak Sun Bim. Dia kan nggak tau apa-apa."


"Sayang, kita lihat aja nanti. Aku yakin mereka juga bahagia kan?"


"Lalu soal hadiah?? Kamu mau kasih hadiah apa?"


"Mobil sama tiket mereka untuk bulan madu." Hah? Maudy kaget, mulutnya sama menganga lebar.


"Gila kamu Bim, kalau kamu bangkrut gimana?" Bima mengatupkan kedua tangannya di wajah Maudy.


"Sayang, hei. Itu hanya memakai gajih aku sebulan, kita nggak akan bangkrut. Anggap aja kita sedekah."


"Bim.." Maudy memeluknya. Tapi pikirannya melayang, membayangkan perkataan Bima 'Hanya gajih sebulan'.


Ah ya ampun, aku istrinya saja nggak mengerti seberapa banyak kekayaan suamiku.


"Apa uang di ATM kamu sudah habis?" Maudy menggeleng.


"Bim, bahkan uang yang kamu transfer dua bulan lalu juga masih ada." Kini gantian Bima yang kaget.


"Sayang?"


"Bim, aku kan juga punya penghasilan. Lalu soal gajih ART juga kamu yang bayar. Aku juga bingung mau untuk apa uang sebanyak ini?"


"Apa kamu tidak mempunyai keinginan?" Maudy diam dan berpikir.


"Ada Bim, tapi."


"Katakan sayang." Diam lagi. Membuang pandangannya.


Apa mungkin Bima menyetujui?


"Aku sebenernya mempunyai keinginan membangun sebuah sekolah Bim. Kenapa? Karena jika sewaktu-waktu perusahaan mengalami penurunan, dan juga resto sepi. Aku mau kita tetap mempunyai sarana penghasil uang yang tidak akan pernah mengalami penurunan dan kebangkrutan. Bukannya itu juga bisa membantu orang-orang yang mempunyai tamatan tapi masih menganggur?"

__ADS_1


"Sayang, kapan kamu mau? Aku akan menghubungi teman papa untuk mengurus ini." Maudy tersenyum.


"Dan aku mau Bim, anak kita nanti sekolah disana. Milik papanya sendiri."


"Sayang, kamu memang pintar. Aku yakin anak-anak kita nanti seperti kamu." Memeluk Maudy dengan erat, tapi Bima langsung melepasnya, memusatkan pandangan pada perut Maudy.


"Sayang, dia gerak, tadi dia nendang aku loh." Maudy berdiri.


"Itu karena dia nggak mau di peluk terlalu erat sama papanya." Meninggalkan Bima yang masih duduk.


"Sayang?" Bima berjalan mendekat dengan senyum nakalnya.


"Tidur Bim udah malam." Tidak mungkin secepat itu kan?


"Sayang, aku mau berjumpa dulu dengan anakku." Ah Maudy pasrah saja, membiarkan Bima bermain dengan bagian yang dia sukai.


Dan malam pun kembali menjadi saksi cinta mereka. Dinding, lampu kamar, mereka lah benda mati yang mendengar suara ******* panjang dari sepasang suami istri ini.


***


Memoles wajah bukanlah salah satu hobby, tetapi menjadi kebiasaan dari kaum wanita, apalagi jika harus menghadiri pesta. Bukan menit, tapi berjam-jam jika sudah di hadapan cermin, mengulang, menghapus, berkali-kali sampai dimana merasa puas dengan hasil polesannya sendiri.


"Sayang, apa lama lagi?" Melihat jam di tangannya. Sudah hampir satu jam menunggu.


"Bim, pergi aja sendiri kalau nggak sabar." Heh hanya bisa menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Kalau saja di bantah pasti akan panjang urusan.


"Sayang, aku tunggu di luar ya?" Maudy hanya menjawabnya dengan anggukan.


Maudy, sudah rapi dan cantik dengan memakai gaun khusus ibu hamil berwarna merah darah, sepatu pansus berwarna hitam, dan tak lupa sebuah dompet yang menjadikan kesan elegan. Meskipun perut sudah membesar tapi tidak sedikitpun mengurangi kecantikannya, apa lagi sekarang pipinya mulai chubby.


Sekali lagi memastikan penampilannya di depan cermin besar, menilik dari atas ke bawah, menilai sendiri sudah cocok atau belum. Ketika suara ketukan pintu terdengar Maudy segera berjalan meninggalkan cermin yang seakan menjerit untuk tetap ia ada di sana. Seperti ingin sekali lagi mengangumi kecantikannya.


