Dia Bimaku

Dia Bimaku
Scandal atau sandal?


__ADS_3

Suasana menjadi panik, bukan lebih tepatnya bingung. Mama Bima, ya dia datang kesini karena akan mengaduh semua masalah yang ia hadapi di rumah. Termasuk tadi malam ketika Bima tidak pulang kerumah.


Dan ibu Irma, dia menyambut tamu yang datang. Dengan senang hati menerima mamanya Bima datang kerumah. Dan posisinya ia sendiri benar-benar tidak tau kalau Bima disini.


"Coba kamu jelaskan Bim, sebenarnya ada apa?" Bima melirik Maudy sebentar.


"Sebenarnya tadi malam aku kesini, tapi aku lihat Maudy tidur di kursi." Bima mulai menjelaskan.


"Apa Maudy tidur di kursi? Ini maksudnya Maudy udah pulang dari tadi malam?" Ibunya langsung panik, padahal Bima juga belum selesai menjelaskan.


"Itu yang harusnya aku tanyakan sama ibu, padahal tadi malam mau buat kejutan, eh malah ibu nggak ada dirumah." Mulai menggerutu.


"Iya, ibu sama ayah pergi keluar. Cuma mendadak mobil ayah mogok, makannya lama. Itu juga baru di antar pihak bengkel, makannya ayah kerja naik motor kamu." Jawab ibunya.


"Udah Bima lanjutkan." Mamanya ingin mendengar.


"Iya, lalu Maudy cari kunci cadangan, ternyata nggak ada. Terus aku berinisiatif nganter Maudy buat nginep dulu di hotel. Ya udah, tadi baru ngantar pulang kesini setelah kami sarapan di jalan."


"Terus, kamu kok bisa tau kalau Maudy udah pulang? Katanya dia nggak ada kasih tau siapapun?" Ibu Irma bertanya lagi. Asli Bima tuh kayak lagi di interogasi sama aparat tau nggak.


"Oh itu Hem." Melirik Maudy lagi. "Aku suruh mang Sugi buat mata-mata kalau lihat Maudy sudah pulang. Soalnya kan Maudy sengaja nggak mau ngabarin."


Ya ampun, jadi mang Sugi???


"Astaga Bima." Mamanya geleng-geleng kepala, tak habis pikir melihat anaknya. Sampai menyangkut pautkan mang Sugi segala dalam hubungannya.


"Terus, kamu nggak pulang semalam? Jangan bilang kamu nginep di hotel juga sama Maudy?" Mamanya menatap Bima, siap menunggu jawaban.


Dan Bima pun mengangguk.


"Satu kamar?"


"Enggak!" Maudy.


"Iya ma." Bima.


"Jawab yang jelas." Mereka terdiam. Sama-sama melirik.


"Jadi benar?" Ibunya langsung bangkit dari duduknya. Memegang kepalanya, mondar-mandir.


"Mbak, gimana anak kita ini mbak!" Ah ibu Irma sudah panik. Ia menebak kalau Maudy dan Bima sudah melakukan itu.


"Nggak bu, nggak! Ibu jangan berpikiran macam-macam. Tante, tante percaya kan?" Mamanya tidak menjawab.


"Bima, jawab mama dengan sejujurnya. Apa benar kalian satu kamar?" Lama Bima terdiam.


Maafkan aku sayang.


"Iya ma."


Lemas, baik Maudy, ibunya dan tante Lisa. Mereka sama-sama kehilangan tenaga, pandangan terasa kabur.


Bima, ya ampun! Apa nggak bisa bohong sedikit!!!


"Mbak, mereka harus menikah!" Ucapan ibu Irma terdengar sangat serius.


"Biar aku hubungi papanya sekarang." Langsung berdiri dan mengeluarkan ponsel miliknya.


"Ma, jangan ma." Bima memohon.


"Waktu mama turun dari mobil, mama tau kalau kamu disini, karena ada mobil kamu terparkir di depan. Cuma mama hanya ingin memastikan, dan ternyata benar kan. Tapi kenapa begini Bim? Kamu berani bawa anak gadis orang, ya ampun Bima. Mama tau hubungan kalian ditentang papa. Tapi nggak gini juga Bim, kalau Maudy hamil gimana." Maudy menunduk tak berani menatap wajah ibu atau mamanya Bima.


Sungguh ini memalukan.


"Ma, iya aku mau nikah sama Maudy. Mau ma. Tapi jangan bilang papa."


Mamanya menatap ke arah ibu Irma, mungkin meminta pendapat tentang hal ini. Karena yang di rugikan adalah anaknya.

__ADS_1


"Mbak, aku juga bingung."


"Bu, sumpah. Kami nggak ngapa-ngapain." Menaikan dua jarinya ke atas. Sebagai lambang sumpah yang biasa di lakukan orang-orang.


