Dia Bimaku

Dia Bimaku
Aku mau nikah


__ADS_3

Weekend yang di tunggu tiba. Hari dimana Maudy dan ayahnya harus pergi ke salah satu tambak udang terbesar di kota ini. Sudah menjadi langganan bagi orang-orang yang memiliki usaha warung makan yang bertemakan seafood.


Dan besok, adalah hari yang di tunggu Bima, jawaban Maudy. Ya, sangat tak terasa seminggu berlalu begitu cepat.


"Dy, udah siap?" Maudy belum keluar dari kamarnya. Sudah 15 menit ayahnya menunggu.


"Sebentar yah?"


Maudy secepat mungkin bergegas, keluar kamar sambil menempelkan ponsel di telinganya. Mengunci pintu kamar, dan menunggu panggilannya di jawab.


"Hallo, sayang? Aku hari ini pergi ya sama ayah, mau ke tambak yang akan menjadi suplai udang di resto nanti." Sambil berjalan ke arah ayahnya.


"Iya ini sekarang? Kenapa?" Langkahnya terhenti, menatap ayahnya.


"Hallo? Bim?" Telepon sudah terputus.


"Kenapa Dy?" Tanya ayahnya lagi, melihat raut muka anaknya berubah.


"Bima bilang biar dia aja yang temani aku yah, ayah suru istirahat di rumah." Takut kalau ayahnya kecewa, padahal beliau sudah bersiap dari satu jam yang lalu.


"Beneran? Ya ampun, kalau gitu ayah bisa tidur dong?" Loh kok??


"Ayah nggak keberatan?" Sekali lagi memastikan.


"Nggak lah, nanti ayah bakal telepon teman ayah ya? Kamu bilang aja nanti kalau anaknya pak Subi." Manggut-manggut. "Bima nya mana?"


"Tadi katanya udah langsung jalan kesini sih yah?"


"Ya udah, kamu tunggu di luar aja. Nanti kalau Bima mau pamitan, bilang ayah sama ibu udah tau. Udah sana." Memaksa anaknya untuk langsung keluar.


Maudy duduk di teras rumah, sesekali melihat ponselnya. Siapa tau Bima bilang nggak jadi gitu. Walau sebenarnya Maudy juga senang kalau Bima bisa pergi hari ini dengannya. Sudah lama sekali, weekend tidak pergi bersama. Terakhir kali juga beberapa tahun yang lalu.


Tin..tin..


Maudy langsung bangkit dari duduknya, berjalan ke arah mobil Bima. Bima juga bergegas turun, membuka kan pintu, Maudy memukul bahunya. Dengan alasan, "Lebay tau nggak Bim." Padahal hatinya so sweet banget Bim.


"Kita pergi sekarang?" Maudy menoleh.


"Iya dong sayang." Tersenyum semanis mungkin. Bima geleng-geleng dan tertawa.


"Cium dulu dong, biar semangat bawa mobilnya." Menunjuk bagian yang dia mau.


"Apa sih Bim, kalau kamu nggak bisa bawa dan nggak mau bawa mobilnya, aku juga bisa, lupa ya aku udah bisa nyetir, week." Menjulurkan lidahnya.


"Pelit!" Menyalakan mesin mobilnya, wajahnya cemberut. Kalau begini baru mirip Bima semasa SMA ya. Maudy tersenyum, dan cup. Satu kecupan mendarat di pipi Bima. Bima mengelusnya dan tersenyum.


"Sini." Memperlambat laju mobilnya yang baru saja memasuki jalanan raya.


"Makasih." Berbisik di telinga Maudy.


"Ih merinding tau Bim." Memukul lengan Bima.


"Kamu tau tempatnya sayang?" Maudy menggeleng.


"Jadi gimana? Sebut aja, kata ayah daerah mana? Karena setau aku disini memang ada tambak, dan itu hanya ada satu disini." Maudy mengingat kembali penjelasan ayahnya.


"Kata ayah nggak jauh dari komplek perumahan. Terus nanti belok kiri di persimpangan, nanti sudah ada petunjuk kayak papan reklame gitu." Bima mengangguk yang berarti dia tau tempatnya.


***


Ternyata tidak jauh, hanya memakan waktu 45 menit dari rumahnya. Maudy juga masih memandang lekat tempat ini. Pasalnya ia baru tau kalau ada tambak udang yang besar disini. Gimana caranya, padahal nggak ada laut? Batinnya.


"Kenapa sayang?" Melihat Maudy yang masih berdiri di samping mobil. "Ini kan tempatnya? Ini juga sesuai penjelasan kamu tadi."


"Heran aja gitu kok bisa mereka berbudidaya udang disini, padahal kan nggak ada laut." Bima langsung menarik tangannya, mengajaknya masuk.


