
Cuaca di Tokyo benar-benar sangat dingin pagi itu, mungkin bagi penduduk asli cuaca di musim semi tidak begitu dingin dibandingkan dengan musim sebelumnya. Namun, bagi Safira yang baru saja berkunjung di negara yang memiliki empat musim, musim semi pun benar-benar
berhasil membuatnya menggigil.
Dengan menggunakan pakain gamis berwarna hitam senada dengan hijab dan cadarnya, yang dibalut dengan duffle coat berwarna coklat muda. Safira telah siap untuk berkeliling Tokyo untuk menikmati
musim semi bersama Daffa.
"Sayang, apa kamu yakin ingin berjalan kaki saja?" Tanya Daffa kepada Safira.
"Hmm, memangnya kenapa, Mas Bukankah lebih menyenangkan menikmati udara musim semi ini dengan berjalan kaki? Selain kita bisa menikmati udaranya yang begitu menyegarkan, kita juga bisa melihat
bunga sakura dari jarak yang dekat kan? Lagi pula lihatlah, tidak sedikit orang-orang jepang yang berjalan kaki di luar sana, Mas." Ucap Safira seraya melihat ke arah luar dari balik jendela kamar hotelnya.
"Baiklah jika kamu memang ingin berjalan kaki. Tapi, jika kamu sudah merasa lelah segera beritahu aku, ya. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, dan calon anak kita." Kata daffa menyetujui permintaan Safira.
"Iya, Mas." Sahut Safira senang.
"Kalau begitu apakah kita langsung berangkat sekarang?" Tanya Daffa menggandeng tangan Safira.
"Hmm." Gumam Safira seraya menganggukkan kepalanya. Keduanya pun mulai keluar dari hotel itu.
***
Fitria nampak begitu gelisah saat duduk di sisi ranjang dengan netra yang sesekali melihat ke arah Agatha yang tengah menonton televisi. Fitria terlihat ragu-ragu untuk mengutarakan keinginannya.
Sedangkan Agatha yang tidak sengaja
menangkap Fitria yang tengah gelisah,
pun langsung menghampirinya.
"Kenapa?" Tanya Agatha saat berada di hadapan Fitria.
"Ng-nggak." Jawab Fitria ragu untuk memberitahu.
"Hmm." Gumam Agatha hendak kembali ke arah sofa.
"Gue mau pipis, Ta!" Ucap Fitria cepat ketika Agatha baru saja berjalan beberapa langkah.
Sesaat, Agatha pun kembali mendekat ke arah wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Ayo, gue bantu."
"Ta-tapi gue juga mau mandi." Ucap Fitria memelankan suara seraya menundukkan kepalanya karena malu.
"Ya sudah, ayo, gue bantu." Ucap Agatha membuat Fitria menatap ke arahnya segera.
"Bagaimana caranya?" Tanya Fitria lirih.
Agatha yang semula tengah berdiri, pun langsung berjongkok di hadapan Fitria.
"kalau lo tidak ingin gue bantu mandi, gue akan menunggu lo di dalam. Jadi, lo nggak perlu khawatir jatuh lagi." Ucap Agatha agar Fitria merasa aman.
"Baiklah." Ucap Fitria menyetujui.
Namun saat Agatha hendak menggendong Fitria, wanita itu justru menolak.
__ADS_1
"Nggak usah, gue bisa jalan sendiri. Lo cukup bantu gue saja." Ucap Fitria yang langsung dituruti oleh Agatha dengan cara
memapahnya.
Fitria dengan susah payah berusaha berjalan dengan lengan yang merangkul di bahu Agatha.
"Cukup, Fit." Ucap Agatha mengehentikan langkahnya, yang secara otomatis langkah Fitria pun ikut terhenti.
Fitria menoleh ke arah Agatha yang jarak wajahnya lumayan dekat.
"Ada apa?" Tanya Fitria bingung.
"Apa lo yakin ingin ke kamar mandi dengan berjalan seperti ini?" Tanya Agatha sedikit kesal.
"Yakinlah, kenapa memangnya?" Tanya Fitria balik bertanya.
Sesaat Agatha membuang wajahnya ke arah lain sebelum menggendong Fitria tanpa permisi.
"Agatha, turunin, gue bisa sendiri." Protes Fitria yang tidak diperdulikan oleh Agatha.
Agatha terus berjalan hingga memasuki kamar mandi dengan terus menggendong Fitria ala bridal style.
Dengan pelan-pelan Agatha mendudukkan Fitria di atas kloset yang dalam keadaan tertutup.
"Kenapa masih diam saja?" Tanya Agatha saat Fitria tidak memulai aktivitas mandinya.
"Bagaimana gue mau buka baju, kalau lo saja masih menghadap ke sini
"Ah, gue lupa." Ucap Agatha lalu segera memutar tubuhnya membelakangi Fitria.
