
"Sayang, seharusnya kau Istirahat." Ujar Wendy menghampiri suaminya yang tengah berdiri mematung di samping pintu.
"Ah, Sayang. Tidak apa, lagian ini tidak seberapa." Timpal Kevin tersenyum.
"Hm, baiklah." Wendy tak bisa memaksa suaminya, "syukurlah semuanya berjalan dengan baik, aku sangat lega." lanjutnya tersenyum sendu.
"Kau benar sayang, semoga Crystal bisa segera sadar." ucap Kevin menatap wanita yang masih terbaring lemah, setelah menjalani operasi yang cukup lama.
"Bagaimana jika kau pulang terlebih dahulu, melihat Ana dan Cleo." Ujar Wendy secara tiba-tiba.
Kevin mengernyitkan dahinya. "Lalu dengan mu?" Tanya Kevin balik.
"Biar aku di sini menjaga Crystal, kamu juga sekalian Istirahat 'kan." tekan Wendy.
"Aku baik-baik saja, sebaiknya kamu saja yang pulang. Aku tahu kamu pasti lelah seharian ini, kau juga pasti merindukan mereka."
"Tidak sayang!" Tolak Wendy dengan cepat. "kau saja, lagian aku bisa menunggu Crystal kok."
"Aaahh." Desah Kevin sambil memegang pelipisnya, entah bagaimana lagi. Istrinya memang cukup keras kepala.
"Bagaimana jika kalian berdua pulang." ucap seseorang ikut menimbrung di antara mereka.
"Ah, Kai." gumam Kevin, tersenyum.
"hahahaha, maaf aku mengejutkan kalian. Tapi, aku serius. Sebaiknya kalian pulang, biar aku dan Jenni yang menunggu Crystal di sini." ucap Kai, menawarkan diri. Karena pria itu tahu, baik Kevin dan Wendy mereka terlihat kelelahan yang telah menjaga Crystal sejauh ini.
__ADS_1
"Lagi pula, Sean katanya akan sampai beberapa jam lagi." Sambungnya lagi.
"Sean?" Timpal Kevin terkejut.
"Bukankah dia tengah di rawat?" tanya Wendy yang juga terkejut.
"Yah, kalian sendiri tahu bagaimana sifat adikku itu.." ucap Kai mengendikkan bahunya.
"hmm, yah jika lihat sifatnya seperti nya memungkin jika itu Sean." ujar Kevin sedikit terkekeh.
"Untuk itu, kalian pulang saja terlebih dahulu. Besok, bisa datang lagi dengan Ana dan Cleo. Aku yakin, kedua keponakanku itu rindu pada Eomma dan Appa nya."
"hmm, baiklah jika memang seperti itu. Aku juga harus memaksa Kevin untuk Istrihat." Ucap Wendy melirik ke arah Suaminya.
"hahahaha.." Kai hanya tertawa melihat interaksi suami istri di depannya, terlihat sangat lucu.
Saat ini Sean tengah berjalan dengan tergesa-gesa di koridor rumah sakit, tercetak jelas di wajahnya rasa cemas. Bahkan, dia tak membuang waktu lagi, setelah sampai dengan selamat di Wellington beberapa saat yang lalu, Sean langsung pergi ke Rumah sakit di mana Crystal tengah di rawat dengan orang yang telah di tugaskan oleh Jack untuk menemaninya selama di sini. Entah kenapa, pria itu semakin cerewet setelah mengetahui penyakitnya.
"Apakah benar Crsytal telah di pindahkan?" tanya Sean sambil berjalan.
"Benar Tuan. Tuan Jack mengabari Saya beberapa saat yang lalu, bahwa Nona Crystal telah di pindahkan ruang rawatnya di bangsal 11." Jawab pria itu.
Sean tak tahu apa yang saat ini tengah terjadi pada Crystal, dia belum menanyakan semuanya. Apakah operasi nya benar terlaksana, karena itu ruang inapnya di pindahkan atau ada hal lainnya?
"Belok ke arah sini, Tuan." Ujarnya mengarahkan Sean.
__ADS_1
Sean menganggukkan kepalanya, mengikuti langkah ajudannya.
Setelah melewati beberapa belokan, Sean bisa melihat di sana tengah berdiri seseorang yang sangat familiar.
"Kai Hyung." Gumam Sean, setelah jarak mereka dekat.
"Oh, Sean. Kau sudah datang." Ujar Kai tersenyum menyambut kedatangan adiknya.
"Sedang apa Hyung di sini?" tanya Sean terlihat terkejut. "bagaimana dengan Crystal?" tanya Sean lagi.
"Kau tenang saja, dia masih belum sadarkan diri tapi..."
"Apa kau bilang? Belum sadar, akhh." Potong Sean, wajahnya berubah langsung panik.
"Tenanglah, dia tak apa."
"Bagaimana bisa aku tenang, saat ini di mana Crystal Hyung?"
"Di dalam ruangan, kau tenangkan diri terlebih dahulu."
Sean tak mengindahkan ucapan Hyung nya, dia langsung menerobos masuk ke ruangan Crsytal.
bruk. Pintu itu di buka dengan kasar oleh Sean, sehingga menimbulkan suara yang sedikit bising.
"Crystal." Desisnya. Kedua matanya menatap nanar tubuh Crystal yang terbaring lemah di atas ranjang, dia merasa sangat bersalah karena telah meninggalkannya seorang diri.
__ADS_1
"Maafkan aku, maafkan aku."