
"Yah, di panggil ibu suruh cepat katanya."
Malam ini, mereka bakar-bakar dirumahnya. Semua sudah ada tugas masing-masing. Tisha dan ibu Irma menyiapkan bumbu, ayahnya membersihkan ikan, dan Maudy membuat bara api. Wah, adil ya. Maudy tidak keberatan tuh, mau disuruh nyangkul sekali pun sama ayahnya ia juga bisa kok, wonder woman gitu.
"Udah siap bara apinya Dy?" Ibu datang membawa mangkuk besar yang berisi ikan yang sudah dibersihkan ayahnya. Dan di belakangnya ikut adiknya dengan membawa bumbu bakar.
"Udah, sini biar aku bakar sekarang. Udah laper bu."
Maudy menyusun beberapa ekor ikan, dan dengan telaten ia mengipas juga melumuri kecap pada ikan yang ia panggang.
"Wah, jagoan ayah udah duluan aja bakar ikannya, udah laper ya?" Mendekat ke arah anaknya, dan membantu Maudy untuk mengipas ikan di atas bara api.
Malam semakin larut, keluarga kecil yang selalu berinteraksi dengan kehangatan ini pun telah masuk ke dalam rumah. Kembali terlelap dengan pulasnya.
Pagi hari, iya pagi ini Maudy bingung akan bersikap seperti apa jika bertemu Bima nantinya, atau kah berpura-pura tidak tau? Atau apa.
Maudy sudah mengira kalau Bima pasti tidak tau jika papanya sudah menghubungi Maudy dan tidak lagi memperbolehkan nya untuk dekat-dekat.
"Udah ada yang liat Bima datang belum?" Bertanya ke salah satu temannya yang berdiri di depan pintu.
"Belum, tapi tadi Kiki sih yang nanya kamu." Jawab salah satu teman satu kelasnya.
"Oh gitu, ya udah makasih ya."
"Iya, eh Dy kenapa kamu enggak masuk semalam? Bima kasian lo, enggak ada keluar kelas. Diam aja juga dia."
Bukannya Bima memang tiap hari selalu diam ya? Ah lebay kalian semua! Batin Maudy.
"Oh, kemarin aku enggak enak badan, ya udah aku duluan ya mau cari Kiki." Melangkah menuju taman sekolah. Benar saja, Kiki sudah duduk dan seperti biasa, bersama kaca kecil di tangannya.
"Ki." Menepuk pundak temannya mencoba mengagetkan.
"Eh, dasar! Kenapa enggak masuk semalam? Dan kenapa enggak balas chat aku?" Langsung menghakimi Maudy.
"Maaf, aku enggak enak badan kemarin." Bohong lagi.
"Heleh, biasanya kalau enggak enak badan juga kamu pasti ngasih kabar kok. Kenapa sih? Enggak mau cerita sama aku?"
Maudy menghela nafas, percuma juga menghindar, toh ujung-ujungnya pasti bakal cerita juga ke Kiki.
"Papanya nelfon aku Ki, suruh aku jauhi Bima, tidak ada alasan berteman sekalipun." Menunduk dan memainkan kancing tasnya.
"Kamu serius?" Kiki menutup mulutnya saat siswa lainnya memandangnya, Mungkin karena suaranya terlalu kencang.
"Aku bakal jauhi Bima kok Ki, tapi aku mohon jangan kasih tau dia soal ini ya? Aku bakal jauhi dia dengan cara aku sendiri."
Ya aku bakal buat Bima menjauhi aku, dan bukan aku yang menjauh. Dan aku tau caranya gimana.
"Kamu beneran? Emang bisa?" Maudy mengangguk.
"Tapi Dy, gimana caranya? Bahkan kalian duduk juga berdua." Maudy tersenyum.
"Itu dia Ki, kita mulai dari situ. Nanti aku pindah duduk ya ke bangku kamu, bangku kamu yang satunya kan kosong."
"Kamu yakin?"
"Kenapa nanya mulu sih Ki!!" Geram sendiri melihat sahabatnya ini.
"Eh itu Bima Dy, dia jalan kesini?"
Tenang Maudy tenang. Semua akan berjalan lancar.
"Kalian disini." Duduk di samping Maudy. Tapi wajah Bima saat ini sangat murung, Maudy tau itu. Mungkin karena Bima udah menghubungi Maudy, tapi tidak bisa karena nomornya di blokir. Padahal karena ponselnya saat ini masih disita papanya.
"Iya, kamu baru datang Bim?" Kiki melirik Maudy yang hanya diam tidak menyapa.
"Iya-"
"Eh itu Andi, aku duluan ya Ki, Bim?" Langsung berdiri, dan pergi melangkah meninggalkan mereka yang mematung, bahkan Bima sendiri tidak percaya melihat pemandangan di depannya. Maudy menyambut Andi yang baru masuk ke area sekolah, dan berjalan bersama mengajak bicara.
