
Dipaksa Menikah Bagian 50
Oleh Sept
Rate 18 +
Sofi meronta saat lengannya dipegang sang asisten. Ia mau menghampiri Amelia, wanita yang mencoba mau mengusik rumah tangganya itu. Namun, sang asisten malah mencoba menghentikan Sofi.
"Aku bilang lepaskan!" sentak Sofi yang kesal karena ia ingin membalas ucapan Amelia.
"Nona, sebaiknya kita pergi."
Sofi mendesis kesal.
"Aku belum selesai dengannya!" Sofi menyentakan tangan. Dan akhirnya bisa terlepas juga. Namun, tiba-tiba sebuah suara yang familiar membuat Sofi terdiam.
"SOFIII!" ucap sosok yang mendadak muncul secara tidak diduga.
Sebuah suara membuat atmosphere di dalam sana seketika berubah membeku. Semua yang di sana pun menatap pria berjas navi dengan sepatu berbahan kulit ular berbisa. Pria itu melangkah dan langsung berhenti di depan Sofi.
"Apa yang kamu lakukan?"
Mendengar pertanyaan dari suaminya, Sofi merutuk. Kemudian matanya melirik tajam pada sang asisten. Pasti asistennya itu yang sudah bermulut ember. Dan menceritakan semuanya pada Garda.
"Bukan aku yang menemuinya! Dia yang memintaku datang!" sela Amelia dengan gaya tenang. Tapi dalam hati, tersimpan niatan jahat.
Sofi tambah kesal.
"Kenapa kamu menemuinya?"
"Dia memintaku pergi menjauh!" potong Amelia tanpa malu.
Garda lantas menatap Amelia dalam-dalam, kemudian berbicara, "Aku tidak bicara denganmu!"
JLEB
Jelas Amelia keki, Garda sudah jauh berbeda. Pria yang tergila-gila padanya dulu kini sama sekali tidak peduli. Bahkan terkesan dingin dan marah padanya. Padahal, dulu mereka adalah pasangan kekasih yang sangat romantis.
Sementara itu, Sofi tersenyum dalam hati.
"Katakan, aku bertanya padamu. Kenapa kamu menemuinya?" Garda juga terlihat marah pada Sofi. Sebab ia tidak suka Sofi berhubungan dengan masa lalunya.
__ADS_1
Bagi Garda, masa lalu adalah masa lalu. Semua sudah berlalu. Tidak usah diungkit serta disinggung. Ia juga akan marah bila Sofi membahas Juna. Jadi sebaiknya fokus ke masa depan. Buka malah ketemu dengan mantan kekasihnya secara diam-diam. Garda tidak menyukai hal ini.
"Aku hanya tidak ingin dia menganggu milikku!" jawab Sofi kemudian.
Mendengar jawaban Sofi, Amelia serasa mau muntah. Yang hamil siapa yang mules malah Amelia.
"Siapa yang menganggu?" Amelia tidak mau dituduh. Meskipun kenyataan bicara lain. Hanya saja ia ingin mengelak.
Mendengar dua wanita meributkan dirinya, Garda menghela napas panjang. Bukannya senang, ia malah ingin marah.
"Kami sudah tidak ada hubungan, Sof. Jadi apa yang kamu khawatirkan? Kamu tidak usah bertemu dengannya lagi. Fokus masa depan, jangan membahas masa laluku."
Sofi melipat tangan, wajahnya langsung kusut seperti cucian yang belum disetrika. Sambil melihat ke arah suaminya, Sofi marah-marah.
"Dia menelpon ponselmu! Dan aku yang angkat!" jawab Sofi dengan nada tinggi.
Garda mengerutkan dahi, "Tidak ada. Jangan mengada-ada."
"Huufffh! Sudahlah! Kalian sama saja!" ujar Sofi jengkel. Bumil yang satu ini malah terlihat sangat gusar sendiri. Membuat Garda heran.
"SOFFF!"
Garda memanggil Sofi, ia juga mengikuti istrinya yang keluar duluan sambil marah-marah. Namun, sembelum Garda meninggalkan ruangan itu, ia sempat berbalik sesaat. Sambil melihat Amelia.
[Waktu rupanya banyak sekali merubahmu!]
[Ish ... kau bahkan tidak sebucin itu padaku]
[Dasar pria! Kalau ada yang lebih muda, semuanya berubah!]
[Tapi kenapa istrinya bisa hamil? Apa tante bohong? Siallll]
Amelia merutuk sendirian, sampai ruangan benar-benar kosong. Hanya ada ia sendiri di dalam sana, ia merutuk kesal karena Garda yang ia claim sebagai miliknya sudah menjadi milik orang lain sepenuhnya.
***
Di luar kafe
Garda sedang memegangi tangan istrinya.
"Aku mau pulang, kamu balik saja ke kantor! Atau temui saja wanita itu."
__ADS_1
Sofi memaksa melepaskan diri. Tapi Garda malah memeluknya di depan kafe.
"Kamu itu kenapa? Diam-diam menemui Amelia seperti ini? Apa yang kamu cari?" tanya Garda kemudian melepas pelukannya. Setelah Sofi tenang, ia membawa Sofi menuju mobilnya yang ia bawa sendiri saat menyusul Sofi ke kafe.
"Kalau ada yang ingin kamu ketahui, tanya langsung padaku. Aku pasti akan jawab. Dan tidak usah menemuinya," ucap Garda lagi.
"Kenapa aku tidak boleh menemuinya? Apa kalian menyimpan rahasia dariku?" tuduh Sofi yang sejak tadi berubah sensitive.
Garda menghela napas dalam-dalam.
"Tanya apapun yang ingin kamu ketahui. Akan aku jawab sekarang. Tapi jangan pernah bertemu dengannya lagi."
"Apa kamu juga sering memeluknya seperti barusan yang kamu lakukan padaku?"
GLEK ...
Garda menelan ludah.
"Tuh .... Kan!" Sofi merajuk. Ia berjalan mundur. Sofi juga menepis tangan suaminya yang mau menyentuh tubuhnya.
Garda tidak hilang akal, tiba-tiba ia ingat dengan Juna.
"Lalu bagaimana denganmu, Sof? Apa saja yang sudah pria itu lakukan padamu .. Hem?"
Sofi melotot tajam, ia tambah kesal pada suaminya. Kenapa bahas Juna segala. Karena jengkel campur marah, Sofi pun memanaskan suasana. Tidak menggelak, Sofi malah akan menceritakan apa yang sudah ia lakukan dengan Juna saat pacaran dulu. Ia ingin balas dendam pada suaminya.
"Jangan sakit hati kalau sudah tahu!" Sofi tersenyum jahat.
Wajah Garda langsung ditekuk masam. Ia jelas marah membayangkan istrinya sudah diapa-apain oleh pria lain.
"Juna penciummm yang handal!" ucap Sofi yang melihat wajah gusar suaminya.
"Stop!" sentak Garda mulai kepancing.
"Kamu tahu Kan ... bagaimana darah muda kalau terbakar? Tuh ... bayangin saja. Nggak jauh seperti apa yang kamu lakukan sama wanita itu!" cetus Sofi marah.
"Apa seperti ini?"
Sofi kaget, ia terhenyak. Tubuhnya hampir tumbang akibat aksi Garda di muka umum tersebut.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Si lobak memang tidak punya malu. Hehehe