
Linda yang tidak ingin ketara bahwa dirinya saat ini tengah diserang rasa gugup karena semua ucapan Aida, Linda pun memutuskan untuk menghindari Aida agar rahasia yang sedang dia tutupi itu pun tidak terbongkar.
"Jeng, aku masuk dulu ya. Aku baru ingat kalau dari pagi belum mandi." Ucap Linda yang sengaja membohongi Aida karena tidak ingin jika gerak-gerik dirinya di ketahui.
Sedangkan Aida yang sama sekali tidak mempercayai ucapan Linda, pun hanya tersenyum hambar. Jelas-jelas make up sudah bertengger di wajahnya, bagaimana bisa dia mengatakan belum mandi? Batin Aida sinis.
"Baiklah, kalau begitu aku juga akan pulang, Jeng." Sahut Aida berpura-pura ramah.
"Memang sebaiknya seperti itu sejak tadi" Pungkas Linda yang tidak ingin berbincang lebih jauh.
BRAK.
"Lihat saja, Linda. Aku akan membongkar semua kebusukan kalian." Monolog Aida menyeringai setelah Linda menutup pintunya cukup keras, hingga gendang telinga Aida sakit mendengarnya.
Aida yang tidak ingin berlama-lama di sana, pun memilih pergi meninggalkan kediaman Linda. Namun, baru saja Aida berjalan
beberapa langkah, Kartika datang menyapanya entah dari mana.
"Tante, Aida?"
Aida yang langsung menghentikan langkahnya, pun memberikan senyuman sebagai sapaan.
"Kenapa balik lagi Tante?" Tanya Kartika kepada Ibu dari laki-laki yang disukainya.
"Kenapa aku tidak memanfaatkan dia saja sebagai alat untuk mencari informasi." Gumam Aida dalam hati dengan ide yang
tiba-tiba datang.
"Tadi Mamahmu mengatakan kepada Tante, katanya mau mandi, Tik. Makanya Tante diminta untuk pulang." Tutur Aida agar Kartika mengajaknya masuk ke dalam
rumahnya.
"Astaga, maafkan Mamahku ya Tan. Ya sudah kalau begitu kita masuk ke dalam saja." Ajak Kartika yang langsung di setujui oleh Aida.
"Tante ada apa datang kemari?" Tanya Kartika ketika keduanya sudah duduk di atas sofa.
Belum sempat Aida menjawab pertanyaan Kartika, suara wanita paruh baya sudah terdengar di telinga keduanya, meskipun wanita itu belum menampakkan dirinya di hadapan mereka.
"Tika.. Kamu kemana saja sih? Tadi si Aid-"
Ucapan Linda tiba-tiba saja terhenti, ketika melihat Aida sedang duduk bersama putri semata wayangnya di sar
"Loh, bukankah tadi Jeng Linda mengatakan kepadaku ingin mandi?" Tanya Aida yang sengaja membuat Linda gugup seperti sebelumnya.
Sedangkan Linda yang sudah kehabisan akal untuk menjawabnya, pun hanya mendengus kesal ketika mendapati pertanyaan yang membuatnya bingung untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Tika, untuk apa sih menerima tamu jam segini?" Tanya Linda ketus.
"Mah, Tante Aida sudah jauh-jauh datang kemari. Masa iya kita tidak membiarkannya masuk." Jawab Kartika yang sengaja membela Aida untuk mencari muka, agar bisa merubah citra buruk yang melekat
padanya selama ini.
Bukannya Kartika membelanya, dia justru malah membela Aida yang membuat Linda semakin geram terhadap temannya itu.
"Tik, Tante ke toilet dulu, ya." Ucap Aida menyela perbincangan antara wanita berbeda generasi yang sedang memperdebatkan dirinya saat ini.
"Silahkan Tante." Sahut Kartika ramah.
Aida pun berdiri dari posisi duduknya dan langsung berjalan ke arah toilet. Sedangkan Linda langsung menegur Kartika ketika Aida sudah menghilang dari jangkauan
"Tika, untuk apa kamu membawa si Aida masuk sih?" Ucap Linda yang nampak begitu kesal.
"Sssttt.. Pelankan suara Mamah, nanti Tante Aida bisa mendengarnya." Sahut Kartika dengan menempelkan salah satu jari telunjuk ke bibirnya.
"Apa kamu sudah lupa, bagaimana dia mengusir kita tempo hari?" Tanya Linda dengan nada suara yang sedikit pelan dari
sebelumnya.
"Aku ingat, tapi bukan berarti aku harus menunjukkan sikap tidak sukaku kepada Tante Aida, kan? Bagaimanapun juga aku harus menunjukkan sikap baikku kepada
Tante Aida, Mah. Agar nantinya, Tante Aida merestui hubunganku dengan Daffa." Terang Kartika memaparkan.
