Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
8


__ADS_3

Rey melajukan mobil sportnya menuju rumah sakit.


Rey sampai di rumah sakit hanya beberapa menit karna jalan yang dilaluinya tidak ada kemacetan. Sepanjang koridor rumah sakit, semua mata wanita termasuk para perawat tidak luput menatap ketampanan Rey. Bahkan ada yang memotret dirinya untuk di abadikan ke ponselnya.


Rey sampai di depan pintu ruang rawat inap Dewi.


Klek,,,,


Rey membuka pintu. Dia melihat Anisa sedang menyuapi Dewi. Rey berjalan mendekati Anisa.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Sekarang udah membaik mas Rey. Mungkin besok sudah diperbolehkan pulang. Aku juga udah gak betah tiduran terus dirumah sakit. Aku mau istirahat dirumah aja."


"Baguslah kalau gitu. Nanti aku akan mengurus administrasi rawat jalannya dan mengurus sekolah kamu termasuk kosnya sampai kamu mendapatkan gelar yang bagus. Kamu juga bisa memilih sekolah yang kamu inginkan."


"Terima kasih mas Rey. Dewi tetap ingin sekolah di sekolah Dewi yang kemarin."


"Baiklah. Semua kebutuhan kamu akan aku persiapkan. Kamu cukup belajar dengan baik dan giat agar menjadi kebanggaan mbak kamu."


"Terima kasih mas. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik." Senyum Dewi mengembang karna bahagia mbaknya akan menikah dengan orang sebaik Rey.


"Sama-sama. Sekarang kamu cukup fokus untuk kesembuhanmu terlebih dahulu."


"Siap mas." Dengan gaya hormat seperti saat upacara sekolah.


Rey menatap Anisa yang dari tadi hanya menyimak pembicaraannya dan Dewi.


"Anisa... Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Aku tunggu kamu di luar."


Rey langsung berjalan keluar.


"Mbak keluar aja. Dewi bisa kok makan sendiri." Dengan senyumnya Dewi meyakinkan Anisa untuk meninggalkannya.


" Kamu habiskan makanannya ya. Biar kamu cepat sembuh. Mbak keluar dulu sebentar." Nisa memberikan mangkuk bubur dan mengelus pucuk kepala Dewi.


Anisa keluar dari ruangan Dewi dan melihat Rey yang duduk diruang tunggu.


"Ada apa?" Tanya Nisa yang sudah duduk di sebelah Rey dengan jarak dua bangku.


"Lusa kita akan menikah." ucap Rey datar.

__ADS_1


"Apa! Secepat itu. Apa gak sebaiknya di pikirkan dulu?." Anisa terkejut karna penuturan Rey barusan.


"Apa lagi yang harus di pikirkan?


Lusa atau bulan depan sama aja. Kita tetap akan menikah kan?"


Benar juga sih. bulan depan ataupun lusa sama aja. aku tetap gak bisa lari dari pernikahan ini.


"Baiklah. Terserah kamu aja." Ucap Nisa pasrah.


"Semua keperluan pernikahan sudah kupersiapkan. Ini kunci apartemen. Semua barang yang kamu butuhkan sudah dipindahkan ke apartemen itu. Kamu gak perlu repot-repot lagi memindahkan barang-barangmu. Cukup persiapkan dirimu untuk besok lusa."


"Tapi aku gak tau alamat apartemennya"


"Nanti akan ada supir yang menjemputmu."


"Baiklah."


Tanpa berpamitan Rey langsung pergi meninggalkan Anisa yang masih duduk di kursi ruang tunggu.


Ganteng-ganteng tapi sombong banget. Main seenaknya aja langsung pergi. Sodaranya jelangkung kali ya. Datang tak di jemput,pulang tak di antar. Aku sumpahin kamu tergila-gila sama aku.


"Mas Rey ngomong apa mbak? Kok mbak mukanya cemberut gitu. Apa ada masalah?" Tanya Dewi yang sudah sangat penasaran dari tadi.


"Gak ada masalah kok dek. Kamu tenang aja, gak usah banyak pikiran biar kamu cepat sembuh. Tadi dia bilang kalau pernikahan kami akan diadakan besok lusa. Mbak merasa terlalu terburu-buru sedangkan kamu aja masih di rumah sakit." Jelas Nisa


"Bagus dong. Artinya mas Rey itu sayang banget sama mbak. Sampai pengen cepet-cepet halalin mbak. Hihi.." Dewi mencolek pipi Anisa yang sudah merah merona.


