Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
105. Terbongkar?


__ADS_3

Setelah selesai makan malam bersama keluarga Arya, Agatha pun memutuskan untuk pulang. Namun, bukannya pulang ke rumah, Agatha memilih pulang ke kediaman Rosa.


Sesampainya Agatha di sana. Rosa begitu terkejut saatme mbukakan pintu rumahnya, ketika melihat keadaan Agatha yang terdapat beberapa luka lebam pada bagian


wajahnya.


"Ya Allah, Ta. Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Rosa cemas, seraya menuntun Agatha untuk duduk di sofa.


"Ini hanya masalah kecil, Mah." Jawab Agatha santai.


"Masalah kecil bagaimana, wajahmu saja sampai babak belur seperti itu."


"Mamah nggak perlu khawatir, lagi pula aku masih bisa berjalan, kan?"


BUGH.


"Aduh.. Kok aku dipukul sih, Mah." Protes Agatha saat Rosa memukul pelan di bagian lengannya.


"Jangan bilang kamu habis berkelahi." Ucap Rosa menatap Agatha penuh selidik.


Agatha menghela napasnya pelan dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ta, Ta! Kamu ini bukan anak remaja lagi, untuk apa sih sampai berkelahi seperti itu?Kalau nanti Papahmu sampai tahu, bagaimana?"


"Jika Papah tahu, Papah pun pasti menyukainya, Mah."


"Menyukainya? Apa yang kamu bicarakan?" Tanya Rosa tidak mengerti.


"Karena luka yang aku dapatkan ini, akibat menolong wanita yang Papah jodohkan denganku, Mah."


"Jadi, kamu sudah bertemu dengan wanita itu?"


"Sudah, Mah."


"Lalu, apakah wanita itu baik, Ta?"


"Entahlah, Mah. Namun sejauh ini aku melihatnya begitu bar bar."


"Hmm, mungkin kalian belum terlalu mengenal satu sama lain saja, Ta. Coba saja kamu lebih membuka hati lagi untuk dia." Kata Rosa memberi nasehat.


"Apa yang baru saja Mamah ucapkan ada benarnya juga, sepertinya aku dan Fitria memang kurang membuka hati saja." Gumam Agatha dalam hati merenungi ucapan Rosa.


***


Keesokan harinya, Daffa terlihat tengah sibuk bekerja di kantor. Namun tidak seperti biasanya, kali ini ada Safira yang menemani Daffa selama belkerja. Bukan tanpa alasan, Daffa mengajak Safira karena tidak bisa jauh dari istrinya itu, dan lagi, semalam Fitria mengajak keduanya


untuk makan siang bersama di cafe


langganannya.


"Mas, mau sampai kapan terus memandangiku seperti itu?" Protes Safira, ketika Daffa mengabaikan pekerjaannya karena dirinya.


"Kamu tahu tidak sih, sayang? Kenapa akhir-akhir ini aku tidakbegitu menyukai permen?" Tanya Daffa seraya menyangga dagunya dengan menggunakan kedua tangannya.


"Karena mas Daffa takut diabetes?" Tebak Safira.


"Menurutku, sepertinya kamu yang lebih memberikan resiko diabetes terhadapku, daripada sebuah permen."


"Lalu?"Tanya Safira meminta jawaban.


"Karena bagiku, kamu jauh lebibh manis daripada permen."


Sedangkan Safira yang mendapati gombalan itu hanya tersenyum di balik cadarnya.


"Mas, lanjutkan pekerjaannya, ya. Aku tidak ingin kehadiranku di sini, malah menghambat pekerjaan Mas Daffa."


"Iya sayang, baiklah."


Baru saja Daffa hendak melanjutkan pekerjaannya, Daffa kembali menghentikan aktivitasnya itu.

__ADS_1


"Sayang," Panggil Daffa lembut.


"Apakah kamu bisa kemari sebentar?" Titah Daffa kepada Safira.


Tanpa mengatakan apa pun, Safira bangkit dari posisinya saat ini dan mendekat ke


arah Daffa.