"Sayang, nggak harus ada laut. Melalui air sungai juga bisa, atau dengan cara lain. Yang terpenting mereka yang tau."


Sudah berada tepat di depan pintu masuk.


"Permisi pak, apa ini tambak udang milik pak Maliki?" Bertanya dengan sopan.


"Iya, ada keperluan?" Maudy mengangguk.


"Iya, udah buat janji kok pak. Beliau ada kan?"


"Ada, masuk mbak. Biar saya panggil." Ternyata itu hanya salah satu pekerja yang ada di tambak ini. Hamparan luas, seperti danau. Ternyata semuanya buatan, tidak ada sungai dan tidak ada laut. Mereka menyekat setiap kolam menggunakan jaring. Memisah udang dengan setiap umur dan size-nya.


"Anak pak Subi ya?" Seorang lelaki yang umurnya sekitar 40-an. Maudy mengangguk dan tersenyum.


"Iya pak. Nggak ganggu kan pak waktunya?"


"Nggak mari." Bima setia tetap menggandeng lengan Maudy ketika pemilik tambak mengajaknya berkeliling. Melihat setiap ukuran udang.


"Kalau yang ini, kecil. Tidak bisa besar lagi. Nah kalau yang itu yang paling besar. Kamu mau buka resto kan? Jadi kamu sendiri yang pilih, ukuran mana yang mau kamu jadikan menu nanti." Jelasnya.


"Yang itu sayang, soalnya sifat udang itu kalau di masak akan berubah ukurannya menjadi lebih kecil." Bima menunjuk udang yang berukuran besar, tapi berbicaranya sambil berbisik.


"Yang itu aja pak." Pak Maliki mengangguk.


"Boleh. Kita duduk disana ya, pasti banyak yang mau kamu tanyakan." Maudy melirik Bima, dan Bima mengangguk. Maudy berjalan dengan hati-hati, menuju sebuah gubuk di tengah tambak yang luas. Angin tampaknya selalu berhembus disini.

__ADS_1


"Bapak dengar, kamu baru saja selesai kuliah dari luar negeri ya?"


"Iya pak."


"Oh, keponakan saya juga, dia kuliah disana, dan harusnya tetap tinggal disana. Tapi malah milih balik lagi kesini, karena memang tinggal dari kecil juga disini. Tidak mau ikut papa mamanya. Padahal disana kehidupannya malah serba mewah." Maudy hanya menanggapi dengan tersenyum, karena bukan itu tujuannya sekarang.


"Tapi kamu hebat loh, kamu lebih memilih membeli semua kebutuhan resto kamu nanti langsung dari tempatnya. Cocok kalau buka usaha memang. Selalu mengutamakan keuntungan."


He jangan puji tunangan ku pak!


"Iya pak. Itu salah satu tujuannya. Oh iya ini memang tambak bapak ya?" Pak Maliki menggeleng dan tersenyum.


"Bukan. Sebenarnya ini milik kakak tertua saya, ya itu dia papa dari keponakan saya. Dan yang menjadi PNS itu, teman orang tua kamu, dia itu kakak saya juga. Kami tiga bersaudara. Jadi, saya yang kelolah. Kakak saya sudah menetap di luar negeri." Maudy manggut-manggut. Dan Bima, dia tetap cuek. Karena menurutnya itu Informasi nggak penting.


"Pa. Aku mau pergi keluar ya?" Seseorang datang dan berbicara kepada pak Maliki.


Maudy dan Bima langsung menoleh.


"Kemana?" Tanya pak Maliki.


Aldy???


"Eh Maudy kan??" Wajahnya berbinar. Bima menatap tajam ke arah mata Maudy.


"Kalian kenal?" Bingung, pak Maliki bingung.


"Dia teman kuliah aku di luar negeri pa." Terang Aldy.


"Oh. Jadi kalian kuliahnya di negeri yang sama?" Maudy dan Aldy serempak mengangguk. Yang sudah ketat wajahnya hanya Bima, tidak bisa relax. Iya, bahkan sedari tadi pak Maliki tak ada menyinggung tentang dirinya yang selalu berada di samping Maudy, entah tidak mau tau atau memang lupa.


"Kamu ngapain Dy?"


"Eh aku ini, mau bertanya soal udang, soalnya nanti buat kebutuhan resto aku."


"Oh gitu. Kebetulan kamu disini, mau ikut nggak?" Maudy menatap Bima. Diam, tidak menunjukkan reaksi apapun, baik menggeleng atau pun mengangguk.


"Kalian lanjut aja ngobrolnya ya, saya mau kesana dulu. Tak sangka ternyata keponakan yang saya ceritakan malah kenal." Menepuk bahu Aldy dan lalu pergi.


