
Dipaksa Menikah Bagian 53
Oleh Sept
Rate 18 +
POV Sofi
"Selamat pagi dunia, selamat pagi anak Mami," ucapku pada baby munggil yang baru aku lahirkan seminggu yang lalu.
Aku menutupi sebagian tubuh munggil putriku yang sangat imut ini. Jarinya begitu lentik, ingin sekali aku mengigitnya.
"Apa mataharinya tidak terlalu panas?" tanya sosok pria tegap yang sejak tadi berdiri di sampingku.
"Nggak apa-apa, Mas. Masih hangat kok. Ini juga aku tutupi!" ucapku pada Mas Garda.
Aku beruntung, sejak hamil sampai melahirkan seminggu yang lalu, Mas Garda begitu siaga sekali menjaga kami.
Meski sempat banyak drama, karena mama mertuaku masih meragukan anak yang aku kandung. Alhamdulillah, aku bersyukur. Babyku begitu mirip sekali dengan papinya. Terutama alis dan juga dagunya. Keduanya seperti pinang dibelah gergaji.
Mungkin benar kata orang, jika memiliki anak pertama perempuan, maka akan mirip dengan ayahnya. Tuh, my baby mirip banget sama Mas Garda.
Ya, walaupun aku sempat jengkel dengan wanita bernama Amelia itu. Meski sudah tidak pernah menganggu kami, aku masih saja sakit hati saat ia menyuruh untuk tes DNA. Malah sekarang aku ingin mencari Amelia. Ingin aku kirim foto babyku. Aduh, kenapa aku jadi kesal sendiri.
Belom lagi mama, tuh ... kemarin sampai nginep dua malam. Sepertinya sih menyesal karena sempat meragukan cucu sendiri. Tapi sudahlah, yang penting kemarin aku lihat mama begitu sayang sama babyku.
Sampai digendong rebutan sama mama Hana, mamaku sendiri. Pokoknya, aku bersyukur. Aku merasa kebahagian yang Tuhan kasih sangat banyak sekali. Suami yang baik banget, keluarga yang sayang dan malaikat munggil yang sangat cantik ini.
"Udah ya? Nanti item!" ucap suamiku lagi. Sepertinya gak rela kalau aku jemur lama-lama putriku di depan balkon.
"Bentar lagi, baru lima menit!" ucapku.
"Dah lah, jangan lama-lama. Tuh gerak-gerak, nggak nyaman itu."
Suamiku begitu khawatir, padahal putri kecilnya gerak-gerak kan artinya aktive dan sehat. Dasar bapak-bapak, over protective sekali. Dan aku hanya menangapinya dengan tersenyum.
"Iya ... iya ... Nih masuk, bantu gendong bentar!" ucapku sambil memberikan baby manisku pada Mas Garda.
Dengan lembut, suamiku mengambil alih baby manis yang kami beri nama Selina itu. Lengkapnya adalah Selina Arkasa Ragasha. Buah hatiku yang paling cantik. Anak papi Garda. Selina memiliki arti sebuah bulan. Ya, Selin hadir saat hati kami dipenuhi gelap karena prasangka. Selin seperti penerang dalam hubungan kami. Tidak peduli semua meragukan ia anak siapa, suamiku berdiri di garda paling depan untuk membela kami.
Dan lihatlah, keduanya sangat mirip. Bahkan tidak ada yang meminta untuk tes DNA. Kalau sampai ada yang menyinggung tentang tes DNA tersebut, sudah pasti suamiku akan marah dan tidak tinggal diam. Mana boleh orang lain meragukan putri kecilnya itu. Papi Selin pasti tidak akan diam saja. Senangnya aku, punya suami seperti Mas Garda.
Kenapa aku dulu tidak mau dinikahi paksa oleh pria ini? Sampai kabur segala, kalau ingat itu kadang aku malu sendiri. Namanya juga sudah jodoh. Meski aku lari berkali-kali, tetap jatuh dalam pelukan suamiku.
Sepertinya, ingin aku bisikan banyak kata di telinganya.
