Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
117. Persiapan


__ADS_3

Setelah Fitria telah selesai berbicara dengan Arya melalui sambungan telepon, Fitria pun langsung pamit pulang kepada Daffa dan Safira.


"Kok cepat banget sih Fit mainnya?" Tanya Safira ketika Fitria memutuskan untuk pulang.


"Sorry ya, Fir. Gue harus ke butik sekarang. Lain waktu gue akan main lagi ke sini kok."


"Lagi pula calon pengantin tuh harusnya sibuk merawat diri, Fit. Ya, minimal ke salon lah agar saat malam pertama nanti si Agatha terkesima sama kecantikan lo hahaha." Goda Daffa tertawa renyah.


BUGH.


Disela-sela Daffa yang asikmentertawakan Fitria, tiba-tiba sebuah cushion atau biasa dikenal dengan bantal sofa melayang ke arah Daffa yang sengaja di lemparkan oleh


Fitria agar mengenainya.


Sedangkan Safira yang melihat itu langsung buru-buru mengusap kepala Daffa lembut saat cushion yang baru saja Fitria lempar mengenai kepala suaminya itu.


"Astaghfirullah, apakah sakit, Mas?" Tanya Safira terus mengusap lembut kepala Daffa membuat Fitria menatap keduanya geli.


"Gue hanya melempar sebuah cushion Fir, bukan balok kayu. Jadi lo tenang saja itu nggak akan membuat Daffa geger otak." Ucap Fitria.


Fitria benar-benar tidak habis pikir melihat kedua temannya itu yang menurutnya sangat menggelikan, pasalnya Fitria pun dulu juga pernah merasakan jatuh cinta saat berpacaran dengan mantan


kekasihnya di masa lalu.


Tetapi tidak seperti Daffa dan Safira yang


menurutnya sangat berlebihan itu. Apa jatuh cinta di dalam pernikahan rasanya berbeda? Pikir Fitria dengan menatap keduanya.


"Tetap saja, Fit. Kalau kepala suamiku pusing bagaimana?" Tanya Safira mencemaskan Daffa membuat Fitria memutar bola matanya malas ketika mendengar pertanyaan yang sebenarnya anak SD saja akan tahu kalau itu sama sekali tidak menyakitkan.


"Sudahlah, lebih baik gue cepat-cepat pergi ke butik. Daripada melihat kalian yang membuat gue geli." Pungkas Fitria lalu berjalan keluar yang di antarkan oleh Safira dan Daffa hingga ke halaman depan.


"Lain kali main ke sini lagi ya, Fit." Ucap Safira sebelum Fitria masuk ke dalam mobilnya.


"Iya Fira, tenang saja. Oh iya Fir, jangan lupa dengan permintaan gue tadi ya." Ujar Fitria mengingatkan Safira agar tidak lupa dengan permintaannya.


Safira yang sempat lupa hanya bergeming sejenak untuk mengingat kembali apa permintaan Fitria itu.


"Insyaallah nanti aku bicarakan dulu dengan Mas Daffa ya, Fit. Tetapi aku tidak janji akan menyetujuinya. Semua tergantung dengan keputusan Mas Daffa." Kata Safira membuat Daffa penasaran.


"Memangnya Fitria meminta apa kepadamu, sayang?" Tanya Daffa penasaran.


Belum sempat Safira menjawab pertanyaan Daffa, Fitria sudah lebih dulu menimpalinya.

__ADS_1


"Daffa, tolong bantu gue." Ucap Fitria membuat Daffa semakin penasaran.


"Nanti Fira akan menceritakan kepada lo semuanya." Ujar Fitria.


"Ya sudah kalau begitu gue jalan dulu ya, assalamu'alaikum." Pungkas Fitria masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobil itu menuju butik melati sesuai dengan permintaan Arya.


Setelah memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit, kini mobil Fitria pun sudah sampai di depan butik melati itu.


Setelah Fitria keluar dari mobilnya, ternyata sudah ada mobil milik Agatha yang juga


sudah terparkir di sana. Fitria pun terus berjalan memasuki butik itu hingga melihat ada Agatha yang tengah duduk di sofa yang tersedia di sana, sepertinya tengah menunggu kedatangannya.


Melihat Agatha tengah sibuk memainkan ponselnya hingga tidak menyadari kedatangannya, membuat Fitria mengibaskan rambutnya kasar. Apakah ponselnya itu lebih penting daripada gue? Batin Fitria kesal.


Sesaat Fitria langsung merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya Fitria berpikir sekonyol itu.


"Ekhem." Fitria sengaja berdeham agar Agatha menyadari kedatangannya.


"Kenapa lama sekali, sih?" Gerutu Agatha ketika melihat Fitria sudah berada di hadapannya.


