
Daffa membelalakkan matanya sempurna ketika mendengar bahwa Safira telah diculik oleh seseorang.
Tanpa mengatakan apapun Daffa pun berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruangannya dengan langkah tergesa-gesa menuju lobi untuk menemui orang yang ingın menemuinya tadi.
"Di mana orang itu?" Tanya Daffa ketika baru saja sampai di lobi, namun tidak menemukan siapapun di sana. Kecuali para resepsionis.
"Maaf pak, orang itu baru saja pergi" Ucap resepsionis yang lainnya.
Daffa berkacak pinggang seraya menyugar rambutnya kasar. Kemudian Daffa pun mengambil benda pipih miliknya di saku jas
untuk menghubungi Safira.
Namun sesaat Daffa mengurungkan niatnya.
"Sebaiknya aku jangan menghubunginya, jika sampai penculik itu tau aku menghubungi Fira, bisa saja ponsel milik dia di lenyapkan dan aku tidak bisa melacak keberadaan Fira saat ini. Lebih baik aku langsung mencari keberadaannya
melalui GPS yang sudah ku pasang di
ponsel miliknya saja, agar aku bisa menangkap penculik itu dan menghajarnya!" Monolog Daffa dalam hati dengan tangan yang sudah mengepal sempurna.
Tidak ingin membuang banyak waktu, Daffa pun mencari titik lokasi Safira melalui ponselnya dan mulai melajukan mobil miliknya membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi.
"Kerja bagus!" Ucap Friska kepada kedua laki-laki berbadan kekar yang sudah membawa Safira ke sebuah bangunan tua.
Friska melangkah mendekat ke arah Safira yang saat ini tubuhnya terikat di kursi kayu dalam keadaan pingsan.
PLAK
Friska menampar wajah Safira dengan cukup kuat yang membuat Safira tersadar dari pingsannya.
Setelah Safira mulai membuka matanya, Safira pun celingukan bingung ketika melihat sekeliling dan keadaan dirinya yang saat ini tengah diikat.
"Aku di mana?" Tanya Safira.
"Lo gak perlu tau! Yang pasti gue akan buat lo menyesal telah menikah dengan Daffa!" Ucap Friska dengan menaikkan nada bicaranya.
"Friska, tolong lepasin aku"
"Lepasin? Hahaha jangan mimpi, sampai gue memberikan lo pelajaran!"
Friska pun mendekatkan wajahnya pada Safira dengan menyeringai, kemudian Friska pun menarik cadar milik Safira secara paksa yang membuat Safira terkesiap.
Tidak ingin wajahnya di lihat oleh dua orang laki-laki yang berada di sana, Safira pun menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.
Sedangkan Friska hanya diam mematung ketika melihat wajah Safira yang di luar perkiraannya, ternyata wajah Safira jauh lebih cantik darinya, membuat Friska
semakin kesal terhadap Safira.
Friska pun melangkah mundur dari posisinya saat ini untuk mengambil satu botol air mineral dan meminumnya.
"Lo pasti haus kan? Silahkan menikmati minuman ini" Ucap Friska dengan menuangkan air yang masih tersisa banyak di dalam botol ke atas kepala Safira.
"Ya Allah, tolonglah aku agar bisa terbebas dari sini" Gumam Safira dalam hati.
__ADS_1
"Lihat gue, sialan!" Titah Friska dengan mencengkram hijab Safira.
"Sakit, Fris. Tolong lepaskan aku" Cicit Safira.
"Cih! Baru segini lo bilang sakit? Lo gak tau perasaan gue sesakit apa, saat Daffa ninggalin gue demi lo, wanita sialan?!"
PLAK
Friska menampar Safira kembali.
"Kalau gue gak bisa mendapatkan Daffa kembali, maka gue juga gak akan pernah biarkan lo mendapatkan dia!"
"Berhenti menunduk seperti itu, dan lihatlah ke arah gue, bodoh!" Titah Friska geram.
Tidak ingin menanggapi ucapan Friska, Safira pun tetap teguh dalam posisinya saat ini untuk menyembunyikan wajahnya dari dua laki-laki bertubuh kekar itu.
PLAK
Friska kembali menampar wajah Safira untuk yang ketiga kalinya.
"Friska!" Teriak Agatha yang menerobos masuk.
DEG
Jantung Agatha tiba-tiba berpacu dengan sangat cepat ketika melihat Safira yang tidak menggunakan kain penutup di wajahnya.
