
Maudy terbangun pagi ini sekitar jam 06. Dia tak membangunkan Bima terlebih dahulu. Dan lebih memilih untuk langsung membersihkan diri, menyiapkan sarapan setelah itu menagih janji Bima yang akan mengajaknya ke kantor hari ini. Memang begitu kan setiap wanita, jangan kan tadi malam, Minggu yang lalu sekalipun akan ingat jika sudah di janjikan.
Maudy memilih pakaian yang pas untuknya, memilih di dalam lemari. Dan mengambil satu baju berwarna cokelat tua, memang khusus untuk ibu hamil. Ah sudah bisa di bayangkan olehnya nanti bagaimana, pasti Kiki akan kaget melihat kedatangannya.
Maudy sudah selesai dengan urusannya, lalu membangunkan Bima. Menggoyang pelan tubuhnya.
"Bim, sudah setengah 7. Nanti kamu bisa telat Bim kalau nggak bangun sekarang." Bima mengerjab berulang-ulang.
"Hem sayang, aku nggak enak badan. Aku nggak masuk kantor hari ini ya." Seenaknya saja berbicara begitu, Maudy langsung memukuli lengannya. Menggerutu tidak karuan.
"Bim, apa kamu nggak lihat aku sudah rapi Bim? Ah Bima!! Kamu lupa ya sama janji kamu?" Tetap memukul Bima dengan bantal karena merasa tidak puas.
"Sayang, nanti aku telepon Kiki supaya pulang nanti mampir kerumah kita."
"Aku nggak mau Bim, nggak! Menunggu malam itu akan lama Bim!"
"Tidak sampai malam sayang." Maudy yang penasaran langsung memegang kening Bima, mencoba mengechek suhu tubuhnya, jika teras panas ataupun hangat, berarti memang Bima sakit.
Maudy tak merasakan ada yang berbeda dengan suhu tubuh Bima. Maudy yakin ini hanya akal-akalan Bima saja.
"Sayang, aku bukan demam. Tapi aku merasa tubuhnya seperti akan remuk, pinggang aku terasa sakit sekali sayang, sumpah." Bima merubah posisinya menjadi duduk. Memang benar, wajahnya tampak sangat sayu dengan satu tangan meremas bagian pinggang.
"Apa karena tadi malam? Perasaan juga nggak terlalu kencang geraknya." Gumamnya pelan.
"Kamu mandi aja dulu, aku buatkan teh hangat ya, siapa tau sakitnya berkurang." Bima mengangguk, Maudy segera berjalan keluar kamar, sementara Bima langsung masuk ke kamar mandi.
Selang beberapa menit Maudy kembali dengan bi Marni. Dan sudah tersedia obat rematik yang di berikan bi Marni. Dia mengatakan kalau selalu minum itu ketika tulangnya terasa ngilu.
"Satu kali minum aja sudah terasa perubahannya nyonya."
"Benarkah? Makasih ya bi."
"Iya nyonya, kalau begitu saya permisi kembali ke dapur." Maudy mengangguk, dan segera menyiapkan pakaian untuk Bima di atas tempat tidur.
Hingga Bima keluar dari kamar mandi, wajahnya yang sayu masih terlihat bahkan sekarang tampak pucat, dengan meringis seperti menahan sakit yang teramat.
"Bim? Apa kamu ke dokter saja?" Bima menggeleng.
"Ini ada obat tadi yang di beri bi Marni. Kamu minum nanti ya setelah sarapan, siapa tau benar kata bi Marni, manjur." Bima mengangguk saja. Siap memakai pakaian, Bima duduk di sofa kamar. Satu tangan tetap berada di pinggangnya, Maudy yang tampak kasihan melihatnya langsung meyuapkan makanan untuk Bima.
"Sudah ya sayang." Baru juga satu suapan yang masuk. "Aku benar-benar tidak berselera."
"Apa kamu ada jatuh semalam?" Bima menggeleng.
"Mulai sekarang kamu harus lebih rajin olahraga Bim. Kamu kan kerjanya duduk aja di kantor."
"Waktunya kadang nggak sempat sayang?" Maudy geleng kepala.
"Weekend Bim, kamu kan libur." Di sela-sela perbincangan, Maudy mendapat kesempatan untuk memasukan makanan ke mulut Bima. Dan Maudy langsung berpikir untuk terus mengajaknya bicara, hingga sarapan di piring tandas tanpa Bima sadari..
