Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
114. Baby Boy?


__ADS_3

"Fira, gue bisa jelasin semuanya." Ucap Kartika yang tenyata belum jera setelah mendapatkan beberapa tamparan pada wajahnya.


"MENJAUHLAH DARIKU, KARTIKA!" Bentak Safira saat Kartika berusaha mendekat ke arahnya.


"Fira, gue--"


Belum sempat Kartika menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja seorang wanita berusia senja datang.


PLAK!


"Oma..." Gumam Kartika lirih setelah mendapatkan tamparan pada wajahnya untuk kesekian kalinya.


"Berani sekali kamu melakukan itu kepada Fira dan calon cicitku!" Bentak Oma Rahma menatap Kartika tajam.


"Ini semua nggak seperti yang kalian bayangkan!" Teriak Kartika berusaha menarik atensi semua orang di sana agar mendengarkan penjelasannya.


"Sshhhh.." Tiba-tiba Safira mengerang kesakitan.


"Sayang, apa yang terjadi?" Tanya Daffa memapah tubuh istrinya itu.


"Perutku Mas, sshhh.." Jawab Safira mencengkram erat tangan Daffa.


Sementara Aida dan Oma Rahma yang mendengar itu langsung mendekat ke arah Safira.


"Ada apa dengan perutmu, Nak? Apakah terasa sakit?" Tanya Oma Rahma cemas yang langsung dijawab anggukkan kepala oleh Safira.


Seketika Aida langsung menatap tajam ke arah Kartika, dan mendekat ke arah wanita yang dianggapnya sebagai biang masalah itu.


"Lihat, ini semua karenamu! Jika sampai terjadi sesuatu dengan menantu dan cucu Tante, Tante akan membuat perhitungan denganmu, ******!" Ancam Aida membuat


Kartika tidak bisa berkata-kata lagi.


"Oma, Mamah, aku akan membawa Fira ke rumah sakit sekarang." Ujar Daffa yang sudah menggendong Safira ala bridal style.


"Mamah ikut, Daf." Sahut Aida.


"Jebloskan mereka berdua ke dalam penjara sekarang juga!" Titah Aida kepada laki-laki berpakaian serba hitam sebelum dirinya mengikuti langkah Daffa dari


belakang.


"Nggak, aku nggak mau masuk ke dalam penjara, Tan! Tante Aida, tolong lepasin aku." Kata Kartika berharap Aida menarik ucapannya.


Sedangkan Aida yang tidak memperdulikan Kartika, terus mengikuti langkah Daffa hingga masuk ke dalam mobil.


Setelah Daffa sudah merebahkan Safira di kursi penumpang dengan menjadikan kaki


bagian atas Aida sebagai bantalannya, Daffa pun langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan Oma Rahma yang masih berada di rumah Daffa, terus menatap Kartika penuh intimidasi dengan Rahang yang mengeras tanpa mengeluarkan suara apa pun.


"O-oma." Ucap Kartika terbata-bata mengharapkan belas kasih dari wanita berusia senja itu.


"Berhenti memanggil saya seperti itu, saya sangat jijik mendengarkannya dari mulut


kotormu!" Kata Oma Rahma penuh penekanan.


"Oma, aku bisa jelas--" Ucap Kartika berusaha menjelaskan, namun dengan cepat Oma Rahma memotongnya.


"Bawa semua barang bukti yang ada, lalu serahkan ke media, agar seluruh Indonesia tahu kalau putri dari pemilik perusahaan DWITAMA Grup adalah seorang kriminal." Titah Oma Rahma kepada laki-laki


berpakaian serba hitam, membuat Kartika membelalakkan matanya sempurna saat mendengarnya.

__ADS_1


"Jangan Oma, ku mohon. Tolong jangan libatkan orang tuaku." Ujar Kartika mengatupkan kedua


"Seret wanita ini dan sopir bayarannya ke kantor polisi sekarang juga." Titah Oma Rahma mengabaikan ucapan Kartika. Lalu


pergi menyusul Daffa dengan di antarkan oleh ajudan pribadainya.


