Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Gejolak


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 40


Oleh Sept


Rate 18 +


Suasana di ruang tamu mendadak menjadi hening. Ini semua karena ulah pria Garda. Atmosphere di dalam sana mendadak berubah kaku dan canggung. Apalagi mama Hana dan papa Danu, kedua orang tua itu tidak bisa berkata-kata melihat aksi menantu mereka.


Aksi Garda sungguh membuat semua yang ada dalam ruangan itu tercenggang. Entah apa yang merasuki Garda dan mungkin rasa malunya sudah hilang. Atau mungkin juga karena rindunya yang sudah terlalu lama dan terlanjur mengunung. Membuat Garda lepas kendali.


Melihat wajah Sofi begitu dekat, mata Garda malah fokus ke bibir ranum yang lama tidak ia jamahhh tersebut. Pria itu tiba-tiba saja menempelkan bibirnya begitu saja. Mama, papa dan Sofi, semua yang ada di sana sampai terbengong-bengong dibuatnya.


Untung hanya menempel sebentar kemudian ia menarik diri. Setidaknya cara itu berhasil membuat Sofi berhenti mengomel.


"Apa yang kamu lakuin?" bisik Sofi malu. Di di sana ada papa dan mamanya, seenaknya sang suami main comot begitu saja.


Sementara itu, Garda hanya memasang muka dingin seperti biasa. Pria itu kemudian mengambil ponsel dalam saku, pura-pura menelpon.


***


Teras rumah


"Astaga! Apa yang sudah kau lakukan?" gumam Garda sembari mengusap wajah.


Pria berbadan tegap dan jangkung itu pun menoleh sekilas, ia merasa malu karena sudah melakukan hal seperti tadi di depan kedua orang tua Sofi.


Bagaimana lagi, rasanya ia sudah rindu dengan gadis nakallll itu. Apalagi Sofi kini malah selalu marah-marah, membuat Garda tidak bisa mendekati Sofi dengan halus. Mau tidak mau, ia pakai cara seperti biasa. Memaksa kehendaknya pada istrinya itu.


Sementara itu, di dalam sana. Mama menatap wajah putrinya dengan menggoda.


"Mama lihat dia sangat sayang padamu. Kamu jangan dingin-dingin pada suamimu itu," Mama Hana menasehati putrinya.


"Papa juga melihat ketulusan di matanya sejak dulu. Jangan membangkang, Sof ... Garda jauh lebih baik dari pada pemuda itu!" sela papa Danu.


Sofi langsung marah.


"Papa dan Mama, kalain ini gak tahu masalahnya. Sofi diduakan ... apanya yang bagus?"


Mama langsung menarik lengan putrinya. Kemudian mengengam tangannya.


"Hanya salah paham, Garda sudah cerita banyak selama kamu pergi kabur sebulan lebih ini ... dia ke sini, terus ke mari mencari kabar tentangmu. Dari sana Mama dapat menilai, suamimu itu tulus, Sof."

__ADS_1


"Jangan percaya, dia punya banyak muka!" celetuk Sofi asal bicara.


Tap tap tap,


Garda masuk kembali. Baru juga masuk, dia sudah menyela.


"Siapa yang banyak muka?"


Sofi yang jengkel, langsung masuk ke kamarnya.


Sedangkan mama dan papa, mereka berbicara dengan Garda, tanpa Sofi.


"Maafin sifat Sofi, ya Garda."


Mama merasa tidak enak, karena sikap Sofi yang mungkin kekanak-kanakan.


"Bukan sepenuhnya salah Sofi, Ma. Ini juga salah Garda."


Papa kemudian ikut menimpali. "Kami terlalu memanjakan Sofi, kamu yang sabar ya. Mungkin Sofi juga masih muda. Dia jauh dari kata dewasa."


Garda hanya mengangguk pelan, dan setelah selesai bicara. Ia pamit pergi, karena ada yang ingin Garda urus.