Bawa aja ini keponakannya om.


"Mau nggak Dy?" Maudy menggoyangkan lengan Bima.


Nggak!


Begitu arti tatapan yang di berikan Bima.


"Memangnya mau kemana?" Maudy malah bertanya.


Siapa orang tua kamu? Udah kenal tuh Maudy!


"Ah gimana Bim?"


"Oh iya lupa, kenalin aku Aldy, kamu pasti Bima kan? Kekasih hati Maudy." Mengulurkan tangannya. Dan Bima menyambutnya.


"Tunangan Maudy, sekaligus calon suaminya." Tersenyum.


Ha ya ampun Bima.


Detik berikutnya Bima tersadar.


Dia bilang namanya Aldy kan?? Apa ini Aldy kotak musik???


"Kita pulang!" Tidak bisa di bantah.


"Aku duluan ya Al, maaf nggak bisa ikut. Masih ada urusan lain." Aldy mengangguk.


Bima menarik terus tangan Maudy hingga keluar dari area tambak. Sampai di mobil.


"Tunggu, biar aku yang buka." Langsung berlari membukakan pintu mobil untuk Maudy. Maudy tersenyum, kirain tadi marah, batinnya.


"Tadi itu Aldy siapa? Apa Aldy kotak musik?" Seenaknya saja memberi panggilan pada orang lain.


"Iya Bim."


"Apa nggak bisa cari tambak yang lain saja?" Membuang nafas berat.


"Bim, jangan karena ada Aldy kamu begini lah, kan kamu bilang sendiri tadi kan? Kalau tambak di daerah sini hanya ada satu. Ya yang tadi kita datangi." Diam masih fokus menyetir.


"Ya udah gini aja, kalau setiap ada urusan untuk datang kesana lagi, kamu selalu ikut ya? Kamu temani aku? Gimana? Mau kan?" Masih berpikir.


"Bim, aku ini tunangan kamu, apa yang kamu takutkan lagi? Aku milik kamu Bim."


"Belum, kalau sudah menikah baru seutuhnya kamu milik aku." Maudy membuang padangan. "Besok sayang, besok aku tunggu jawaban kamu." Maudy langsung menoleh ke arahnya.


Besok? Iya ya aku lupa.


"Kita makan ya?" Maudy mengangguk, memang perut sudah terasa lapar, sudah lewat jam makan siang juga ini.


***


Bima melajukan mobilnya ke sebuah cafe. Maudy menatap lekat tempat ini, bagus. Tapi dia yakin restonya nanti akan jauh lebih bagus.

__ADS_1


"Ayo?" Sudah membukakan mobil dan mengulurkan tangannya untuk menyambut tunangannya turun.


"Kita duduk disana ya?" Maudy yang memilih tempat. Berada paling sudut, dan tidak terlalu ramai. Bima jelas setuju saja, karena itu juga sudah ia pikirkan.


"Mbak, minta menu?" Maudy mengangkat tangannya memanggil salah satu pelayan setelah mereka sudah duduk di tempat yang di mau.


"Kamu mau makan apa?"


"Sayang, aku sama aja kayak kamu." Bima masih mengechek ponselnya, sepertinya ada sesuatu yang penting. Karena yang ia pegang saat ini adalah ponsel khusus untuk kepentingan pekerjaan.


Maudy sudah memesan, dua nasi dengan ayam sambal yang sudah menjadi favorit di tempat ini, itu kata pelayan tadi. Dan dua buah jus kesukaan Bima.


"Bim, kenapa?" Terlihat Bima sudah serius mengechek ponselnya.


"Ini, papa kirimkan detail orang yang di ajukan dari rekannya untuk jadi sekertaris aku. Photonya juga ada, lengkap dengan data dirinya. Ada dua sih, dan aku sendiri yang pilih." Maudy yang penasaran langsung mengintip photo.


"Perempuan?" Bima mengangguk.


"Coba lihat? Siapa tau kalau aku yang pilih cocok." Maudy mengambil ponsel dari genggaman Bima. Dan Wow, matanya terbelalak. Ini bukan ngelamar jadi sekertaris, tapi mau jadi model, batinnya tak terima.


"Emang harus wanita ya?" Mengembalikan ponsel milik Bima.


"Ya kalau sekretaris ya memang biasanya wanita sayang." Maudy mendengus.


"Kenapa makanannya lama sekali sih?" Maudy lebih memilih mengalihkan topik pembicaraan, karena ada hati yang panas.


"Sebentar lagi, kamu lapar sekali ya?" Tetap fokus melihat ponsel walaupun menanggapi perkataan Maudy. Maudy meliriknya lalu mendengus lagi.


