
Siang ini, Maudy menunggu orang tuanya pulang kerumah. Ada rindu yang sangat membuncah di hatinya walau baru beberapa hari di tinggal pergi. Itu semua juga karena duka, duka yang harus diterima semua orang, tanpa terkecuali.
Sendirian, duduk di depan teras miliknya dan sesekali memetik gitar dengan menyanyikan lagu-lagu kesukaannya. Padahal suara gitarnya juga sudah tidak enak di dengar, mungkin karena ini gitar tua milik ayahnya.
"Kok nggak masuk sih, padahal kuncinya juga udah benar." Kembali menyetel ulang senar gitar.
Bahkan makan juga ia tunda, karena katanya orang tuanya sudah dalam perjalanan. Menunggu makan bersama keluarga lebih baik, pikirnya.
"Mbak." Suara cempreng Tisha terdengar jelas di telinganya. Tidak lagi memperdulikan gitar yang ia letak sembarangan. Langsung saja berlari menyambut orang tuanya pulang.
"Bantu ibu angkat ini." Memberikan plastik yang berisi Pete.
"Kenapa malah Bawak belanjaan banyak sekali bu? Bukan kah lagi berduka?" Mengambil kantung plastik yang di serahkan ke ibunya.
"Iya, bude kamu panen jadi disuruh bawa pulang." Melangkah masuk ke dalam rumah.
Maudy yang memang sudah pandai memasak, ia sengaja memaksakan makanan yang di sukai ayahnya. Dengan menarik lengan ayahnya setelah masuk kerumah, memaksa ayahnya menyantap makanan sekarang juga.
"Ayah masih kenyang. Tadi kami makan waktu di perjalanan." Terang ayahnya.
"Ya ampun, tega banget sih. Padahal aku bela-belain pulang sekolah buat masak, terus juga nggak makan. Biar kita bisa makan sama-sama gitu. Tapi ya udah lah, sekarang juga udah nggak naf*u." Jelas Maudy sangat kecewa saat ini.
"Ya udah kita makan lagi, lagian tadi ibu cuma sedikit makannya, soalnya masakannya kurang enak." Ibu mencoba menghibur Maudy.
"Tisha juga masih lapar bu." Langsung menyendok nasi ke piringnya.
Dan ayahnya juga ikut makan. Bercanda soal kenyang lah, masakan di hadapannya ini lebih menggodanya. Apa lagi ini masakan kesukaannya, sayur asam. Malah, ayahnya juga nambah. Maudy menertawakannya, mana mungkin ayah nolak batinnya.
Selesai makan, mereka duduk di depan TV. Bahkan belum membersihkan diri, mungkin karena kekenyangan.
"Dy, sewaktu ibu di kampung om kamu nelepon. Katanya udah nggak sabar nunggu kamu datang kesana." Tersenyum.
Deg..
Ya ampun, bahkan tidak terasa sebentar lagi ya. Kalau aku nolak apa reaksi ibu nanti? Ah, aku jadi ke ingat Bima setiap membahas hal ini.
"Kamu keberatan tidak Dy?" Ayahnya yang selalu tau, dari raut wajah anaknya juga ia bisa menebak kalau sebenarnya Maudy masih ragu.
Kalau nolak pasti lebih banyak yang kecewa.
"Nggak kok yah. Semua juga demi masa depan aku."
Maudy mengambil bantal dan ia rebahan di samping ibunya. Rasa nyaman begitu ia rasakan.
Pasti nanti bakal kangen banget sama ibu.
"Apa kamu masih bersama Bima?" Tiba-tiba ayahnya menanyakan hal itu, untuk apa?
"Maksud ayah." Berpura-pura bodoh saja, pikirnya.
"Ayah denger kamu pacaran sama dia ya? Bahkan udah berani datang kesini sewaktu ibu sama ayah di kampung?"
Dari mana ayah tau? Kan benar kan, pasti ada saja gosip yang terbit, belum juga satu hari mereka pulang.
"Hem iya yah, maaf." Mengakui kalau ia sudah melanggar aturan.
"Terserah, cuma satu pesan ayah. Jangan libatkan ini sama keberangkatan kamu nanti." Diam, Maudy diam tidak menjawab lagi. Karena ayahnya selalu saja tau tentang isi hati anaknya.