"Kemarilah." Titah Daffa dengan memberikan isyarat agar Safira duduk


di pangkuannya.


"T-tapi Mas."


"Kemarilah sayang." Ucap Daffa seraya menarik tangan Safira agar duduk di pangkuannya.


"Mas, sebaiknya aku duduk di sofa saja." Cicit Safira ketika sudah duduk dipangkuan Daffa.


"Apakah kamu ingin membantu suamimu agar cepat menyelesaikan pekerjaannya?" Bisik Daffa di telinga Safira.


Safira hanya mengangguk pasrah.


CUP.


"Maka diamlah seperti ini, agar aku lebih semangat lagi dalam bekerja." Ucap Daffa setelah mencium pipi sebelah kanan Safira yang tertutupi oleh cadar.


Dengan posisi yang memangku Safira, Daffa pun melanjutkan pekerjaannya kembali hingga jam makan siang tiba.


Sesuai ajakan Fitria semalam, Safira dan Daffa pun bergegas pergi ke cafe langganannya setelah selesai shalat dzuhur terlebih dahulu. Ketika keduanya sudah sampai di cafe tersebut, terlihat sudah ada Fitria yang tengah duduk di salah satu meja yang berada di sana.


"Assalamu'alaikum." Ucap Safira dan Daffa secara bersamaan.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Fitria seraya menoleh ke arah keduanya.


"Maaf ya, Fit. Kalau membuatmu menunggu lama." Kata Safira setelah duduk di salah satu kursi yang tersedia di meja itu.


"Ah, nggak kok Fir. Gue juga baru sampai."


Sedangkan Fitria hanya mengedikkan bahunya sebagai isyarat tidak tahu.


"Kenapa, lo?" Tanya Daffa seraya mengerutkan keningnya samar.


"Kalau lo nanya Farhan, gue gak tahu menahu. Karena dia bukan lagi teman gue."


"Ada masalah apalo sama dia?" Tanya Daffa kembali.


"Semenjak Farhan gak mau bantu gue kemarin, dia bukan lagi teman gue." Ujar Fitria kesal.


"Ck, ingat umur Fit. Lo bukan lagi ABG. Masa kayak gitu doang lo gak mau lagi berteman dengan Farhan?"


Di sela-sela obrolan ketiganya, Kartika tiba-tiba saja duduk di salah satu kursi tanpa permisi terlebih dahulu, membuat atensi ketiganya tertuju kepadanya.


"Hai, Fira," Sapa Kartika seraya melambaikan salah satu tangannya.


"Eh, ada Daffa dan Fitria juga ternyata. Halo semuanya." Sambung Kartika kembali dengan menyapa kedua orang lainnya.


"Ngapain lo di sini?"Tanya Fitria menatapnya tajam.


"Memangnya ini cafe lo, ya? Terserah gue dong mau duduk di mana juga." Jawab Kartika membuat Fitria semakin dibuatnya kesal.


"Lo boleh duduk di sini, tapi, jangan pernah berharap bisa menyentuh Fira sedikit pun." Kata Fitria dengan suara penuh penekanan.


"Wow, memangnya lo siapa? Ibunya? Atau--Neneknya?" Tanya Kartika yang sempat menghentikan ucapannya sejenak.


"Cukup, Tik! Kalau lo ingin membuat masalah, lebih baik lo pergi dari sini sekarang juga!" Ucap Daffa yang akhirnya membuka suara.


"Lo gak berhak mengusir gue dari sini, Daff." Sahut Kartika.


"Karena ini bukan cafe gue, begitu? Baiklah, kalau dengan cara memiliki cafe ini bisa membuat lo menyingkir dari hadapan gue, detik ini juga gue akan membeli cafe ini!"

__ADS_1


Ujar Daffa, lalu bangkit dari duduknya hendak menemui pemilik cafe tersebut.


"Oke, gue akan pergi dari sini sekarang juga!" Sahut Kartika yang ikut bangkit dari duduknya.


"Tika."


