Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Rival


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 47


Oleh Sept


Rate 18 +


Sofi menoleh, dilihatnya sang suami belum keluar dari kamar mandi. Merasa sangat kesal karena suaminya dikejar-kejar wanita lain. Dan itu adalah masa lalu suaminya, Sofi pun menarik napas. Kemudian menekan tombol terima.


"Mas ..." panggil Amelia dengan suara lirih. Jujur membuat telinga Sofi jadi langsung gatal. Ia seolah ingin mengaruk pemilik suara itu.


"Syukurlah Mas mau angkat telpon aku. Maafin aku Mas, aku sangat menyesal. Bukan maksudku berbohong tentang Messy. Hanya saja, aku sudah gak punya siapa-siapa untuk aku mintai tolong."


Amelia terus saja bicara, padahal lawan bicaranya sama sekali tidak merespon. Sofi tetap menyalakan ponsel, dan tentunya sambil menahan kesal.


"Demi masa lalu, apa hubungan kita tidak bisa diperbaiki? Masalah Messy, ayahnya sudah tidak ada di dunia ini. Aku minta maaf, sangat meminta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu. Aku juga punya banyak alasan mengapa tiba-tiba pergi dan menghilang ... Mas harus dengar satu persatu. Karena aku gak pergi atas mauku sendiri."


Amelia berhenti bicara, setelah bicara panjang lebar. Wanita itu kini ingin mendengar response mantan kekasihnya.


"Hallo ... Mas? Mas masih dengar suaraku, ka?"


Sofi yang tidak tahan lagi, ia pun menjawab dengan tegas.


"Mari bertemu di kafe yang waktu itu. Aku tunggu jam 10 pagi nanti!"


Tut Tut Tut ...


Sofi langsung menutup ponselnya dengan sebal. Sementara itu, Amelia nampak terkejut. Ia hanya bisa memijit pelipisnya. Kenapa bisa tidak menyadari kalau Sofi sudah kembali.


"Sejak kapan dia kembali?" gumam Amelia.


Ia kemudian menatap tajam pantulan wajahnya di depan cermin. Masih pagi, ia masih punya banyak waktu untuk bertemu rivalnya.


Garda adalah miliknya, semua pria itu adalah miliknya. Sofi hanya pengganti dirinya, tidak lebih.


"Akan aku ambil apa yang seharusnya jadi milikku!" ujar Amelia sembari mengengam ponselnya sangat erat. Ada kemarahan dalam sorot matanya yang tajam dan dalam.


***


Kediaman Garda Arkasa Ragasha, dari luar terlihat sepi. Tapi tidak dengan hati Sofi.


"Aku boleh nggak nanti jalan-jalan?"


Garda langsung terhenyak.


"Besok ya, aku temani. Hari ini aku sibuk."

__ADS_1


"Sendirian aja, ya? Aku gak akan kabur ... janji!" pinta Sofi.


Garda menggeleng.


"Ayolah, jangan membuatku tertekan. Aku lagi hamil." Sofi mencari alasan.


"Hemm ... sama sopir dan asisten ya?"


Sofi mengangguk. "Makasih, ya."


Meski tidak suka, Garda pun akhirnya mengijinkan Sofi keluar rumah tanpa dirinya. Lagian Garda tidak mau istrinya setres. Apalagi sedang hamil, ia tidak mau hal buruk terjadi pada keduanya.


"Memang nanti mau ke mana?" Garda jadi penasaran.


"Cuci mata aja, lama gak jalan-jalan."


"Oh ... pakai ini. Mungkin mau ajak dan traktir teman-teman kamu, Sof." Garda mengeluarkan sebuah kartu ajaib dalam dompetnya.


Sofi langsung menolak keras.


"Nggak usah!"


"Bawa aja, beli apa aja yang kamu mau." Garda yang terkenal pemaksa, langsung meletakkan kartu hitam unlimited itu tepat di tangan Sofi.


"Nanti, kalau keburu .. atau aku selesai sama urusan kantor, aku susul."


Wajah Sofi sedikit panik, acaranya kan mau bicara empat mata sama mantan suaminya. Kalau sampai Garda tahu, bisa hancur rencananya.


"Iya," jawab Sofi kemudian. Karena kalau ia menolak, pasti suaminya akan curiga.


"Kalau gitu, aku berangkat dulu. Nanti kalau ada apa-apa langsung telpon."


"He em!"


Cup ...


"Hati-hati!" ucap Sofi ketika suaminya pamit pergi ngator.


***


Beberapa jam kemudian


Di sebuah kafe, Sofi yang diantar sopir dan asisten kini duduk menikmati makanan seorang diri. Sedangkan sopir menunggu di mobil dan asistennya sedang di kamar kecil.


Karena terpaksa, Sofi mencampur sedikit obat pencuci perut. Agar asistennya tidak ikut campur saat ia mau ketemu Amelia. Ia sendiri sudah pindah tempat duduk. Sofi sudah pesan ruang private untuk bicara berdua dengan Amelia.

__ADS_1


Masih di cafe yang sama, tapi di sudut yang berbeda. Amelia ternyata datang seperti waktu yang dikatakan oleh Sofi. Dia hanya telat beberapa menit. Amelia datang sendiri, tanpa membawa putrinya.


Begitu bertatap mata, keduanya sama-sama memancarkan aura dingin.


"Kenapa mau bertemu denganku?" tanya Amelia tanpa beban. Ia sama sekali tidak merasa bersalah atau apapun itu. Baginya, menghubungi Garda bukanlah sebuah kesalahan. Karena mereka dulu sangat dekat.


"Jangan hubungi suamiku lagi!" Sofi juga bersikap sangat tenang. Ia belum mau meledak-ledak. Masih mode kalem, tapi harus tetap tegas.


Amelia hanya tersenyum kecut. "Kenapa? Apa kamu takut dia kembali padaku?"


Sofi menghela napas panjang.


"Jangan terlalu percaya diri, kamu hanya masa lalu!"


"Lalu bagaimana denganmu? Dengan kamu menemuiku seperti ini ... itu artinya kamu tidak percaya diri." Amelia mencoba memancing emosi Sofi.


"Bukannya nggak percaya diri ya, Mbak. Perlu Mbak ketahui. Saya sekarang sedang hamil. Dan ini anak suami saya!" cetus Sofi yang mulai geram.


"Jadi, tolong jauhi suami saya!" tambah Sofi dengan bahasa baku.


Sementara itu, Amelia terlihat menahan kesal. Kenyataan bahwa Sofi hamil membuatnya merasa marah.


Sofi sendiri, setelah mengatakan fakta bahwa ia hamil anak Garda, perlahan mengambil tas di sebelahnya. Ia kemudian beranjak.


Belum melangkah, Amelia langsung menahan dengan kata-katanya.


"Jangan bohong!"


Sofi langsung menatap rivalnya dengan tegas. Ada adu tatapan pada keduanya.


"Kenapa saya harus berbohong pada anda?" tantang Sofi geram.


"Garda tidak bisa memiliki keturunan!" ujar Amelia yakin.


[Perempuan giilaa!]


Sofi merutuk keras dalam hati. Sepanjang yang Sofi tahu, suaminya adalah pria normal. Malah sangat-sangat normal. Dasar Amelia sok tau. Suaminya dibilang tidak bisa memiliki keturunan, jelas Sofi sangat marah.


[Lalu apa dia pikir aku hamil anak ular?] BERSAMBUNG




__ADS_1


IG : Sept_September2020


__ADS_2