"Bim? Sudah habis." Menggoyangkan piring di hadapan Bima.
"Kamu minum obatnya ya?" Sudah seperti tak mampu menjawab, Bima hanya bisa menggeleng dan mengangguk.
"Gimana sudah ada perubahan?" Baru saja Bima menelan pil kecil berwarna hitam itu.
"Sayang, baru juga di minum." Ucapnya tapi sedikit terbata.
Maudy pasrah, hari ini tidak jadi ke kantor. Dan Bima meminta Maudy untuk menghubungi Revan melalui ponselnya.
"Hallo Revan?"
"Iya mbak. Kenapa?"
"Revan, tolong kamu hendle perusahaan hari ini ya? Soalnya Bima sakit jadi dia nggak bisa masuk kantor." Maudy tetap berada di samping Bima meskipun Bima membaringkan tubuhnya, Maudy tetap berada di sampingnya. Duduk sambil terus mengusap kepala Bima yang mengeluarkan keringat dingin tiada henti. Padahal AC di dalam kamar juga sudah full kencangnya.
"Bim? Ini nggak bisa di diemin. Aku telepon dokter kepercayaan papa aja ya? Biar periksa keadaan kamu."
"Hemm." Untuk membuka mulut juga susah. "Sakit sekali sayang." Maudy juga sudah mulai khawatir sekarang.
Ya ampun, kenapa nggak aktif sih.
Maudy mengambil ponselnya sendiri, mencari nomor lain yang bisa di hubungi. Nihil, tidak ada juga.
Dan pilihan terakhir adalah papa Adi yang harus di hubungi.
"Hallo pa?"
"Iya Dy, kenapa?"
"Papa dimana?"
"Papa dirumah, ada apa?"
"Pa Bima pa?"
"Bima kenapa?" Nada khawatir jelas terdengar di seberang telepon.
Maudy langsung menjelaskan bagaimana keadaan Bima sekarang, dan apa saja keluhan yang di rasakan Bima. Papa Adi langsung berkata akan datang sekarang serta membawa dokter terbaik dari rumah sakit kepercayaannya.
"Sabar ya Bim. Papa bakal datang sebentar lagi." Bima hanya menganggukkan kepalanya yang terbaring di atas bantal.
"Sayang, aku haus, air." Ucapnya lemah. Tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering sekarang.
Ya Tuhan, suamiku kenapa.
"Sakit sekali ya Bim?" Bima mengangguk lagi. "Seperti apa rasanya?"
"Ngilu sayang. Sakit semua di seluruh pinggang."
"Bim, itu biasanya kalau ibu yang bilang sih masuk angin. Tapi masuk anginnya berbeda dan bisa membuat nyawa orang lain menghilang."
"Sayang!" Bima membentaknya. Maudy yang kaget langsung terdiam.
"Maaf Bim." Maudy meninggalkan Bima dan berjalan keluar kamar. Mencari dimana keberadaan bi Marni. Maudy yakin, bi Marni pasti lebih tau dan berpengalaman tentang ini.
"Kenapa nyonya?" Bi Marni yang tengah membersihkan halaman belakang bersama ART yang lain langsung berjalan tergesa-gesa.
"Bi, Bima malah tidak ada perubahannya. Dia bilang makin sakit bi. Sepertinya Bima itu masuk angin deh bi."
"Ya sudah, tunggu sebentar nyonya biar saya buatkan wedang jahe." Maudy mengangguk dan menunggu di kursi dapur. Memperhatikan gerak-gerik bi Marni yang cekatan.
"Sudah bi? Cepat sekali?" Melihat bi Marni sudah menyodorkan satu gelas wedang jahe.
"Biar saya yang bawa nyonya? Ayo?" Maudy mengikuti langkah bi Marni untuk menaiki tangga, tapi Maudy mendengar jika ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya lalu memanggilnya.
"Bi, coba bibi buka pintunya ada yang datang. Kalau itu papa suruh aja langsung ke kamar ya bi. Sini biar aku yang bawa ke kamar." Bi Marni menyerahkan gelas ke tangan Maudy dan langsung menuruni anak tangga.
