Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
71. Ada Apa Dengan Daffa?


__ADS_3

Sesampainya Daffa dan Safira di rumah, Daffa yang sedari tadi sudah tidak sabar untuk melahap nanas yang baru saja dia beli pun langsung menuju dapur untuk mengupas nanasnya.


"Mas Daffa yakin mau makan nanas sekarang? Ini sudah malam loh mas." Tanya Safira kepada Daffa.


"lya sayang, rasanya aku sudah tidak sabar untuk memakan nanas ini segera.


"Tapi mas Daffa belum makan dari tadi, apalagi rasa dari nanas itu kan asamn. Bagaimana jika mas Daffa makan sedikit nasi saja sekedar untuk mengganjal perut?"


"Baiklah, tapi aku tidak mau makan nasi goreng yang kamu bawa itu ya."


"Tidak, tenang saja. Aku buatkan telur mata sapi saja bagaimana? Agar mas Daffa tidak usah menunggu lama."


"Iya sayang, aku lebih baik makan hanya dengan telur, daripada memakan nasi goreng tadi. Bau nya sungguh membuat perutku mual."


"Tunggu di sini sebentar ya mas, aku akan menggoreng telur dulu untuk mas Daffa," Kata Safira sera berjalan ke arah kulkas untuk mengambil telur.


Namun baru beberapa langkah Safira berjalan, Safira menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Daffa yang saat itu juga ternyata Daffa sedang diam diam mengambil satu potong nanas dan hendak memasukkan ke dalam mulutnya.


"Dan, jangan sentuh nanas itu sebelum perut mas Daffa terisi! " Lanjut Safira kembali yang membuat Daffa meringis malu karena ketahuan.


"Hehehe iya sayang." Ucap Daffa seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


Di saat Safira sedang sibuk menggoreng telur untuk Daffa, Daffa terus melirik ke arah piring yang terisi nanas dengan terus menelan salivanya tanpa henti.


Tidak membutuhkan waktu lama, kini telur yang Safira goreng pun telah matang. Safira pun meletakan telur itu di atas piring bersamaan dengan nasinya.


"Ini mas, silahkan di makan. " Kata Safira seraya meletakan piring yang sudah terisi nasi dan telur di meja makan.


"Terimakasih sayang."


"lya mas, sama-sama. " Safira pun duduk di salah satu kursi yang berada di sisi Daffa.


"Bismillah." Ucap Daffa yang hendak menyuapkan nasi ke dalamnmulutnya.


Bukannya langsung mengunyah, Daffa justru menghentikan aktivitas makannya yang baru saja di mulai. Sesaat Daffa pun berlari menuju wastafel dan memuntahkan kembali nasi yang belum lama masuk ke


dalam mulutnya.


"Apa telur buatanku tidak enak mas?" Tanya Safira dengan mencicipi telur mata sapi yang baru saja dia buat.


"Enak kok, tidak asin dan tidak hambar. Rasanya pas. Lantasnsalahnya di mana?" Lanjut Safira kembali setelah mencicipi telur buatannya.


Daffa yang baru saja selesai memuntahkan makanannya, kini kembali duduk di sisi Safira dengan meminum air putih untuk menghilangkan aroma yang membuat


perut Daffa terasa mual.


"Tidak ada yang salah sayang, rasanya sangat enak. Namun entah mengapa perutku terasa mual ketika memasukkan makanan ke dalam mulutku. "


"Tapi sebelumnya mas Daffa tidak seperti ini, apa mas Daffa sedang tidak enak badan?"


"Jika dikatakan sedang tidak enak badan, tetapi kondisiku baik-baik saja sayang."


Safira pun bergeming seraya berpikir.


"Sayang." Panggil Daffa yang membuat lamunan Safira buyar.


"Iya mas?'


"Apa aku boleh memakan nanasnya sekarang?"


"Tidak, mnas Daffa saja belum makan--"


Ucapan Safira terhenti ketika Daffa dengan cepat memotongnya.

__ADS_1


"Ayolah sayang, aku sangat ingin memakan nanasnya sekarang. Boleh ya? " Daffa memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, tapi sedikit saja mas. Jangan berlebihan. "


"Iya sayang, tenang saja, " Ucap Daffa.


"Bismillah." Lanjut Daffa kembali dengan menyuapkan nanas ke dalam mulutnya.


Daffa pun memakan nanas itu dengan sangat lahap, membuat Safira menggelengkan kepalanya pelan karena heran.


"Mas, pelan-pelan makannya." Tegur Safira yang melihat Daffa makan dengan cepat.


"Iya sayang, apa kamu mau nanasnya? Maaf, aku sampai lupa menawarkan nanasnya kepadamu hehehe. '"


"Tidak mas, aku mau menghabiskan nasi goreng saja." Kata Safira yang membuat Daffa menghentikan aktivitas makannya


sejenak.


"Sayang, kamu yakin? Belum ada dua jam loh kamu makan nasi goreng tadi.''


