Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
90. Tangisan Ibu


__ADS_3

Alih-alih menanggapi ucapan Daffa yang terdengar ambigu di telinganya, Aida justru melirik ke arah Safira yang tengah tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit.


Aida khawatir jika ucapan Daffa yang


terdengar tidak cukup pelan itu berhasil membangunkan Safira dari tidurnya.


"Kenapa Mamah hanya diam saja?" Tanya Daffa, ketika Aida tidak menanggapi ucapannya.


"Pelankan suaramu, Daff. Nanti istrimu bisa bangun." Kata Aida, yang enggan menanggapi Daffa lebih jauh.


"Apa saat ini Mamah sedang merasa bersalah?" Tanya Daffa kembali, dengan tersenyum simpul.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan kepada Mamah, Daff? Jangan terus menyudutkan Mamah seperti ini." Kata Aida, yang merasa tersudutkan tanpa alasan.


"Kecelakaan yang Safira alami--itu semua rencana Mamah," kan?" Tanya Daffa, yang sempat menghentikan ucapannya sejenak.


Aida membelalakkan matanya sempurna ketika mendengar ucapan dari putra semata wayangnya, seketika Aida pun menarik tangan Daffa dan membawanya keluar dari ruangan itu, agar Safira tidak mendengar percakapan dari keduanya.


PLAK.


"Bagaimana bisa kamu menuduh Mamah melakukan itu kepada istrimu?" Tanya Aida, setelah menampar wajah Daffa.


"Bisa saja, 'kan? Apalagi melihat hubungan Mamah dengan Tika, dan juga Tante Linda yang begitu baik. Apa Mamah tahu, bagaimana Tika ingin sekali menyingkirkan Fira dari hidup Daffa?" Kata Daffa memaparkan.


"Apalagi jika mengingat dulu, Mamah yang dengan mudahnya menyingkirkan kedua orang tua Fira dari kota ini, hanya untuk


menjauhkan Daffa dari Fira." Sambung Daffa kembali.


Tanpa Daffa dan Aida sadari, pintu kamar Safira tidak tertutup dengan rapat, sehingga percakapan keduanya pun cukup terdengar di telinga Safira yang saat itu terbangun dari tidurnya.


Safira menggelengkan kepalanya cepat dengan menutup kedua telinga menggunakan tangannya.


"Jadi, ini semua rencana Mamah Aida? Nggak, nggak mungkin!" Monolog Safira dengan tubuh yang bergetar hebat.


Sesaat, Daffa melirik ke arah pintu kamar Safira yang ternyata tidak tertutup dengan rapat. Daffa pun berjalan ke arah pintu berniat menutup rapat pintu tersebut,


sedangkan Safira yang mendengar langkah seseorang mendekat ke arah pintu, pun langsung buru-buru memejamkan matanya kembali agar tidak ada orang lain yang tahu tentang keadaannya saat ini yang


tengah kacau.


Sebelum Daffa menutup rapat pintu kamar tersebut, Daffa melihat ke arah Safira terlebih dahulu untuk memastikan apakah istrinya mendengar percakapannya bersama sang Ibu atau tidak. Daffa menghela napasnya lega ketika mendapati


Safira masih terlelap dari tidurnya.


Kemudian Daffa pun kembali mendekat ke arah Aida untuk melanjutkan perbincangannya yang sempat terhenti sesaat.


"Mamah tidak habis pikir, kamu bisa menuduh Mamah seperti itu." Kata Aida begitu kecewa dengan tuduhan Daffa.


Tanpa membela diri, ataupun menyangkalnya. Aida pergi begitu saja dari hadapan Daffa dengan derai air mata yang menyertai langkahnya.


Sedangkan Daffa yang saat ini tengah merasakan frustasi, pun mengacalk rambutnya kasar.


"Jika Mamah bukan yang merencanakan ini semua, lalu siapa?" Monolog Daffa berpikir keras.

__ADS_1


"Apakah Tika yang melakukan semua ini?" Lanjut Daffa bermonolog kembali.


Aida yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan keadaan mata yang terlihat begitu sembab, tidak banyak berbicara ataupun menyapa suami, dan juga Ibu mertuanya yang tengah berbincang di ruang keluarga.


Sedangkan Bagaskara dan Oma Rahma yang melihat Aida, pun hanya saling melemparkan pandangan.


"Ada apa dengan istrimu, Gas?" Tanya Oma Rahma heran melihat menantunya begitu murung.


"Entah, Bu. Tetapi sebelumnya Aida izin kepadaku ingin menjenguk Fira di rumah sakit." Jawab Bagaskara memaparkan.


"Apakah terjadi sesuatu antara Aida dan Daffa di sana? Melihat Daffa yang tadi saja begitu sensitif ketika membahas Ibunya." Ujar Oma Rahma menerka.


"Aku akan menemui Aida di kamarnya dulu, Bu." Ucap Bagaskara, sebelum meninggalkan Oma Rahma menuju kamar Aida.


"Mah," Panggil Bagaskara, ketika baru saja masuk ke dalam kamar Aida.


Aida yang semula sedang menangis, dengan sehelai tisu di tangannya, pun langsung menoleh ke arah Bagaskara.


Tanpa mengatakan apa pun, Bagaskara langsung memeluk Aida seraya mengusap bahunya lembut, untuk menenangkan Aida dari tangisnya.


Bagaskara sebenarnya tahu, bahwa alasan Aida menangis pasti karena terjadi perdebatan kecil antara istri dan anaknya.


"Mah, apa yang terjadi?" Tanya Bagaskara, mencoba mengulik akar permasalahan antara kedua orang yang dia cintai.