Setelah masuk ke dalam kamar Maudy tidak mendapati Bima yang berbaring ke tempat tidur, dan meletakkan gelas di atas meja lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Bim? Apa kamu di dalam?" Mengetuknya pelan, tapi tidak ada suara apapun. Maudy tau sekarang, Bima berada dimana.
__ADS_1
"Bim?" Bima menoleh, dia berdiri di balkon kamar dengan kedua tangan memegang pagar pembatas.
"Kamu ngapain disini?"
"Gerah sayang, aku cari angin."
"Masuk yuk, itu sudah aku bawakan wedang jahe." Bima menurut dan masuk ke dalam.
"Sayang, tadi ada yang telepon kamu?"
"Siapa Bim?"
"Karyawan resto. Katanya bahan resto stoknya sudah menipis." Maudy berjalan ke arah meja yang berada di samping tempat tidur, dimana ponselnya diletakkan oleh Bima.
"Hallo? Ah iya ini mbak. Kenapa?"
Maudy berjalan menuju sofa dan kembali duduk di samping Bima sambil menelepon.
"Oh ya udah, nanti mbak sempatkan buat ke resto, kalian aja yang belanja ya? Mbak nggak sempat, ini lagi jaga Bima sakit."
"Iya-iya."
"Nyonya." Pintu kamar di buka, dan benar papa datang beserta seorang dokter.
"Mama ikut?" Maudy melihat mama Lisa yang masuk ke kamar belakangan.
"Kenapa Bima Dy?" Mama ikut duduk.
"Ayo Bim, coba kamu berbaring dulu di tempat tidur, biar dokter yang periksa." Bima mengangguk dan berialan. Meski rasa sakit yang teramat masih melingkupi bagian pinggang Bima mencoba terlihat baik, agar Maudy tak khawatir.
"Bangun tidur udah begitu ma. Tadi malam juga nggak apa-apa." Maudy dan mama Lisa hanya menatap Bima yang sedang di periksa oleh dokter dari tempat dimana mereka duduk. Sementara papa Adi berdiri di samping tempat tidur untuk memastikan keadaan anaknya.
"Gimana dok?" Dokter malah beralih melihat ke arah Maudy.
"Apa rasa sakitnya datang terus-menerus?"
"Tadi pagi masih terasa sakit lalu hilang sebentar, dan muncul lagi. Karena jam 4 pagi saya terbangun dok. Lalu tidur lagi karena berpikir ini hanya sakit pinggang biasa, setelah saya bangun tadi ternyata masih terasa sakit. Dan sekarang, sakitnya malah bertambah. Tidak ada jeda lagi, rasanya sakit sekali. Bahkan lebih sakit satu tulang lengan saya yang patah." Dokter hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Jadi sebenarnya anak saya sakit apa dok?" Papa Adi yang sudah sangat penasaran sekarang.
"Saya tidak bisa mendiagnosa penyakitnya saat ini. Karena tidak ada penyakit apapun yang saya temui." Mama Lisa yang mendengar langsung berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
"Bagaimana bisa dok?" Dokter menggeleng.
"Tunggu saja hingga sampai puncaknya, saya akan memberikan obat pereda nyeri." Mama Lisa dan papa Adi kecewa mendengarnya. Merasa dokter salah dalam memeriksa keadaan Bima.
Setelah dokter pamit untuk pulang, papa Adi langsung memutuskan untuk membawa Bima kerumah sakit. Karena ini sudah dalam hal yang tidak wajar, kesakitan yang Bima rasakan saat ini, dan tidak ada diagnosa sama sekali. Bagaimana bisa, pikirnya.
"Pa? Nggak usah kerumah sakit lah." Bima masih bertahan dengan berbaring di atas tempat tidurnya.
"Bim, nggak mungkin kan kamu tahankan begini? Papa yakin kalau dokter tidak teliti memeriksa kamu. Sudah ayo kita berangkat sekarang." Papa Adi membantu Bima untuk berdiri dan menuntunnya untuk berjalan keluar. Setiap kakinya menapak Bima selalu meringis menahan sakit yang tak kunjung hilang.
"Ma sebenarnya Bima kenapa ma?" Maudy langsung melow ketika melihat suaminya yang berjalan saja sudah harus di papah. Tidak tau kalau ujungnya akan seperti ini.
