
Bima
Gila, ini gila!! Hampir copot jantungku dengar Maudy bilang gitu. Sepanjang jalan pulang kerumah aku selalu tersenyum. Sudah tak sabar, ya sekarang waktunya aku bilang ke mama dan papa.
Aku memang udah pikiran ini matang-matang. Aku berniat nikahin Maudy, aku mau dengannya terus. Aku tau, soal sekretaris tadi sebenarnya dia cemburu aku tau. Tapi ya sudah, biar saja. Justru aku senang melihatnya.
Sampai di rumah, aku langsung turun dari mobil. Menyerahkan kunci pada mang Sugi untuk membawa mobil ke garasi. Dan aku, langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Aku langsung mencari keberadaan papa. Ternyata, mama juga sudah menyambut ku dan bilang di tunggu papa di ruang kerja.
Tapi, sepertinya waktu tidak tepat. Karena pasti akan membahas tentang bisnis. Baiklah, aku tahan sebentar dan untuk bahas ini nanti malam saja.
"Pa." Aku memanggilnya ketika masuk ruangan kerjanya, dan papa yang tadinya masih serius membaca buku, buka novel ya, tapi masih menyangkut tentang bisnis, dia langsung mendongak dan meletakan buku yang ia baca.
"Kamu baru pulang?" Aku mengangguk dan duduk di hadapannya.
"Memangnya dari mana?" Kenapa papa sekarang tertarik untuk bertanya, aku juga heran.
"Tadi aku pergi nemani Maudy melihat tambak yang akan jadi suplai di restonya nanti."
"Dia buka usaha?" Papa sepertinya kaget dengan perkataan ku. Benar, papa memang belum tau tentang itu.
"Iya pa. Sekitar dua bulan lagi lah, sudah mulai berjalan." Belum membahas tentang perusahaan.
"Oh. Bagus lah." Bagus? Maksudnya papa suka gitu? Ah sebaiknya iya.
"Papa bilang tadi mau bahas masalah perusahaan?" Meninggalkan dulu cerita tentang Maudy.
"Iya. Itu kamu sudah pilih kan sekretaris mana yang akan kamu pekerjakan?" Aku mengangguk dan langsung menunjukkan siapa orangnya.
"Dia lulusan di salah satu universitas terbaik di negara ini Bim. Semoga cocok sama kamu?" Cocok dalam hal apa? Semoga kali ini papa tidak aneh-aneh dan mematahkan semangat ku untuk segera mempersunting Maudy.
"Itu saja pa?"
"Ada lagi, ini ada dokumen yang harus kamu periksa besok." Aku menghela nafas, apa sempat? "Itu gunanya sekretaris Bim, kamu harus langsung mengajarinya besok. Jadi kamu tinggal ACC saja kalau sudah di periksa. Bukan hanya satu, ada tiga yang menawarkan kerja sama dengan perusahaan kita, berbagai keuntungan yang di dapat sudah tercantum dalam dokumen itu. Papa serahkan semuanya sama kamu ya, pimpin perusahaan dengan baik. Sudah saatnya papa bersantai di rumah Bim." Hatiku berdenyut, berarti selama ini yang papa rasakan itu berat ya? Waktu untuk berdua dengan mama juga sedikit. Apa aku akan seperti ini juga nanti setelah menikah?? Ah nggak, jangan. Kasian istriku nanti.
"Kenapa Bim? Kamu keberatan?" Melihatku yang belum menjawab papa sepertinya tau ada hal yang aku pikirkan.
"Nggak pa. Iya semua bakal aku usahakan. Oh iya pa, nanti malam selesai makan aku mau ngomong, sama mama juga." Papa mengangguk. "Aku keluar ya pa, mau mandi." Papa mengangguk lagi.
***
Detik terus berputar, pukul sudah menunjukan 7 malam. Sebentar lagi, selesai makan malam. Aku akan meminta ijin sama papa. Aku berharap papa tidak keberatan, walaupun aku tau, papa belum menerima dan mengakui Maudy sebagai menantunya.
Ting. Ponselku berbunyi, aku segara mengambilnya. Ternyata hanya calon sekretaris ku, menanyakan jam berapa dia harus sampai ke kantor besok. Untung papa sudah kasih tau mengenai hal tadi, jadi aku suruh saja dia datang pagi.