"Pah, bagaimana bisa, Daffa menuduh Mamah yang merencanakan kecelakaan itu hiks hiks hiks. Padahal Papah sendiri tahu,


kalau Mamah akhir-akhir ini banyak menghabiskan waktu di kamar, bagaimana mungkin Mamah melakukan itu semua, 'kan?" Kata Aida memaparkan, dengan tangis yang tak kunjung usai.


"Mengapa disaat Mamah sudah mulai menerima semuanya, justru Mamah harus menelan pahit ini semua." Lanjut Aida kembali.


"Belum, Pah. Menurut Mamah percuma saja menjelaskan kepada Daffa, melihat ekspresi dia yang begitu kecewa tadi, rasanya hanya sia-sia saja jika Mamah


mengatakannya."


Bagaskara menghirup napasnya dalam.


"Mamah tdak perlu khawatir, ya. Nanti Papah yang akan berbicara dengan dia."


Daffa terkesiap ketika tidak mendapati Safira di kamar inapnya, Daffa mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar itu dengan harapan bisa menemukan keberadaan istrinya.


"Sayang," Panggil Daffa, dengan mengecek keberadaan Safira di dalamn toilet, namun tidak menemukan keberadaan wanita itu di sana.


Daffa pun berjalan mendekat ke arah ranjang pasien, betapa mengejutkannya ketika Daffa melihat selang infus yang tergeletak di atas kasur dengan beberapa noda darah di sekitarnya.


Sudah dipastikan bahwa infusan itu dilepas secara paksa oleh Safira. Dengan cepat Daffa pun keluar dari kamar tersebut untuk mencari keberadaan Safira.


"Apa jangan-jangan kamu mendengar semua percakapanku dengan Mamah tadi?" Monolog Daffa, dengan langkah setengah berlari.


"Sus, apakah melihat wanita bercadar dengan pakaian serba hitam yang berjalan di sekitar sini?" Tanya Daffa kepada salah satu Suster yang berpapasan dengannya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak melihatnya." Jawab Suster itu.


"Baiklah, terimakasih banyak." Pungkas Daffa, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti sesaat.

__ADS_1


Di sisi lain, Safira yang sebelumnya keluar dari kamar rawat inap dengan mengendap-endap, memutuskan untuk pergi dari sana.


Setelah mendengar percakapan antara Daffa dan Aida, Safira langsung diselimuti rasa takut akan kehilangan orang yang dicintainya kembali. Safira tidak ingin jika


anaknya bernasib sama dengan kedua


orang tuanya, di mana Aida dengan mudah menyingkirkan mereka.


"Sayang, Mamah tidak akan membiarkan kamu bernasib sama dengan orang tua Mamah dahulu." Monolog Safira, dengan langkah gontai yang berhasil keluar dari


rumah sakit tersebut.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Ta? Apakah menerima perjodohan itu, atau bersedia belajar bisnis di Amerika?" Tanya Rosa kepada anak bungsunya.


Agatha yang tengah sibuk menyetir mobil, pun hanya melihat ke arah jalan, tanpa ada niatan untuk membahas topik tersebut. Baginya, keduanya sungguh memuakkan.


Tak mendapati jawaban apa pun dari Agatha, Rosa hanya menghela napasnya pelan. Rosa paham sekali dengan Agatha yang sepertinya sangat enggan membahas topik tersebut.


"Baiklah, baiklah. Jika kamu memang tidak ingin membahasnya, Mamah tidak akan menanyakan lebih lanjut." Kata Rosa, yang akhirnya memilih tidak lagi membahas


masalah itu.


"Mah, apa yang Dokter katakan tadi?" Tanya Agatha, mengalihkan topik pembicaraan.


"Dokter mengatakan bahwa kondisi Mamah sudah jauh membaik, Ta. Dan kabar baiknya ini chek up terakhir Mamah." Jawab Rosa senang.


Agatha yang senang mendengar kabar itu, pun langsung menoleh ke arah wanita paruh baya yang saat ini tengah duduk di sampingnya dengan tersenyum.


Baru saja Agatha lengah beberapa detik saja dari pandangannya ke arah jalan, seorang wanita tiba-tiba saja muncul entah


dari mana yang nyaris tertabrak mobil Agatha jika Agatha tidak segera


mengeremnya.


"Ck, apa wanita itu buta? Sudah tahu ini jalan banyak dilintasi kendaraan, bagaimana bisa menyebrang begitu saja. Apa jalan ini milik nenek moyang dia?" Gerutu Agatha, ketika mobilnya berhasil


tidak mengenai wanita tersebut.


"Aduh, kenapa malah mengomel begitu sih, Ta. Ayo cepat keluar, sepertinya dia terlihat sedang tidak baik-baik saja." Ajak Rosa menarik lengan Agatha.


"Ah, nggak deh Mah. Mamah saja yang turun, aku tunggu di sini saja." Ucap Agatha menolak ajakan Rosa.


"Ta, bagaimana jika Mamah yang berada di posisi wanita itu, dan tidak ada orang yang membantu Mamah?"


"Baiklah, baiklah. Aku akan ikut turun." Kata Agatha yang akhirnya menuruti permintaan Rosa.


Rosa mendekat ke arah wanita yang saat ini tengah dalam posisi duduk di tanah.


"Apakah kamu baik-baik saja? Mari saya bantu bangun" Tanya Rosa dengan mengulurkan tangannya.


Sedangkan Agatha hanya menatap tidak perduli, dengan melipatkan tangannya di dada. Wanita itu yang semula


menundukkan pandanggannya, pun

__ADS_1


langsung melihat ke arah wanita paruh baya yang mengulurkan tangan ke arahnya.


Agatha yang semula acuh tak perduli, tiba-tiba saja membelalakkan matanya sempurna ketika melihat wanita itu.


__ADS_2