"Tenang saja, Mah. Aku akan pastikan itu tidak akan terjadi." Ujar Kartika menyeringai
Sedangkan di sisi lain Aida yang semula mengatakan ingin pergi ke toilet, ternyata malah berjalan ke arah lain untuk mencari tempat yang aman untuk meletakan sesuatu yang Aida bawa di tangannya.
"Sempurna." Ucap Aida ketika selesai memasang penyadap di berapa tempat.
***
Padahal baru siang tadi Fitria sudah berencana akan memperkenalkan Agatha sebagai kekasihnya kepada kedua orang
tuanya, agar Fitria tidak lagi terus didesak oleh mereka untuk menerima perjodohan itu.
Namun, belum juga Agatha tiba di kediamannya, Arya sudah lebih dulu memberitahu kepada Fitria bahwa akan ada makan malam bersama dengan teman Arya, dan putranya yang akan dijodohkan
dengannya, membuat Fitria yang mendengar itu, pun seketika tersentak kaget.
"Apa-apaan ini? Bukankah Papah telah melanggar kesepakatan kita?" Tanya Fitria, ketika Arya tida menepati janjinya.
"Papah tidak melanggarnya, Papah hanya meminta kamu untuk makan malam bersama saja dengan mereka. Apa salahnya?" Terang Arya memaparkan agar Fitria tidak salah paham.
__ADS_1
"Itu sama saja, Pah. Pokoknya aku tidak akan ikut bergabung makan malam bersama kalian!" Ucap Fitria kesal, lalu pergi meninggalkan Arya begitu saja.
"Mau kemana kamu, Fit? Papah belum selesai bicara." Tanya Arya mencoba menghentikan langkah Fitria, namun tidak didengarkan.
Fitria yang kesal dengan ucapan dari Arya, pun terus berjalan hingga langkahnya terhenti di sebuah taman pribadi di sisi rumahnya.
Dengan perasaan gelisah, Fitria terus berjalan mondar-mandir di taman itu seraya terus menatap ponselnya tanpa henti.
Di sela-sela kegelisahan yang Fitria rasakan, tiba-tiba suara deringan dari ponselnya terdengar hingga membuat Fitria langsung buru-buru mengangkatnya.
"Halo, lo di mana sekarang?" Tanya Fitria dengan cepat.
''Gue sudah di halaman rumah, lo."Jawab Agatha melalui sambungan Suara.
"Tunggu gue di sana, dan jangan kemana-mana." Titah Fitria, lalu bergegas pergi menuju halaman.
Tidak lama, Fitria yang sudah terlihat berjalan mendekat ke arah mobilnya, Agatha pun langsung keluar dari dalam sana.
"Apakah lo siap?" Tanya Fitria ketika keduanya sudah berdiri saling berhadapan.
"Hmm." Jawab Agatha hanya bergumam.
Meskipun laki-laki di depannya itu terlihat begitu dingin, namun tidak Fitria pungkiri bahwa ketampanan dan pesonanya begitu
sangat mengagumkan bagi kaum hawa, tak terkecuali Fitria.
"Jika nanti, kedua orang tua gue menanyakan status hubungan kita, katakan saja kalau lo itu kekasih gue yang siap menikah dalam waktu dekat," Ucap Fitria yang disambut oleh tatapan penuh tanya dari Agatha.
"Tenang, tenang. Ini hanya sebagian dari sandiwara yang gue buat. Jadi, lo nggak perlu khawatir. Gue nggak akan meminta lo untuk menikahi gue kok." Sambung Fitria
memaparkan.
Sedangkan Agatha yang mendengar penjelasan itu dari Fitria pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban paham.
Setelah Fitria selesai memberikan arahan kepada Agatha mengenai rencananya, keduanya pun mulai masuk ke dalam rumah Arya dengan tangan yang saling
bergandengan satu sama lain.
Saat sampai di depan meja makan, Fitria menghentikan langkahnya yang diikuti Agatha di sampingnya.
"Perkenalkan, Pah, Mah. Ini pacarku yang siap menikahiku dalam waktu dekat." Ucap Fitria tanpa basa-basi.
Belum sempat Arya dan Evi memberikan tanggapan atas ucapannya, tiba-tiba saja Fitria membelalakkan matanya sempurna
ketika baru menyadari bahwa ada laki-laki paruh baya yang siang tadi bertemu dengannya di sebuah restoran tengah berada di sana.
__ADS_1
Seketika Fitria pun langsung melihat ke arah Agatha dan laki-laki paruh baya itu secara bergantian, yang saat itu wajah Agatha terlihat sudah menegang.
"Papah." Ucap Agatha, yang membuat Arya dan Evi melihat kedua laki-laki berbeda usia itu secara bergantian.