"Jam 07:30 sudah sampai di kantor, usahakan jangan telat. Kamu langsung kerja." Pesan terkirim.
Ting. Bunyi lagi.
Aku mengentikan langkahku yang awalnya akan keluar kamar. Tak ada pesan masuk, ku kira calon sekretaris ku itu yang membalas lagi atau sekedar bertanya. Ternyata yang berbunyi ponsel pribadiku. Aku langsung menyambarnya, dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang, udah makan?" Manis, manis sekali kata-katanya meskipun singkat.
Aku tersenyum sambil membalas pesan.
"Belum, sebentar lagi. Kamu sudah makan?"
Secepat itu dia membaca pesan dan membalasnya.
"Oh ya udah. Nanti aku ijin keluar ya, mau kerumah Kiki. Mamanya menyuruh aku kesana."
Huh, aku langsung menghela nafas. Kalau sudah manggil sayang pasti ada maunya deh.
"Ya udah, nanti aku jemput pulangnya. Nggak usah bawa mobil."
Aku langsung bangkit, tapi malah ponselku berdering karena ada panggilan masuk.
"Bim, ih kalau nggak bawa mobil aku naik apa?? Udah kamu di rumah aja ya, tadi juga kita baru ketemu kan?"
Benarkan, hilang sudah panggilan sayang nya.
"Iya-iya. Ya udah nanti kamu hati-hati ya?"
"Iya, makasih sayang." Bahkan langsung menutup panggilan, dasar calonku.
Kali ini tidak ada lagi yang menghalangi aku untuk turun dan langsung ke meja makan.
"Bim, ayo makan?" Mama sudah berdiri tepat di sebelah tangga. Selalu saja menunggu anaknya. Ya ampun, aku berdoa umur mama ku ini panjang. Sampai aku bisa memberinya cucu, ih lucu ya.
__ADS_1
"Iya ma." Ku gandeng lengannya seperti biasa. Aku sudah kembali bermanja sekarang, setelah hubunganku membaik dengan Maudy.
"Rio nggak ikut makan ma?" Papa sudah lebih dulu duduk disana.
"Tadi dia minta antar makanan ke kamar pa, dia temani Siska." Iya, kakak ipar sudah pulang dan merawat baby Dafa. Keponakan ku yang lucu-lucu. Dan Rafa, sudah tiga hari dia tidur di rumah orang tua kakak ipar. Biarlah, kata mama mereka juga mau dekat dengan cucunya.
"Ya udah, kita makan pa." Mama selalu begitu, mengambilkan makanan ke piring papa. Aku jadi tidak sabar, pasti aku juga akan di perlakukan seperti itu dengan Maudy nanti ketika sudah menikah.
Setelah selesai makan, papa menatapku.
"Kamu mau ngomong apa Bim? Tadi katanya mau ngomong." Ternyata umur tak mengurangi ingatannya, papa tetap ingat.
"Mau ngomong apa Bim? Soal apa?" Mama yang lebih penasaran dari pada papa ternyata.
"Hem ma, pa. Aku ijin mau menikahi Maudy." Papa tersedak, mama langsung menuangkan air untuk papa. Padahal papa juga selesai makan, kenapa bisa tersedak sih?? Apa perkataan ku barusan sangat menyeramkan??
"Bim, kamu serius sama perkataan kamu?" Sambil menepuk pundak papa mama melanjutkan pembahasan yang tadi.
"Iya ma. Aku serius."
"Apa ini Maudy yang minta?" Papa menyebut namanya kan? Iya, papa menyebut nama Maudy. Biasanya juga selalu 'wanita itu'.
"Bukan pa, tapi aku yang minta. Dan aku udah bilang ke orang tuanya, tapi semua mereka serahkan sama Maudy. Dan tadi, Maudy udah kasih jawaban. Dia mau! Makannya aku ijin ke papa sama Mama." Papa diam, aku tak tau apa yang di pikirkan. Jangan bilang ada niatan jodohkan aku lagi dengan orang lain.
"Mama setuju saja Bim, tinggal atur jadwal. Papa gimana pa?"
"Apa nggak terlalu cepat Bima?" Kan, pasti papa yang akan menentang.
"Nggak pa, semua udah aku pikirkan." Mama tersenyum ke arahku, memang dia yang selalu memberiku semangat.