"Sayang, sudah selesai belum?" Wajah sudah lesu, padahal soal mandi sudah Maudy yang lebih dulu, tapi kenapa, kenapa dan kenapa pertanyaan yang ada di kepala Bima, selalu dia yang lebih dulu selesai.


"Sudah Bim, ayo?"


"Ponsel kamu? Dompet kamu?"


"Sudah Bim." Sambil berjalan pelan menuruni anak tangga, menggandeng lengan Maudy.


"Bi, kamu pergi dulu ya, titip rumah." Salah satu ART mengangguk dan tersenyum.


"Hati-hati tuan, nyonya."


Mobil sudah di panaskan, jadi mereka tinggal berangkat. Sampai di perjalanan, Maudy teringat akan sesuatu. Ia langsung menoleh ke arah Bima yang sedang bernyanyi mengikut lagu yang di putar dalam mobil.


"Kenapa sayang?" Sesekali menoleh lagi dan kembali fokus ke jalanan.


"Aku lupa Bim, aku belum beli kado buat Ilham dan kak Sun."


"Sayang, aku sudah memberi mereka hadiah, nanti juga datang."


"Bim, itukan dari kamu berbeda lah, sementara aku nggak bawa apa-apa." Bima menghela nafas, bingung bagaimana cara bicara dengan istrinya.


Semoga aja setelah melahirkan tidak lagi seperti ini.


"Bim?" Mengulang lagi.


"Iya sayang iya? Kamu mau kasih apa?"


"Nanti belok aja ya Bim ke kiri, disana ada butik khusus untuk wanita." Bima mengangguk, lalu siap menghidupkan sen ke kiri, benar ada butik besar disana.


Sampai di depan, Maudy turun dan mengatakan Bima tidak perlu ikut masuk. Iya, begitu saja Bima menurut.


Maudy memasuki pintu kaca yang bertuliskan open. Dan mendorong pintu dengan satu tangan, pandangannya langsung tertuju pada sebuah gaun malam. Bahkan langsung berjalan kesana, mengambil beberapa stel dan meminta karyawan membungkusnya.


"Berapa mbak?"


"Lima juta mbak." Maudy mengangguk dan mengeluarkan kartu saktinya.


Pembayaran selesai Maudy meminta bantuan salah satu dari mereka untuk membawanya ke mobil, karena untuk membawanya Maudy enggan, karena tampaknya berat. Padahal isinya juga kain, dia tau sendiri itu.


"Letakkan disini aja."


"Makasih ya mbak."


"Sama-sama mbak, semoga jadi langganan di butik kami ya mbak." Maudy mengangguk dan tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil duduk dan memasang Stelbelt.


"Sayang, kamu kasih apa? Kenapa besar sekali bungkusnya, apa kamu beli baju buat stok satu bulan?"


"Hampir Bim?" Tertawa kecil. "Pokoknya ini cocok buat kak Sun. Dan ini sudah termasuk untuk Ilham juga. Dia pasti senang." Maudy sudah tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana reaksi kak Sun dan Ilham nanti ketika membuka kado darinya.


Maaf ya kak, ini sepertinya kemauan anak dalam kandungan.


***

__ADS_1


Mobil sudah memasuki sebuah halaman parkir, yang di dalamnya terdapat halaman kosong yang di sulap menjadi sebuah tempat pesta yang megah. Ini semua juga di rancang oleh Ilham, dan WO hanya menuruti perintahnya, hebat bukan?


Sepasang pengantin tampak berjalan di altar menuju tempat mereka akan mengucap janji suci seumur hidupnya. Mata Maudy menatap lekat kearah Sundari yang hari ini hampir tak di kenali wajahnya.


"Bim, kak Sun cantik sekali."


"Cuma kamu yang cantik di dunia ini."


"Tapi Bim, kak Sun-"


"Kamu sudah pernah mengatakan ini sewaktu acara resepsi pernikahan kita sayang." Heh, Maudy diam. Dia menoleh kesana-kemari, matanya liar mencari sesuatu.


"Kiki mana ya? Kok nggak kelihatan, apa dia nggak datang?" Gumamnya pelan.


"Sayang, kenapa?"


"Eh, cari Kiki. Tau aja udah datang."


Terdengar sepasang pengantin sudah mulai mengucapkan janji suci, pengikat hubungan di antara mereka. Doa-doa mulai di ucapkan, ketika sudah di pastikan mereka resmi menjadi sepasang suami istri.


Maudy segera berjalan mendekat dengan menggandeng lengan Bima, wajahnya sangat terlihat antusias dengan satu kado yang sudah di bawa oleh Bima.


