
Maudy.
Bahagia itu mudah bagiku, bisa tertawa bersama orang-orang yang selalu membuat kita nyaman, kita betah, dan tidak ingin kehilangan mereka tentunya. Hari ini, hari dimana aku bersama mereka semua merayakan kelulusan kami. Aku juga tidak tau kenapa waktu berjalan begitu cepat setelah aku memutuskan untuk tetap pergi. Bima, aku harap kamu akan selalu jadi Bimaku yang selalu bersikap aneh. Haha, Kiki sahabat terbaik ku, aku pegang janji mu untuk datang mengunjungiku di luar negeri.
"Coret disini dong, tanda tangan disini ya." Suara-suara itu menggema di telinga ku, ah aku rasanya sudah dewasa sekarang. Hari ini hari terakhir dimana aku memakai seragam sekolah.
Tidak perduli orang tua kami marah nantinya atau tidak, yang penting kami bisa merayakan ini, mencoret setiap baju dengan cat warna. Seluruhnya tertawa saat ini, aku juga.Toh semua siswa juga melakukan ini di setiap tahunnya.
"Sayang, aku mau kamu tulis 'aku cinta Bima selamanya' disini ya." Aku senang mendengar Bima mengatakan itu. Bahkan dia juga sudah menyiapkan baju ganti untuk pulang kerumah nantinya. Dan dia juga bilang kalau bakal gantung baju ini di lemarinya tanpa harus di cuci lagi.
Suara musik mulai mengalun, dan terdengar lagu sayonara. Membuat kami semua langsung menghentikan aktivitas coret-mencoret ini. Guru sudah tidak bisa lagi untuk mencegah, karena memang ini sudah terjadi di setiap tahun, mungkin juga sejak sekolah ini berdiri. Entah lah aku sendiri tidak perduli.
Semua siswa sudah berbaris rapi sekarang, siap untuk bersalaman kepada guru. Memeluk, mengucapkan banyak terima kasih. Tidak usah di tanya ada yang menangis atau tidak, bahkan hampir ada yang pingsan. Itu sih lebay kedengarannya. Bima sudah menggenggam erat tanganku saat ini, begitu juga dengan Kiki. Aku berdiri di tengah-tengah mereka, siap untuk ikut berbaris dan mengikuti siswa lain.
"Aku pasti bakal rindu moment ini, aku juga pasti bakal rindu kalian. Ternyata jadi siswa SMA sangat asik." Bima melihat ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum.
Sampai pada giliran ku, aku memeluk bu Widya. Guru baik, tidak pernah marah.
"Saya yakin kamu pasti sukses nantinya. Kejar cita-cita kamu ya Dy." Ia juga membalas pelukanku. Ah rasanya ini menjadi semangat tersendiri untukku, bagiku ucapannya adalah doa.
Sampai pada puncaknya, kami semua berphoto bersama seluruh guru dan siswa. Tersenyum dan menunjukan barisan giginya masing-masing. Sampai acara selesai aku tidak bisa berbohong atas kesedihan ku. Mungkin lain dengan mereka, yang memang merayakan ini, sebenarnya aku juga. Tapi ini juga pertanda perpisahan untukku dan Bima. Aku hanya berharap status kami tidak berubah nantinya meskipun jarak memisahkan.
"Kita ke pantai ya, gimana ada yang mau nggak?" Seru salah satu teman ku, jelas tidak ada yang menolak. Aku melirik Bima, menunggu jawaban. Aku sangat berharap Bima mengangguk. Dan apa? Ia tersenyum lalu benar-benar mengangguk. Mungkin dia juga siap manggung resiko hari ini.
"Sebentar, aku hubungi mama dulu ya, soalnya aku bawa mobil. Terserah mama kasih ijin atau nggak, yang penting kita pergi hari ini." Bima langsung mengeluarkan ponselnya. Dia benar-benar menelpon mamanya.
"Aku ikut sama kalian ya? Aku nggak bawa mobil." Ini satu lagi sahabatku. Bagi ku tidak masalah, malah kalau Bima menolak aku yang akan membela Kiki nantinya.
Aku sudah duduk di dalam mobil, duduk disamping Bima. Dan ini sifat Bima, memanfaatkan Kiki. Jika mau nebeng harus bawa mobil. Kiki juga tidak keberatan, mungkin tau kalau aku sama Bima akan pacaran.
