Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
109. Bulan Depan?


__ADS_3

"Apa alasan yang membuat lo berubah pikiran secepat ini?" Tanya Agatha ingin tahu.


"Memangnya penting, ya? Bukankah tugas kita hanya menerima perjodohan ini saja, sesuai keinginan orang tua kita?" Jawab Fitria, yang disambut anggukkan kepala oleh Agatha.


Kini Agatha tahu, ternyata Fitria menerima perjodohan itu hanya karena paksaan semata. Meskipun Agatha juga memiliki alasan yang serupa, namun entah mengapa ada sedikit rasa kecewa di hati Agatha setelah mendengar alasan dari Fitria itu.


Padahal tadinya Agatha akan mencoba belajar membuka hati untuk Fitria, kalau dia menerima perjodohan itu bukan karena paksaan dari orang tuanya.


"Kenapa, Ta?" Tanya Fitria ketika melihat Agatha yang langsung terdiam setelah mendengar jawaban darinya.


"Ah, nggak. Thank you sudah mengantarkan gue kemari." Pungkas Agatha lalu membuka pintu mobil hendak keluar dari sana.


"Tante Rosa," Ucap Fitria yang berhasil mengurungkan niat Agatha untuk keluar dari mobil itu.


Kemudian Agatha pun langsung menatap ke arah Fitria hingga netra keduanya saling bertemu.


"Tante Rosa, salah satu alasan gue menerima perjodohan ini." Sambung Fitria kembali dengan netra yang saling menatap lekat.


Setelah mengatakan itu, Fitria langsung mendorong Agatha agar keluar dari mobilnya hingga tubuh Agatha terpental.


"Eh, apa-apaan ini!" Protes Agatha ketika tubuhnya didorong paksa oleh Fitria.


Setelah Agatha sudah keluar dari mobilnya, Fitria langsung berpindah duduk di kursi kemudi. Kemudian sebelum Fitria pergi, Fitria menjulurkan lidahnya ke arah Agatha


melalui kaca jendela membuat Agatha menatapnya tajam.


"Apa lo seorang wanita? Kenapa tenaga lo besar sekali seperti kingkong!" Umpat Agatha kesal.


Tanpa ingin meladeni Agatha lebih jauh, Fitria pun mulai melajukan mobilnya. Sedangkan Agatha hanya berdiri di bahu jalan dengan netra yang menatap kepergian mobil Fitria.


"Biasanya kebanyakan wanita yang gue temui selalu melihat gue hanya dari harta dan paras gue saja. Tapi dia, wanita pertama yang melihat gue hanya karena Mamah Rosa." Gumam Agatha ketika mobil


Fitria sudah menghilang dari jangkauan matanya.


Malam hari, saat Fitria sedang makan malam bersama Arya dan juga Evi. Fitria menatap keduanya secara bergantian sebelum mengatakan sesuatu.


"Katakan saja." Kata Arya tiba-tiba yang sedari tadi sudah menyadari gerak-gerik putri semata wayangnya itu.


Sedangkan Evi yang mendengar ucapan dari suaminya, pun langsung menatap ke arah Fitria seolah menunggu apa yang akan putri semata wayangnya sampaikan.


"Aku akan menerima perjodohan ini, Pah." Ujar Fitria membuat Arya dan Evi seketika menghentikan aktivitas makannya sejenak.


Terlihat wajah sumringah dari keduanya setelah mendengar ucapan dari putri semata wayangnya itu.


"Benarkah?" Tanya Arya cepat yang disambut anggukkan kepala oleh Fitria.


"Kenapa tidak mengatakan ini dari kemarin-kemarin saja sih, Fit?" Ucap Arya yang sedari awal sudah yakin kalau Fitria alkhirnya akan menerima perjodohan itu.


"Itu karena--"


Belum sempat Fitria melanjutkan ucapannya, Evi sudah memotongnya lebih dulu.


"Sudahlah, Pah. Yang terpenting kan sekarang anak kita sudah menerima perjodohan ini." Timpal Evi yang disambut anggukkan kepala oleh Arya.

__ADS_1


"Oh ya Fit, apakah Agatha juga sudah menerima perjodohan ini?" Tanya Arya yang lupa bahwa Bayu juga belum menghubunginya setelah acara makan malam bersama di rumahnya tempo hari.


"Nggak tahu, Pah. Papah tanyakan saja langsung ke orangnya." Jawab Fitria seadanya.


"Baiklah, setelah ini Papah akan menghubungi Om bayu untuk menanyakan."


Setelah makan malamnya telah selesai, Arya yang sudah tidak sabar memberitahu kabar baik itu kepada Bayu pun langsung bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang Arya letakan di sana.


Tidak butuh waktu lama, Aryabpun langsung menghubungi teman sekaligus calon besannya itu.


"Halo, Bay. Apakah aku menganggu waktumu?" Sapa Arya setelah Bayu menerima panggilan darinya.


"Tidak, kebetulan aku sedang bersantai. Ada apa memangnya, Ar? Tumben sekali kamu menghubungiku malam-malam begini.' Ujar Bayu melalui sambungan suara.


"Ada kabar baik yang akan aku sampaikan kepadamu, Bay."


'Kabar baik? Apakah putrimu sudah menerima perjodohan ini?" Tebak Bayu.


"Wah, dari mana kamu tahu?"


'Aku hanya asal menebak saja, karena kabar itu memang yang sangat aku tunggu-tunggu.'


"Bay, mengenai Agatha... " Ucap Arya menggantungkan ucapannya.