Hari mulai gelap, Maudy tidak keluar dari kamarnya, bahkan sudah waktunya makan malam ia juga masih setia dengan kamarnya. Ibunya juga sudah teriak-teriak memanggil, Tisha juga sudah mengetuk pintu berulang-ulang, namun Maudy hanya menjawab 'sebentar lagi'.
Setiap kali membahas soal ia akan pergi nanti, Maudy malah seperti kehilangan semangat, jelas. Ia akan meninggalkan semangatnya disini, makannya ia selalu menghindar jika orang tuanya mulai membahas lagi. Tidur aja, nggak usah makan juga nggak apa, pikirnya.
Besok weekend, kita kumpul mau nggak? Di luar gitu.
Mengirim ke grup chat nya. Walaupun hanya terdiri dari tiga orang, tetap saja namanya grup.
Tidak sampai satu menit, mereka sudah membalas. Bima dengan sejuta kebingungan nya akan memberi alasan apa pada orang tuanya, dan Kiki dengan senangnya menjawab OK.
Sudah bisa di duga oleh Maudy, kalau Bima pasti akan keberatan. Yang pertama, jika ia harus lebih dulu meminta ijin pada papanya dengan alasan yang jelas. Yang kedua, jika ia tidak diberi ijin maka Maudy juga akan tetap keluar bersama Kiki. Dan yang ketiga Bima selalu keberatan jika Maudy keluar rumah.
***
"Ma?" Mengetuk pintu kamar mamanya, karena Bima tau saat ini papanya masih sibuk berada di ruang kerja.
"Mama udah tidur?" Setelah mamanya membukakan pintu dengan mata setengah terpejam, mungkin terganggu oleh Bima yang malam-malam ke kamarnya.
"Kenapa Bima?"
Pasti bakal ada yang dia minta, batin mamanya.
__ADS_1
"Ma, besok boleh nggak aku keluar ma?" Bicara dengan suara manjanya.
"Kasih alasan yang tepat, dan juga harus jujur."
"Ma aku mau kumpul sama temen, bahas soal ujian praktek nanti ma. Boleh ya ma?" Menggenggam tangan mamanya.
"Heh." Menghela nafas. "Kamu minta ijin sama papa aja, soalnya besok papa di rumah." Hanya itu, ya jika ada suaminya, ia juga tidak bisa membantu Bima.
"Ma." Memelas.
"Sudah sana, mencoba nggak salah Bima. Ayo Mama temani." Mengalah demi anaknya. Dan langsung menuju ruang kerja suaminya, yang pasti bersama anaknya.
"Ada apa ma?" Mengalihkan pandangannya dari laptop dan menatap istri juga anaknya yang sudah berdiri, seperti akan memberi laporan.
"Pa, besok Bima mau ijin keluar rumah. Mau kumpul sama teman-temannya bahas soal ujian praktek nanti." Mamanya yang berbicara tapi jantung Bima yang hampir keluar dari tempatnya. Keringat dingin juga mulai membasahi telapak tangannya.
Bima tidak pernah seperti ini sebelumnya, tapi umurnya semakin bertambah dewasa. Wajar bila ia juga ingin merasakan kebebasan.
"Nggak, kamu di rumah aja. Soal ujian bisa nanti bahas nya." Keputusan yang sudah bulat di ambil oleh papanya.
Sudah ku duga!
"Tapi pa, kasian juga kalau Bima di kurung terus. Bima juga semakin dewasa pa." Mencoba membela anaknya.
"Ya udah. Kalau memang Bima mau keluar dengan alasan itu, oke tapi papa yang antar langsung dan akan menemaninya, gimana Bima?" Sontak Bima kaget.
Ha? Kenapa papa malah begini!
"Ya udah nggak usah pa, kalau memang nggak di kasih ijin juga nggak apa." Berbalik dan berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.
"Papa keterlaluan!" Mamanya juga merasakan hal yang sama dengan anaknya.
"Ma, kalau dia memang niatnya bahas soal ujian, harusnya dia nggak perlu takut kalau papa yang antar. Itu hanya alasan Bima ma, supaya bisa keluar dan main dengan temannya." Ternyata pak Adi tidak sebodoh yang di pikirkan.
"Tapi itu semua juga wajar lah pa. Bima udah besar pa!" Masih terus membela anaknya.
"Bagaimana Bima bisa merubah sifatnya yang pemalu, jika keluar saja tidak pernah di beri ijin. Jika papa masih terus mengekang Bima, mama yakin Bima akan lebih sering berbohong nantinya agar sedikit mendapat kebebasan."