Sampai di pantai, semua siswa yang ikut mulai bersorak-sorai kegirangan. Apa hanya ini yang selalu ditunggu setiap siswa? Menjalani pelajaran selama 12 tahun, lulus dan memamerkan dengan tanda baju yang sudah di warnai. Walau tanpa sadar aku juga mengikutinya.
"Kita photo ya? Bertiga!" Senyum mengembang di wajah kami, aku janji bakal bawa photo ini nanti ke luar negeri.
Matahari mulai tenggelam. Aku sudah duduk di salah satu karang pantai bersama Bima. Menikmati deburan ombak yang membasahi baju kami. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, rasa nyaman ini aku sangat berharap tidak akan hilang.
"Bim. Kalau aku kembali nantinya, kamu jangan berubah ya?" Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Aku juga menangis, dan aku sangat tidak ingin Bima tau. Aku hanya meneteskan lalu langsung menghapusnya.
"Aku sudah dewasa sekarang ya sayang." Bima menatap laut yang tidak memiliki ujung. Aku diam tidak menjawab. Karena aku sibuk dengan air mataku sendiri.
Waktunya pulang, ini yang aku tidak suka. Aku melow lagi. Kenapa sih? Kenapa harus ada perpisahan? Padahal, aku awalnya sangat ingin cepat-cepat lulus lalu kuliah, dan kenapa sekarang ini aku malah tidak rela. Aku yakin, semua orang pasti pernah merasakan ini.
Aku turun dari mobil Bima, aku menatap wajahnya tanpa berkedip. Karena apa? Jika aku berkedip mungkin air mataku langsung menetes, karena saat ini sudah menganak di pelupuk mataku. Aku nggak bisa bayangkan, biasanya setiap hari bakal jumpa Bima, belajar juga di sampingku ada Bima. Ah kenapa semuanya harus Bima??? Aku berperang pada pikiranku sendiri. Sungguh ini bukan aku, ini bukan diriku. Aku kan wanita kuat, tapi aku sangat rapuh dengan perpisahan. Aku tidak kuat untuk ini, aku yakin pasti kalian juga kan?
Aku masih mematung, aku benar-benar sadar ketika Bima tersenyum dan melambaikan tangannya. Kenapa aku jadi nggak rela? Dan aku juga heran, kenapa satu hari ini Bima tidak menunjukkan sifat anehnya? Dia cuma tersenyum aja, tersenyum. Tanpa ada kesedihan di wajahnya hari ini.
Bima bilang tidak ingin mengantarku sampai ke halaman rumah, dan tidak bisa ijin sama orang tua aku, karena saat ini keadaanya benar-benar tidak nyaman, terutama penampilannya. Bima juga bilang, setelah mengantarku dia bakal mampir ke pom bensin, buat ganti bajunya, kalau pulang dengan keadaan seperti itu, makin ngamuk orang tuanya nanti. Aku sekarang sudah bisa memaklumi bagaimana kehidupan Bima, orang tuanya, peraturan ketatnya. Aku sudah memakluminya.
Aku berjalan masuk ke dalam rumah, dengan pikiran yang masih terguncang. Bahkan aku tidak menyapa orang tuaku, adikku. Mereka sampai tercengang melihat penampilan ku saat ini. Sepatu yang awalnya hitam sekarang juga sudah ikut terkena cat.
Mereka mencecar ku dengan berbagai pertanyaan. Tapi untungnya ayah ku paham, katanya kalau setiap merayakan kelulusan pasti bakal begitu. Ah, aku memang sangat menyayangi ayahku ini. Aku bahkan lupa bertanya sama ibu soal kemarin saat beliau pergi mengambil surat kelulusan ku. Berjumpa atau tidak sama mamanya Bima, tapi aku berharap sih nggak jumpa.
Aku langsung membuka seragam sekolah ku yang sudah berwarna warni saat ini. Aku ingin mengikuti saran Bima, gantung simpan di lemari tanpa di cuci. Iya aku mengikutinya.
Karena sedikit basah aku langsung mengambil kipas dan ku arahkan ke baju yang di gantung. Aku membersihkan diri lalu rebahan di atas kasurku. Ku lihat jam dinding, ternyata sudah jam 8 malam. Berarti aku sampai di rumah sudah jam 7 ya kalau nggak salah.