"Gini aja, kamu harus bicara sendiri ke papa kamu Bim." Deg. Jantung Maudy hampir keluar dari tempatnya. Ini malah akan jadi masalah besar nantinya.


"Ma, iya. Tapi beri aku waktu ma. Setidaknya aku bakal buktikan kalau kami benar-benar nggak ngapa-ngapain." Kedua orang tua ini menghela nafas berat.


"Ya sudah." Tampaknya ibu Irma setuju dan mengangguk.


"Ya udah mbak, kita makan ya? Aku udah masak banyak." Ibu Irma langsung berjalan ke dapur. Maudy mengikutinya, ia jelas melihat ibunya menghapus air mata yang terjatuh. Tapi tidak ingin dilihat oleh anaknya.


"Bu, maaf. Maafkan aku bu. Tapi sumpah, aku beneran nggak ngapa-ngapain. Ibu silahkan bawa aku ke dokter. Periksa keperawanan aku bu." Ibunya menatap dengan wajah sendu.


"Ibu percaya sama kamu nak. Ibu percaya, bukan itu yang ibu takutkan. Tapi papanya Bima, kamu tau kan Dy?" Ibunya benar. Maudy menunduk, kenapa bisa Bima langsung jujur? Batinnya.


"Aku akan hadapi bu, aku juga cinta sama Bima!" Maudy langsung mengambil piring dan membawanya ke depan. Sementara ibunya membawa makanan.


***


"Gimana menurut ayah?" Setelah menceritakan kejadian itu, ayahnya termenung. Apakah ia termasuk orang tua yang gagal?


"Ibu yakin kan kalau Maudy memang nggak ngelakuin?" Ibunya mengangguk.


"Ya sudah. Kita harus buat mereka tidak akan terpisah."


"Dengan cara apa yah?" Ibu Irma sudah penasaran.


"Mereka harus menikah, tidak sekarang. Tunggu waktunya, kita tantang Bima datang bersama keluarnya." Istrinya langsung membulatkan matanya.


"Yah, mereka keluarga terhormat, mana mungkin mau?"


"Kenapa nggak mau? Itu sudah konsekuensi dari perbuatan Bima bu." Iya, istrinya terdiam.


"Panggil Maudy sekarang bu?" Langsung berjalan menuju kamar anaknya.


"Dy, ayah manggil kamu." Deg. Maudy tersentak.


"Ibu bilang ke ayah?"


"Dia ayahmu, dia harus tau Dy." Berasa tidak punya tulang sekarang. Apa yang akan dilakukan ayah setelah ini? Sambil berjalan Maudy memikirkan hal-hal di luar nalar.


"Ayah." Lirihnya dan duduk di samping ayahnya.


"Anak ayah udah besar. Jadi gimana? Kapan mulai buka usaha?" Mengelus lembut puncak kepala anaknya.


Kok ayah nggak marah sih?


"Hem secepatnya yah." Ayah manggut-manggut.


"Dua bulan lagi ayah pensiun. Seharusnya sudah dari satu tahun lalu, tapi entah kenapa ayah malah di berikan lagi satu tahun untuk tetap menjabat." Ucapnya dengan nada getir. Walau kecewa dengan perbuatan anaknya, tapi ayahnya tidak ingin langsung menuding.


"Bu, apa ibu yang simpan surat tanah om?" Ibunya mengangguk.


"Coba ambil bu, om suru baca dengan teliti. Aku juga nggak tau maksudnya, tapi itu pesan beliau." Ibunya dengan cepat mengambil apa yang sudah Maudy katakan.


"Yah, om Wisnu juga udah ngirim uang ke ATM. Katanya itu untuk modalnya. Gimana yah?"


"Berapa jumlahnya?" Maudy menggelengkan kepalanya. Memang dia sendiri juga tidak tau, belum saja sempat untuk melihatnya. Bukankah harus melihat saldo terlebih dahulu di mesin ATM atau bank terdekat.


"Ya sudah, besok kita lihat." Maudy mengangguk. Ia memeluk lengan ayahnya, bersandar di tubuh yang sudah lelah mencari nafkah untuknya.


"Yah, maafkan aku. Aku udah kelewat batas. Tapi sumpah aku nggak ngelakuin hal itu yah, aku masih bisa menjaga kegadisanku." Ayahnya masih terdiam.


"Aku mau nikah sama Bima yah, tapi setelah usaha resto kita sudah terbangun, sesuai keinginan ayah." Dengan hati yang sudah mantap Maudy mengucapkannya.


"Ayah tau, jujur ayah kecewa. Tapi semua balik lagi ke kamu. Jika orang lain tau, pasti tidak akan percaya walaupun kamu sudah mengucapkan kata sumpah. Kamu tau kedepannya yang terbaik buat kamu, ayah bakal nunggu Bima datang kesini bersama keluarganya."