"Astaga, apa lo nggak tahu Jakarta kalau siang itu macetnya gimana?!" Sahut Fitria tidak habis pikir dengan Agatha yang


mengajaknya berdebat padahal keduanya baru saja bertemu.


"Kalau begitu mari ikut dengan saya." Ajak pemilik butik itu berjalan masuk ke ruangan khusus yang terdapat banyak pakaian yang terlihat begitu mahal diikuti oleh Fitria dan


Agatha di belakangnya.


Setelah pemilik butik itu memberikan beberapa pakaian yang akan digunakan oleh Fitria dan Agatha untuk pemotretan prawedding yang sudah di pesan oleh Evi


sebelumnya, Fitria pun langsung masuk ke dalam ruang ganti untuk mencoba pakaian itu, begitupun dengan Agatha yang juga ikut masuk ke dalam ruang ganti yang lainnya untuk mencoba pakaian yang akan digunakannya.


Tidak butuh waktu lama, Fitria pun keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun berwarna putih dan disusul oleh Agatha setelahnya.


DEG.


Sesaat Fitria hanya bisa terdiam dan tidak bisa mengalihkan pandangannya saat melihat Agatha yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan mengenakan jas abu-abu yang menambah kesan tampan pada diri laki-laki itu, penampilan Agatha kini benar-benar sangat berbeda dari


biasanya hingga berhasil membuat Fitria tenggelam dengan lamunannya sendiri.


Sedangkan Agatha yang tengah ditatap seperti itu oleh Fitria hanya menaikan salah satu alisnya karena bingung. Apa ada yang salah dengan jas yang gue pakai? Pikir Agatha menerka.


"Apa ada jas lain yang bisa ku coba?" Tanya Agatha kepada pemilik butik hingga membuat Fitria tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan jas itu?" Tanya Fitria sebelum pemilik butik menjawabnya.


"Bukankah jas ini nggak cocok sama gue? Buktinya dari tadi lo terus melihat gue seperti itu, pasti karena gue terlihat aneh kan?" Tanya Agatha balik.


"Ya ampun, Ta. Kenapa lo selalu berpikir buruk mengenai gue sih?"


"Terus kenapa lo dari tadi melihat ke arah gue seperti itu, kalau bukan karena gue terlihat aneh?"


"Mmm... Itu..." Belum sempat Fitria menjawab pertanyaan Agatha, seorang wanita yang berprofesi sebagai asisten pemilik butik itu lebih dulu menyahutinya.


"Menurut saya, Tuan terlihat sangat tampan dengan jas itu. Tidak ada kesan aneh sama sekali." Ucap asisten pemilik butik itu membuat Fitria menatap ke arahnya sinis.


"Apa katanya? Tuan terlihat sangat tampan? Dia pikir dia siapa berani memberi komentar seperti itu!" Gerutu Fitria dalam hati dengan mata yang masih menatap ke arah asisten butik itu tajam.


"Sebentar, Tuan." Ucap asisten pemilik butik melangkah mendekat ke arah Agatha hendak memasangkan salah satu kancing jas yang belum sempat Agatha pasang.


Saat asisten butik itu hendak meraih kancing jas Agatha, Fitria buru-buru berjalan mendekat ke arah keduanya.


BRUK.


Dengan sengaja Fitria langsung menubruk wanita yang tengah berdiri di depan Agatha, hingga Fitria dan wanita itu terjatuh di lantai.


"Aduh, maaf ya mba, tadi aku kurang hati-hati berjalan. Jadi nggak sengaja menginjak bawah gaun ini hingga jatuh." Ucap Fitria yang masih duduk di lantai.


"Iya, nggak apa-apa, Nona." Ujar asisten butik ramah.


Dengan netra yang melihat ke arah keduanya, Agatha langsung berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya.


Asisten butik itu mengira bahwa Agatha akan menolongnya, hingga asisten butik itu pun dengan cepat ikut mengulurkan tangannya agar Agatha dapat meraihnya.


Namun Fitria sudah lebih dulu merai tangan Agatha hingga bangkit dan langsung berdiri di sisi laki-laki tampan itu,


agar asisten butik yang menurut Fitria sedang mencari perhatian Agatha dapat menyaksikannya.


"Terimakasih banyak ya sudah menolongku." Ucap Fitria menatap lekat netra Agatha membuat laki-laki tampan itu membelalakkan matanya sempurna karena tidak percaya dengan tindakan Fitria.


"Lo sakit, ya?" Tanya Agatha hendak mengecek suhu di dahi Fitria dengan menggunakan tangannya.


Namun sebelum tangan Agatha mendarat di dahinya, Fitria buru-buru menarik tangan Agatha lalu menggenggamnya.


"Rasakan! Biar tahu diri. Bisa-bisanya dia ke ge-eran tadi. Dia pikir Agatha akan menolongnya? Yang benar saja!" Monolog Fitria dalam hati menatap ke arah asisten


butik itu penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2