"hmm." Gumam Agatha yang masih membelakangi Fitria.
Saat baju Fitria sudah berhasil terlepas, kini Fitria bingung bagaimana caranya melepaskan bagian celananya. Dengan menahan rasa malu, Fitria pun meminta
bantuan Agatha kembali.
"Ta, a-apa lo bisa bantu gue sebentar?" Tanya Fitria dengan suara pelan namun masih terdengar jelas di telinga Agatha.
"Apa?" Tanya Agatha datar.
"Tolong bantu gue melepaskan celana sebentar, gue sedikit kesulitan karena gips ini."
GLUK.
Agatha menelan salivanya kasar saat mendengar permintaan dari wanita yang sudah menjadi istri sahnya itu.
"Tolong bantu tarik celana gue, tanpa melihat ke sini." Ucap fitria cepat.
Agatha pun memundurkan langkahnya mendekat ke arah Fitria dengan tangan yang meraba, mencari titik keberadaan celana itu.
"Ini." Ucap Fitria seraya meraih tangan Agatha, dan menuntunnya agar menyentuh celananya.
Dengan pelan-pelan Agatha pun mulai menarik celana Fitria dengan tubuh yang masih membelakangi istrinya itu.
"Terimakasih." Ucap Fitria saat Agatha sudah berhasil menarik celananya.
Setelah semua pakaiannya sudah terlepas, Fitria pun mulai mandi dengan salah satu kaki yang di letakan di atas meja kecil, yang
__ADS_1
sebelumnya Agatha minta pada resepsionis untuk mengganjal kaki Fitria agar tidak basah saat mandi.
Selama sepuluh menit Agatha menunggu Fitria dengan sabar. Kini Fitria pun telah selesai dari aktivitas mandinya.
Namun, saat Fitria hendak meraih handuk, Fitria baru sadar jika dirinya lupa membawa pakaian ganti.
"Ta.." Panggil Fitria lirih.
"Hmm." Gumam Agatha masih membelakangi Fitria.
"Gue lupa membawa pakaian ganti." Ucap Fitria memberitahu.
Sesaat, Agatha langsung mengedarkan pandanganya ke arah sudut kamar mandi yang terdapat bathrobe yang tergantung di sana.
Agatha pun meraih bathrobe itu dan memberikannya kepada Fitria dengan cara memundurkan langkahnya seperti sebelumnya.
"Lo bisa gunakan ini dulu."
"Terimakasih." Ucap Fitria setelah menerima bathrobe dari tangan Agatha, dan langsung memakainya.
"Sudah belum? Kaki gue pegal dari tadi berdiri terus." Tanya Agatha saat Fitria sudah dirasa memakai bathrobe yang sebelumnya dia berikan.
"Sudah." Jawab Fitria.
Agatha pun membalikkan tubuhnya ke arah Fitria. Tanpa mengatakan apa pun Agatha langsung menggendong Fitria dan
membawanya keluar dari kamar mandi.
Saat Agatha baru saja mendudukkan Fitria di sisi ranjang, Agatha langsung berjalan
meninggalkan fitria di sana. Namun sialnya, karena lantai yang sedikit basah, membuat Agatha terpeleset hingga tubuhnya jatuh di atas tubuh Fitria yang sudah terlentang akibat terdorong oleh tubuhnya, dan
membuat posisi keduanya begitu
intim.
DEG.
Netra Agatha dan Fitria saling bertemu membuat jantung keduanya berpacu begitu cepat. Perlahan Agatha mendekatkan
bibirnya ke arah Fitria. Sedangkan Fitria yang menangkap maksud dari Agatha, pun langsung memejamkan matanya pelan.
Baru saja bibir Agatha menyentuh bibir Fitria, deringan ponsel miliknya sudah menggema di ruangan itu. Membuat Agatha kembali memundurkan wajahnya dan langsung bangkit dari posisinya saat
ini untuk meraih benda pipih miliknya yang di letakan di atas meja.
Sedangkan Fitria yang wajahnya sudah merah padam bak kepiting rebus, langsung menghela napasnya panjang seraya mendudukkan dirinya kembali.
"Halo, Mah." Ucap Agatha dengan meletakan benda pipih miliknya di telinganya.
'Bagaimana dengan bulan madu kalian? Apakah sudah berhasil mencetak gol?' Tanya Rosa melalui sambungan suara.
"Bagaimana aku bisa mencetak gol, kalau Mamah saja malah menghubungiku seperti ini." Jawab Agatha sedikit kesal yang disambut gelak tawa oleh Rosa.
Sedangkan Fitria yang mendengar pembicaraan Agatha melalui telepon, pun langsung membelalakkan matanya sempurna.
"Apa dia sudah gila? Kenapa membicarakan itu kepada Ibunya Membuat gue malu saja!" Monolog Fitria dengan wajah yang semakin merah padam.
__ADS_1