Meskipun hanya terlihat sebagian wajahnya, namun kecantikan Safira cukup membuat kekaguman Agatha pada diri Safira bertambah.
Friska pun menoleh ke arah sumber suara, ketika namanya dipanggil oleh suara yang tidak asing di telinganya.
"Jangan berani menyentuh dia sedikitpun, atau gue patahkan tangan lo!" Ancam Agatha kepada Friska.
"Hahaha, gue gak salah dengar? Mendingan lo pergi dari sini sekarang, sebelum tangan lo yang akan mereka patahkan'" Ancam Friska balik.
"Sialan!" Umpat Agatha dengan melangkah mendekat ke arah Friska, namun dengan cepat dua laki-laki bertubuh kekar itu memukul Agatha.
BUGH!
"Cih!" Agatha meludah ke sisi kiri.
BUGH!
Balas Agatha dengan memukul kedua laki-laki itu. Tidak ingin rencananya
digagalkan oleh Agatha, Friska pun buru buru melepaskan ikatan Safira untuk membawanya pergi dari sana.
Agatha yang menyadari pergerakan Friska pun dengan cepat menarik tangan Friska dan mendorongnya agar menjauh dari Safira.
"Jangan ikut campur, Ta!" Teriak Friska ketika tubuhnya terdorong.
"Gue udah bilang, jangan berani sentuh dia sedikitpun!" Kata Agatha
dengan mencengkram rahang Friska
__ADS_1
kuat.
BUGH!
"Awas!" Teriak Safira ketika salah satu laki-laki bertubuh kekar itu memukul Agatha dari belakang dengan menggunakan balok kayu.
Agatha yang mendengar teriakan dari Safira pun menoleh dengan cepat ke arahnya, namun belum sempat Agatha menghindar, tengkuk lehernya sudah terpukul lebih dulu dengan balok kayu yang membuat tubuhnya terjatuh ke lantai, namun tidak sampai pingsan.
"Kamu gak papa?" Tanya Safira kepada Agatha dengan wajah yang masih di sembunyikan.
"Gue gak papa, lo jangan takut" Jawab Agatha dengan keadaan lunglai.
"Habisi dia!" Titah riska kepada kedua lak-laki bertubuh kekar itu.
BRAK!
Tiba-tiba saja Daffa datang dengan cara mendobrak pintu, membuat atensi semua orang di dalam terarah kepadanya.
Dengan napas yang memburu dan dada yang naik turun, Dafa berjalan ke arah Friska dengan emosi yang sudah tidak bisa di kendalikan lagi.
"Daf-daffa" Ucap Friska terbata-bata.
Sebelum Daffa memberikan pelajaran kepada Friska dan antek-anteknya, Daffa pun melihat ke arah Safira untuk memastikan keadaan istrinya apakah baik-baik saja atau tidak.
Namun betapa mengejutkannya, ketika Daffa melihat hijab Safira dalam keadaan basah dan tidak menggunakan cadar.
Tidak ingin memberikan ampun, Daffa pun langsung menghajar kedua laki-laki bertubuh kekar itu dengan sangat brutal tanpa henti hingga keduanya babak belur.
Sedangkan Friska hanya diam mematung ketika melihat Daffa menghajar orang bayarannya itu.
Setelah berhasil melumpuhkan lawan, Daffa pun berjalan ke arah Friska dengan tatapan tajam. Friska yang ketakutan pun melangkah mundur bersamaan dengan langkah Daffa yang terus ke arahnya.
"Daffa" Ucap Friska ketakutan.
"Berani-beraninya lo menyentuh istri gue!" Bentak Daffa.
"Gue melakukan semuanya demi lo, Daff! Demi lo!" Kata Friska.
"Lo benar-benar udah gila!"
"Iya, gue emang gila! Gue gila karena lo, Daffa"
"Lo beruntung, karena lo cewek! Coba kalau lo cowok, gue pastikan nasib lo kaya mereka" Kata Daffa dengan mata yang mengarah kepada kedua laki-laki yang sudah tak berdaya.
Tidak ingin melepaskan Friska begitu saja, Daffa pun menarik lengan Friska dan membawanya keluar secara paksa.
"Daffa, lepasin! Lo mau bawa gue kemana?" Ucap Friska memberontak.
Tak ingin banyak bicara, Daffa
un menulikan pendengarannya dan
terus membawa Friska keluar.
__ADS_1
Betapa mengejutkannya ketika Friska mendapati banyak wartawan yang sudah berada di luar sana, tidak ingin citranya buruk sebagai model.