Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
75. Aida Yang Perhatian


__ADS_3

Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, membuat Aida yang semula duduk pun buru-buru merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Masuk." Kata Aida dari dalam.


"Kenapa tidak ikut bergabung di depan, Mah?" Tanya Bagaskara ketika sudah masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Aida.


Bagaskara dan Aida masih tidur secara terpisah, Bagaskara sengaja menghukum Aida seperti ini agar Aida menyadari letak kesalahannya kepada Safira.


Dan Bagaskara berharap, Aida bisa menerima Safira sebagai menantunya.


"Untuk apa? Buang-buang waktu saja!"


Jawab Aida ketus.


"Mau sampai kapan Mamah seperti ini?"


"Seperti ini, bagaimana maksud Papah?"


"Apa Mamah ingin terus membenci menantu kita, hanya karena dia terlabir dari kalangan orang biasa? Mungkin, jika menantu kita bisa memilih. Dia pun tidak ingin terlahir seperti itu. Orang mana yang


tidak ingin terlahir kaya? Bisa dilihat dari banyaknya orang yang bekerja keras di luaran sana." Kata Bagaskara yang berusaha menyadarkan istrinya.


Aida hanya bergeming tanpa mengeluarkan suara apa pun.


"Mah..." Panggil Bagaskara lirih seraya mengusap lembut tangan Aida.


"Hmm." Jawab Aida dengan bergumam.


"Apa tidak bisa, sebagai orang tua turunkan egonya sedikit saja? Lihat Daffa sekarang, Mah. Semenjak dia menikah dengan Fira, banyak selkali perubahan yang terlihat pada anak kita."


"Tapi, Pah--" Belum sempat Aida menyelesaikan ucapannya, Bagaskara


dengan cepat memotongnya.


"Mah, sudahlah. Jangan diperdebatkan lagi masalah ini, Daffa sudah bahagia bersama Fira. Belum tentu juga, jika Daffa menikah dengan gadis pilihan Mamah, dia akan


bahagia seperti ini. Lagi pula saat ini menantu kita tengah mengandung darah daging kita sendiri, Mah. Apa Mamah tega memisahkan mereka? Bagaimana dengan cucu kita nantinya?"


Mendengar penuturan panjang lebar dari suaminya, Aida pun membalikkan posisinya saat ini hingga membelakangi Bagaskara.


"Mamah ngantuk, Pah. Mamah mau tidur dulu." Kata Aida beralasan.


"Papah harap, Mamah merenungkan ucapan Papah tadi. Demi anak kita Mah, dan juga cuc kita." Pungkas Bagaskara lalu pergi meninggalkan Aida di kamarnya.


Setelah kepergian Bagaskara, Aida bangkit dari posisinya saat ini, dan memjat pelipisnya untuk meredakan rasa sakit pada kepalanya yang saat ini terasa sangat pening.


***


Daffa dan Safira memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar setelah selesai dari shalat isya, sebelum jam makan malam tiba.


Semenjak mengetahui bahwa Safira telah hamil, Daffa semakin tidak ingin jauh dari istrinya itu. Bahkan saat ini pun ketika keduanya tengah berbaring di atas kasur.


Daffa memasukkan kepalanya dalam gamis Safira, hingga wajah Daffa


benar-benar menempel pada perut istrinya itu.


"Mas, geli ih." Protes Safira ketika Daffa terus menciumi perutnya dari dalam gamis.


"Baiklah, baiklah." Kata Daffa seraya mengeluarkan kepalanya dari balik gamis Safira.


"Mas, apakah kita akan menginap malam ini?" Tanya Safira yang menjadikan lengan Daffa sebagai bantalan kepalanya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, sayang. Jika kamu ingin menginap, kita akan menginap."


"Bagaimana jika kita menginap saja, Mas? Aku ingin tidur bersama Oma. Boleh ya?" Tanya Safira dengan memohon.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu tidur bersama Oma." Tolak Daffa dengan cepat.


"Kenapa memangnya?" Tanya Safira kembali dengan memcebikkan bibirnya.


"Mana bisa, aku tidur tanpamu sayang. Apalagi sekarang ada anak kita di dalam perutmu. Membayangkannya saja sudah


membuatku sangat frustasi." Ucap Daffa seraya mengusap lembut pipi Safira yang seputih susu.


"Hmm.. Jadi, tidak usah menginap saja?" Tanya Safira.


"Tidak papa jika kamu ingin menginap di sini malam ini, asalkan tidurnya bersamaku." Jawab Daffa.


Tok tok tok.


Tiba-tiba saja suara ketukan pintu membuat obrolan keduanya terhenti.


"Siapa?" Tanya Daffa dari dalam kamar.


"Bi Asih, Tuan." Jawab wanita paruh baya dari balik pintu.


Daffa pun turun dari ranjangnya, lalu berjalan ke arah pintu dengan rambut yang masih berantakan akibat menyusup ke dalam gamis Safira tadi.


"Ada apa, Bi?" Tanya Daffa ketika pintu kamarnya baru saja terbuka tidak begitu lebar.


"Nyonya besar dan yang lainnya sudah menunggu di bawah untuk makan malam, Tuan." Jawab Bi Asih dengan menahan tawa.


Daffa yang heran dengan sikap Bi Asih pun hanya menaikkan salah satu alisnya. Ada apa dengan wanita paruh baya ini? Batin Daffa.