__ADS_1
Aku langsung mengambil ponselku dan akan segera menanyakan keadaan Bima sekarang. Tapi ponselnya tidak aktif, aku sudah sangat khawatir sekarang. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Suara ibu yang memanggil untuk segera makan juga sudah tidak aku hiraukan. Aku sangat takut kalau Bima di hukum lagi. Ah ya tuhan, bagaimana ini? Ibu sudah datang ke kamarku, aku tidak bisa menolak lagi takut ayahku marah nantinya. Dengan terpaksa aku meninggalkan ponsel milikku yang sudah banyak sekali pesan aku kirimkan ke Bima dan masih centang satu, menandakan kalau Bima memang belum mengaktifkan ponselnya.
Aku menghela nafas berat, rasanya hari berat ku segera di mulai.
Maudy end.
***
"Gimana, sudah lulus sekarang? Sudah puas?" Ayahnya memulai pembicaraan setelah selesai makan.
"Hehehe." Hanya tertawa kecil, dan ia juga tidak membantu ibunya membereskan piring kotor, biar Tisha yang membantu pikirnya.
"Apa Bima juga ikut?" Maudy mengangguk.
"Gimana kalau orang tuanya marah?"
Kenapa ayah bertanya sama aku? Harusnya kan tanya aja sama Bima!
"Kamu yang ngajak kan?" Bertanya lagi karena Maudy masih diam.
Ih kenapa ayah selalu tau sih, apa ayah sekarang seorang cenayang?
"Bima yang mau kok yah." Akhirnya Maudy mengeluarkan suaranya.
"Dy, lain kali kalau mau kemana-mana jangan libatkan Bima. Kan sudah ada Kiki, kasian dia jika harus bertengkar lagi sama orang tuanya."
Ini sebenarnya ayah kenapa sih? Kenapa dia jadi perhatian sama Bima? Dan, kenapa ayah juga tau kalau Bima pernah bertengkar sama papanya?
"Enggak lah yah. Memang Bima tuh selalu mau ikut, karena dia juga pengen kayak aku sama Kiki. Kan wajar juga yah, kami melakukan ini juga karena belajar selama 12 tahun. Ibaratnya tuh bakal ada kenangannya gitu yah."
"Semuanya memang bakal jadi kenangan."
"Kamu sudah tau belum, keberangkatan kamu kapan?" Maudy menggelengkan kepalanya.
Ada hati yang tidak siap mendengarnya.
"Dua Minggu lagi, penerbangan di percepat karena om kamu akan segera daftarkan kamu ke universitas, dan katanya dia juga bakal bawa kamu berkeliling. Agar mengenal suasana disana. Eh soal bahasa kamu bisa kan?"
"Bisa lah yah. Bukannya itu sudah di pelajari dari SMP sewaktu aku mutuskan buat kuliah disana." Sedikit menyombongkan kemampuannya.
"Coba ayah mau dengar." Menatap wajah putrinya yang sebentar lagi akan berpisah dengannya.
"I love you." Tergelak. Ayahnya langsung mendekat dan memeluk putrinya dengan erat.
"Anak ayah sudah dewasa, mengerti bahasa seperti itu." Memeluk lagi, mengelus puncak kepala putrinya.
"Itu memang buat ayah, aku kan cinta ayah." Mendongakkan wajahnya dan tersenyum. Maudy melihat jelas ada bulir bening yang jatuh membasahi pipi ayahnya.
Ayah nangis?
"Ayah, kenapa?" Melepas pelukannya menatap wajah sang ayah, yang mulai terlihat garis keriput. Itu menandakan bahwa umurnya sudah tidak muda lagi.
"Nggak. Ayah bakal rindu kamu nantinya, tapi ayah, ibu, Tisha, kami berencana setelah satu tahun kamu disana nanti, kami bakal datang kesana. Dan kalau ada kendala bahasa, ayah bakal bicara pake bahasa isyarat aja." Padahal ia sedih saat ini, tapi mampu menutupi dengan membuat anaknya tertawa dan tidak lagi menanyakan perihal air mata.