Oh jadi ini rencana kamu Maudy, kurang ajar. Pandai juga dia haha. Kiki.
"Loh Bim mau kemana?" Melihat Bima yang sudah berdiri siap untuk pergi meninggalkan.
"Ke kelas." Suara dinginnya terdengar.
"Ikut lah Bim." Tidak menjawab dan tetap berjalan lurus ke depan.
Sampai di kelas Bima langsung membanting tas nya ke atas meja, kepala ia sandarkan di atas meja, dan menghadap ke arah tembok.
"Wah, ada yang galau nih." Kiki datang dan ikut duduk di bangkunya sendiri.
Tak lama Maudy juga datang dan ikut duduk bersama Kiki, sesuai kesepakatan mereka. Bima yang tidak menoleh memilih membuang pandangannya. Tentu tidak menyadari kalau Maudy sudah masuk ke dalam kelas.
"Pagi semuanya." Sapa Bu Widya yang masuk ke dalam kelas, siap mengajar murid-muridnya.
Bima langsung kembali ke posisi duduknya yang rapi, dan krik-krik.
Ia melihat Maudy tidak ada di sampingnya. Ingin sekali ia bertanya pada Kiki, tapi takut di tegur lagi sama Bu Widya seperti waktu itu.
__ADS_1
Apa Maudy cabut sama Andi? Ah iya, pasti. Apa coba maksudnya.
"Buka halaman 23, liat soal nya dan kerjakan ya. Ibu ada rapat guru, jadi kerjakan soalnya, nanti kumpul sama Maudy, biar Maudy yang antar ke ruangan ibu. Bisa kan Maudy?"
Maudy mengangguk.
Kok bicara sama Maudy tapi liatnya ke arah Kiki sih? Wah, beneran ya Bima, padahal ia tinggal menoleh ke belakang aja, udah jelas terlihat lah disitu tepat di belakangnya ada Maudy yang duduk dengan tenang.
Lucu kamu Bim, pasti sekarang nyariin aku ya? Maudy tertawa dalam hati.
"Jangan ada yang keluar kelas, kalau sampai ibu tau, bakal dapet hukuman bersihkan toilet selama satu bulan." Wuuhhh. Sorakan murid langsung menggema di ruangan kelas.
Sudah biasa, seluruh murid di Indonesia memang begitu kan, kalau ada apa-apa pasti sorak-sorakkan.
Begitu bu Widya keluar, Bima dengan hitungan detik langsung menghadap ke belakang. Matanya sejurus menatap mata Maudy dengan tajam, wajahnya dingin, kalah mungkin kutub Utara.
"Sayang, kenapa duduk disitu?" Suara lembut, wajahnya dengan cepat berubah memelas.
"Enggak apa Bim. Aku duduk sama Kiki aja ya sekarang. Enggak enak, udah ada gosip yang menyebar ke guru kalau kita tuh jarang belajar karena pacaran."
Kiki menunduk menahan tawanya.
Memang Maudy ya, pinter banget cari alasan.
"Bener gitu ya sayang? Terus tadi kenapa kamu nyamperin Andi?"
"Oh itu, tadi aku minta maaf karena waktu itu, ah pokonya ada buat salah sih sama dia." Dengan lancar Maudy berbohong. "Udah sekarang kamu kembali duduk yang bagus, dan kerjakan tugas dari bu Widya." Masih tetap menatap Maudy, tanpa mengalihkan Pandangannya sedikit pun.
"Bima, enggak dengar ya aku bilang apa?" Menggeleng. Jadi bener Bima enggak mendengarkan Maudy ngomong, ia hanya menatap dan melihat tapi enggak mau dengar apa yang di bicarakan Maudy.
"Aku cemburu." Tak bisa lagi Bima menahan ternyata.
Maudy hanya menghela nafas, dan langsung berjalan keluar kelas. Mau kemana? Tentu menghindar dari Bima. Maudy pergi ke toilet.
"Maudy mau kemana Ki?" Bertanya pada Kiki yang berpura-pura fokus belajar, dan ujung-ujungnya juga nyontek sama Maudy.
"Emangnya kamu dengar Maudy ada ngomong sama aku?"
Kalian berdua nyebelin banget ya hari ini!! Menggerutu lagi dalam hati.
-_
Bim, maafkan aku. Jujur, lihat kamu memelas aku jadi enggak tega gini. Tapi semua harus aku lakukan, mulai dari sekarang, supaya kamu juga terbiasa nantinya Bim. Maudy meneteskan air matanya lagi.