"Apa ada yang lucu, Bi?" Tanya Daffa kepada Bi Asih.


Dengan reflek, Daffa pun menyugar rambutnya detik itu juga.


"Bibi permisi dulu, Tuan." Pungkas Bi Asih seraya tertawa kecil setelah melihat ekspresi wajah Daffa yang sudah merah padam.


"Sayang, pakai hijab dan cadarmu kembali ya. Oma sudah menunggu kita di meja makan." Titah Daffa kepada Safira setelah menutup pintu kamarnya kembali.


Safira yang menyadari ada yang tak biasa dari wajah suaminya pun mendekat untuk menginterogasi.


"Ada apa dengan Mas Daffa? Apa ada hal yang membuat mas Daffa malu?" Selidik Safira dengan menggoda.


"Tidak." Jawab Daffa dengan memalingkan wajahnya.


"Ayo katakan, Mas. Ada apa?"


"Tidak ada."


"Apa mas, ayo katakan,"


Safira yang terus saja merengek ingin tahu, membuat mulut Daffa keceplosan begitu saja.


"Bi Asih baru saja mengatakan agar rambutku disisir dulu kalau setelah anu, anu anu apa coba maksudnya? Bikin malu aku saja, huh!" Ucap Daffa kesal yang di


dominasikan dengan rasa malu.


"Oh, jadi Mas Daffa malu karena ucapan Bi Asih tadi? Hahaha." Goda Safira dengan tertawa puas.


***


"Ayo nak, makan yang banyak. Oma sudah meminta kepada Chef agar menyiapkan banyak hidangan malam ini." Ucap Oma Rahma kepada Safira.

__ADS_1


"Iya, Oma," Jawab Safira.


"Mas, mau makan pakai apa? Biar aku ambilkan." Lanjut Safira kembali dengan bertanya kepada Daffa.


"Aku sedang tidak ingin makan sayang, baunya saja sudah membuat perutku sangat mual." Jawab Daffa yang menolak untuk makan.


"Kamu harus makan, Daffa. Meskipun hanya sedikit, kalau nanti kamu sakit lagi, siapa yang akan menjaga Fira, dan cucu Papah?" Saut Bagaskara.


"Benar apa yang dikatakan Papahmu, Daff." Timpal Oma Rahma.


"Baiklah, baiklah. Daffa akan makan "


Safira pun mengambil nasi beserta lauknya. Namun, baru saja Daffa menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya. Perut Daffa sudah merasakan mual, Tidak ingin suaminya merasakan mual terus menerus, Safira pun berinisiatif untuk pergi ke dapur untuk membuatkan jeruk hangat


untuk Daffa.


Aida yang semula sedang sibuk dengan aktivitas makannya pun terhenti, ketika melihat Safira hendak pergi ke dapur.


"Mau kemana?" Tanya Aida tanpa melihat ke arah Safira.


"Mau ke dapur, Mah. Mau membuatkan jeruk hangat untuk Mas Daffa." Jawab Safira.


Tidak ingin menantunya merasakan lelah, Aida pun mengambil tindakan.


"Bi... Bi Asih." Panggil Aida dari meja makan.


"Iya, Nyonya." Jawab Bi Asih yang baru saja tiba dari dapur.


"Tolong buatkan jeruk hangat untuk Daffa, beserta kentang dan telur rebus." Titah Aida kepada Bi Asih.


"Mah, Daffa tidak ingin makan kentang dan telur rebus. Rasanya tidak enak!" Protes Daffa kepada Aida.


"Jangan banyak mengeluh! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Apa tidak malu?" Kata Aida.


Ucapan Aida membuat atensi semua orang yang berada di meja makan pun tertuju kepadanya, bagaimana tidak? Pasalnya, Aida yang biasanya selalu mencela dan


menyindir Safira, namun kali ini tidak


ada satu pun kalimat sarkas yang keluar dari mulut Aida. Ada apa dengan Aida hari ini? Batin semua orang yang berada di


sana.


Sedangkan Safira yang semula ingin berniat pergi ke dapur, akhirnya memutuskan untuk duduk kembali. Safira pun kini memulai aktivitas makannya, netra Safira tiba-tiba saja tertuju pada piring yang berisi sate dengan bumbu yang sangat pekat.


Sedangkan Aida melirik ke arah menantunya, yang terlihat hendak mengambil sate, dengan cepat Aida pun menghentikannya.


"Jangan!" Cegah Aida ketika Safira hendak meraih salah satu sate itu.


"Ada apa denganmu, Aida? Safira hendak mengambil sate saja tidak boleh!" Kata Oma Rahma kesal.


"Orang yang sedang hamil dilarang mengkonsumsi makanan setengah matang." Jawab Aida dengan mengambil piring yang berisi sate tersebut.


"Bi Asih.." Panggil Aida kembali.


"Iya, Nyonya."


"Bawa sate ini kebelakang, dan minta kepada Chef agar menyiapkan sate yang baru. Pastikan daging dari satenya sudah matang." Titah Aida kepada Bi Asih.


Melihat sikap Aida yang jauh berbeda dari biasanya, Oma Rahma dan Bagaskara pun saling melemparkan pandangan tanpa


mengeluarkan ucapan apa pun, begitu


pula dengan Daffa dan Safira.

__ADS_1


__ADS_2