Ternyata Bima tidak benar-benar pergi. Ia menguping di dekat pintu, saat mamanya akan keluar ia langsung berjalan ke arah dapur.
Papanya juga tidak bersuara lagi, mungkin ada sedikit perkataan istrinya yang menang benar.
Tapi Maudy tidak merasa kecewa, mungkin karena sudah terlalu biasa mendengar Bima tidak bisa ikut karena tidak mendapat ijin.
***
"Ma? Oh ma?" Teriak suaminya yang sudah berpakaian rapi di pagi hari.
"Iya pa? Ada apa?" Langsung berjalan mendekat.
"Mama ganti baju sekarang, papa ada arisan, papa lupa. Untung rekan papa sudah mengingatkan tadi."
"Kenapa pagi sekali pa? Masih jam 7 juga pa."
"Iya tujuan kita lumayan jauh ma. Bisa memakan waktu 4 jam perjalanan, itu juga kalau tidak macet." Sambil menggulung kemeja yang ia kenakan.
"Iya sebentar, mama ke atas dulu." Istrinya meninggalkannya, dan langsung berjalan menuju kamar anaknya.
"Bim? Bima, kamu belum bangun nak?"
Pintu langsung terbuka.
"Iya ma?" Wajah yang amat lesu dan tak bersemangat, bukan karena efek bangun tidur, tapi karena hari ini ia akan kembali menjalani hari bosannya, dengan waktu yang menurutnya berputar sedikit lambat dari biasanya.
"Bim, mama sama papa mau pergi, sekarang. Kalau kamu mau keluar ya udah, nanti kamu minta bantuan sama mas mu. Kalau mama udah jalan pulang, mama bakal kabarin kamu. Mengerti?" Senyum langsung mengembang di wajah anaknya.
"Iya ma. Makasih ma?" Langsung menutup pintu sebelum mamanya pergi. Mungkin karena terlalu senang, jadi hilang kesopanan.
Mamanya hanya geleng-geleng saja melihat tingkah anaknya.
"Jangan kasih Bima keluar apa pun alasannya ya?" Perintah kepada seluruh penjaga rumah, pembantu, security dan dua orang Bodyguard.
"Iya tuan." Menundukkan kepalanya dengan sopan.
Lah, bagaimana nasib Bima nanti?
Padahal baru saja mamanya memberi kabar baik, malah ini papanya sudah lebih dulu mencegah Bima keluar, dengan semua yang ada di rumah.
Pukul 10 pagi.
__ADS_1
"Lah mas, kamu mau kemana?" Bertanya saat Rio sudah rapi dengan pakaian santainya.
"Mau jalan-jalan kenapa?" Tidak menghentikan langkahnya.
"Mas, bantu aku lah mas. Tadi mama udah bilang kalau mau keluar minta bantuan mas aja." Menarik tangan masnya.
"Emang mama kemana?" Iya, Rio bahkan tidak tau kalau orang tuanya sudah pergi.
"Mama sama papa pergi mas, nggak tau lah, mungkin arisan." Masih setia dengan menahan tangan masnya, mungkin takut ditinggal.
"Mas mau bantu gimana? Ya udah, kamu pergi aja bawa mobil sendiri, lagian juga nggak ada papa." Melepas tangannya dari Bima.
"Mang, mana kunci mobil?" Bertanya pada salah satu security yang sedang berada di halaman rumah. Bima hanya mampu melihat dari depan pintu.
"Ini den, oh iya, tadi tuan besar pesan kalau den Bima tidak boleh keluar kemana pun. Den Rio keluar sendiri kan?"
"Iya." Kembali berjalan masuk ke rumah. Mungkin ada rasa iba terhadap adiknya itu.
"Mas." Merengek karena sudah mendengar scurity mengatakannya tadi. Andai saja itu mang Sugi yang lagi tugas jaga, pasti bakal mudah, batinnya.
"Udah cepetan mas tunggu, 10 menit dari sekarang?" Melihat waktu di jam tangannya.
"Mas, masak 10 menit sih, 20 menit lah?" Malah negosiasi, padahal di bantu juga harusnya bersyukur Bima.
"10 menit atau mas tinggal? Udah cepetan kakak ipar mu sudah menunggu!" Kembali melihat ke jam tangannya.
Bima tidak menjawab lagi dan langsung berlari ke kamar, untungnya sudah mandi. Jadi hanya tinggal mengganti pakaian dan menata rambutnya. Untuk bertemu pacar di hari weekend harus rapi dong ya.