***
Sesampainya di rumah sakit, Bima langsung di dudukan di kursi roda. Lalu dua perawat membawanya masuk keruangan untuk langsung di periksa.
"Saya akan melakukan rotgen supaya melihat penyakit apa yang ada." Papa Adi setuju, begitu juga dengan Maudy ataupun mama Lisa.
"Ma, aku mau telepon ibu dulu ya? Mau kasih kabar ke ibu." Mama Lisa mengangguk dan duduk menunggu di luar ruangan. Maudy yang berjalan sedikit menjauh.
"Ibu?"
Ah belum juga berbicara dan menjelaskan keadaan Bima saat ini, sudah melow lagi.
"Bu, Bima masuk rumah sakit."
"Ha? Bima?" Kaget, panik.
"Yah, ayah menantu ayah masuk rumah sakit."
"Bu?"
"Iya Dy?"
"Ibu kesini ya?"
"Iya-iya, tapi sebentar lagi ya Dy. Soalnya ibu lagi di apartemen om kamu, tadi ibu kesini mau lihat anaknya om."
"Iya Bu, aku tunggu ya?"
Maudy kembali berjalan mendekat, baru saja Maudy duduk, dokter berjalan keluar ruangan setelah memeriksa Bima.
"Dokter, bagaimana?" Mama Lisa yang sudah khawatir langsung bertanya, sementara papa Adi sudah berada di dalam sedari tadi karena menemani Bima didalam ruangan.
"Silahkan masuk Bu. Tunggu sampai hasil rotgen selesai ya. Sejauh ini memang saudara Bima tidak ada penyakit apapun, aliran darah juga lancar, dan air seninya bagus tidak ada masalah. Denyut dan tensi juga normal, kita hanya menunggu hasil akhir saja." Mama Lisa mengangguk dan menggandeng lengan Maudy untuk masuk ke dalam ruangan.
Ya Tuhan, papa kamu kenapa nak?
Sambil mengelus perutnya.
"Bima?" Maudy berjalan mendekat ke arah suaminya yang kini sudah terbaring dengan terpasang selang infus di tangannya.
"Sayang?" Ucapnya lirih, matanya sudah sangat sayu. Wajah pucat dan keringat dingin yang membasahi wajah Bima. Maudy menghapus keringat yang berjatuhan dengan sangat telaten.
"Tahan ya Bim?" Maudy menggenggam erat tangan Bima.
"Eh!" Maudy kaget karena merasa ada yang keluar dari daerah intimnya, membasahi dress yang dia gunakan.
"Ma? Ini kenapa?" Bingung, karena air tak berhenti keluar. Tanpa bisa Maudy cegah saat ini.
"Panggil dokter pa?" Setelah melihat Maudy yang berdiri dengan tubuhnya yang bergetar. "Ini air ketuban sepertinya, apa kamu ada merasakan sakit di bagian perut?" Maudy menggeleng.
"Pa cepat." Papa Adi yang berjalan keluar dengan tergesa-gesa. Mereka yang berada diruangan sudah bingung, begitu juga dengan Bima yang saat ini berbaring. Ingin sekali rasanya memeluk istrinya saat ini, tapi itu tidak bisa ia lakukan karena tubuhnya sudah benar-benar lemas sekali.
"Dy? Coba kamu tarik nafas dan buang secara perlahan." Maudy mengikuti saran mama Lisa setelah mereka duduk.
"Itu dokter? Anak saya tiba-tiba mengeluarkan air." Ucapnya yang saat ini juga panik.
"Suster bawa langsung keruangan bersalin." Mama Lisa langsung membantu Maudy untuk duduk di kursi roda.
"Ma, Mama temani saja Maudy. Biar papa yang jaga Bima." Mama Lisa mengangguk dan berjalan mengikuti perawat dan juga dokter yang membawa menantunya.
***
Mama Lisa hanya bisa menunggu di luar ruangan, lalu tak lama dokter kembali keluar untuk mempersilahkan mama Lisa masuk.
"Gimana dok?" Maudy sudah mulai mengejan. Mama Lisa langsung mendekat. "Dy, kamu mau lahiran?" Maudy sudah tidak bisa menjawab lagi.
"Sudah buka akhir, ayo terus mengejan bu." Maudy mengikuti saran dokter, dan tiga kali mengejan saja sudah ada suara tangis bayi yang memenuhi ruangan.