"Memangnya mau kapan?" Ya ampun, papa kasih tanggapan ke aku.
"Rencananya dua bulan lagi, tunggu sampai dia selesai sama restonya, ini masih tahap pembangunan." Papa mengangguk. Berarti dia setuju kan?
"Ya sudah. Mama aja yang atur." Aku langsung berlari ke arah papa, memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Aku tau, walau dia belum sepenuhnya menerima, yang terpenting ijin ku kali ini papa setujui.
"Makasih pa." Masih ku peluk. Mama mengelus lenganku dan tersenyum. Aku bahagia malam ini.
"Kamu sekarang sudah pimpin perusahaan, kamu sudah punya keuangan sendiri. Jadi, pandai-pandai mengatur semuanya." Papa memberi nasehat untukku. Aku langsung mengangguk.
"Setelah menikah mau tinggal dimana?" Papa bertanya lagi, iya hal itu yang aku belum pikirkan.
"Itu tugas yang harus kamu pikirkan sebagai seorang suami. Putuskan dari sekarang, kamu mau tinggal dimana. Kalau saran papa, sebaiknya disini saja." Aku akan tanyakan hal itu pada Maudy. Aku langsung pamit untuk pergi ke kamar. Tak sabar rasanya memberi kabar ini ke Maudy.
"Mas." Aku mengetuk pintu berulang kali.
"Ya Bim, kenapa?" Kulihat wajah mas ku ini, dia sepertinya lelah sekali. Kantung matanya juga terlihat, apa semalaman tak tidur?
"Mas, aku mau nikah mas. Aku udah ijin ke papa, dan papa setuju mas." Bahkan wajahku saat ini sudah mengalahkan cerahnya malam yang di hiasi bulan dan bintang. Aku kegirangan layaknya anak kecil yang mendapat coklat.
"Kamu serius?"
"Iya mas."
"Kapan?" Aku menggeleng.
"Soal tanggal belum di tentukan. Hanya saja terhitung dua bulan lagi dari sekarang mas."
Mas Rio mengangguk. Ku dengar suara tangis baby Dafa. Mas Rio pamit mau masuk, aku juga kembali ke kamarku. Kasian, rupanya suara bayi yang menangis semalam mas Rio yang harus bergadang.
***
Aku sudah rebahan di atas kasur, aku langsung saja melakukan video call. Karena aku yakin, saat ini pasti Maudy sedang bersama Kiki.
"Ya Bim?" Aku langsung tersenyum melihat wajah cantik calon istriku ini.
"Kamu lagi apa?" Terlihat dia melirik ke sebelah, aku makin penasaran. Siapa??
"Halo Bima, ih kangen ya sama Maudy, baru main kerumahnya tante aja udah di telepon."
Aku tersenyum kikuk, ternyata mamanya Kiki.
"Nggak kok tante, aku ganggu ya tante?"
"Nggak lah. Kamu nggak kesini? Tadi katanya Maudy kamu nggak bisa ikut, karena sibuk ya?"
Apa dia bilang aku sibuk? Jelas-jelas dia kan yang nggak ngasih aku kesana.
__ADS_1
"Dia bilang gitu ya tante? Sebenarnya nggak sibuk Tante. Cuma Maudy aja tadi yang nggak mau di antar." Kulihat tante Ratih malah bingung.
"Oh gitu, ya udah kamu kesini aja Bim, ramai kok. Ada Agam, Ilham, Maudy sama Kiki, sini Bim."
Ilham?
"Iya tante." Aku langsung mematikan sambungan telepon. Ku sambar jaket Hoodie milikku. Dan tancap gas pergi kesana.
EMOSI!! Ya itu satu kata yang mewakili semua perasaan ku saat ini.
Bisa-bisanya dia nggak mau di antar, ternyata memang Maudy nggak pernah bisa dengerin aku ngomong ya? Aku jadi nyesel udah minta ijin ke papa tadi!!
***
"Keluar sekarang!" Aku sudah berdiri di depan pintu gerbang Kiki. Aku hanya mengucapkan itu lewat panggilan. 5 menit, Maudy sudah nampak keluar dengan tergesa-gesa. Takut mungkin, itu yang aku pikirkan.
"Bima, ayo masuk?" Kami berdiri berseberangan, dia di dalam aku di luar, dan pagar tinggi ini menjadi batas.