"Kak Sun selamat ya." Melekuk, cipika-cipiki. "Selamat juga ya ham." Maudy enggan mengulurkan tangannya, takut Bima malah berspekulasi lain hal lagi.


"Bim kasih kadonya sama kak Sun." Dan terjadilah seorang CEO perusahaan menyerahkan sebuah kotak berwarna pink muda kepada sekretarisnya atas suruhan istrinya.


"Makasih ya Dy." Sundari mengeluarkan senyum yang jarang sekali bisa di lihat orang.


"Kiki mana? Nggak bareng kalian?" Maudy menggeleng, kembali melihat ke sekeliling.


"Pak makasih ya sekali lagi." Bima mengangguk.


"Kado dari saya akan sampai hari ini, beserta tiket bulan madu selama tiga hari."


"Loh kok cuma tiga hari?" Ilham kaget, sementara Sundari malah lebih kaget.


Beserta tiket? Berarti ada kado lain juga selain itu??


"Sundari kan sekretaris aku, jadi kalau dia lama-lama libur gimana pekerjaannya?" Ilham mendesah kesal. Ah tapi sebenarnya dia senang, senang sekali malah.


"Baik lah, kami permisi, selamat ya?" Menarik lengan Maudy menjauh dari hadapan pengantin, padahal sudah sedari tadi tamu lain juga akan mengucapkan selamat dan menunggu mereka turun.


"Bim, kita langsung pulang? Nggak makan dulu ih?"


"Sayang anak kita harus makan dari rumah, hanya rumah ya." Maudy terdiam, benar kalau makan di tempat pesta ataupun lainnya yang berbau keramaian belum tentu higienis.


"Bim, kita kerumah Kiki? Mau kan? Sekalian tanya kenapa dia tak datang?"


"Iya sayang."


***


"Tante, kangen.." Memeluk. "Kiki mana tante?"


"Loh Dy, bukannya Kiki pamit mau kerumah kamu?" Maudy menoleh ke arah Bima, dia juga mengangkat bahu.


"Nggak ada tante, justru aku kesini mau tanya kenapa dia nggak datang ke pernikahan sekretaris Bima." Tante Kiki tampak resah.


"Apa Agam nggak datang kesini? Atau Kiki perginya sama Agam?" Diam, masih bingung. "Tante? Jadi Kiki pergi sendiri?" Tante Kiki mengangguk.


"Coba aku telepon sebentar." Maudy mengeluarkan ponselnya.


"Nggak aktif." Wajahnya juga sendu.


"Apa dia ada kerumah Agam ya Tante? Bisa aja kan, dia yang jemput Agam karena mau pergi, tapi mungkin kami selisih di perjalanan."


"Nggak mungkin Dy."


"Kenapa nggak mungkin Tante?"


"Agam sudah akan segera menikah." Duar.. Maudy yang mendengarnya bahkan langsung melemas, terdiam dengan wajah yang sulit di artikan.


Apa ini hanya bercanda?


Bima melangkah menjauh, dia tau hal seperti ini hanya bisa di bicarakan oleh wanita. Memilih membiarkan keduanya saling berbicara.


"Tante?"


"Agam menghamili wanita lain, yang berada di luar negeri. Dan, Agam harus tanggung jawab Dy. Sebenarnya Kiki sudah dari tadi malam mau kerumah kamu, mau hubungi kamu. Tapi Tante larang dia karena, Tante nggak mau Kiki nyusahin kamu, apalagi kamu sudah berumah tangga, dan dengan keadaan yang lagi hamil." Air matanya menetes, tak sanggup membayangkan hal ini, padahal kedua keluarga sudah sepakat akan di lakukan pertunangan Minggu depan, tepat dimana kini berulang tahun. Tapi ketika orang tua Agam datang dan menjelaskan, bahkan sampai meminta maaf dengan air mata yang terus keluar dari mama Agam.


Dan Tante Kiki tau, itu bukan salah orang tuanya, tapi memang anaknya.


"Tante, aku akan cari Kiki sekarang. Aku minta bantuan Bima. Tante tenang ya, aku tau Kiki nggak akan berbuat hal yang nekat."


"Dy, Tante minta tolong. Tolong kamu tanyakan, apakah Kiki juga pernah melakukan hal menjijikan itu dengan Agam." Maudy kembali melemas. Benar, kalau Kiki sudah sempat melakukannya, berarti kehidupan sudah suram, batin Maudy.

__ADS_1


--__


__ADS_2