__ADS_1
"Lagi ya bu, sudah kelihatan kepalanya." Lagi, Maudy mengejan dengan menetes air matanya saat ini. Terharu dan juga sedih datang secara bersamaan. Bima yang tidak ada di ruangannya saat ini, tidak ada di sampingnya untuk menemaninya.
"Wah selamat." Anak kedua telah lahir. "Yang pertama berjenis kelamin perempuan, dan yang kedua laki-laki. Mereka lahir berbeda waktu 15 menit. Ini sungguh luar biasa bagi saya. Karena biasanya paling cepat itu 30 menit." Dokter berdecak kagum. Maudy sudah lemas sekarang, tapi sungguh dia tak merasakan sakit sedikitpun ketika akan melahirkan. Tidak seperti cerita yang dia dengar dari orang-orang ataupun ibunya.
***
Mama Lisa berjalan dengan tergesa-gesa untuk kembali dimana ruangan Bima di rawat. Membuka pintu dan melihat Bima yang sudah duduk dengan tenangnya dan ada perawat disana yang sedang membuka infus di tangan Bima.
"Loh Bim, kenapa di buka?"
"Aku sudah nggak ngerasa sakit lagi ma. Aku udah enakan, dan hasil rotgen juga sudah papa lihat tadi. Hasilnya sama, semuanya baik aku nggak apa-apa ma."
Mama Lisa beralih menatap ke arah suaminya.
"Iya ma benar, dan papa yakin Bima hanya kecapekan saja cuma karena dasarnya lemah, jadi merasa berlebihan."
"Apasih pa, memang benar tadi sakit sekali." Ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Nggak pa, Bima benar. Mama tau sekarang."
"Maksudnya ma?" Suaminya bertanya.
"Maudy mana ma?" Papa Adi juga baru menyadari sekarang, menantunya tidak ada disini.
"Bim, Maudy sudah melahirkan." Bima langsung lompat dari tempat. "Dan yang kamu rasakan tadi itu sebenarnya rasa sakit yang seharusnya Maudy rasakan ketika mau melahirkan?" Papa Adi sampai tercengang.
"Bagaimana bisa ma?" Menggeleng pelan.
"Ma sudah ayo, antarkan aku keruangan Maudy ma. Aku mau melihatnya sekarang, aku mau melihat istriku." Ucapnya dengan air mata yang sudah menganak sungai.
"Iya-iya, ayo pa?" Mereka berjalan keluar ruangan. Dan beralih melalui lorong rumah sakit untuk sampai keringanan bersalin.
Begitu sampai, Bima tak bisa lagi membendung air matanya. Melihat Maudy yang sudah terbaring dan sekarang terpasang selang infus di tangannya.
Memeluk istrinya dan mengecup kening berkali-kali, berterima kasih karena sudah mau berjuang dan memang sudah berhasil berjuang melahirkan anaknya.
"Sayang maaf aku nggak ada di samping kamu. Mana anak kita?"
"Bim, kamu kenapa kesini? Bukannya kamu juga masih sakit? Dan kenapa kamu malah lepas infusnya?" Bima menggeleng sambil menggenggam tangan istrinya.
Mama Lisa berjalan keluar ruangan dengan diikuti papa Adi, padahal mama Lisa keluar karena mau menjawab telepon dari besannya.
"Iya mbak?"
"Mbak, aku sudah ada diruangan Bima. Tapi kenapa tidak ada orang?"
"Mbak, pindah ruangan saja, masuk ke lorong sebelah kiri ya. Aku tunggu disini, nanti juga kelihatan."
"Siapa ma?"
Mama Lisa mematikan telepon baru menjawab pertanyaan suaminya.
"Ibunya Maudy pa." Mereka duduk menunggu, dan benar saja hanya beberapa menit terlihat ibu Irma beserta suaminya berjalan tergesa-gesa.
"Mbak. Mana Bima? Kenapa ada diruangan bersalin?" Bingung, saling tatap dengan ayah Subi.
"Masuklah mbak." Mama Lisa menggandeng lengannya.
"Ha?" Lebih kaget sekarang, melihat malah anaknya yang terbaring di tempat, sementara Bima yang katanya sakit dan harus di rawat malah duduk di samping Maudy.