__ADS_1


Keluarga? Apa papanya mau?


"Ini Dy." Ibunya sudah membawa berkas surat tanah yang Maudy minta.


"Dy, coba kamu aja yang baca?" Ayahnya memberi perintah.


Maudy membukanya, melihat luasnya tanah. Wow, memang ini cukup untuk membangun sebuah resto, bahkan bisa lebih lahannya.


Lalu melihat nama yang tertera. Jelas tertulis disitu atas nama ibunya.


"Bu, sebenarnya ini tanah siapa?" Maudy kembali memastikan.


"Tanah om kamu, kan dia yang beli." Maudy menggeleng.


"Bukan, ini atas nama ibu." Ha? Ibu dan ayahnya saling pandang. Tak puas rasanya mendengar dari mulut Maudy, ibunya langsung merebut dan melihat sendiri. Begitu juga dengan ayahnya, yang ikut melihat.


"Ya ampun Wisnu." Air mata bahagia hampir tumpah.


"Yah?" Menatap wajah suaminya.


"Aku harus telepon Wisnu sekarang." Ibunya langsung pergi ke kamar, mengambil ponsel dan segera menelpon adiknya. Apa-apaan dia ini, seenaknya saja membeli tanah dengan harga yang mahal, lalu membuat namaku disana, batinnya.


Padahal sudah berkali-kali ibu Irma menolak bantuan dari adiknya, hanya Maudy saja yang ia relakan untuk kuliah disana.


Maudy kembali melanjutkan obrolan bersama ayahnya, tidak ingin tau gimana ibu bertanya soal ini, biar itu sudah menjadi urusannya menegur adiknya, yang menurutnya sangat berlebihan.


"Terus, gimana kedepannya Dy? Apa kita langsung cari karyawan saat resto dalam proses pembangunan?" Jujur, ayahnya sendiri tidak tau menahu, semua ia serahkan kepada Maudy, orang tua hanya sebagai penyemangat saja.


"Iya bisa, tapi hanya dua orang saja yah. Nah, ketika nanti keadaan resto setelah di buka ramai, sudah ada pelanggan yang selalu mengisi perutnya di resto, baru kita cari lagi beberapa karyawan sesuai kebutuhan. Untuk masak, itu sudah menjadi urusan aku yah."


"Kamu sepertinya di luar negeri memang belajar dengan sungguh-sungguh ya?" Ayahnya tersenyum.


"Iya yah. Yah, aku istirahat dulu ya? Aku ngantuk." Aku hanya mengangguk. Soal ibu bagaimana, bisa di tanya besok saja, pikirnya.


Di sudut kamar ibu.


"Heh Wisnu bule! Kamu ini apa-apaan sih, kok surat tanah bisa atas nama kakak? Gimana caranya? Dan maksudnya itu apa?" Langsung mencecar dengan semua pertanyaan.


"Ya kalau kakak nggak mau, bisa di ganti kok jadi atas nama Maudy."


"Oh gitu. Ya sudah. Hem, nggak tau lah gimana lagi mau bilang makasih sama kamu."


"Kak, dengar ya. Aku mau, bukan hanya aku saja yang sukses, tapi keluarga kakak juga, sudah jangan pikirkan apa-apa lagi. Semua akan berjalan lancar."


Ah dikirain mau di ketok sapu gitu. Ternyata hanya ada tangis haru antara kakak beradik ini. Yang menangis hanya lewat telepon, kasian tidak dapat saling peluk.


***


"Rio, sini." Mamanya memanggilnya yang baru saja terlihat menaiki anak tangga. Sementara Bima, dia sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.


"Papa mana?" Setelah Rio sudah berdiri dihadapannya.


"Tadi masih di kantor, sebentar lagi juga pulang ma. Kenapa?" Melihat wajah mamanya yang seperti orang sedang kebingungan.


"Bima Rio, adik kamu. Pokoknya dia harus menikah sama Maudy, titik!"


"Itu kan memang kemauan Bima dari awal, kenapa mama terlihat takut." Jawab Rio dengan santainya.


"Tapi bukan itu masalahnya Rio, adik kamu tuh udah tidur satu kamar sama Maudy." Panik, menggaruk kepalanya sendiri. Rio masih menunggu kata-kata mamanya selanjutnya.


"Dia tuh udah ngelakuin, apa sih? Sendal atau sandal? Yang kalau udah tidur berdua gitu?"


"Pfftt.." Rio menutup mulut menahan tawa.


"Sandal apa ma?" Suara suaminya yang baru saja masuk ke dalam rumah. Mereka serempak menoleh.


"Sandal apa yang mama maksud? Sandal mama hilang? Kenapa wajah mama panik begitu?" Rio langsung pamit undur diri, dengan alasan ingin cepat membersihkan diri. Biar mama yang menjelaskan, batinnya.

__ADS_1


--__


__ADS_2