***
Bima dan Rio sama-sama tergelak. Bahkan mereka tidak pernah merasakan seperti ini, adrenalinnya berpacu, jantungnya berdebar takut ketahuan. Setelah berhasil keluar rumah Bima meminta Rio pergi dengan naik mobil milik pacarnya, sementara Bima yang membawa mobilnya.
"Ih Bim. Kok jadi mas yang kamu atur sih?" Protes tidak terima adiknya yang membawa mobil.
"Ya ampun mas, jadi kalau mobil mas yang bawa aku naik apa? Naik taxi? Terus turun di depan rumah Maudy, gitu mas! Tega banget sih mas sama adiknya." Langsung memasang wajahnya yang melas.
"Sini biar aku yang bilang ke kakak ipar?" Merebut ponsel milik Rio.
"Emang kamu berani? Dari waktu tunangan juga kamu nggak pernah ajak dia ngomong?" Benar memang yang di katakan Rio. Bima tampak berpikir, sebelum ide itu muncul di benaknya.
Dan semenjak Rio sudah tunangan, setiap weekend Rio juga tidak pernah di rumah, ia selalu pergi jalan-jalan atau kemana pun yang mereka suka. Semenjak itu juga Rio sudah jarang sekali berbincang dengan adiknya ini, paling bertemu hanya waktu di meja makan.
"Kak Siska ini Bima, maaf ya kak. Mobilnya aku bawa, kalau mas Rio perginya naik mobil kakak nggak keberatan kan? Soalnya tadi aku ikut, kan nggak mungkin aku jalan kaki nantinya. Boleh ya kak?"
Rio mendengus, ternyata Bima hanya mengirim voice note. Ada juga akalnya, batin masnya.
Hanya dua menit, Bima langsung dapat balasan, iya karena ponselnya Rio saat ini Bima pegang. Lagian Rio juga tidak bisa berbuat banyak, karena ia harus fokus menyetir.
"Iya Bima nggak apa kok. Kamu hati-hati bawa mobilnya ya?" Suara nan lembut. Siska juga membalasnya melalui pesan suara.
"Selesai, hehe." Tertawa puas bisa mengalahkan mas nya hari ini.
"Tuh kamu denger, kak Siska tuh baik tau Bim. Kamu harus akrab sama dia, jadi bala bantuan kamu semakin banyak nantinya. Buktinya dia juga perhatian sama kamu." Coba aja kalau Maudy yang mengatakan itu pada Rio, hati-hati ya, pasti Bima bakal marah.
"Bala bantuan maksudnya mas?" Bima memang belum paham.
"Ya gini ni, biasakan mama sama mas aja yang selalu bantu kamu supaya bisa keluar rumah, nah hari ini kamu dapat bantuan dari Siska, coba kalau kamu berani akrab pasti suatu waktu bakal gampang kalau perlu bantuan lagi." Menjelaskan secara rinci agar Bima mengerti.
Perlahan-lahan, Bima pasti bisa mengubah sedikit sifat pemalu nya, dan bisa dekat dengan banyak orang. Batin Rio.
"Mas pintar ya?" Menatap, dan saat ini mereka saling tatap.
Rio mengambil kotak tissue dan melemparkan ke wajah Bima, setelah itu 'hahah' mereka tertawa lagi. Entah apa yang saat ini sangat lucu bagi mereka.
Epilog.
"Gimana mas?" Bertanya saat sudah ada di dalam mobil. Rio membuka jaketnya dan menutup kepala Bima, sementara Bima berjongkok di kursi paling belakang.
"Mang, tadi ada kran air samping yang rusak. Coba lihat sebentar mang." Membuka kaca jendela mobilnya. Bima sudah merasa pegal di belakang karena memaksakan tubuhnya menunduk.
"Iya den."
"Oh iya mang, saya pergi dulu. Titip Bima ya mang? Dia ada di kamar, jangan di ganggu. Selagi tidak keluar biarkan saja." Langsung melajukan mobilnya keluar gerbang.
Bima langsung keluar dari persembunyiannya ketika sudah menjauhi rumahnya. Tataan rambutnya juga sudah berantakan.
"Hahaha." Suara gelak tawa langsung terdengar dari mereka.
"Ternyata kita mempunyai keahlian ya Bim?" Tertawa lagi.
__ADS_1
--__