"Perutku sudah terasa sedikit lapar lagi mas hehehe. "


Dan keduanya pun sibuk dengan aktivitas makannya masing-masir Safira yang sedari tadi sudah mengunyah nasi gorengnya dan daffa yang melahap nanas nya


***


selesai menyiapkan sarapan, dan menunggu kedatangan Daffa di meja makan. Berkali-kali melihat ke arah tangga dan jam dinding secara bergantian, pasalnya Daffa dari tadi belum juga keluar dari kamarnya.


Tidak ingin suaminya terlambat pergi ke kantor, Safira pun memutuskan untuk mendatangi Daffa di kamarnya.


"Mas Daffa, ayo sarapan." Ajak Safira yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Yang biasanya Daffa sudah siap dengan pakaian kantornya, namun pagi ini Daffa masih berada di atas kasur dengan menggumakan pakaian koko yang Daffa gunakan saat shalat subuh tadi.


"Mas, kok tidur lagi? " Tanya Safira seraya menggoyangkan badan Daffa pelan.


"Sayang, sepertinya hari ini aku tidak bisa berangkat ke kantor." Ucap Daffa lirih.


"Mas Daffa sakit?" Tanya Safira yang baru menyadari bahwa wajah suaminya kini


sudah terlihat pucat.


"Entahlah, yang pasti perutku terasa tidak enak sayang. " Ucap Daffa seraya memegangi perutnya dengan kedua tangannya.


"Pasti karena dari semalam perut mas Daffa belum terisi makanan, dan hanya nanas saja. Kalau begitu mas Daffa tunggu dulu ya, aku akan buatkan bubur untuk mas Daffa agar lebih mudah di cerna.


"Iya sayang.


Drt drt drt


"Assalamu'alaikum, iya pah?" Ucap Daffa pada benda pipih miliknya.


"Wa'alaikumussalam, sedang di mana kamu Daff? Apa kamu tidak tahu ada rapat pagi ini? 'Tanya Bagaskara melalui sambungan suara.


"Daffa lagi di rumah pah, Daffa tidak masuk dulu hari ini. Tiba-tiba saja tadi pagi perut Daffa merasakan sakit, "


'Apa kamu sudah menghubungi Dokter Kayla untuk memeriksa keadaanmu?"


"Belum pah, nanti Daffa hubungi agak siangan saja."


'Baiklah, kalau ada apa-apa segera hubungi papah ya. Papah tutup dulu teleponnya, assalamu'alaikum.' Pungkas Bagaskara.


"Iya pah, wa'alaikumussalam. "

__ADS_1


Setelah Daffa selesai berbicara dengan Bagaskara melalui telepon, Daffa pun kembali memejamkan matanya yang terasa masih sangat kantuk.


Dari tempat lain, Safira yang baru saja selesai membuatkan bubur untuk Daffa pun langsung membawa bubur itu ke dalam kamar.


"Mas, sarapan dulu yuk. " Ucap Safira seraya mengusap lembut pipi Daffa.


"Iya sayang. " Saut Daffa dengan mengubah posisinya saat ini.


"Mau makan sendiri atau disuapin?"


"Suapin!" Jawab Daffa dengan mimik wajah manja.


"Aduh, suami es balokku kok bisa jadi menggemaskan gini sih. " Goda Safira seraya mencubit kedua pipi Daffa pelan.


"Ish, kok dicubit doang sih sayang? " Protes Daffa.


"Terus? " Tanya Safira dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Seharusnya seperti ini sayang.


CUP


CUP


CUP


Daffa mencium kening, hidung dan bibir Safira secara beruntun.


"Hmm, sekarang mas Daffa Sarapan ya?"


"lya sayang, bismillah. " Ucap Daffa lalu menerima suapan bubur dari Safira.


Baru saja bubur itu masuk ke dalam mulut Daffa, lagi-lagi aroma dari makanan membuat perut Daffa terasa mual.


Tidak sanggup untuk menelannya, Daffa pun dengan cepat lari ke dalam toilet dan memuntahkan bubur yang belum sempat masuk ke dalam perutnya.


"Mas, bagaimana jika kita hubungi Dokter Kayla saja? Sepertinya perut mas Daffa sedang bermasalah. " Ucap Safira kepada


Daffa.


"Iya sayang, aku rasa juga seperti itu. "


TING NONG.


"Mas, sepertinya ada tamu. Aku bukakan pintu dulu ya." Ucap Safira lalu keluar dari kamar setelah mengganti pakaiannya.


Safira pun berjalan menuruni anak tangga satu persatu dan membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum." Ucap oma Rahma yang sudah berdiri di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam, oma.. Kemari dengan siapa? " Tanya Safira seraya mencium tangan oma Rahma.


"Biasa nak, siapa lagi kalau bukan Roy yang selalu mengantar oma."


"Ah iya juga hehehe. "


"Oma dengar dari mertuamu kalau Daffa sedang sakit, bagaimana kondisi dia sekarang?" Tanya Oma Rahma.


"Mas Daffa dari semalam tidak mau makan apa pun kecuali buah nanas, Oma. "


"Tidak mau? Maksudnya bagaimana nak?" Tanya oma Rahma tidak mengerti.


"Mas Daffa jika makan nasi selalu di muntahkan oma, tetapi jika nanas justru tidak sama sekali. Justru mas Daffa makan nanas dengan sangat lahap."

__ADS_1


__ADS_2