Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Hotel Bintang Biasa


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 25


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ada apa dengannya?" gumam Sofi.


Jujur, ada rasa kecewa yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Padahal semalam mereka sangat dekat.


Sofi menghela napas panjang, kemudian memperhatikan suaminya. Suami yang seperti orang asing lagi.


"Bersiaplah, ayo ke kembali!" ucap Garda. Rupanya Garda ingin membawa istrinya kembali ke kota.


"Sekarang?" tanya Sofi spontan.


Wanita muda itu jelas heran, mengapa suaminya terlihat buru-buru. Karena sebelumnya memang tak membawa apa-apa, mereka berkemas cukup singkat.


Garda berjalan begitu cepat, sedangkan Sofi berjalan lamban di belakangnya. Ini karena rasa perih yang tersisa semalam.


"Cepatlah!" ujar Garda dingin.


Dengan tertunduk lesu, Sofi pun berjalan meninggalkan villa.


Pak sopir membukakkan pintu untuk tuan muda dan juga nyonya mudanya. Ketika sudah masuk di jok belakang, baik Sofi dan Garda sama-sama terdiam. Seolah mereka itu bisu, hanya deru mesin yang terdengan. Sofi yang merasa tidak nyaman, hanya diam sembari menatap ke luar jendela mobil.


Begitu juga suaminya, pandangan matanya kosong. Meskipun matanya menatap ke depan. Bayang-bayang wajah Amelia muncul dalam pikirannya.


Sepanjang jalan Sofi tertidur lelap, sampai tiba di SPBU barulah wanita itu membuka mata. Karena perjalanan masih panjang, Garda pun meminta istirahat di rest area.


Mereka pun menuju salah satu rest area setelah mengisi bahan bakar. Setelah tiba, Garda pun memesan makanan untuk mereka. Ketika makanan yang sudah dipesan datang, Garda pun mempersilahkan istrinya makan.


"Makanlah!" ucapnya sembari melihat Sofi.


"Hemm!"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, piring-piring di atas meja sudah kosong. Habis dimakan keduanya. Sambil menunggu perut mereka turun setelah makan, keduanya memilih istirahat sebentar. Sambil menikmati teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya.


Sofi sejak tadi mencuri pandang pada suaminya itu. Aneh, mengapa ia merasa sang suami sedikit berbeda. Pendiam dan tak banyak bersuara, biasanya pria itu selalu mengajak dirinya untuk ribut dan saling bersitegang.


Garda yang tak sadar sedari tadi dipandang istrinya, bersikap cuek dan masa bodo. Selang beberapa saat, ia menatap jam tangan.


"Ayo kembali ke mobil!' ajaknya sembari bangkit meninggalkan meja mereka.


Sofi pun ikut, ia berjalan cepat. Menggimbangi langka suaminya yang panjang tersebut.


Mereka akhirnya sampai di sebuah parkiran, dan Garda pun menelpon sopirnya yang tak terlihat ada di dalam mobil. Begitu nomor sopirnya bisa dihubungi, ia pun meminta sang sopir datang segera.


Takut nanti malah hujan dan jalanan menjadi licin. Garda ingin cepat-cepat bergegas pulang. Dan jauh ia menatap sopirnya yang datang mendekat.


"Maaf, Tuan!"


Pak sopir lantas membuka pintu untuk tuan dan nyonya mudanya. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan.


Benar dugaan Garda, baru beberapa puluh kilo meter. Hujan turun dengan sangat lebat. Apa lagi disertai kilat yang menyambar. Ini mungkin puncak musim hujan. Karena tingginya curah hujan akhir-akhir ini. Dan melihat betapa derasnya hujan, Garda lantas memutuskan untuk berhenti lagi.


"Baik, Pak!"


Beberapa saat kemudian


Sopir tersebut langsung menghentikan mobil yang mereka tumpangi di depan plataran sebuah hotel biasa. Bukan bintang lima seperti biasanya. Benar-benar hotel sederhana. Kecil dan sedikit terlihat tua. Bangunan lama.


Karena tidak ada pilihan, Garda merasa tak masalah. Lagian mengendarai mobil ketika saat ini, hujan angin yang tak terkendali hanya akan memancing bahaya, pikirnya.


Karena hanya ada dua payung, Garda berbagi satu payung dengan Sofi. sedangkan satu ia berikan pada sang sopir. Ada rona canggung, ketika Garda merapatkan tubuh pada Sofi, ketika dari mobil masuk ke hotel.


Saat akan memesan kamar pun demikian. Yang tersisa tinggal dua kamar. Itu pun ranjang single. Tidak mungkin membiarkan sang sopir tidur dalam mobil, Garda memesan dua kamar itu. Satu untuk ia bagi dengan Sofi, sang istri. Satunya lagi buat pak sopir. Sama seperti saat ia membagi payung tadi.


Setelah mendapat kunci kamar, Garda pun tanpa suara terus berjalan. Ia tidak menatap Sofi, hanya fokus ke depan. Begitu sampai depan kamar, barulah ia menatap istrinya yang jauh di belakang.


"Lamban sekali kamu, Sof!" gumam Garda sambil menatap sang istri.

__ADS_1


Malu karena Garda memperhatikan dirinya, Sofi pun menundukkan wajahnya.


"Jangan lihat! Jangan lihat! Ya Tuhan, mengapa jadi canggung begini!" Sofi bergumam, mulutnya komat-kamit karena grogi. Garda tiba-tiba menatapnya terlalu intense, membuat ia malah jadi salah tingkah.


"Masuklah!" titah pria itu sembari membuka pintu kamar lebar-lebar.


Dengan jantung berdebar-debar, Sofi melangkah masuk kamar. Sofi lantas duduk di sofa mini dalam kamar, ukuran kamar itu sangat kecil. Lebih besar kamar mandi milik suaminya.


"Istirahatlah, aku akan mandi!" ucap pria itu, kemudian langsung masuk kamar mandi.


[Ngapai dia mandi? Bukannya udara sangat dingin]


Byur byur byur ...


Guyuran air yang terdengar dari kamar mandi membuat Sofi berpikir aneh-aneh. Imajinasinya menari-nari tak terkendali.


"Ya ampun, sadarlah!" ujar istri dari Garda itu sambil menepuk pipinya dengan pelan.


Ia merasa sudah terhipnotis oleh person suaminya. Dan hanya bisa merutuki dirinya, mengapa dulu benci pada pria itu, dan sekarang ia merasa terkena batunya.


Masa mendengar guyuran air pas Garda mandi, membuat ia berpikir yang bukan-bukan. Malu rasanya, hingga pipinya bersemu merah.


KLEK


Pria itu muncul dari balik pintu kamar mandi, membuat Sofi semakin berdebar. Tak kala menatap Garda yang kala itu hanya mengunakan handuk yang meililit di pinggangnya.


Perempuan tersebut malah menelan salivanya dengan kasar, membayangkan yang bukan-bukan.


"Astaga ...!" Sofi menjerit dalam hati. Dalam kepalanya tiba-tiba dipenuhi lobak di balik handuk putih tersebut.


BERSAMBUNG


Jangan membenci sesuatu berlebihan. Jangan pula mencintai berlebihan. Yang sedang-sedang saja. Takut kemakan omongan sendiri. Celoteh unfaedah. Hehehe


__ADS_1


__ADS_2