Baru saja beberapa langkah Kartika meninggalkan Daffa dan yang lainnya, tiba-tiba saja Agatha datang entah dari mana memanggil namanya, membuat


Kartika menghentikan langkahnya sejenak, dan menoleh ke arah Agatha.


Kartika membelalakkan matanya sempurna ketika melihat Agatha berada di sana.


"Lo belum menjawab pertanyaan gue tempo hari, Tika." Ucap Agatha membuat Kartika gugup.


Seketika Kartika pun melirik ke arah Daffa dan yang lainnya, yang saat itu tengah menyaksikan percakapan keduanya.


"Gue sudah bilang, kan kalau itu bukan urusan lo!" Pungkas Kartika, lalu hendak pergi melanjutkan langkahnya kembali.


"Mau kemana, lo?" Cegah Agatha meraih tangan Kartika.


"Lepasin tangan gue!" Ucap Kartika seraya berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Agatha.


"Apa yang lo lakukan saat di rumah sakit waktu itu? Kenapa lo begitu ketakutan saat melihat kehadiran Daffa?" Tanya Agatha


tanpa basa-basi, membuat Kartika membelalakkan matanya sempurna


ketika mendengarnya.


"Sial! Jika gue pergi dari sini begitu saja, pasti Daffa dan yang lainnya akan mencurigai gue atas insiden kecelakaan itu." Monolog Kartika dalam hati.


"Gue sama sekali gak mengerti maksud dari ucapan lo itu." Jawab Kartika berpura-pura.


"Jadi Tika ada di rumah sakit juga? Apakah yang Agatha maksud saat Fira dirawat di sana?" Tanya Daffa dalam hati.


"Hahaha, lo benar-benar pintar dalam bersandiwara, ya." Ucap Agatha memberikan tepuk tangan kepada Kartika.


"Terserah lo mau bicara apa, gue hanya ingin mengatakan, siapa pun berhak datang ke rumah sakit karena itu fasilitas umum." Pungkas Kartika sebelum pergi meninggalkan Agatha.


"Astaga, apa dunia ini begitu sempit? Sehingga gue harus bertemu lo terus menerus?" Sindir Fitria kepada Agatha.


"it.."


Ucap Safira seraya menggelengkan kepalanya pelan, sebagai isyarat agar temannya itu tidak lagi menimbulkan perdebatan.


Sedangkan Agatha memilih pergi begitu saja, tanpa menghiraukan sindiran dari


Fitria terhadapnya.


"Lo kenapa sih kayaknya alergi banget sama Agatha?" Tanya Daffa penasaran.


Bukannya menjawab, Fitria justru sibuk melihat daftar menu yang tersedia di cafe itu.


"Fit." Panggil Safira lirih, ketika temannya itu enggan menjawab pertanyaan dari


suaminya.


"Agatha, ia adalah laki-laki yang akan dijodohkan dengan gue." Ujar Fitria memaparkan, membuat Daffa dan Safira terkejut mendengarnya.


"Syukurlah, lagi pula Agatha itu laki-laki yang baik, Fit." Kata Safira lega, ketika mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Agatha.


Sedangkan Fitria memilih diam ketika mendengar ucapan dari Safira, pikirannya tiba-tiba saja kembali teringat saat dia selamatkan oleh Agatha, hingga laki-laki itu rela babak belur demi menolong dirinya.


***


Di sisi lain, Kartika yang baru saja sampai di parkiran dengan napas yang tersengal sengal nampak begitu saat berhasil keluar dari situasi yang menurutnya begitu sangat


menegangkan.


"Hampir saja gue ketahuan." Gumam Kartika seraya mengatur napasnya yang tak beraturan itu.

__ADS_1


"Ternyata dugaan gue gak salah!" Ucap laki-laki yang sudah berdiri di belakang Kartika sedari tadi.


Sedangkan Kartika yang mendengar ucapan dari laki-laki itu, pun seketika menoleh ke arahnya dengan wajah yang sudah pucat pasi.


__ADS_2