'Kamu tidak perlu khawatir mengenai putraku, Ar. Aku akan mengurusnya. Yang paling penting kita fokus saja untuk pernikahan mereka.'


Di sisi lain, Agatha yang tidak sengaja mendengarkan percakapan Bayu melalui sambungan telepon, pun langsung membulatkan matanya sempurna saat laki-laki paruh baya itu tengah membahas tentang pernikahannya.


"Apa yang sebenarnya singa betina itu katakan kepada Om Arya hingga Papah tiba-tiba membahas masalah pernikahan?" Tanya Agatha dalam hati, lalu pergi ke kamarnya untuk menghubungi Fitria.


menikah dalam waktu dekat juga.


Apalagi mengingat keduanya pun baru mengenal dalam hitungan hari.


"Apa yang sudah lo katakan kepada Om Arya sih, singa betina?" Tanya Agatha saat Fitria sudah menerima panggilannya.


'Maksud lo apa, Ta?' Tanya Fitria tidak mengerti.


"Ck, nggak usah pura-pura gak tau deh, Fit. Lo sudah tahu kan kalau Om Arya dan Papah gue sedang membahas pernikahan kita?"


'Sumpah, Ta! Gue saja baru dengar dari lo.' Sahut Fitria tersentak kaget.


"Memangnya apa yang lo katakan ke Om Arya sih sebenarnya, sampai mereka membicarakan tentang pernikahan kita secepat ini?"


'Gue hanya mengatakan kepada Papah kalau gue menerima perjodohan ini, itu saja, Ta. Apa ada yang salah?' Papar Fitria menjelaskan.


Belum selesai Agatha berbicara kepada Fitria, namun suara ketukan pintu sudah terdengar di telinga Agatha, membuat Agatha mengurungkan niatnya untuk


melanjutkan perbincangannya bersama Fitria.


"Ta, buka pintunya. Papah ingin berbicara kepadamu." Ucap Bayu dari balik pintu.


"Sudah dulu, gue dipanggil Papah." Pungkas Agatha sebelum menutup teleponnya.

__ADS_1


Setelah Agatha mengakhiri panggilan teleponnya, Agatha pun melangkah ke arah pintu dan membukanya.


"Ada apa, Pah?" Tanya Agatha yang sebenarnya sudah tahu bahwa Bayu akan membicarakan pernikahan dengannya.


"Apakah Papah boleh masuk?" Tanya Bayu, yang dijawab anggukkan kepala oleh Agatha.


Setelah mendapatkan izin dari sang pemilik kamar, Bayu pun mulai masuk ke dalam kamar yang bernuansa hitam itu, dan duduk di sofa yang tersedia di sana.


"Begini, Ta. Bagaimana jika pernikahanmu kita laksanakan bulan depan?" Tanya Bayu, membuat Agatha membelalakkan matanya


sempurna saat mendengarnya.


"Bukankah itu terlalu cepat, Pah. Lagi pula aku dan Fitria belum saling mengenal." Ucap Agatha keceplosan dia lupa kalau sebelumnya pernah mengatakan kepada Bayu bahwa Fitria adalah kekasihnya.


Sedangkan Bayu yang mendengar itu, pun hanya mengerutkan keningnya samar dan


menatap Agatha penuh selidik.


"Belum saling mengenal? Bukankah dia kekasihmu?" Tanya Bayu menginterogasi.


Agatha yang baru sadar bahwa dirinya telah salah berbicara hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal untuk menghilangkan kegugupannya.


"Tidak, maksudku... Apakah tidak terlalu terburu-buru jika pernikahan ini dilaksanakan bulan depan, Pah?" Tanya Agatha agar Bayu tidak mencurigainya.


"Tentu saja tidak, Papah bisa saja memajukan pernikahan kamu dengan Fitria minggu depan, jika kamu mau." Timpal Bayu diluar dugaan Agatha.


"Jangan!" Sahut Agatha cep membuat Bayu menatapnya heran.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, daripada minggu depan, lebih baik bulan depan saja, Pah. Lagi pula acara pernikahan juga pasti membutuhkan banyak persiapan, kan?" Ucap Agatha yang disambut anggukkan kepala oleh Bayu.


"Ya, ucapanmu ada benarnya juga," Kata Bayu mengerti.


"Ya sudah itu saja yang Papah ingin bicarakan kepadamu, kalau begitu Papah akan keluar." Pungkas Bayu yang disambut anggukkan kepala oleh Agatha.


Di sisi lain, Fitria yang baru saja selesai berbicara dengan Agatha melalui sambungan telepon, pun langsung bergegas menemui Arya untuk meminta penjelasan dari orang tuanya.


Satu persatu anak tangga Fitria turuni, Fitria pun mencari keberadaan Arya di setiap sudut ruangan yang bernuansa putih. Saat Fitria melihat keberadaan Arya yang tengah duduk bersama Evi di sebuah


ruang keluarga, Fitria pun langsung mendekati kedua orang berusia paruh baya itu.


"Pah, kenapa harus seperti ini?" Tanya Fitria dengan wajah masamnya.


"Seperti ini bagaimana?" Tanya Arya tidak mengerti.


"Aku menerima perjodohan ini, bukan berarti harus menikah dalam waktu dekat juga dong, Pah!" Desah Fitria kesal.


"Hahaha jadi kamu sudah mendengarnya?"


"Ya, aku sudah mendengarnya dari Agatha."


"Baguslah jika kalian sudah tahu, berarti kalian harus mempersiapkan diri untuk menikah bulan depan."

__ADS_1


Ujar Arya membuat Fitria tersentak kaget mendengarnya.


"BULAN DEPAN?"


__ADS_2