"Loh ini kok pada peluk-pelukkan nggak ngajak ibu sih?" Datang dengan membawa teh jahe untuk Maudy. Ibu yang selalu tau kalau anaknya lelah setelah menjalani hari beratnya saat ini.
__ADS_1
"Untuk ayah mana bu?" Merasa kalau istrinya melupakannya.
"Ayah kan kopi, itu lagi dibuat sama Tisha." Ikut duduk di antara Maudy dan suaminya.
"Eh Dy. Mamanya Bima baik loh, ih ramah lagi orangnya. Ibu jadi nggak nyangka kalau itu orang tuanya." Tersenyum, sepertinya ibunya sangat senang.
Berbeda dengan Maudy, ia tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya, terbukti sampai tersedak ketika meminum teh jahe buatan ibunya.
"Jadi ibu ketemu?" Bertanya setelah berhasil menetralkan nafasnya.
Ibunya langsung mengangguk.
"Bahkan ibu duduknya juga sebelahan. Sama kayak kamu duduknya selalu sebelahan sama Bima."
"Jadi, ibu nggak ada ngomong apa-apa kan?" Takut, takut kalau ibunya bicara ngawur di depan calon mertuanya.
"Emangnya mau ngomong apa? Ya palingan hanya cerita-cerita biasa."
"Apa mamanya tau kalau ibu adalah ibuku?" Masih terus mengorek informasi.
"Sudah-sudah. Sudah Maudy kamu masuk kamar, istirahat sekarang."
Ini ayah juga kenapa sih. Nggak tau kalau orang penasaran.
Maudy mendengus dan berjalan masuk ke kamarnya. Tidak sabar ingin memberi kabar ke Bima kalau ibunya sudah berjumpa dengan orang tuanya. Dengan cepat Maudy menyambar ponsel, dan langsung membanting kan tubuhnya sendiri di atas kasur. Ia berbaring dengan menekuk kakinya.
Sudah ada notif dari Bima. Itu tanda kalau Bima sudah aktif, dan bisa membalas pesannya.
Semoga Bima baik-baik aja sekarang.
Maudy langsung membuka pesan miliknya. Dengan senyum mengembang di wajahnya. Terlihat oleh pandangan matanya di akhir pesan Bima hanya mengucap kata maaf.
Maudy langsung membaca pesan dari awal.
"Dy maaf. Aku nggak bisa nerusin hubungan ini. Aku harap kamu baik-baik aja ya. Terima kasih buat waktunya selama ini, hari-hari kita. Terutama di hari ini, dan aku anggap ini bukan hanya perpisahan sekolah, tapi juga perpisahan antara kita, hubungan kita. Maaf ya."
Tidak sanggup lagi rasanya membaca pesan yang lain. Maudy langsung melemas, bahkan ponsel miliknya juga terjatuh sendiri dari tangannya. Seperti tidak memiliki tenaga lagi, menangis juga tidak bisa.
Apa ini mimpi?
Memukul lengannya sendiri, dan mengaduh kesakitan. Sepertinya memang nyata, pikirnya.
Sampai beberapa menit Maudy terdiam, dengan pikiran kosong ia menatap langit-langit kamarnya. Tidak ada yang ingin ia lakukan sekarang selain diam. Menunggu keajaiban muncul dan ini semua hanya sebatas khayalan.
Maudy kembali mengumpulkan kesadarannya, tenaganya yang sempat melemas seperti terkuras habis.
Dengan cepat ia menelepon Bima, tapi nihil. Bima sudah memblokir nomornya.
Bima, apa salahku? Apa salahku? Bima!!!
Ingin menangis tapi tidak bisa. Itu yang Maudy rasakan saat ini. Marah ingin marah dengan Bima. Tapi bagaimana? Bahkan di hubungi sudah tidak bisa.
Apa aku harus datang kerumahnya sekarang?
Hingga akhirnya, Maudy tertidur dengan sendirinya. Dengan posisi kaki menggantung. Mungkin sudah lelah berpikir sehingga matanya menutup dengan sendirinya. Membawanya ke alam mimpi, dan berharap semoga ketika bangun dunia masih baik-baik saja.
__ADS_1
--_
Ada yang ingat nggak terkahir kali saat perpisahan di sekolah? hehe author juga ikut terbawa suasana nih nulisnya.