"Makasih suamiku!"
Mas Garda menoleh menatapku.
"Ada apa?" tanyanya.
Aku hanya menggeleng, kemudian menyandarkan kepalaku di pundaknnya yang kokoh seperti semen holcem tersebut.
***
Beberapa hari kemudian
Suasana rumah sangat ramai, hari ini ada acara aqiqah di rumah kami. Mas Garda mengundang banyak kenalannya ke rumah. Mungkin dia mau pamer putri kecilnya yang seperti bidadari tersebut.
Sekalian, ada beberapa media yang Mas Garda undang. Entah, mau apa lagi suamiku itu. Pakai acara mengundang wartawan segala.
"Sudah siap?" tanya Mas Garda yang bolak balik keluar masuk kamar Selin.
Hal itu, membuatku gugup. Padahal aku belum siap. Baru juga pakai baju, tapi make up masih ala kadarnya.
"Sebentar, aku pakaiin bando dulu, biar tambah manis," ucapku.
"Kasian nanti kepalanya sakit," protes Mas Garda.
__ADS_1
"Longgar kok!"
"Hemm ...!"
"Nah ... sudah siap!" ucapku sambil mengendong Selin.
"Gendong sebentar, aku mau make up dulu."
Mas Garda langsung menggendong Selin, tapi tangan satunya malah memegang lenganku.
"Apa?" tanyaku sambil mendongak. Aku sedang buru-buru, tapi Mas Garda malah ada-ada saja.
Masa dia malah mengecupp bibirnya sembari mengendong Selin.
"Astaga, nggak pernah berubah!" lirihku.
"Udah cantik, mau ngapain lagi?"
"Bentar, kantong mataku masih kelihatan. Aku make up dikit."
Bukannya melepaskan aku, Mas Garda malah memelukku dengan satu lengannya.
"Makasih ya, sudah bergadang untuk si kecil," ucapnya tulus. Dan aku hanya mengangguk. Karena aku juga menikmati moment ini. Bangun tiap jam di tengah malam, moment yang mungkin hanya aku alami saat Selin bayi. Nanti, jika dia besar mungkin akan protes bila aku kecuppp sedikit saja.
"Makasih juga, Mas Garda selalu ada bersama kami!" ku balas ucapan terima kasih dari suamiku.
"Ya udah, keluar bentar. Pasti semuanya menunggu!" ujarku sambil menarik suamiku keluar kamar. Jika tidak, maka kami tidak selesai-selesai.
***
Sekali lagi aku bersyukur, acara aqiqah Selin berjalan lancar. Sekarang tinggal acara pemotretan. Selin yang tadi memakai setelah rok tutu mini warna pink yang cantik, kini sudah ganti.
Entah suamiku mau apalagi, selang beberapa jam setelah Selin tidur. Sebuah ruangan di rumah kami diubah jadi studio foto.
"Cantik kan Ma anak Garda?" ucap suamiku sambil menowelll mamanya.
"Iya, lucu banget cucu Mama. Mirip banget sama kamu kecil dulu!" ucap mama dengan rasa haru. Dan dalam hati, aku terus saja mengatai mama mertuaku.
[Tuh, Mama bilang bukan anak Mas Garda. Tuh ... mirip kah]
Ingin rasanya aku mengatakan apa yang ada dalam hatiku. Tapi, demi kedamaian bersama, aku memilih diam. Cukup aku perlihatkan bukti nyata pada dunia. Pada tukang nyinyir yang suka julid sama hidupku.
[Lihat ... anakku mirip bapaknya, kan?]
***
Esok harinya, pagi menjelang siang ada yang mengantar paket ke rumah. Suamiku masih di kantor, dan untung aku yang menerima paket itu sendiri dari bibi.
Sebuah bucket bunga besar, bunganya cantik banget. Dan ini adalah bunga kesukaanku. Aku tahu, meski tidak ada nama jelas siapa pengirimnya. Aku tahu ini pasti dari Juna.
