
Selama dua jam Daffa dan Safira berkeliling Tokyo dengan berjalan kaki, kini keduanya pun memutuskan mencari restoran halal untuk mengisi perutnya yang saat ini mulai terasa lapar.
Daffa dan Safira bergegas masuk ke dalam sebuah restoran saat berhasil menemukan restoran halal di sana. Pasalnya, cukup sulit untuk mencari restoran halal di negara yang mayoritas non muslim itu.
"Mas, aku ke toilet dulu, ya." Ucap Safira ketika keduanya baru saja tiba di salah satu meja yang berada di sisi jendela.
"Apa perlu aku antar, sayang?" Tanya Daffa sebelum memutuskan untuk duduk.
"Nggak perlu, Mas."
"Baiklah, hati-hati, ya." Ucap Daffa sebelum Safira berjalan menuju toilet.
Tidak lama, seorang pelayan wanita datang dengan membawa sebuah menu hidangan restoran di tangannya, dan memberikan menu itu kepada Daffa.
Dengan pelan-pelan Daffa melihat satu persatu menu yang ada di daftar itu seraya menunggu kedatangan Safira yang tengah berada di toilet.
Tok tok tok.
Sebuah ketukan dari balik kaca berhasil membuat atensi Daffa teralihkan, Daffa pun menoleh ke arah jendela yang terlihat sudah ada seorang wanita yang tengah
melambaikan tangannya di luar sana.
"Daffa!" Sapa wanita itu yang bisa dilihat dari gerakan mulutnya saat menyebut nama Daffa dengan tangan yang melambai ke arahnya.
Namun, belum sempat Daffa menanggapi sapaan itu, wanita yang baru saja menyapa sudah menerobos masuk ke dalam restoran dan duduk di kursi yang berada di hadapan Daffa.
"Astaga, gue nggak nyangka banget bisa ketemu lo di sini, Daff." Kata wanita itu.
"Ngap--"
Belum sempat Daffa menyelesaikan ucapannya, wanita itu sudah memotongnya lebih dulu.
"Friska-nya mana? Kok sendirian aja?" Tanya wanita itu dengan mengedarkan pandangannya ke sembarang arah untuk mencari keberadaan wanita yang dia
maksudkan tadi.
Sedangkan Safira yang baru saja kembali dari toilet, menghentikan langkahnya sejenak saat mendengar nama Friska dari mulut wanita itu.
"Sayang." Ucap Daffa berdiri dari duduknya, dan mendekat ke arah istrinya yang tengah berdiri dengan jarak yang tidak begitu jauh dari posisinya saat ini.
"Sayang?" Kata wanita itu mengulangi ucapan Daffa seraya menatap keduanya secara bergantian.
Daffa merangkul Safira dan menuntunnya untuk duduk di sisinva.
"Kenalin, Win. Dia Safira, istri gue." Ujar Daffa memperkenalkan Safira sebagai istrinya kepada Windy, teman dekat Friska yang tinggal di Australia.
Sedangkan Windy yang mendengar itu, pun nampak terkejut saat mendengar ucapan Daffa, dan menatap keduanya tidak percaya.
"Hah? Apa gue nggak salah dengar?"Tanya Windy memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan bailk.
"Kenalin, sayang. Dia Windy. Teman... Ah, sudahlah tidak penting." Kata Daffa kepada Safira tanpa memperdulikan pertanyaan Windy yang ditujukan kepadanya.
"Sejak kapan lo putus sama Friska?" Tanya Windy kembali.
Daffa menatap Windy tajam saat wanita itu menyebut nama Friska di hadapannya.
"Sejak lama!" Jawab Daffa penuh penekanan.
__ADS_1
"Wohoo... Santai Daff, santai," Kata Windy saat menangkap wajah Daffa yang sudah tidak bersahabat itu.
"Tapi... Bukankah lo cinta mati dengan dia? kok bisa sampai putus?"
Tanya Windy kembali yang sepertinya belum mengetahui tentang hubungan
Daffa dan Friska yang sudah berakhir
lama.
Karena sebelum Friska dijebloskan oleh Daffa ke dalam jeruji besi, Friska selalu mengatakan bahwa Daffa adalah kekasihnya, meskipun hubungan keduanya sudah berakhir sejak Daffa dijodohkan dengan Safira.
Safira yang sedari tadi hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan suara apa pun, hanya bisa meremas ujung gamisnya menahan rasa cemburu yang sudah menyusup ke dalam hatinya saat mendengar bahwa Daffa cinta mati kepada Friska.
Meskipun itu di masa lalu, namun fakta itu cukup melukai Safira.
"Windy!" Bentak Daffa agar teman dari mantan kekasihnya itu tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Fine, gue nggak akan bahas Friska lagi. Tapi, gue nggak nyangka saja dengan selera lo sekarang, Daff." ucap windy seraya melirik Safira sinis.
Tidak ingin mendengar ucapan yang bisa mengotori hatinya karena kebencian, Safira pun bangkit dari posisinya saat ini.
"Mas, aku akan kembali ke hotel sekarang." Kata Safira meraih tas miliknya.
"Tapi, bukankah kamu tadi mengatakan sedang lapar, sayang? bagaimana jika kita makan dulu, dan setelah itu baru kembali ke hotel?"
"Selera makanku tiba-tiba saja hilang, Mas." Pungkas Safira lalu pergi meninggalkan Daffa yang masih duduk di sana.