"Nggak? Ayo kamu pulang?" Ha? Maudy kaget karena aku mengatakan hal itu.
"Kenapa Bim? Tapi di dalam-"
"Apa? Jadi ini alasan kamu, kenapa kamu nggak mau aku antar? Karena lelaki itu? Iya??? Aku susah payah buat ijin ke papa, tapi lagi-lagi kamu nggak bisa jaga perasaan aku!!" Emosi kembali melingkupi hatiku. Aku nggak bisa nahan ini.
"Lelaki? Lelaki yang mana Bim?" Dia langsung membuka gerbang dan menarik tanganku.
"Ayo masuk. Nggak enak sama tante Ratih, aku kelamaan di luar." Aku tak bergerak.
"Aku nggak mau, kalau kamu mau ikut aku pulang!" Ku lepas paksa tanganku yang dia pegang.
"Kenapa sih Bim?"
"Jadi kamu kesini, nggak mau aku antar. Karena kamu mau ketemu sama Ilham itu? Iya?" Aku bahkan sampai memegang kedua bahunya, mengguncangnya berharap dia segera jujur.
"Haha." Lah, dia tertawa. Aku bingung, kenapa?
"Bima, makannya jangan pakai emosi, dan selalu cemburu! Tanya Bim, biasakan tanya!!" Kali ini dia yang membentak ku.
"Ayo, kita masuk. Biar kamu lihat Ilham mana yang ada di dalam!" Kali ini aku mengalah, aku ikut masuk.
Pandangan ku mengarah sekeliling, hanya ada Kiki, Agam dan tante Ratih yang duduk di sofa. Apa laki-laki itu sudah pergi makannya Maudy berani mengajakku masuk?
"Ini dia calon pengantin udah datang." Kiki tertawa mendengar mamanya berbicara, calon pengantin? Apa Maudy sudah memberi tau mereka terlebih dahulu?
"Tante." Aku tersenyum, dan ikut duduk. Tapi, aku masih penasaran, kemana si Ilham itu??
"Ki, sini biar Ilham sama aku aja?" Aku lebih bingung, Kiki kan hanya memangku seekor kucing.
"Nih Bim, kenalin ini Ilham. Kucing Kiki yang di belikan sama saudara tirinya." Aku terdiam, malu atau apa aku sekarang. Maudy dan Kiki sepertinya sedang menahan tawa.
"Oh jadi Bima cemburu sama kucing?" Tanya tante Ratih. Aku masih bingung, wajahku entah seperti apa sekarang.
"Ha ha ha." Ku dengar, mereka semua menertawakan ku. Ya ampun, kenapa tadi waktu di telepon aku nggak tanya dulu sih Ilham itu apa? Kalau gini, bergerak sedikit pun pasti bagi mereka tetap lucu.
"Tante tinggal dulu ya Dy, Bim. Mau lihat kekasih sih Ilham." Aku juga mengangguk mengikuti gerakan Maudy.
Dan detik berikutnya.
"Bima, Bima." Kiki masih melanjutkan tawanya. Sepertinya dia puas sekali. Aku langsung mengambil bantal sofa dan melempar ke arahnya. Tapi, lagi-lagi aku harus malu, karena meleset dan mengenai wajah Agam.
"Aw."
"Eh maaf-maaf Gam. Aku mau lempar pacar kamu tadi."
"Iya Bim, nggak masalah. Jangan sungkan Bim, mari berteman." Aku tersenyum. Iya, sudah saatnya aku menambah daftar pertemanan sekarang.
Kami kembali berbincang, walau sesekali Kiki selalu menyinggung Ilham. Ya sudah, aku terima saja. Dan, pukul sudah menunjukan 10 malam. Tanpa aku mengajak untuk pulang, Maudy sudah lebih dulu pamit.
"Aku antar kamu ya?"
"Terserah." Kenapa? Apa dia marah? Aku salah apa?
"Iya maaf tadi aku udah marah-marah. Soalnya namanya kan sama sayang."
"Dasar, sama kucing aja cemburu." Ucapnya dan masuk ke dalam mobil. Aku masih tetap berdiri disamping mobilnya.
"Maaf ya calon istriku. Maaf kan calon suamimu ini." Ku lihat dia menarik sudut bibirnya, dan tersenyum.
__ADS_1
--__