10 menit berlalu, makanan belum datang. Maudy pun menidurkan kepalanya di meja. Lapar, jengkel, itu yang di rasa sekarang. Sepertinya ada yang kurang, ia juga cemburu. Melihat Bima masih sibuk membalas pesan dari entah siapa. Mungkin juga pesan dari calon sekretaris itu. Tiba-tiba Maudy menggebrak meja. Bima sampai memegang dadanya karena kaget.


"Sayang kenapa?" Menatap lekat wajah Maudy.


"Lapar, lama banget makanannya." Menjawab dengan respon jutek.


"Kirain ada apa." Lanjut melihat ponsel lagi. Dan Maudy kembali meletakan kepalanya lagi di meja. Huh menghembus kan nafas lega setelah melihat seorang pelayan yang datang, tapi hanya nampan yang berisi dua buah jus. Lalu kemana makanannya!??


"Mbak, sebentar lagi makanannya datang." Menjawab sebelum Maudy protes. Tersenyum lalu pergi.


Maudy langsung menyedot minumannya hingga tandas. Bahkan sebelum makannya di mulai. Begini, kalau Maudy cemburu selau menyembunyikan dari Bima, berbeda dari Bima, kalau cemburu ya bilang cemburu.


5 menit kemudian pelayanan benar datang dan membawa pesanan mereka tanpa ada yang tertinggal.


"Mbak, tolong bawakan saya air mineral ya?" Pelayan mengangguk dan menatap gelas berisi jus sudah tandas.


"Sayang, kapan kamu minumnya? Ini minum aja punyaku kalau kamu masih haus."


Heh bahkan aku minum aja kamu nggak tau karena sibuk ngurusin calon sekretaris kamu!!


"Nggak, nanti aja nunggu air mineral. Aku mau makan sekarang, apa kamu masih sibuk?" Bima meletakkan ponselnya, dan menarik makanan mendekat ke arahnya. Makan dalam hening, ada yang menelan kesusahan karena air mineral saja datangnya lama. Duh, kasian.


Ponsel Bima bolak-balik berdering, hanya notif pesan yang masuk. Maudy ingin sekali melihat, namun Bima meletakkan ponsel jauh darinya, sehingga walau leher yang sudah di panjangkan pun tetap tidak dapat terlihat.


"Ini mbak, airnya." Ah akhirnya, Maudy langsung membuka tutup, meneguknya hingga tinggal separuh di dalam botol. Sungguh, cemburu menguras energi, bukan hati.


***


"Bim, kayaknya nanti di resto aku bakal aku buat beda deh, nggak usah pakai pelayan kayak tadi. Buang-buang waktu. Aku mau, mereka langsung memesan dan langsung membawa pesanan mereka ke meja, dan juga sekalian bayar. Jadi tuh nggak repot-repot. Gimana menurut kamu Bim?"


"Ya Hallo? Iya-iya. Besok kamu bisa datang ke kantor jumpa saya ya." Wih tambah emosi ketika Bima mengabaikan pertanyaannya, dan memilih mengangkat telepon. Maudy meremas botol air mineral yang tadi ia bawa ke dalam mobil.


"Baik. Besok hubungi saya lagi kalau sudah sampai kantor. Saya tutup ya."


"Tadi kamu bilang apa sayang?" Maudy mendengus, membuang pandangannya ke arah jendela mobil.


"Maaf, tadi tuh-"


"Iya aku ngerti Bim, calon sekretaris kamu kan?" Bima mengangguk.


Mobil sudah sampai di halaman rumah Maudy. Berhenti tepat di depan rumah.


"Hem kamu mau mampir nggak?"


"Nggak deh, papa udah nunggu di rumah sayang. Ada hal penting mengenai pekerjaan yang harus di bahas." Maudy mengangguk.


"Oh iya, jadi kamu pilih yang mana tadi sekretaris nya?" Mengurungkan niatnya untuk langsung turun.


"Yang photo pertama sayang." Maudy mengangguk lagi.


"Itu kira-kira usianya berapa? Udah nikah belum?"


"Haha, ya belum lah sayang? Dia juga baru selesai kuliah, dia seumuran kita kok." Deg. Maudy makin uring-uringan.


"Jadi besok dia udah mulai kerja?" Bima mengangguk.


"Tapi ya belum tau juga, lihat entar."


"Aku mau nikah sama kamu? Udah, nggak perlu nunggu besok, aku jawab sekarang. AKU MAU NIKAH SAMA KAMU, SECEPATNYA!"


Bima tidak berkedip menatap Maudy. Iya, dia bahkan kaget dengan jawaban yang mendadak ini.


--__

__ADS_1


__ADS_2