Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
149


__ADS_3

Kai berjalan masuk ke kamar Inap Crystal dengan pelan, berusaha tidak mengganggu keduanya. Dia sangat bersyukur operasinya berjalan dengan lancar, meski ada kejadian yang terduga tapi syukurnya semau teratasi dengan baik.


Entah apa yang akan terjadi jika semuanya gagal, pasti adiknya ini akan mengamuk dan merusak semua yang ada di rumah sakit. Kai memijat pelipisnya, padahal baru beberapa hari di sini tapi kepala nya langsung berdenyut nyeri.


Sudah bertahun-tahun lalu, dia tak menyangka wanita ini bisa bertahan sejauh ini. Setahunya apa yang telah Dokter ceritakan padanya, akan sangat sulit untuk bertahan. Tapi wanita ini tetap gigih hingga melahirkan kedua anaknya dan bertahan sejauh ini. Entah perjalanan dan rintangan seperti apalagi yang akan dia lalui.


"Kalian sudah berkerja keras, semoga kebahagian menghampiri kalian berdua." Bisik Kai, menatap adiknya Sean dan juga Crystal adik iparnya.


"Eunghh." Erang Sean, secara perlahan kelopak mata itu terbuka menampilkan bola mata nya yang sehitam malam.


"Kau sudah bangun Sean."


"H-hyung." Ucap Sean sedikit terkejut, "sejak kapan kau di sini?" tanya nya, perlahan dia menegakkan tubuhnya. Wajahnya menoleh ke arah Crystal dan ternyata wanita itu masih menutup matanya.

__ADS_1


"Apa dia belum juga membuka matanya?" tanya Sean dengan suara yang sangat menampilkan kekhawatiran.


Kai melihat Crystal yang masih terbaring. "Kau tidak usah khawatir, Dokter memang sengaja memberinya obat untuk beristirahat total, besok pasti dia akan siuman." ujar Kai, menjelaskan perihal kondisi Crystal.


"Waktu itu, aku benar-benar khawatir. Merutuki diriku sendiri karena lemah dan bodoh, padahal sudah sejak lama tapi aku tidak bisa di andalkan olehnya." Suara Sean bergetar, menceritakan kekalutannya pada Kai.


"Karena menjadi lelaki seperti ini, Crystal dan bahkan kedua anakku menjadi korbannya. Ini memang semua berasal dari kesalahanku, seandainya saja dari awal aku melepasnya. Mungkin tidak akan terjadi separah ini, tapi karena aku egois dan bodoh. Aku telah banyak melukainya.. Apa yang harus aku lakukan Hyung..."


Mendengar pertanyaan itu, membuat Kai terkesiap. Adik kecilnya, menyampaikan semua kegelisahan padanya. Entah kenapa dia merasa senang, setelah sekian lama Sean yang selalu membatasi diri dan menjadi sok kuat di hadapan semua orang. Kini, menunjukan semua padanya dengan suara dan tubuh bergetar.


"Aku mensyukuri itu semua, tapi aku juga merasa bersalah karena nya."


"Jangan khawatir, Crystal adalah wanita yang kuat." Seru Kai tersenyum sambil mengusap Surai hitam milik adiknya dengan lembut. "Untuk itu, kau harus menjadi lebih kuat lagi karena bukan hanya Crsytal tapi juga kedua anak mu sangat membutuhkan dirimu di sisi mereka."

__ADS_1


Sean mendecih, "Yah aku memang selalu berpikir dangkal, padahal mereka membutuhkan aku untuk melindungi mereka."


"Benar, jadi sudahi sedih mu. Kau juga harus banyak istirahat dan makan yang cukup. Aku dengar dari Appa, sakit mu cukup serius."


"Hyung, di mana Kaka Ipar? Aku belum melihatnya sejak tadi." Ucap Sean mengalihkan pembicaraan mereka, seakan tak ingin membahas perihal kondisinya saat ini.


"Huh." Desah Kai sambil menepuk dahinya, "kau selalu mengabaikan kondisi mu, Sean."


"........" Sean hanya diam, tak menanggapi keluhan Hyung nya. Entahlah, Sean tak ingin orang membicarakan hal ini karena dia tak ingin mengingat tentang penyakitnya.


"Mau minum di Cafetaria Kantin?" Ajak Kai pada adik nya, "Biarkan Crystal Istirahat lebih dahulu." lanjutnya.


Sean melirik Hyung nya, kemudian menatap Crsytal yang masih tertidur. "Baiklah, aku juga haus." Jawab Sean mengiyakan ajakan Hyung nya.

__ADS_1


Mereka pun memilih pergi ke kantin dan membiarkan Crystal untuk beristirahat, tapi sebelum itu Sean telah meminta beberapa suster untuk menjaga dan memantau Crystal. Pria itu tak ingin sesuatu hal terjadi pada Crystal.


__ADS_2