Di sisi lain, Daffa yang baru saja tiba di rumah sakit langsung membawa Safira dengan menggendongnya berjalan setengah berlari menuju ruang instalasi gawat darurat.


"Dokter, tolong selamatkan istriku." Ucap Daffa ketika baru saja tiba di ruangan itu.


Beberapa Dokter dan perawat yang bertugas di sana pun langsung saling berhamburan mendekat ke arah Daffa untuk mengecek keadaan Safira.


Ketika Daffa baru saja meletakan Safira di ranjang rumah sakit, tiba-tiba seorang Dokter laki-laki mendekat ke arah Safira hendak melakukan pemeriksaan.


"Tunggu!" Cegah Daffa cepat membuat Dokter laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk melakukan pemeriksaan.


"Ada apa, Tuan?"


"Aku ingin Dokter wanita yang menangani istriku." Ucap Daffa yang langsung dimengerti oleh Dokter laki-laki itu.


"Baiklah, tunggu sebentar Tuan, saya akan memanggilkan Dokter wanita untuk memeriksanya." Pungkasnya, lalu pergi.


Tidak lama seorang Dokter wanita pun datang, dan langsung memeriksa keadaan Safira.


Bukan hanya keadaan Safira saja, namun


juga keadaan janin yang berada di dalam kandungannya. Pemeriksaan demi pemeriksaan Dokter wanita itu lakukan untuk memastikan bahwa keadaan keduanya baik-baik saja.


Sedangkan Daffa dan Aida tidak henti-hentinya memanjatkan doa untuk Safira dan janin yang berada di dalam kandungannya agar selamat.


"Bagaimana, Dok?" Tanya Daffa cepat ketika Dokter itu baru saja selesai melakukan pemeriksaan kepada Safira.


"Syukurlah, kondisi Nyonya Fira dan janinnya baik-baik saja, Tuan. Nyonya Fira hanya mengalami syok saja." Jawab Dokter wanita itu menjelaskan, membuat Daffa dan Aida langsung menghela napasnya


"Baby boy-nya sangat aktif ya, sepertinya mirip dengan Papahnya." Sambung Dokter itu kembali.


Sesaat Daffa dan Aida pun langsung melihat ke arah layar monitor yang memperlihatkan video rekaman janin dalam kandungan Safira.


"Cucuku... Syukurlah kamu baik-baik saja, sayang." Gumam Aida lirih menatap monitor itu penuh haru.


Seketika Daffa langsung mengusap perut Safira lembut.


CUP.


"Kalian hebat, terimakasih banyak sudah kuat menahan rasa sakit yang baru saja kalian lewati. Jika saja aku bisa menggantikan rasa sakit itu, maka aku akan melakukannya demi kalian." Ujar Daffa kepada Safira dan calon bayinya setelah mencium kening istrinya.


"Apakah istriku harus dirawat inap, Dok?" Tanya Daffa kepada Dokter wanita itu.


"Tidak perlu, Tuan. Namun kita observasi dulu ya."


"Baik, Dok. Terimakasih banyak." Ucap Daffa setelah Dokter wanita itu telah selesai memeriksa keadaan Safira dan memberikannya obat.


"Sama-sama, Tuan." Pungkas Dokter lalu pergi.


"Fira, mulai sekarang Mamah berjanji akan menjaga kalian dengan baik lagi. Mamah akan pastikan kamu dan cucu Mamah baik-baik saja." Ucap Aida setelah Dokter wanita itu sudah tidak ada di sana.


"Terimakasih banyalk, Mah." Ujar Safira.


"Kamu tidak perlu berterimakasih, ini sudah menjadi tugas Mamah,"


"Bagaimana keadaanmu sekarang, sayang? Apakah rasa sakitnya sudah sedikit berkurang?" Tanya Daffa yang nasih belum

__ADS_1


tenang.


"Alhamdulillah sudah sedikit membaik, Mas."


Di sela-sela obrolan ketiganya, tiba-tiba Oma Rahma datang membuat atensi ketiga orang itu tertuju kepada wanita berusia senja yang baru saja tiba.