***


"Kenyang juga," ucapnya kemudian menutup toples kue bawang.


Karena dramanya selesai, Sofi pun akan tidur. Ia sempat melirik jam dingin di kamarnya. Sudah pukul sembilan lebih.


"Katanya nginep? Huhh dasar plinplan!" rutuknya.


Tanpa sadar, Sofi menunggu suaminya pulang. Namun, ia tidak mau mengakuinya. Sudah beberapa menit ia guling-guling ke kanan dan kiri. Merentangkan tangan dan juga kaki. Sofi benar-benar tidak bisa tidur malam ini.


Begitu ada deru mobil, bibirnya langsung mengembang. Sofi kemudian pura-pura tidur. Ia menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya. Miring ke kiri, sehingga membelakangi pintu.


KLEK


[Tuuh datang]


Sofi dapat merasakan kehadiran Garda. Karena aroma parfum pria itu yang langsung Sofi kenali.


Sementara itu, Garda melongarkan dasi, dan melepaskan jas yang ia pakai. Sudah lama ia tidak fokus pada perusahaan karena fokusnya tertuju pada Sofi. Banyak pekerjaan yang garus ia periksa. Sampai ia pulang larut, karena banyak sekali pekerjaan yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Setelah meletakkan jas di kursi, ia kemudian ke kamar mandi. Mencuci muka, lalu melihat Sofi yang sudah terlelap. Padahal Sofi saat itu hanya pura-pura tidur.


Garda sendiri berjalan mendekati ranjang, ditatapnya wajah Sofi yang meneduhkan ketika tertidur pulas.


Pria itu mengulurkan tangan, mengusap pipi Sofi. Sementara itu, Sofi yang pura-pura tidur merasa panik karena merasakan sesuatu yang tidak bagus.


Benar saja, tiba-tiba saja wajahnya merasakan sesuatu yang hangat kian mendekat. Hembusan napas pria itu dapat Sofi rasanya semakin dekat.


[Astaga! Apa yang akan dia lakukan lagi? Apa dia sering melakukan ini ketika aku tidur?]


CUP


Garda mengecupp pipi Sofi lembut. Tidak hanya itu, pria tersebut kembali mengulang hal yang sama. Namun, di tempat yang berbeda.


Blakkk ....


Seketika Sofi membuka mata ketika bibir mereka sudah bertemu.


Garda sendiri tersenyum dalam hati, sepertinya ia menyadari Sofi sudah bangun. Dengan pelan, ia memaksa masuk ke dalam.


Sofi beringsut, tangannya mencoba mendorong tubuh bidang tersebut. Namun, Garda menyesapnya lembut. Ingin menghindar, Sofi malah terbawa arus.


[Sofi ... ada apa denganmu?]


Sofi bertanya-tanya dalam hati, tapi sentuhan Garda membuatnya kehilangan akal. Semakin lama, Garda malah menyesapnya semakin dalam. Sudah lama keduanya tidak melakukan hal seperti ini.


[Mungkin kamu sudah gila sofi .. kenapa mudah sekali memaafkan pria ini?]


Sofi berjibaku, kepalanya menolak tapi hati dan tubuhnya juga merindukan belaian suaminya itu.


[Ish ... sudahlah!]


Sofi mengibarkan bendera putih. Detik berikutnya, tangan yang semula mendorong tubuh suaminya itu, kini malah melingkar di leher Garda.


Terlanjur bergejolak, terlanjur basah. Sofi pikir, ia akan mandi sekalian.


Dengan hangat Sofi menyesap balik, membuat Garda tersentak. Pria yang semula menutup mata karena menikmati sensasi tautan mereka, mendadak menatap Sofi dengan mata terbuka.


Ada senyum kemenangan di mata Garda. Tidak mau membuang waktu, Garda langsung saja melepas semua kancing bajunya. BERSAMBUNG


__ADS_1


Ig : Sept_September2020


Fb : Sept September


__ADS_2