"Udah ah... Mbak mau ke ruang dokter dulu. " Anisa langsung pergi karna tidak ingin di goda terus sama Dewi.


********


Rey sudah sampai di kantornya. Matanya fokus kelayar laptop. Memeriksa dokumen-dokumen yang masuk melalui emailnya dengan teliti.


Tok... Tok... Tok..


"Masuk" ucap Rey tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ini berkas-berkas yang harus kamu tanda tangani dan ini surat perjanjian pernikahan yang kamu minta." Bayu menyerahkan semua berkas dan sebuah amplop coklat yang berisi surat perjanjian.


Bayu langsung mendudukkan bokongnya ke sofa empuk di ruangan Rey.

__ADS_1


"Bagaimana dengan proses persiapannya untuk besok lusa?" Rey berjalan menghampiri Bayu dan duduk di sofa tunggal.


"Sudah 90% berjalan. Apa kamu yakin dengan perjanjian pernikahan ini?"


"Aku gak punya pilihan lain. Lagi pula gadis itu juga setuju. Kami sama-sama saling menguntungkan dengan perjanjian ini."


"Bagaimana jika sampai ayahmu tau?" Tanya Bayu lagi


"Itu gak akan terjadi. Karna hanya aku, kamu dan gadis itu yang mengetahui soal surat perjanjian ini."


"Baiklah jika itu sudah menjadi pilihanmu. Aku akan mendukung apa yang terbaik untukmu."


" Memang kamu yang terbaik.


Hahaha..." Rey menepuk bahu Bayu.


"Tapi aku benar-benar penasaran bagaimana wujud gadis yang akan kamu nikahi."


"Nanti juga kamu akan bertemu dengannya.


Bagaimana dengan anak buah kita yang mengintai nenek sihir itu?" Tanya Rey dengan wajah yang menyiratkan sebuah kebencian yang mendalam.


"Hah! Nenek sihir?" Tanya Bayu bingung


"Kenapa jadi kamu yang bingung. Kamu sendiri kan yang memberikan julukan itu untuknya. Jangan pura- pura gak tau." Ucap Rey sewot.


"Oh... Aku mengerti sekarang. Kamu tenang aja. Anak buah kita yang memata-matainya selalu memberiku kabar setiap hari. Dia gak menyadari apa yang kita lakukan disini. Bahkan dia masih bersenang-senang dan berfoya-foya menghamburkan uangmu. Anak buah kita juga mengatakan kalau dia suka berganti-ganti pria, dan gak tanggung-tanggung dia membawa pria tua yang sudah beristri ke apartemennya." Jelas Bayu panjang lebar.


"Sangat menjijikan. Aku gak nyangka pernah menyukai wanita seperti itu. Selama ini aku selalu menjaganya. Gak ingin menyentuhnya walaupun dia selalu menggodaku karna aku merasa sedang menjaga sebuah berlian dan gak ingin merusaknya. Tapi apa yang dilakukannya di belakangku benar-benar kelewatan. Dan aku baru sadar kalau dia bukan sebuah berlian, tapi batu kerikil yang gak ada harganya." Ucap Rey dengan tangan yang mengepal sangat kuat.


" Sudahlah... Lupakan yang sudah berlalu. Setidaknya sebentar lagi dia akan gila karna kamu tinggalkan. Lebih baik kamu Bersiap... Setengah jam lagi kita akan meeting."


Bayu keluar dari ruangan Rey. Rey membuka amplop coklat dan membaca semua perjanjian yang tertulis disana.


Perjanjiannya sesuai yang kuinginkan. Gadis itu tidak akan bisa macam-macam lagi. Karna dia akan terikat dengan kontrak ini.


Rey berdiri dan merapikan jas yang di kenakannya. Rey melangkahkan kakinya menuju ruang meeting yang sudah di jadwalkan.


******


Sore ini Rey melajukan mobilnya menuju rumah sakit setelah dia menyelesaikan pekerjaan kantornya. Dia tidak mau menyuruh orang lain untuk memberikan surat perjanjian ini kepada Anisa. Dia ingin melihat sendiri bahwa gadis itu menandatangani surat peejanjian secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2