"Bagaimana dengan kondisi Fira dan janinnya? Apakah baik-baik saja?" Tanya Oma Rahma yang tidak sabar menunggu jawaban.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja, Oma." Jawab Safira membuat Oma Rahma lega.


"Bagaimana dengan wanit--" Tanya Aida yang langsung dihentikan oleh Daffa.


"Mah!"


"Ah, maaf." Ucap Aida merasa bersalah, khawatir menantunya mengalami syok kembali.


Selama tiga jam Safira diobservasi, kini Safira pun sudah diperbolehkan untuk pulang. Daffa yang ingin segera memberikan kenyamanan kepada istrinya pun langsung membawanya pulang agar


Safira bisa beristirahat dengan nyaman di rumahnya.


Sedangkan Oma Rahma memilih pulang dengan menaiki mobil secara terpisah dengan yang lainnya.


Ketika mobil Daffa sudah tiba di kediamannya, Daffa pun langsung membawa Safira masuk dengan terus


menggendongnya, padahal Safira sudah menolak dan memilih berjalan, namun tidak diperbolehkan oleh Daffa.


"Kalau begitu Mamah akan pulang dulu ya, nanti malam Mamah ke sini lagi dan mungkin akan menginap di rumah kalian untuk beberapa hari, agar Mamah bisa menjaga Fira dengan tangan Mamah


sendiri." Kata Aida setelah Daffa mendudukkan Safira pelan di sisi ranjang.


"Nggak perlu repot-repot, Mah. Aku baik-baik saja. Lagi pula di sini ada Mas Daffa dan juga yang lainnya." Tolak Safira sopan, yang tidak ingin merepotkan mertuanya itu.


"Mamah sama sekali tidak merasa direpotkan, Fira. Justru Mamah tidak tenang jika tinggal berjauhan denganmu di saat kondisimu seperti ini."


"Yang diucapkan Fira benar, Mah. Lagi pula di sini ada Daffa. Jadi, Mamah tidak perlu khawatir. Daffa akan menjadi suami yang paling siaga untuk menantu kesayangan Mamah ini."


"Nggak, pokoknya Mamah akan menginap di sini. Sudahlah, Mamah akan pulang dulu." Ucap Aida sebelum pergi.


"Fira, nanti kalau ada apa-apa segera hubungi Mamah ya." Sambung Aida kembali.


"Iya, Mah." Jawab Safira membuat Daffa mencebikkan bibirnya setelah mendengar jawaban dari istrinya itu.


Setelah itu Aida pun meninggalkan keduanya untuk pulang sebelum menginap di kediaman Daffa untuk beberapa hari ke depan.


"Sayang, bagaimana ini? Jika Mamah sampai menginap di sini, Mamah pasti akan menganggu waktu kita. Lagi pula kenapa kamu malah menyetujuinya sih, sayang?" Ucap Daffa lemas, yang disambut gelak tawa oleh Safira.


"Apa ada yang lucu? Hingga kamu mentertawakanku seperti itu? Hmm?" Tanya Daffa mendekap erat tubuh Safira, yang langsung disambut gelengan kepala oleh istrinya itu.


Setelah Daffa melepaskan dekapannya, Safira langsung berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju miliknya yang diletakan di sana.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" Tanya Daffa mengekori langkah Safira.


"Aku ingin mandi, Mas." Jawab Safira hendak membuka lemari bajunya.


BRAK.


Dengan cepat Daffa langsung menutup lemari itu sebelum Safira berhasil membukanya lebar.


Sedangkan Safira yang tersentak kaget pun langsung menghadap ke arah Daffa.


Karena berhasil membuat istrinya menghadap ke arahnya, Daffa pun langsung melangkah mendekat ke arah Safira hingga tubuh istrinya itu bersandar di lemari baju.

__ADS_1


Kemudian, Daffa melepaskan cadar Safira dan mendekatkan wajahnya hingga jarak keduanya begitu dekat.


"Bagaimana jika kita mandi bersama, sayang?" Bisik Daffa di telinga Safira lembut.


__ADS_2