Aku masih hafal tulisan tangannya. Astaga, aku kira Juna sudah move on. Terima kasih Juna, terima kasih atas waktunya di masa lalu. Aku berdoa, semoga kamu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Itu adalah harapanku.
Tidak mau suamiku tanya aneh-aneh, aku berikan saja bunga itu pada tukang sayur yang kebetulan lewat depan komplek perumahan.
Bisa panjang perkaranya kalau Mas Garda tahu aku menerima bunga dari pria lain. Dia memang lebih hangat, tapi cemburunya juga semakin bertambah. Bahkan saat persalinan kemarin, semua harus perempuan. Ya ampun, dia nggak mau istrinya dilihat pria lain. Ya, begitulah suamiku. Selain cinta mati, dia juga suka cemburu buta.
Drett ... drettt...
"Tuh ... umur panjang!" gumamku saat suamiku menelpon.
"Hallo?"
"Bunga dari siapa?" tanya Mas Garda dengan tegas.
Aku tersenyum kecut, kulihat camera CCTV yang ada di ujung sana, dan di sana dan di sebelah sana lagi. Astaga ... Suamiku!!!!
Aku lupa, semua yang ada di rumah ini tersambung ke ponsel Mas Garda.
"Sudah aku berikan ke tukang sayur!" ucapku agar dia tidak naik darah.
__ADS_1
"Nanti aku berikan yang lebih besar!" balasnya di telpon.
"Hemm."
"Ya sudah, aku ada meeting. Hati-hati di rumah. Jangan terima paket sembarangan!" pesannya kemudian menutup telpon.
Aku hanya bisa tersenyum tipis, kemudian masuk ke dalam rumah.
***
"Sofi! Sayang!"
Kulihat masih jam tiga sore, tapi suamiku sudah teriak-teriak di bawah sana. Aku lihat dari balkon. Betapa terkejutnya aku, di bawah sana kulihat banyak mobil pick up dengan bucket bunga yang sangat banyak.
"Apa dia mau membuka toko bunga?" batinku sambil turun mengendong Selin.
KLEK
Baru kubuka pintu, pria itu langsung saja memeluk kami.
"Bagaimana?" tanya Mas Garda setelah melepas pelukannya.
"Banyak banget!" ucapku sambil mengerutkan dahi.
"Aku borong semuanya, gak ada yang boleh kasih bunga sama istriku!"
"Ish!" Aku lalu mendesis kesal.
"Apa aku cari saja pria itu?"
Aku langsung melotot.
"Dia cuma ucapin selamat atas kelahiran anak kita. Dia melihat foto Selin dan kita lewat media cetak."
"Benarkah?"
"Hemm!"
"Baguslah! Baru saja aku suruh anak buahku mencarinya!"
BUGH ...
Aku pukul lengan suamiku yang kekar itu, dan dia malah terkekeh sambil memeluk kami dengan hangat.
"Bercanda! Love you!" ucapnya kemudian.
"Hemm!"
"Apa? Kok hem?"
"I love you too!" ucapku singkat dan memalingkan muka karena malu.
CUP ...
Dia kecuppp pipi bakpo Selin, kemudian pindah ke pipiku.
"Bidadari-bidadariku!" ucap Mas Garda sambil memeluk kami lagi. Ia usap kepalaku dengan rasa sayang.
Sekarang, aku rasa tidak ada alasan aku menyesali perjodohan ini. Terima kasih karena sudah gigih mendapatkan hatiku. Terima kasih untuk perjuangan yang aku yakin ini tidaklah mudah. Terima kasih suamiku. Meski kedepannya aku yakin banyak ujian, asal kita tetap bergandengan tangan, seberat apapun badai menerpa kita akan bertahan selamanya. The End
***
TAMAT
Terima kasih sudah menemani dunia perlobakan. Makasih supportnya ya... Terima kasih jempol, komen, hadiah dan vote. Itu adalah dukungan yang sangat luar biasa. Dan selamat datang di novel terbaru Sept ....
Dapat salam cinta ... Salam lope lope dari baby Selin. Luv u!!!!
__ADS_1