15 menit telah berlalu, tapi Maudy masih nyaman di dalam toilet, mungkin ini juga karena tidak ada Bima. Di sini ia bebas menghindar, tanpa harus menahan perasaannya ketika menatap wajah Bima. Wajah yang selama ini ia kagumi.
Diam-diam Maudy pergi ke ruangan guru. Untuk apa lagi? Jelas menjalankan misinya yang lain.
"Silahkan, ada apa Maudy?" Bertanya dengan lembut.
"Bu, aku enggak enak badan. Kepala pusing Bu. Aku takut pingsan bu di sekolah, bisa kah aku ijin pulang Bu?" Berakting memegang kepalanya.
"Kamu sakit? Kenapa datang?" Membenarkan letak kaca matanya.
"Kemarin udah libur bu. Jadi takut kalau hari ini libur lagi. Apa boleh bu?"
"Cari guru yang piket hari ini, setelah itu minta dia tanda tangan." Menyerahkan selembar kertas yang selalu di berikan kepada murid yang ingin ijin pulang.
"Baik bu. Terima kasih." Berjalan keluar ruangan dan mencari guru yang piket hari ini.
Setelah selesai meminta tanda tangan, Maudy melupakan sesuatu, ya tas nya masih di dalam kelas. Untungnya Maudy melihat Andi yang melintas, dengan cepat Maudy melambaikan tangan.
Tapi Andi urungkan niatnya mendekat, karena terakhir kali Maudy melambaikan tangan ya waktu itu, ia mengancam akan menghajar Andi, tentu Andi takut kali ini.
"Andi, sini sebentar."
"Kenapa Dy?" Belum melangkah mendekati, masih tetap berdiri di tempatnya.
"Tolong ambilkan tas ku dong ndi, di kelas. Aku mau pulang, enggak enak badan." Memperlihatkan surat ijin keluar yang di pegang Maudy.
"Oh, tunggu sebentar ya." Langsung berjalan menuju kelas Maudy.
"Ki, tasnya Maudy mana?" Menegur Kiki yang masih menulis, dan Bima tentu ia mendengar dan langsung menoleh.
"Ini, kenapa ndi?" Kiki heran, pasti ada yang enggak beres.
"Maudy sakit jadi ijin pulang, dan aku disuruh ngambil tasnya." Membawa tas Maudy dan berjalan keluar, siap menyerahkan tasnya pada sang pemilik.
Jadi kamu sakit sayang? Kenapa enggak bilang aja sih? Pantas aja kamu beda hari ini, Bima.
Rencana apa lagi sekarang Maudy. Segitunya ya yang nyusun skenario, Kiki.
Maudy pulang kerumah dengan menaiki angkutan umum. Sudah bisa di duga kan sampai dirumahnya pasti ibunya khawatir dan kalang kabut melihat anaknya jam segini udah pulang, belum juga lama pergi dari rumah.
"Assalamualaikum, bu." Duduk di sofa tanpa membuka sepatunya lebih dulu.
"Loh, kamu udah pulang? Kenapa, kamu sakit? Tuh bandel sih, kemarin ngapain coba ikut ayah mancing, seharusnya kan istirahat di rumah. Eh tapi kayaknya tadi malam baik-baik aja ya, kenapa penyakit kamu selalu datang tiba-tiba sih." Tak berhenti bicara sebelum Maudy menjawab.
"Bu, akhir-akhir ini aku sering pusing, jadi dari pada pingsan di sekolah, lebih baik aku pulang aja kerumah."
__ADS_1
"Tiba-tiba sering pusing?" Maudy mengangguk.
"Maudy, apa jangan-jangan kamu, ah Maudy. Bima harus tanggung jawab Maudy??"
"Tanggung jawab, untuk apa?"
"Itu kamu bilang sama ibu kan, kalau kamu tiba-tiba sering pusing, jangan-jangan kamu ah, enggak-enggak mungkin!!" Ibu seperti orang frustasi dan menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Apa sih bu. Ibu kira aku hamil gitu? Apa sih bu ah." Berjalan meninggalkan ibunya.
"Oh jadi enggak ya? Alhamdulillah, tapi kalau kamu dan Bima berani macam-macam ibu bakal gantung kalian ya." Berteriak karena saat ini Maudy sudah masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya, karena ibunya terus saja menyebut nama Bima.
Maudy langsung mengganti bajunya, dan siap untuk tidur di jam yang masih terbilang pagi. Terserah lah, yang penting bisa melupakan Bima sejenak, pikirnya.
-_
Malam ini, Bima tidak turun untuk makan. Bahkan juga ia tidak keluar kamar sama sekali sejak pulang sekolah tadi. Ibunya masuk ke kamarnya, dan mengajak Bima turun untuk makan.
"Ma, suruh aja bibi ngantar makanan ke atas, kalau enggak di boleh kan sama papa ya udah Bima enggak usah makan." Masih duduk di atas tempat tidur.