Saat Daffa hendak mengejar Safira, Daffa kembali mendekat ke arah Windy.
Safira.
Di sisi lain, Safira yang baru saja keluar dari restoran itu langsung menghentikan taksi untuk mengantarkannya kembali ke hotel.
Saat Daffa hendak mengejar taksi yang Safira naiki, taksi itu sudah melaju lebih dulu.
Daffa yang sudah menduga bahwa Safira tengah kesal, pun langsung menyugar rambutnya kasar seraya menatap kepergian taksi itu.
Dengan cepat, Daffa mengedarkan pandangannya untuk mencari taksi lain. Tidak membutuhkan banyak waktu, taksi
yang sudah daffa tunggu, pun akhirnya datang.
Saat Daffa sudah menaiki taksi itu, Daffa langsung meminta sopir taksi untuk mengantarkannya ke hotel yang Daffa dan Safira tempati untuk beberapa hari.
Safira yang sudah sampai di hotel lebih dulu, langsung merebahkan dirinya di atas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Tidak lama, Daffa pun masuk ke kamar hotel itu dengan napas yang naik turun.
"Sayang, ada apa denganmu?" Tanya Daffa duduk di sisi ranjang.
Namun tidak ada jawaban apa pun dari dalam selimut sana.
"Sayang, apa kau marah?" Tanya Daffa kembali, dengan berusaha menarik selimut itu pelan, namun dengan cepat Safira tahan.
"Sayang, jangan diamkan aku seperti ini terus. Katakanlah, letak kesalahanku di mana?" Tanya Daffa kembali.
Karena terus menerus tidak mendapatkan jawaban dari Safira, Daffa pun ikut merebahkan dirinya di ranjang dan memeluk Safira erat.
"Sayang, aku tidak tahu letak kesalahanku di mana, namun jika kamu kesal dengan ucapan Windy tadi. Ketahuilah sayang, aku tidak bisa mencegah lisan orang lain untuk
__ADS_1
berbicara kan? Tapi, bukan berarti aku akan membiarkan siapa pun bisa berbicara seenaknya yang berujung melukaimu." Ucap Daffa semakin mengeratkan pelukannya.
Mendengar ucapan yang baru saja suaminya katakan, Safira langsung memutar tubuhnya menghadap Daffa.
BUGH.
Dengan pelan, Safira memukul.dada bidang milik suaminya itu. Bukannya Daffa meringis kesakitan, Daffa justru menatap
istrinya gemas. Daffa pun langsung
melepaskan cadar dan hijab yang Safira kenakan agar bisa melihat ekspresi yang bertengger di wajah istrinya itu.
Saat melihat wajah Safira yang tengah cemberut tidak seperti biasanya, Daffa semakin dibuat gemas.
"Ekspresi apa ini? Kenapa sangat menggemaskan sekali." Goda Daffa seraya mengusap lembut wajah Safira.
BUGH.
Untuk kedua kalinya Safira kembali memukul dada bidang Daffa.
"Hey, ada apa sebenarnya? apa ada yang mengganggu pikiranmu, sayang?" Tanya Daffa saat Safira bersikap tidak seperti biasanya.
"Sangat menyebalkan!" Desah Safira kesal.
"Siapa? Aku?" Tanya Daffa dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah wajahnya sendiri.
"Hmm, siapa lagi?" Jawab Safira sinis.
"Memangnya aku menyebalkan kenapa?" Tanya Daffa tidak mengerti dengan ucapan Safira yang sangat ambigu itu.
"Apa tadi kata dia? Cinta mati? yang benar saja!" Ucap Safira lalu bangkit dari posisinya saat ini dan berjalan ke arah kamar mandi.
Sejenak Daffa mencerna ucapan dari Safira, saat Daffa telah menangkap maksud dari ucapan yang penuh ambigu itu, Daffa langsung segera mengekori Safira dari belakang.
"Jangan bilang kalau kamu sedang cemburu, sayang." Ucap Daffa mencegat safira dan mendekatkan wajahnya ke arah istrinya itu.
Sedangkan Safira yang ketahuan tengah cemburu, pun langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sayang, lihat aku. Ucapanku tidak salah, 'kan?" Tanya Daffa mendekatkan wajahnya kembali.
Namun bukannya Safira menjawab, dia justru memutar tubuhnya untuk berjalan ke arah sofa. Daffa yang sangat gemas dengan sikap Safira yang terus menghindarinya, pun langsung menggendong dan merebahkannya di atas ranjang kembali.
"Mas, aku mau ke toilet." Ücap Safira hendak bangun kembali.
Tidak ingin Safira lepas darinya, Daffa langsung mengungkung tubuh istrinya itu.
"Katakan saja sayang, kalau saat ini kamu memang sedang cemburu." Titah Daffa menatap lekat netra Safira yang berada dalam kungkungannya.
"Yaa, Mas Daffa benar. Aku memang sedang cemburu." ucap Safira akhirnya jujur.
Sebuah senyuman tiba-tiba saja merekah di wajah Daffa, perasaan Daffa begitu senang ketika mengetahui bahwa Safira bisa cemburu juga, pasalnya selama ini
hanya Daffa saja yang menunjukkan rasa cemburunya itu.
CUP.
Sesaat, Daffa langsung mendaratkan ciumannya di bibir mungil mlik Safira. dan keduanya pun hanyut dalam memadu kasih.
__ADS_1