"Mbak?" Mama Lisa mengangguk dan tersenyum. Lalu menceritakan bagaimana sampai bisa begini, Maudy dan Bima juga mendengarnya. Jadi, ini alasan kenapa Bima merasakan sakit yang teramat.
"Kamu bilang kan Bim waktu itu, mau Carikan aku dokter terhebat di dunia supaya aku nggak merasakan sakit ketika aja menjelang melahirkan. Dan sekarang, aku sudah menemukannya sebelum kamu cari. Dokter itu kamu Bim, kamu yang berhasil menghilangkan rasa sakitnya ketika aku akan melahirkan." Bima sampai menggeleng tidak percaya.
Dan sekarang, kedua wanita paruh baya ini disibukkan untuk masing-masing memberi kabar kepada keluarganya.
"Anaknya mana mbak?" Ibu bertanya.
"Tadi lagi di mandikan, sekalian dokter akan langsung melakukan city scan untuk kedua cucu kita. Karena mereka adalah anak kembar, aku takut satu di antaranya memiliki kekurangan mbak, jadi aku minta untuk memeriksa kedua cucu kita." Ibu Irma mengangguk setuju.
***
Sore hari, Maudy dan Bima sudah berada di dalam ruangan, bersama kedua anaknya yang di letakkan di dalam box bayi. Tak henti-hentinya Bima mengajak anaknya berbicara, Maudy tersenyum bahagia menatap keindahan yang dilihatnya sekarang.
Sementara kedua orang tua mereka sudah pulang, untuk membereskan rumah Maudy, dan mempersiapkan semuanya untuk menyambut baby twins pulang kerumah.
Maudy di ijinkan pulang kerumah besok pagi. Dan Maudy juga mengatakan kalau mama Lisa tak perlu lagi untuk kembali kesini, begitu juga dengan ibunya. Mengingat kondisinya yang sudah stabil, tenaga juga sudah kembali. Hanya saja, Maudy tak bisa bergerak sesuka hati, karena rasa sakit di area intimnya.
Tok.. Tok.. "Permisi." Seseorang datang dengan mengetuk pintu.
"Siapa Bim?"
"Masuk." Jawab Bima tapi tetap berada di tengah-tengah istri dan anaknya.
"Pak Bima selamat, mbak selamat ya." Revan datang sendirian, dengan membawa berbagai macam pernak-pernik untuk anak mereka.
"Ya ampun Revan, kenapa repot-repot." Maudy tersenyum. "Kamu nggak barengan sama Kiki?" Revan menggeleng lemah dan sepertinya malah menghindari pertanyaan itu dan kini beralih ke box baby dimana kedua anak bosnya tengah tidur.
"Cantik sekali."
"Dia anak saya Revan."
"Yang satu laki-laki, kenapa kamu bilangnya mereka cantik?" Kembali protes.
"Oh iya pak, tampan."
"Seperti saya kan?" Revan setuju saja, iya memang benar pak, begitu dia menjawab.
"Siapa namanya pak?"
"Rahasia."
"Pfftt.." Maudy menahan tawa, jawaban yang sama ketika mamanya bertanya perihal nama.
Revan langsung terdiam, dan masih terus memandangi kedua baby mungil yang tengah tidur.
"Maudy?" Kiki masuk tanpa mengetuk, membuat mereka semua kaget dan serempak menoleh. Tapi Maudy langsung kehilangan senyumnya ketika melihat seorang lelaki masuk bersama Kiki. Tampan, begitu batin Maudy saat ini. Revan hanya melirik sekilas lalu fokus kembali memandangi bayi di dalam box.
"Dy, kenalkan dia Niko, Bim, Revan." Niko hanya tersenyum.
"Pacar kamu?" Bima menyeletuk lalu melirik ke arah Revan yang sama sekali tak mau melihat ke arah Kiki.
Kiki tak menjawab dan beralih melihat ke dalam box dimana baby twins tidur.
"Uh lucunya, sayang mami datang."
"Sama papi." Gumam Revan pelan dan hanya Kiki yang mendengarnya.
"Pak, mbak Maudy. Saya permisi pulang dulu ya? Ada urusan." Maudy tau, melihat sorot mata Revan yang penuh kekecewaan saat ini.
Kenapa sakit sekali..
__ADS_1
Sambil berjalan keluar ruangan.
--_