"Kenapa sih Bim?" Ikut duduk di samping anaknya.
"Ma, papa udah keterlaluan. Masa Bima enggak boleh berteman sama siapa pun sih, sama Maudy juga ma." Akhirnya mengaduh ke mamanya.
"Bima, kamu tau kan kalau kamu salah. Harusnya kamu pandai mengambil hati papa, bukan malah melawannya. Memang mama enggak setuju sama keputusan papa yang enggak bolehin kamu berteman sama Maudy, tapi mama juga enggak suka kamu melawan papa dan berani membentak. Mama enggak pernah ya Bim ngajari kamu seperti itu." Bima menunduk.
Semua sama aja. Sama, semua pada bela papa.
"Ma, aku mau sendiri. Mama keluar aja sekarang, ikut makan di bawah, jangan gara-gara Bima mama dimarahin sama papa." Bima mengusir secara halus.
"Ya udah, nanti mama suru bibi nganter makanan kesini, tapi kamu makan ya." Bima tak menjawab, hanya duduk menekuk lutut dan memeluk bantal.
Aku berasa anak yang paling sengsara di dunia saat ini.
Bima kembali merenungi nasibnya.
Beberapa menit kemudian, pembantunya benar mengantarkan makanannya ke atas. Membawa nampan berisi buah, nasi, sayur, daging. Dan juga susu yang harus di minum Bima sebelum tidur.
"Letak di atas situ aja bi." Menunjuk meja yang ada di kamarnya.
"Di makan den, nanti nyesel loh kalau enggak makan." Mencoba menggoda Bima.
"Iya bi. Nanti aku makan."
"Bibi sarankan, sekarang aja makannya den, kalau enggak den Bima pasti nyesel. Kalau begitu bibi permisi den." Menunduk sopan dengan tuannya yang masih muda dan labil itu.
Apa sih yang dibicarakan bibi. Apa papa mau naik terus marah-marah lagi karena aku enggak makan, terserah lah.
Bima menyalakan televisi dan lebih memilih menonton dari pada makan. Tiba-tiba Bima mendengar sesuatu yang tak asing di telinganya, ia langsung terkesiap.
Bukan kah itu suara ponsel ku? Dan, kenapa suaranya dari arah nampan yang dibawa bibi.
Bima langsung turun dan melihat, ternyata bibi mengantarkan nasi beserta lauk yang lain dan diselipkan ponsel Bima. Bima langsung mengambil ponselnya yang sudah seminggu lebih tak bersamanya. Dengan senang hati Bima memeluknya, seperti memeluk bayi.
Cepat-cepat Bima melihat siapa yang mengirim pesan. Setelah membuka, Bima mengerutkan keningnya, ternyata hanya pesan yang dari mas nya.
"Cie, yang ponselnya udah balik (emoticon mengejek dan tertawa lebar)."
Wah benar-benar ya mas Rio.
"Rese!!" Membalas pesan mas nya.
Dengan cepat Bima mengirim pesan ke Maudy, dan hanya centang satu. Mungkin lagi sibuk, mending aku makan dulu lah, pikirnya.
Iya, ***** makannya sudah Kemabli bersama kembalinya ponsel ke tangannya.
Flashback.
Mama nya turun dengan wajah yang memerah, iya saat ini mamanya marah dengan suaminya itu karena terus saja melarang anaknya berteman dengan semua orang.
"Bima enggak mau makan, dan enggak mau turun. Bima mau makan kalau bibi mengantarkan makanan ke atas. Lagian papa, kenapa sih pa. Selalu melarang Bima untuk berteman dengan siapa pun. Maudy kan anak baik pa."
Rio yang mendengar langsung mendongakkan wajahnya.
Jadi papa melarang Bima buat dekat dengan Maudy? Wah, keterlaluan papa. Pasti Bima galaunya enggak ketulungan.
Papanya menghela nafas berat.
"Bi, bibi tolong bawakan makanan buat Bima, antar kan ke kamarnya sekarang." Teriak agar pembantunya mendengar. Dengan cepat bibi berjalan dari arah dapur. Membawa semua yang harus ia bawa.
"Ini, letakkan saja di nampan." Menyerahkan ponsel milik Bima.
"Baik tuan."
Dan setelah makan, Rio langsung mengetik pesan di ponselnya, tentunya untuk menggoda Bima. Lain hal dengan mamanya, ia langsung berjalan meninggalkan suaminya yang masih duduk di meja makan. Ada rasa marah di dirinya saat ini, pasalnya mamanya sudah menyukai Maudy.
Karena feeling seorang ibu tidak pernah salah, untuk menilai mana yang baik dan tidak baik. Dan menurutnya Maudy adalah anak yang baik.
Flashback end.
__ADS_1
-__